
Seampainya Sari di rumah sakit dirinya menghampiri sang suami yang telah berada di kamar mayat dengan di tutupi oleh kain putih.
Sari mengumpulkan keberaniannya untuk membuka kain yang menutupi jasad suaminya.
Sari menari nafas panjangnya dengan mengumpulkan keberaniannya sampai akhirnya Sari membuka kain penutup jasad suaminya.
Terdengar teriak histeris Sari di kamar mayat itu melihat kematian yang mengenaskan dialami suaminya.
Sari menangis serta berteriak histeris melihat jasad sang suami, namun dirinya di tenangkan oleh beberapa Tim kerjanya.
***
Keesokan harinya Sari mengantar suaminya ke peristirahatan terakhirnya.
Satu jam telah berlalu Sari pun ingin kembali pulang ke rumahnya.
Namun terdengar ponselnya yang berbunyi, Sari pun merogoh tasnya dan mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.
“Hallo kamu sedang apa Sari.”
“Mas, Abang haris, Mas,” ujar Sari yang menangis saat Trisno sedang meneleponnya.
“Ada apa dengan Suamimu.”
“Abang Haris kecelakaan Mas, dan meninggal.”
Ucap Sari sembari menutup teleponnya karena tidak kuasa menahan kesedihannya.
Sementara di sisi lain Trisno sangat bahagia dengan apa yang dirinya lakukan ternyata benar yang di katakan sang jenglot bahwa ia akan mendapat kabar bahagia yaitu kematian suami Sari.
***
Dua bulan telah berlalu Trisno pun semakin dekat dengan Sari dan ingin serius menjajak Sari nikah.
Trisno mendatangi kedua orang tua Sari untuk mendapat restu dari mereka. Kedua orang tua Sari pun menyambut baik niat baik Trisno.
Hingga akhirnya Trisno pun menikah dengan Sari, setelah menikah Trisno mengajak sari ke hotel dan bulan madu di sana.
Tiga hari telah berlalu, Trisno pun kembali mengajak Sari pulang ke rumah Ningsih.
Awalnya Sari menolak namun Trisno berusaha meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
“Apa tidak apa-apa Mas aku pulang ke rumahmu di sana ada istrimu,” ujar Sari.
“Sudah tidak apa-apa, kamu juga istriku,” kata Trisno merayu Sari.
“Ayo siap-siapkan barangmu sekarang kamu pindah ke rumah ku sekarang,” sambung Trisno kembali.
“Iya Mas,” ujar Sari.
Mereka berdua pun mempersiapkan perlengkapan mereka yang berada di hotel.
Setelah selesai mempersiapkan perlengkapan mereka Trisno berserta Sari keluar hotel menuju parkiran mobil Trisno.
Trisno membawa semua perlengkapannya yang ia bawa masuk ke dalam bagasi.
Setalah itu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil meninggalkan hotel itu ke rumah Trisno bersama Ningsih.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Ningsih, saat mobil Trisno sampai di halaman rumah Ningsih.
__ADS_1
Kebetulan saat itu Ningsih tengah duduk santai di kursi yang ada depan teras rumahnya.
“Itu kan mobil mas Trisno,” ucap Ningsih.
Dengan wajah semringah Ningsih berdiri berniat untuk menyambut suaminya itu.
Namun satu hal yang mengejutkan Ningsih yaitu, Trisno membawa seorang perempuan.
‘Siapa? Apa sodaranya?’ batin Ningsih.
Trisno dan Sari pun berjalan masuk ke dalam rumah dengan di sambut oleh Ningsih.
“Udah pulang Mas,” ucap Ningsih.
“Ning kita masuk dulu, ada yang ingin Mas omongin.”
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
“Ning, perkenalkan ini Sari,” ucap Trisno.
Tatapan tajam mata Ningsih mulai mengarah ke Sari.
“Apa maksudnya ini Mas?” tanya Ningsih.
“Aku sudah menikah dengan Sari dan sekarang Sari akan tingga di rumah ini,” ucap Trisno dengan wajah seakan tidak berdosa.
Ningsih langsung naik pitam, Ningsih berdiri dengan senyum sinisnya ia mendekati Sari dan langsung menjambak rambut Sari.
“Wanita gak tahu malu! Kurang ajar!” ucap Ningsih sembari menjambak rambut Sari.
“Aaaaaaa tolong Mas Sakit!” teriak Sari.
Buk! Buk!
Ningsih menedang tubuh Sari dan memukulnya secara membabi buta, tangannya meraih toples kue yang ada di meja dan memukulkannya ke kepala Sari.
Bahkan Ningsih menyeret Sari hingga Sari terjatuh ke lantai, ia menarik baju Sari lalu dengan kuat merobeknya. Tidak hanya sampai di situ Ningsih mencakar tangan Sari hingga kulitnya terkelupas.
“Aaaa ... Sakit mbak ampun! Mas tolong Sari Mas!” teriak Sari.
“Ningsih hentikan!” Trisno menahan tangan Ningsih.
“Minggir kamu Mas!”
Ningsih menjambak kepala Trisno dengan cukup kuat, wajah Trisno juga tidak luput dari amukan Ningsih. Wajah Trisno terkena cakaran dari Ningsih hingga membuat wajahnya merah dan sebagian ada yang berdarah.
“Cukup Ningsih!”
Plak!
Tamparan Trisno mendarat ke wajah Ningsih seketika mata Ningsih langsung berkaca-kaca lalu air matanya mengalir keluar.
“Tega kamu Mas, apa kurangnya Ningsih Mas? Dengan gampangnya Mas membawa pelakor ini ke rumah dan menyuruh Ningsih menerimanya!”
“Ningsih Mas mohon terima Sari, Mas akan adil dalam hal apapun, aanyang klian inginkan akan Mas berikan.”
“Adil? Dengan perlakuan Mas ke Ningsih seperti ini saja sudah tidak adil Mas. Bahkan Mas menampar Ningsih demo wanita sialan ini!” Ningsih kembali menjambak rambut Sari hingga banyak helaian rambut Sari rontok karenanya.
“Sudah! Sudah! Kamu mau atau tidak? Kalau tidak Mas akan ceraikan kamu Ningsih!” ancam Trisno.
__ADS_1
Mendengar hal itu Ningsih sangat kecewa, hatinya hancur derai air mata tidak terbendung lagi, namun Ningsih masih belum bisa hidup tanpa Trisno terlebih lagi Trisno sangat loyal dengan uang.
Hingga Ningsih pun akhirnya membuat keputusan.
“Baik. Tapi ada syaratnya,” ucap Ningsih sembari menghapus air matanya.
“Tampar dia juga! Mas ingin berbuat adil kan?” ucap Ningsih.
Trisno terdiam sejenak, dan akhirnya menyetujui permintaan istri pertamanya itu.
“Baik Mas akan lakukan.”
Mendengar hal itu Sari terlihat ketakutan.
“Kalau Mas gak sanggup biar Ningsih yang gantikan!”
“Baik ... Baik Mas akan lakukan.”
Trisno mendekat ke arah Sari, “Sari maafkan Mas, tapi ini demi kita bersama.”
Plak!
Tamparan keras mengenai wajah Sari, mata Sari langsung berkaca-kaca dan menagis sesegukan.
“Sekarang kamu tahu kan bagaimana rasanya di tampar oleh orang yang kamu sayangi!” ucap Ningsih sembari pergi masuk ke dalam kamarnya.
Dengan rambut yang masih acak-acakan Sari merengek kepada Trisno, Trisno pun meminta maaf kepada Sari.
Ruang tamu yang tadinya rapi saat ini menjadi berantakan, toples kue itu bahkan sampai pecah akibat di pukulkan ke kepala Sari.
Barang-barang berserakan serta kue-kue itu berhamburan di lantai.
Tidak lama Ningsih keluar dari kamarnya sambil membawa sapu, “Nih ... Suruh istri baru Mas untuk bersihkan semua ini!” ucap Ningsih sambil melempar sapu itu ke arah Trisno.
Ningsih kembali masuk ke dalam kamar dan membanting pintu.
Sedangkan Sari mau tidak mau membersihkan semua kekacauan akibat amukan Ningsih.
“Maafkan Mas karena harus menamparmu,” ucap Trisno.
“Gak apa-apa Mas, setidaknya istri mas mau menerima Sari.”
Beberapa jam berlalu, pintu kamar Ningsih terbuka, terlihat Ningsih keluar dengan berdandan cantik sembari membawa sebuah koper berukuran sedang.
Trisno yang melihat itu pun langsung menghampiri Ningsih.
“Mau kemana kamu Ning?” tanya Trisno.
“Ningsih mau liburan ke Bali, kan Mas sendiri yang bilang akan memberikan apa pun yang kami minta.”
“Sekarang Ningsih minta uang untuk liburan,” ucap Ningsih.
Sambil mendengus Trisno memberikan sebuah kartu debit kepada Ningsih, “Ambilah milik Mas, tapi jangan lama-lama Ning,” ucap Trisno.
“Kenapa? Toh mas di sini juga pasti seneng-seneng sama dia kan.”
“Ya sudah. Sari kamu urus rumah ini dengan benar, jangan sampai sedikit pun kotoran ada di rumah ini saat aku datang!”
Ningsih pun berjalan meninggalkan Trisno, sebelumnya Ningsih sudah memesan taxi online untuk menuju bandara.
__ADS_1