Jenglot

Jenglot
Ditolong oleh Leluhur


__ADS_3

Polisi serta tim SAR tengah melakukan proses pencarian, nomor ponsel Anwar di lacak dan mendapatkan titik terakhir Anwar menghilang yaitu di sebuah hutan yang terkenal dengan keangkerannya.


Polisi dan tim SAR bergerak menyusuri lokasi terakhir dari Anwar, beberapa orang sempat mendapatkan sebuah jejak.


Terlihat dari semak-semak yang tidak lurus lagi serta tidak beraturan seperti habis diinjak oleh seseorang.


Namun anehnya jejak itu menghilang saat mereka sampai di sebuah persimpangan jalan yang ada di hutan tersebut.


Di sisi lain Anwar yang tengah terjebak itu pun hanya bisa pasrah, akibat kecerobohannya yang dengan gegabah masuk ke tempat itu hanya dengan bermodalkan keberanian.


“Aku minta maaf, ini memang salahku. Aku mohon bebaskan aku,” ucap Anwar.


“Orang dengan hati yang busuk tidak akan bisa keluar dari tempatku ini. Kau akan aku jadikan budak!” ucapnya.


Mendengar hal tersebut Anwar seperti kehilangan harapan, ia beranggapan jika dirinya akan selamanya di tempat itu karena tidak ada yang tahu jika dirinya pergi ke tempat itu.


Saat di kurung Anwar tidak di beri makan atau minum, ia di biarkan begitu saja hingga membuat tubuhnya lemas.


Melihat wajah Anwar yang pucat dan lemas ratu ular itu pun menyuruh pengawalnya untuk memberi Anwar makan.


Sepiring makanan di taruh di hadapan Anwar, bukannya langsung memakannya Anwar malah mual serta muntah-muntah.


Bukan sepiring makanan lezat yang tersaji melainkan daging serta isi perut hewan yang masih berlumuran darah namun memiliki bau yang busuk serta segelas air minum.


Anwar hanya mengambil air minum itu dan menenggaknya hingga habis tanpa menyentuh sedikit pun makanan tersebut.


‘Mana bisa aku memakan bangkai seperti ini?’ batin Anwar.


Salah seorang pengawal melihat Anwar tak menyentuh makananya.


“Kamu tidak memakannya?” tanya pengawal itu.


“Tidak. Aku tidak bisa memakan makanan mentah,” ucap Anwar berdalih.


“Kalau begitu untukku saja.”


Pengawal itu mengambil piring yang ada di depan jeruji besi tersebut. Anwar memperhatikan penjaga tersebut memakan makanan itu dengan sangat lahap bahkan menjilati piring yang berlumuran darah tersebut.


Seketika perut Anwar mual dan mulai muntah, bau yang keluar ketika makanan itu di makan pun menyeruak.


Dari dalam kerangkeng besi itu Anwar hanya bisa melihat aktivitas mereka, layaknya kerajaan pada umumnya hanya saja makanan yang mereka makan sangat berbeda.


Saat di dalam kurungan itu Anwar merenung, ia teringat dengan anaknya Bayu dan juga istrinya.


‘Mereka pasti mencariku, aku sangat merindukan Bayu,' batin Anwar.


Saat itu juga terlihat cahaya putih yang memecah kegelapan di dalam kurungan tersebut. Hingga muncul seseorang berpakaian putih, bersorban serta di tangan kanannya tengah memegang sebuah tasbih.


“Si-siapa kamu?” ucap Anwar.


“Hatimu kotor, tapi karena kau telah mengingat cucuku dan menyayanginya dengan tulus maka aku akan membantumu.”


“Cucu? Siapa?” ucap Anwar. “Apa jangan-jangan Bayu?”


“Aku berterima kasih karena telah mau merawat cucuku sebagai penerus leluhurnya.”


“Maka dari itu aku akan membantu mu keluar dari tempat ini, tapi ingat satu hal jangan pernah lagi kamu mengurusi harta, pekerjaan serta urusan orang lain. Rejeki itu sudah diatur oleh Allah jangan kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.” sambungnya.

__ADS_1


“Baik saya berjanji, tidak akan lagi melakukan hal tersebut,” ucap Anwar.


“Lihatlah cayaha itu, kamu hampiri dan masuk ke dalamnya. Kamu harus cepat sebelum mereka menyadari keberadaanku.”


Terlihat sebuah cahaya putih yang kecil, semakin di dekati cahaya itu semakin membesar hingga Anwar dapat masuk ke dalamnya, Anwar berlari sekencang yang ia bisa hingga ia tiba-tiba berada di dalam hutan dengan penuh semak yang tinggi.


Dengan tubuh lemasnya Anwar berjalan menyusuri semak belukar diantara rimbunnya pepohonan hingga ia mendengar suara riuh serta gongongan anjing.


Anjng pelacak milik polisi berhasil mengendus keberadaan Anwar ia berlari sembari menggonggong higga sampai menghampiri Anwar.


Anwar terkejut karena di hampiri oleh dua ekor anjing yang besar dengan beberapa orang mengikuti di belakangnya.


Melihat orang-orang berpakaian seragam polisi lengkap ia pun akhirnya lega dan terduduk lemas di tanah.


Tim penyelamat dari kepolisian pun mulai berteriak meminta tandu, entah apa yang harus Anwar ucapkan. Mulutnya membisu seakan menyimpan kejadian itu dengan rapat.


Tanpa banyak bertanya tim penyelamat menaikkan tubuh Anwar ke atas tandu dan menggotongnya menuju luar hutan.


Anwar langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diberi perawatan.


Rini yang saat itu berada di rumah tengah menunggu kabar baik dari kepolisian, sampai ponselnya pun berdering dengan cepat Rini mengangkatnya.


“Halo,” ucap Rini di balik telepon.


“Ibu Rini, kami berhasil menemukan bapak Anwar di dalam hutan. Sekarang bapak Anwar tengah berada di perjalanan menuju rumah sakit,” tuturnya.


“Alhamdulillah. Terima kasih pak,” ucap Rini sambil menitikkan air mata.


“Kami akan mengirimkan alamar rumah sakitnya segera.”


“Baik pak terima kasih,” ucap Rini sambil menutup telepon.


“Alhamdulillah Bu, akhirnya bapak Anwar ketemu. Saya sangat bersyukur sekali,” ucap bi Ijam di dalam mobil.


“Iya Bi, saya sangat bersyukur sekali Mas Anwar bisa ditemukan,” sahut Rini dengan mata yang berkaca-kaca.


Rini memacu mobilnya dengan kecepatan sedang hingga mereka sampai di rumah sakit.


“Bu kita ngapain ke rumah sakit? Ibu sakit?” tanya Bayu.


“Kita mau jenguk Ayah,” sahut Rini.


“Ayah sakit Bu? Pantas aja ayah gak ada di rumah,” sahut Bayu dengan polosnya.


Mereka bergegas masuk rumah sakit dan mencari ruangan Anwar di rawat.


Didepn ruangan itu sudah terdapat beberapa polisi yang berdiri di depan pintu.


“Pak bagaimana suami saya?” tanya Rini.


“Suami Ibu baik-baik saja. Kata dokter dia hanya lemas dan dehidrasi,” sahut polisi tersebut.


Rini, Bayu dan bi Ijah pun masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat Rini menghampiri Anwar lalu langsung memeluknya dengan erat.


“Syukurlah Mas kamu selamat,” ucap Rini dengan tersedu.


“Ayah ... Ayah sakit?” tanya Bayu.

__ADS_1


“Iya Nak, tapi sebentar lagi Ayah bisa pulang,” sahut Anwar.


“Asyik ... Berarti bisa main lagi dong sama Bayu Yah.”


“Tentu saja, nanti kita main ya,” sahut Anwar.


Anwar memperhatikan Bayu, ia seperti sedang melihat ke arah samping pojok ruangan, karena penasaran Anwar bertanya kepada Bayu.


“Bayu kamu lihat apa?” tanya Anwar.


“Lihat kakek Yah, katanya Bayu gak boleh nakal. Terus kakeknya hilang Yah,” sahut Bayu.


Rini pun bingung, pasalnya di sana tidak ada siapa-siapa di sana. Anwar yang mengetahui siapa yang Bayu maksud pun hanya tersenyum kecil.


“Iya Bayu jangan nakal dan rajin belajar ya, jangan malas,” ucap Anwar.


Bayu mengagukkan kepalanya sambil tersenyum riang,  bi Ijah yang penasaran pun kembali bertanya kepada Bayu.


“Memang Bayu lihat siapa?” tanya bi Ijah.


“Kakek, bajunya warna putih terus ada kain di kepalanya Bi,” sahut Bayu.


Bi Ijah pun terdiam lalu memandangi pojok kamar itu, terlihat gelagat bi Ijah seperti ketakutan.


Beberapa polisi pun masuk dan meminta izin untuk meminta keterangan terkait tersesatnya Anwar.


“Saat itu saya lagi ada pekerjaan diluar kota, karena mengantuk saya menepi di pinggir sebentar. Untuk menghilangkan kantuk, saya berjalan ke hutan itu sebentar dan saat itu saya melihat ada rusa jadi saya mengikutinya sampai akhirnya tersesat,” tutur Anwar berbohong.


Polisi pun tidak memperpanjang kasus ini, mereka pun membubarkan diri. 


Keesokan harinya Anwar sudah diperbolehkan pulang, saat berada di rumah barulah Anwar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Rini istrinya.


“Mas sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Rini.


“Sebenarnya aku mencari seseorang, kata dukun itu orang itulah yang bisa melawan Trisno. Tapi bukannya bertemu dengan orang itu aku malah di sekap,” tutur Anwar.


“Di sekap di hutan? Oleh siapa Mas? Kenapa Mas gak bilang ke polisi?” ucap Rini.


“Polisi tidak akan percaya. Mas di sekap di kerajaan milik ratu ular, sebenarnya Mas sudah diwanti-wanti agar tidak ke sana karena berbahaya namun Mas tetap pergi karena berambisi untuk menjatuhkan Trisno dan hasilnya Mas di tangkap oleh para siluman ular,” tutur Anwar.


“Mas di kurung selama satu hari,” sambung Anwar.


“Gak mungkin. Mas itu sudah hilang satu minggu Mas,” ucap Rini.


“Satu minggu? Aku berada di sana hanya satu malam Rini. Kalau bukan karena kakek itu Mas mungkin tidak bisa kembali,” sahut Anwar.


“Mas menghilang tanggal delapan dan Mas di temukan seminggu setelahnya pada tanggal  14 lalu sekarang sudah tanggal 16 Mas,” tutur Rini.


Anwar tidak habis pikir, padahal ia baru satu malam berada di alam gaib tersebut, tapi anehnya Anwar dinyatakan hilang seminggu yang lalu.


“Lalu kekek siapa yang Mas maksud?”


“Dia bilang, dia adalah leluhur dari anak kita Bayu, dan ia mewanti-wantiku agar berhenti mengurusi Trisno dan hidup dengan sewajarnya tanpa memikirkan urusan orang lain,” ucap Anwar.


“Apa kakek itu yang Bayu lihat saat di rumah sakit?” tanya Rini.


“Ya benar dan sepertinya anak kita itu anak yang istimewa. Sekarang Mas tidak peduli lagi dengan masalah Trisno,” ucap Anwar.

__ADS_1


Anwar hanya bisa mengucap syukur kepada sang pencipta karena ia telah di beri kesempatan untuk membenahi hidupnya lagi.


Anwar bertekat tidak akan melakukan hal semacam itu lagi, ia juga sudah tidak memedulikan masalah Trisno lagi. Ia lebih fokus pada bisnisnya karena ia ingat ucapan dar leluhur Bayu tentang rejeki tidak akan tertukar.


__ADS_2