
Di malam harinya saat Trisno sedang berada di kamar untuk beristirahat, Lasmi menanyakan perihal bisnis baru yang akan ia laksanakan.
“Bagaimana bisnis barumu itu Mas?” Tanya Lasmi.
“Sepertinya bisnis itu menjanjikan sayang, dan kamu nanti bisa keluar negeri jika bisnis ini gol,” ujar Trisno menjelaskan kepada Lasmi.
“Apakah itu benar Mas, jika begitu aku impian ku untuk dapat ke luar negeri akan terwujud.”
“Iya Lasmi, berkat Jenglot itu kita semakin kaya raya Lasmi, hahahaha,” ujar Trisno sembari tertawa bahagia.
“Oh Iya bagaimana keadaan Surti Mas?” tanya Lasmi.
“Dia sudah di obati oleh ibu tadi aku meminta tolong ibu untuk mengobatinya.”
“Kenapa kamu sampai melukainya Mas?”
“Dia membuat aku kesal Lasmi, aku sudah baik menyuapinya makan dia malah berlaku kurang ajar kepadaku ya aku pun emosi dan aku beri pelajaran.”
“Jangan terlalu keras dengannya Mas, jika dia kenapa-kenapa akan menjadi bahaya bagi kita nanti, dan kenapa dia tidak di lepaskan saja Mas?” saran dari Lasmi.
“Melepaskan dia cari mati Lasmi, bagaimana jika dia melaporkan kita ke polisi. Akan jadi bahaya bagi kita Lasmi.”
“Iya benar kata mu, aku tidak berpikir sampai ke sana.”
Malam pun mulai semakin larut, Trisno dan Lasmi yang sedang mengobrol santai perlahan-lahan mulai mengantuk, akhirnya mereka berdua pun tertidur.
***
Dua hari telah berlalu, di Siang itu Trisno yang sedang bersantai menikmati secangkir kopi hitamnya serta di rokoknya sedang duduk di depan teras rumahnya.
Secara tiba-tiba ponsel milik Trisno yang berada di meja teras depan berbunyi.
Trisno melihat di layar ponselnya ternyata pak Arifin yang meneleponnya.
Dengan sigap Trisno pun langsung mengangkat teleponnya itu.
“Hallo selamat Siang pak Trisno,” ucap Arifin di ponsel.
“Iya Pak Arifin, bagaimana hari ini, katanya bapak ingin membawa saya ke area pertambangan.
“Iya pak ini saya mau ke rumah bapak dan mengajak bapak ke tambang milik saya,” ujar Arifin.
“Baiklah Pak Arifin saya tunggu bapak di rumah.”
“Siap pak paling sekitar satu jam lagi saya sampai.”
“Baik pak kalau begitu saya bersiap-siap terlebih dahulu,” kata Trisno sembari mematikan ponsel miliknya.
Trisno pun menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya
__ADS_1
Setelah ia mengganti pakaiannya Trisno mendatangi Iwan untuk menemaninya ke pertambangan.
“Wan ayo ikut aku!” ucap Trisno.
“Ke mana Bos?” tanya Iwan.
“Ke tambang batu bara milik pak Arifin yang nanti akan menjadi milikku.”
“Oke Bos, oh iya Usup mana?” tanya Trisno.
“Oh Usup tadi keluar Bos, cari rokok ke warung katanya.
“Nanti kalau dia pulang tolong beritahukan dia untuk mengurus Surti,” ujar Trisno.
“Oke Bos,” sahut Iwan.
Tidak berselang lama Trisno yang meninggalkan Iwan.
Usup pun telah datang, Iwan menyampaikan pesan dari Trisno ke Usup.
“Eh Usup tadi bos mencari kamu.”
“Tumben ada apa bos mencari aku Wan?”
“Katanya kamu suruh mengantarkan Surti makan siang.”
“Iya nanti aku antar, setelah aku makan Siang. Aku saja belum makan kok,” ujar Usup.
Satu jam telah berlalu terdengar suara klakson mobil bapak Arifin di luar pagar Trisno.
Iwan yang mendengar pun langsung bergegas membukakan pintu pagar.
“Mana Pak Trisno?” ujar Pak Arifin yang membuka kaca mobilnya.
“Tunggunya ya pak saya panggil bos saya dulu, tadi sih pak Trisno menunggu pak Arifin ,” kata Iwan.
“Ya sudah panggil bosmu dulu bilang pak Arifin sudah menunggu di mobil,” pesan Pak Arifin.
“Baik pak.”
Iwan pun masuk ke rumah Trisno memberi tahukan bahwa pak Arifin sudah datang.
Beberapa menit kemudian Iwan berserta Trisno menghampiri mobil pak Arifin dan menaikinya.
Mereka bertiga pun jalan menuju pertambangan.
Sesampainya di pertambangan Trisno di bawa pak Arifin berjalan menuju tambang batu baru.
“Ayo pak kita sudah sampai, ucap Arifin,” memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tambang bati bara tersebut.
__ADS_1
Mereka bertiga keluar dari mobil dan menuju pertambangan.
Sesampainya di pertambangan terlihat banyak mobil truk yang mengangkut hasil tambang.
“Lihat pak di tempat ini bayak sekali batu bara, berapa truk yang sedari tadi mengangkut batu bara ini,” ujar Arifin.
Trisno pun sangat kagum dengan hasil yang batu bara yang melimpah.
“Iya benar hasil tambang di sini sangat melimpah, jika kita keruk lebih banyak lagi bisa sangat banyak yang akan kita jual ke luar negeri,” ujar Trisno yang sangat antusias.
“Bagaimana bapak berminat menanam saham di perusahaan ini,” tanya Arifin.
“Ya saya berminat, setelah saya melihat hasilnya tambang yang sangat bagus saya berminat,” kata Trisno.
“Baiklah jika begitu, senang bekerja sama dengan anda pak Trisno,” ujar Arifin sembari bersalaman dengan Trisno.
Mereka berdua pun telah sepakat untuk bekerja sama satu sama lain.
Hari pun mulai menjelang sore pak Arifin mengantarkan Trisno serta Iwan kembali pulang.
Mereka bertiga berjalan menuju mobil Arifin yang tidak jauh di parkirkan olehnya.
Sesampainya di mobil, mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Arifin, di sini Arifin sendiri yang mengemudikan mobilnya karena Arifin sangat menguasa jalan pertambangan.
Dua jam telah berlalu mereka pun akhirnya telah sampai di depan pagar rumah Trisno.
“Oke pak sampai bertemu kembali, pak Trisno tahu beres saja semua biar saya yang mengatur,” ujar Arifin.
“Ya saya percayakan kepada bapak Arifin sendiri,” kata Trisno.
Pak Arifin pun berpamitan untuk pulang, sementara Trisno memberitahukan kabar ini kepada sang Istri Lasmi.
Trisno menghampiri Lasmi yang sedang masak di dapur di bantu oleh sang ibunya yaitu Tini.
Lasmi berserta Tini yang mendengar penjelasan Trisno dengan bisnis barunya begitu sangat senang.
“Ibu sangat senang jika bisnis baru akan berkembang Trisno,” ucap Tini.
“Iya Mas, aku pun sangat senang mendengarnya,” kata Lasmi.
“Baguslah jika kalian berdua mendukung bisnis baru ini,” ujar Trisno.
“Ibu akan selalu mendukungmu Nak, selama itu hal yang baik yang kau lakukan,” Tini mencoba mengingatkan Trisno.
“Bu bisa tidak sehari saja ibu tidak membuat Trisno kesal!” ucap Trisno dengan nada marah.
Tini pun sontak saja terdiam, niat hatinya ingin mencoba menasihati anaknya secara perlahan tapi malah sebaliknya Trisno mendengar ucapan ibunya membuat dirinya sangat marah.
Karena kesal dengan sang ibu dan tidak mau berdebat Trisno meninggalkan ibunya pergi menuju kamarnya.
__ADS_1