Jenglot

Jenglot
Di pasung


__ADS_3

“Bagaimana Mbah kondisi kedua bayinya,” ujar Trisno yang sangat antusias.


“Bayi hanya selamat satu  Trisno yang perempuan sedangkan satunya lagi tidak selamat,” ujar mbah Minah.


Trisno yang mendengar itu kecewa karena dia tidak bisa mempersembahkan kedua bayi Surti menjadi tumbal untuk sang Jenglot peliharaannya.  


“Ya sudah mbah tidak apa-apa, ini untuk mbah, tolong rahasiakan semua ini jangan beritahu kepada warga desa, jika sampai warga desa tahu. Berti Mbah yang bertanggung jawab atas semua dan aku tidak segan, untuk membunuhmu Mbah,” Trisno yang mengancam Mbah Minah sembari memberikan segepok uang yang berisi ratusan ribu.


Mbah Minah yang melihat Trisno menyodorkan segepok uang seratus ribu pun sangat tergoda.


“Tenang saja Trisno, aku tidak akan memberitahukan kepada siapa pun,” sahut mbah Minah sembari mengambil uang di tangan Trisno.


“Baguslah jika begitu, ini aku tambahkan lagi uang tutup mulut untuk Mbah,” ujar Trisno yang menyodorkan kembali segepok uang seratus ribu.


“Kalau begitu nanti biar Iwan yang akan mengantar Mbah pulang,” ucap Trisno.


Mbah Minah pun mengambil uang kembali dari tangan Trisno, setelah itu barulah mbah Minah berpamitan pulang kepada mereka semua.


Trisno yang sudah tidak sabar pun masuk ke kamar Surti.


Setelah masuk ke kamar Surti, Trisno mulai mengambil secara paksa kedua anak Surti.


“Jangan ambil anak saya pak Trisno saya mohon,” ujar Surti yang menarik-narik baju Trisno.


“Alah, sudah diam anak ini juga tidak punya bapak,” ujar Trisno merampas kedua anak Surti.


Trisno pun keluar dari kamar, Surti yang masih kesakitan berusaha untuk bangun mendatangi Trisno guna untuk menyelamatkan anaknya.


Surti yang berupaya menyelamatkan anaknya meraih baju Trisno menarik-nariknya sembari memohon kepada Trisno.


“Pak jangan ambil anak saya, saya mohon. Saya akan lakukan apa pun asal jangan ambil anak saya,” ujar Surti.


Semua orang tidak dapat menolong Surti karena mereka takut kepada Trisno.


“Trisno apa kamu tidak kasihan kepada Surti, Nak?” tegur Lasmi kepada Trisno.


“Aku kasihan, apa ibu tidak kasihan kepadaku jika aku yang mati nanti, jika gagal memberikan timbal ini,” ujar Trisno membalikkan ucapan dari sang ibu.


Tini pun terdiam mendengar ucapan Trisno, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Surti.


Karena Surti terus memohon dan menarik baju Trisno, akhirnya Trisno pun menjadi sangat geram kepadanya.


“Usup masukkan Surti ke ruang bawah tanah dan pasung dia!” perintah Trisno.


“Ba-baik Bos,” ujar Usup.


Usup langsung menarik Surti ke ruang bawah tanah.


“Ayo Surti!” ucap Usup sembari menarik secara paksa Surti.


“Aku tidak mau!” Teriak Surti memberontak.


Namun karena Usup lebih kuat dari Surti dan Surti pun habis selesai melahirkan maka Surti tidak bisa melawan.

__ADS_1


Usup menyeret tangan Surti untuk ikut bersamanya.


Surti yang telah berada di ruang bawah tanah pun di pasung oleh Usup.


“Ayo Surti kau tidak usah bayak melawan,” ujar Usup yang memasung kaki Surti.


“Apa salahku kepada kalian, kenapa kalian begitu kejam kepadaku,” ujar Surti yang menangis.


“Kau Surti tidak salah hanya saja keadaan yang salah,” Ujar Usup.


“Sudahlah lebih baik kau diam di sini!” perintah Usup.


Surti pun di tinggal oleh Usup dengan baju yang compang-camping dan hanya mengenakan sarung.


Namun saat Usup ingin keluar dari ruangan bawah tanah itu, Surti berteriak kesakitan, akibat perlawanan kepada Usup membuat dirinya kembali mengalami pendarahan. 


Usup yang panik pun bergegas keluar untuk memberitahukan Trisno.


Sesampainya Usup di hadapan Trisno ia langsung memberitahukan Trisno.


“Bos bahaya Bos, bahaya!” ujar Usup yang panik.


“Bahaya kenapa?” tanya Trisno sembari masih memegang kedua anak Surti. 


“Surti pendarahan kembali Bos,” ujar Usup dengan panik.


“Hah apa? Dia pendarahan kembali, Lasmi cepat telepon Iwan suruh Iwan memberitahukan mbah Minah minta ramuan obat bilang kepadanya Surti mengalami pendarahan kembali!” Perintah Trisno.


“Baik Mas,” sahut Lasmi.


“Tapi Nak? Menganggap tidak di kubur di sisi saja.”


“Aku tidak ingin, aku ingin menghilangkan semua bukti-bukti,” kata Trisno.


“Cepat ambil bayi ini dan buang ke hutan jauh-jauh, ibu jangan macam-macam jika aku mengetahui ibu menguburnya di daerah ini, aku pun tidak akan segan-segan memasung ibu juga bersama Surti, jika ibu masih tetap membela Surti, ibu mengerti!” bentak Trisno sembari mengancam ibunya.


“Baik Trisno,” sahut Tini yang takut dengan ancaman Trisno.


Tini pun pergi kelar rumah Trisno sembari mengendong sang bayi.


 Dengan mengendap-endap Surti berjalan menuju hutan mengendong sang bayi.


Beberapa menit kemudian Iwan membawa, ramuan dari mbah Minah.


“Bos ini ramuannya,” ujar Iwan.


“Berikan kepada Surti, jika dia tidak mau meminumnya paksa saja! Dan kalian berdua rawat Surti, jangan sampai dia mati jika dia mati kalian berdua akan menyusulnya,” ancam kembali Trisno.


“Ba-baik Bos,” sahut serentak Usup serta Iwan.


Mereka berdua pun berjalan masuk ke ruang bawah tanah.


“Lasmi! Lasmi!” panggil Trisno.

__ADS_1


“Iya Mas,” sahut Lasmi menghampiri Trisno di depan pintu ritualnya.


“Tolong bantu Usup serta Iwan merawat Surti, jangan sampai dia mati!” Trisno memerintahkan Lasmi.


“Baik Mas,” ujar Lasmi.


Lasmi pun berjalan menghampiri Usup serta Iwan ke ruangan bawah tanah.


Sementara Usul serta Iwan yang telah sampai terlebih dahulu di ruang bawah tanah melihat keadaan Surti yang mulai lemas.


Mereka berlari menghampiri Surti, sayu-sayup penglihatan Surti mulai tampak buram.


“Surti bangun, bangun Surti,” ujar Iwan yang menepuk-nepuk pipi Surti.


Surti mulai tersadar dan di paksa Iwan untuk meminum ramuan yang dia bawa dari mbah Minah.


“Ayo minum ramuan ini Surti, kamu jangan mati, nanti nyawa kami taruhannya Surti,” ujar Iwan yang memaksa Surti meminum ramuan di botol yang Iwan bawa.


Surti yang masih tersadar namun sangat lemas akibat pendarahan pun hanya bisa meneguk secara perlahan ramuan itu sampai habis.


Tidak lama setelah mereka berdua memberikan ramuan kepada Surti, Lasmi pun datang.


“Bagaimana keadaannya?”  tanya Lasmi.


“Ramuannya sudah di minum habis tapi Surti malah tidak sadarkan diri,” ujar Usup memberitahukan Lasmi.


“Mungkin dia hanya lemas, karena habis melahirkan di tambah dengan pendarahan, kalian berdua tidur di ruang bawah tanah ini jaga Surti sampai dia siuman. Kalian berdua mengerti!” perintah Lasmi.


“Ba-baik Bu, kami berdua mengerti,” ucap Usup.


“Iwan ambil sarung serta baju di kamar Surti!” 


“Baik Bu.”


Iwan bergegas mengambil sarung serta baju di kamar Surti, setelah mendapatkannya. Iwan pun kembali menyerahkan pakaian serta sarung kepada Lasmi.


“Ini Bu sarung dan bajunya,” kata Iwan.


“Bantu aku menggantikan bajunya dan membersihkan lantai yang penuh darah ini.


“Baik Bu.”


Lasmi di bantu Iwan serta Usup mengganti baju Surti dan mengelap lantai yang penuh darah dengan baju serata sarung yang telah kotor.


  Setelah semua telah selesai Lasmi meninggalkan mereka berdua di ruangan bawah tanah untuk menjaga Surti.


“kalian berdua malam ini tidur di ruangan ini, jaga Surti hingga ia sadar, kalian mengerti!” 


“Baik Bu kami mengerti,” kata Iwan.


Setelah memberikan perintah kepada Iwan dan Usup, Lasmi pun berjalan  keluar dari ruangan bawah tanah itu menuju kamarnya untuk beristirahat kembali.


 

__ADS_1


 


__ADS_2