
Semua orang sibuk mempersiapkan kelahiran bayi Surti, apa lagi Tini ia sangat antusias kali ini.
“Lasmi ambilkan air hangat taruh dalam baskom,” pinta Tini.
“Baik Bu,” sahut Lasmi.
Terlihat Surti sudah mulai mengerang kesakitan, keringat mengucur deras di kedua sisi keningnya.
Semua peralatan untuk persalinan Surti pun telah siap.
“Gimana mbah?” tanya Lasmi.
“Sudah pembukaan akhir, kita mulai.”
”Surti tarik nafas hembuskan perlahan ya Nak,” pinta mbah Minah.
Surti pun mengikutinya, Lasmi mengusap keringat Surti dengan lembut.
“Terus Surti,” ucap mbah Minah.
Surti mengejan sekuat tenaga berkali-kali, proses persalinan cukup dramatis Surti beberapa kali berteriak kesakitan.
Sekitar satu jam Surti berjuang untuk melahirkan anaknya hingga akhirnya si jabang bayi keluar.
Tangisan bayi menggema, hingga sampai di ruang tamu. Trisno dan ajudannya yang tengah santai itu pun langsung berlari menghampiri kamar Surti.
“Selamat Nak Surti bayi kamu perempuan,” ucap mbah Minah.Ya
Mbah Minah membersihkan bayi tersebut lalu memberikan bayi itu kepada Surti, namun Surti menolaknya bahkan ia tidak ingin melihat bayi tersebut.
Mbah Minah pun memberikannya kepada Lasmi.
Dengan senang hati Lasmi menerimanya, ia menggendong bayi itu sambil tersenyum bahagia.
Dari balik pintu kamar yang tertutup rapat Trisno pun menanyakan perihal bayi tersebut.
“Perempuan apa laki-laki?” tanya Trisno.
“Perempuan Mas,” sahut Lasmi.
Trisno pun bersenyum senang mendengar hal tersebut.
Hingga Trisno dan kedua ajudannya di perbolehkan masuk oleh mbah Minah.
Trisno langsung masuk dan menghampiri Lasmi.
“Lihat Mas bayinya perempuan,” ucap Lasmi.
“Dia cantik, ayo kita bawa ke kamar.”
Bayi itu pun mereka bawa masuk ke dalam kamar, di dalam sana sudah terdapat perlengkapan bayi yang cukup lengkap.
Trisno dengan wajah semringahnya menggendong bayi tersebut.
“Trisno itu bayi baru lahir harus langsung di adzani,” ucap mbah Minah.
Trisno pun mengadzani bayi perempuan tersebut. Untuk pertama kalinya terdengar suara adzan di rumah tersebut.
Keesokan harinya Lasmi dan Trisno masih sibuk dengan bayi mereka. Lasmi menggendong bayi tersebut sambil bersenandung.
__ADS_1
Kini keluarga Trisno telah lengkap dengan adanya kehadiran bayi kecil.
Sedangkan Tini masih sibuk untuk mengurus Surti di kamarnya, Surti yang masih terkulai lemas itu seperti tidak ingin sama sekali melihat anaknya.
Hari-hati Lasmi dam Trisno semakin berwarna suara tangis bayi seakan menjadi nyanyian merdu di telinga mereka berdua.
Mereka menguris bayi tersebut dengan sepenuh hati dan melimpahkan kasih sayang untuk bayi itu.
“Mas kita kasih nama siapa anak kita?” tanya Lasmi.
“Bagaimana kalau Ratih,” ucap Trisno.
“Gak Mas aku gak suka, kasih nama Gendis saja,” ucap Lasmi.
“Gendis Lasmini Sutrisno,” ucap Trisno.
“Iya Mas bagus. Gendis cah ayu,” ucap Lasmi kepada bayi yang ia gendong tersebut.
Hari demi hari berlalu hingga suatu malam Trisno mengalami sebuah mimpi yang cukup menyeramkan.
Dalam mimpi tersebut Trisno berada di sebuah hutan lebat dengan semak belukar di seluruh hutan.
Langitnya terlihat begitu gelap, kabut putih menyelimuti seluruh bagian hutan membuat jarak penglihatan Trisno menjadi sedikit terganggu.
Di balik kabut itu Trisno melihat sepasang cahaya berwarna merah berjarak berdekatan, cahaya itu semakin lama semakin mendekat.
Hingga terlihat sosok jenglot dengan ukuran tubuh sebesar manusia.
“Je-jenglot!” pekik Trisno.
Trisno terkejut bukan kepalang, melihat sosok yang biasanya kecil tidak lebih besar dari telapak tangan itu kini menjadi sebesar dirinya.
“Trisno. Mana bayi yang kau janjikan?” ucap Jenglot itu dengan suara beratnya.
“Sa-saya sudah siapkan, tapi bukan bayi Surti. Saya mohon anda bersabar Jenglot sebentar lagi wanita itu akan melahirkan dan bayinya akan aku persembahkan untukmu,” ucap Trisno dengan terbata.
“Lagi pula ini belum tiga tahun, masih ada waktu satu tahun lagi,” sambung Trisno.
“Tidak perduli ini belum tiga tahun atau sudah. Aku ingin bayi itu sekarang!” ucap Jenglot itu.
“Sabar Jenglot, beri aku waktu beberapa bulan lagi aku pasti akan memberikannya,” sahut Trisno.
“Aku akan memberimu kesempatan. Jika tidak kau berikan makananku maka bayi itu akan menjadi gantinya dan kamu serta istrimu akan jadi budakku di sini!” ancam jenglot tersebut.
“Baik jenglot,” ucap Trisno.
Jenglot itu tiba-tiba menghilang dengan sekejab meninggalkan Trisno yang masih menunduk karena tidak berani menatap wujud jenglot tersebut.
Hingga tiba-tiba Trisno terbangun dari tidurnya karena tangisan Gendis.
Dengan cepat Trisno menghampiri Gendis lalu menggendongnya.
“Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa Nak,” ucap Trisno sembari menggendong Gendis.
Lasmi pun terbangun dan langsung membuatkan susu formula untuk Gendis, mereka terpaksa memberikan susu formula karena Surti tidak ingin memberikan asi kepada anaknya.
Lasmi dengan cepat memberikan dot berisi susu tersebut kepada Gendis, Gendis pun diam.
Saat Lasmi memberikan susu kepada Gendis, Trisno bercerita kepada Lasmi tentang mimpinya.
__ADS_1
“Aku mimpi jenglot itu minta bayi,” ucap Trisno.
“Tapi Mas ini kan belum tiga tahun,” ucap Lasmi.
“Aku juga tidak mengerti Lasmi, kenapa dia memintanya padahal belum tiga tahun,” ucap Trisno.
“Tapi apa jenglot itu mau menunggu Mas?” tanya Lasmi.
“Dalam mimpiku dia mau memberikan kesempatan kepadaku.”
Tidak lama tangisan itu pun berhenti, Trisno kembali menaruh Gendis ke ranjang bayi yang ada di samping kasurnya.
Gendis tertidur dengan lelap setelah di berikan susu oleh Trisno.
Trisno dan Lasmi pun kembali melanjutkan tidurnya.
Keeseokan paginya, Lasmi tengah sibuk memandikan Gendis serta mengganti pakaiannya. Sedangkan Trisno asik bersantai di teras rumah bersama Usup dan juga Iwan.
“Bos hari ini mau kemana lagi?” tanya Usup.
“Kenapa memangnya?”
“Tidak Bos, kalau Bos nganggur saya mau tidur Bos,” sahut Usup.
“Kamu ini Sup tidur terus,” tegur Iwan.
“Aku mau ke tambang hari ini,” ucap Trisno.
“Wah sekarang Bos jadi makin sibuk, sekali-sekali ajak kita ke tambang Bos,” pinta Iwan.
“Buat apa?” tanya Trisno.
“Belajar Bos, siapa tahu saya bisa jadi Bos tambang juga,” ucap Iwan.
“Halah Bos tambang ndas mu! Ngitung duit aja sering salah mau jadi Bos,” ejek Usup.
“Lah dari pada kamu kerjaanya makan nanti tidur nanti bangun makan lagi,” sahut Iwan.
“Eh ... Sudah sudah! Kalian berdua ikut saya saja ke tambang,” ucap Trisno.
“Wah beneran Bos.”
“Iya cepat kamu panaskan mobil dulu sana!” pinta Trisno kepada Iwan.
Iwan dan Usup pun beranjak, Trino berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk berpamitan dengan istrinya Lasmi.
“Mas mau pergi ke tambang dulu, kamu baik-baik di rumah mengerti,” ucap Trisno.
“Iya. Mas hati-hati ya,” sahut Lasmi.
“Iya. Usup dan Iwan aku ajak, jika ada apa-apa kamu minta tolong sama ibu.”
“Iya Mas.”
Trisno pun berjalan ke luar rumah dan menuju bagasi, sudah ada Usup dan Iwan yang siap untuk berangkat bersama Trisno.
“Ayo cepat masuk,” pinta Trisno.
Mereka semua masuk ke dalam mobil dan melaju menuju tambang batu bara.
__ADS_1