Jenglot

Jenglot
Kejahatan Trisno


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Surti pun telah sehat.


Trisno pun memerintahkan anak buahnya membawa Surti kembali masuk ke ruang bawah tanah kembali.


“Usup, Iwan bawa Surti masuk ke tempat bawah tanah kembali” ujar Trisno.


“Baik bos,” sahut serentak mereka berdua.


“Jangan bawa saya ke sana lagi, saya mohon,” ucap Surti yang memohon sembari menangis.


“Ayo cepat ikut!” bentak Usup sembari menarik tangan Surti.


Usup serta Iwan menarik paksa tangan Surti keluar dari kamarnya. Ia di bawa kembali ke ruangan bawah tanah.


Sesampainya di ruang bawah tanah Iwan memasang kembali pasungannya.


Surti pun memohon agar mereka berdua tidak melakukan hal itu kepadanya.


“Jangan pasung saya lagi, saya tidak mau berada di sini, saya mohon bebaskan saya,” Surti yang kembali memohon.


“Kami berdua tidak bisa menolongmu Surti,” sahut Iwan yang memasangkan pasungan ke kaki Surti.


Setelah mereka berdua selesai memasang pasungan di kaki Surti, mereka berdua pun kembali meninggalkan Surti sendirian di ruangan itu.


Kali ini Trisno memerintahkan memeri makan Surti dengan menggunakan sendok atau garpu yang hanya terbuat dari plastik untuk mencegah agar Surti tidak melakukan percobaan bunuh diri kembali.


“Bagaimana kalian sudah memasung Surti kembali?” tanya Trisno  kepada Iwan Serta Usup.


“Sudah Bos, semau beres,” sahut Usup.


“Bagus jika begitu,” sahut Trisno.


“Ya sudah Bos, kami mau ke pos jaga kembali,” kata Iwan.


“Iya Jangan lupa jika membawakan makan kepada Surti gunakan bahan yang terbuat dari plastik saja, aku tidak mau hal itu terjadi kembali!” Trisno yang mengingatkan mereka berdua.


“Baik Bos,” ucap serentak Iwan serta Usup.


Setelah itu mereka berdua pun meninggalkan Trisno kembali ke pos jaga.


Di  malam harinya saat Trisno berserta Lasmi dan Tini menikmati makan bersama sembari berbincang-bincang santai.


“Lasmi kamu terlihat kurus sekarang,” kata Trisno.


“Apakah iya Mas?” tanya Lasmi yang tidak percaya dengan perubahan tubuhnya.


“Iya, tanya saya Ibu?”


“Iya Lasmi, kamu agak kurusan sekarang,” ujar Tini.


“Mungkin karena faktor aku sering sakit perut jadi, aku tidak terlalu nafsu makan Mas,” pungkas Lasmi kepada Trisno.


“Coba kamu bawa periksa Lasmi?” Trisno yang menyarankan.


“Benar Lasmi, apa yang di katakan oleh suamimu,” celetuk Tini.

__ADS_1


“Sudah Bu, Mas. Aku sudah periksa di puskesmas kapan lalu dan kata mereka aku hanya terkena maag saja,” Lasmi yang menjelaskan kepada Trisno dan sang Ibu.


“Coba lagi periksa ke rumah sakit, biar nanti aku suruh Iwan untuk mengantarkan mu ke rumah sakit,” sarang dari Trisno.


“Tidak usah Mas, lagi pula aku juga sudah periksa,” Lasmi yang enggan pergi ke rumah sakit.


Setelah selesai menikmati makam malamnya Trisno berjalan keluar rumahnya duduk di depan teras rumahnya sembari mengisap satu batang roko setelah makan.


“Iwan, Usup!” teriak Trisno memanggil anak buahnya yang sedang berada di rumah jaga.


“Wan, bos memanggil kita,” ujar Usup.


“Iya Usup aku juga mendengarnya ayo kita hampiri.”


Iwan serta Usup yang mendengar Trisno memanggil segera menghampiri Trisno.


Sesampainya di dekat Trisno mereka berdua menanyakan kepada Trisno.


“Ada apa Bos?” tanya Iwan.


“Kalian berdua ini di panggil lama sekali. Itu si Surti apa sudah diantarkan makanan?” tanya Trisno.


“Sudah Bos saya antarkan makanan sewaktu Bos belum makan malam tadi,” Usup yang menjelaskan kepada Trisno.


“Oh, ya sudah kalau begitu,” ucap Trisno.


“Bos apa tidak sebaiknya kita lepaskan saja Surti?” ucap Usup dengan lugu


“Jangan! sama saja kita cari mati, bagaimana jika di melaporkan ke polisi kita Semua bisa kena,” sahut Trisno.


“Eh Usup, dia di sini juga kita urus dan kasih makan kenapa kamu kasihan kepadanya apa kamu mau aku pasung juga menemani Surti!” ancam Trisno.


“Ya jangan lah bos,” sahut Usup.


“ Ya sudah sebaik kalian  kembali ke pos jaga!” perintah Trisno.


“Baik Bos,” sahut serentak Iwan serta Usup.


Mereka berdua meninggalkan Trisno yang sedang duduk di teras sembari menikmati rokoknya.


Beberapa jam telah berlalu malam pun telah mulai larut, Trisno pun masuk ke dalam rumahnya menuju ke kamarnya memastikan sang Istri telah tertidur.


Saat Trisno berada di depan pintu kamarnya, ia pun membuka pintu kamarnya secara perlahan-lahan memastikan apa Lasmi telah tertidur.


Trisno pun melihat Lasmi telah tertidur di kamarnya, setelah Trisno memastikan sang Istri telah tertidur Trisno pun kembali melaksana aksinya ke pada Surti karena, sejak Surti beberapa waktu lalu dirinya tidak dapat menikmati tubuh Surti kembali.


Trisno pun menutup pintu kamarnya secara perlahan-lahan agar tidak membangunkan Lasmi yang sedang tidur.


Setelah itu Trisno berjalan mengendap-endap menuju ruang bawah tanah guna untuk mendatangi Surti.


Sesampainya di sana Trisno melihat Surti sedang tertidur, ia pun menghampiri Surti lalu kembali memaksa Surti untuk melayani dirinya.


Surti yang mengetahui Trisno akan melakukan hal itu kembali kepada dirinya memohon agar tidak melakukan itu.


“Pak saya, mohon jangan lalukan hal ini kepada saya Pak saya mohon,” ujar Surti yang menangis sembari memohon kepada Trisno.

__ADS_1


“Sudahlah diam saja,” sahut Trisno.


Trisno tidak peduli dengan rintihan tangisan Surti kepadanya.


Trisno kembali membuka secara paksa celana yang di kenakan Surti.


Setelah terbuka Trisno pun yang tidak kuasa membendung hasratnya kepada Surti bergegas membuka celananya dan kembali melampiaskan hasrat yang ia pendam beberapa hari kepada Surti.


Setelah Trisno merasa puas, ia kembali memasang celananya dan lagi-lagi meninggalkan Surti dengan kondisi tertidur tanpa menggunakan celananya.


Trisno pun berjalan keluar dari ruang bawah tanah kembali ke kamarnya, seperti biasa setelah menjalankan aksi bejatnya kepada Surti, Trisno pun kembali tidur.


***


Berulang-ulang Trisno melakukan hal itu kepada Surti sampai akhirnya Surti hamil.


Pagi itu Surti mulai merasakan mual di sertai rasa berat di kepalanya.


Kali ini Tini yang ibu Trisno yang mengantarkan makanan kepada Surti.


Melihat ada muntahan di samping Surti, Tini pun mulai membersihkannya.


Tini tidak tahu apa yang terjadi kepada Surti, dirinya hanya mengiri jika Surti sedang mengalami masuk angin.


Surti pun tidak berani berkata kepada Tini apa yang sedang terjadi kepadanya karena Trisno telah mengancamnya.


Jika mereka tahu selama ini Trisno yang selalu meniduri Surti, maka Surti akan di siksa oleh Trisno.


“Kamu sakit Surti?” tanya Tini.


Surti tidak berbicara hanya diam seperti patung dan tidak berbicara apa-apa.


Beberapa kali Tini mengajak Surti untuk berbicara Surti hanya terdiam seperti patung tanpa memedulikan Tini yang berada di hadapannya.


Tini yang merasa kasihan kepada Surti pun mencoba membersihkan diri Surti.


Tini kembali ke luar ruang bawah tanah membawa pakaian untuk Surti handuk dan air guna untuk membersihkan tubuh Surti.


Sesampainya di ruang bawah tanah Tini mulai melap tubuh Surti menggunakan handuk basah.


“Kasihan nasib mu Surti, di perlakukan seperti ini. Maafkan ibu ya tidak dapat berbuat apa-apa, ibu hanya bisa berdoa semoga kamu bisa terbebas dalam belenggu kejam ini,” ucap Tini kepada Surti.


Namun tetap saja Surti hanya terdiam tidak berkata apa-apa sesekali Surti hanya meneteskan air mata di kala Tini berbicara seperti itu kepadanya.


Setelah selesai membersihkan tubuh Surti, Tini kembali memasangkan pakaian kepada Surti menyisiri rambut Surti yang terlihat sangat berantakan.


“Kamu tampak cantik Surti,” puji Tini yang telah selesai mengurus Surti.


Sesekali Surti hanya memandangi wajah Tini tanpa berbicara satu patah kata pun.


Tini yang telah selesai memberi makan Surti dan membersihkan tubuh Surti kini Tini berpamitan kepada Surti.


“Ibu pergi dulu ya Surti, nanti ibu anak ke sini lagi untuk mengurusmu,” ucap Tini.


Surti pun tidak menjawab ucapan Tini.

__ADS_1


__ADS_2