Jenglot

Jenglot
Mimpi yang sama


__ADS_3

Keesokan paginya rutinitas seperti biasa di lakukan oleh Gendis.


Setelah selesai mandi dan memakai seragam putih abu-abu Gendis berjalan menuju meja makan untuk sarapan lagi yang telah di buatkan oleh Tini.


Gendis mengambil satu potong roti isi selai coklat.


“Gendis kok makannya sambil melamun? Tidak baik jika makan itu melamun, soalnya di hadapanmu ini rezeki Gendis,” kata Tini yang memberi nasehat kepada Gendis.


“Eh iya Nek maaf, Gendis hanya ke pikiran tentang mimpi Gendis tadi malam. Mimpi itu seolah-olah seperti nyata Nek dan seperti sebuah peringatan untuk Gendis,” sahut Gendis kepada sang Nenek.


“Sudah jangan terlalu memikirkan hal itu, berdoa saja semoga kita semua di jauhkan dengan hal yang tidak baik.”


“Iya Nek.”


“Oh iya temanmu siapa itu cowok yang pernah ke rumah kerja kelompok denganmu Gendis?” tanya Tini.


“Oh itu Bayu kenapa Nek?” 


“Tidak sepertinya anak itu baik.”


“Iya pastilah Nek, Bayu sendiri aja dari kalangan orang tua yang baik mangkanya dia biak tidak seperti Gendis.” 


“Kok ngomongnya begitu Gendis. Gendis itu cucu Nenek yang paling baik,” ujar Tini mencoba menghibur Gendis.


“Iya Gendis, tapi Bapak kerjanya aja seperti itu banyak warga kampung yang membicarakaan Bapak Nek apa lagi di sekolah anak-anak mereka suka membicarakan Bapak di belakang Gendis yang judi ayam, main judi, mabuk, nikah dengan janda kembang dll,” eluh Gendis kepada Neneknya.


“Gendis tidak boleh ngomong seperti itu, Bagaimanapun itu tetap Bapakmu, doakan saja Bapakmu dapat kembali ke jalan yang lurus,” kata Tini kepada Gendis.


“Iya Nek, oh iya Nenekkan bisa sholat ajarin Gendis sholat ya, dari kecil kan Bapak marah sama Nenek jika Nenek ngajarin Gendis ilmu agama,” ujar Gendis.


“Alhamdulillah, iya Sayang nanti pelan-pelan Nenek akan ajarin Gendis ilmu agama ya, satu pesan Nenek apa pun hal yang di lakukan bapakmu dan di jalan tidak baik membuat Gendis kecewa Gendis harus bisa memaafkannya karena bagaimana pun itu adalah bapakmu,” Tini yang memberikan nasehat kepada Gendis.


“Iya Nek,” sahut Gendis.


“Gendis janji sama Nenek.”


“Iya Nek, Gendis janji sama Nenek.”


Gendis pun melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


“Nek udah jam 7, Gendis berangkat sekolah dulu ya Nek,” ucap Gendis sembari mencium tangan Neneknya.


“Iya Gendis hati-hati, bawa motornya jangan ngebut-ngebut,” kata Tini yang memberi pesan.


“Iya Nek, Assalamualaikum.”

__ADS_1


“Walaikumsalam.” 


Gendis bergegas berjalan keluar rumah menghampiri motornya.


Sesampainya di garasi tempat motornya berada Gendis segera menaiki dan menjalankan motornya.


Tin ... Tin ...


Suara telakson  dari motor Gendis.


‘Aduh mana ini om Iwan dan om Usup, masa pintu pagar masih di kunci,' gumam Gendis di atas motornya.


“Om Iwan! Om Usup! Bukain pintu pagar!” teriak Gendis memanggil mereka berdua.


Iwan yang mendengar teriakan Gendis memanggil dirinya pun keluar dari pos jaga dengan membawa kunci menghampiri Gendis yang berada di depan pintu pagar.


“Aduh Gendis, pagi-pagi udah mengganggu om mimpi indah saja,” eluh Iwan sembari membukan kunci gembok yang berada di pintu pagar.


“Ini udah siang om, pintu pagar tidak di buka entar Gendis telat menunggu om bangun dari alam mimpi,” celetuk Gendis.


“Ya sudah ini, udah di bukain om mau lanjut tidur dulu,” kata Iwan sembari menguap karena masih merasakan kantuk.


Tanpa membuang-buang waktu Gendis pun menjalankan motor menuju sekolahnya.


Tidak perlu waktu yang lama Gendis pun telah tiba di parkiran sekolahan. Setelah memarkirkan motornya kesayangannya Gendis pun bergegas berjalan menuju kelasnya.


Langkah kaki Gendis sontak terhenti ketika ia mendengar suara Bayi yang memanggilnya dari arah belakang.


Gendis pun menoleh ke arah Bayu yang berjalan menghampirinya.


“Tumben kamu belum baru sampai di sekolah Bayu?” tanya Gendis.


“Iya gara-gara mimpi aneh tadi malam aku jadi tidak dapat tidur untung saja tidak telat,” kata Bayu sembari berjalan bersama Gendis menuju kelasnya.


“Memang mimpi apa?” tanya Gendis.


“Mimpi kamu,” sahut Bayu dengan singkat.


“Mimpi aku, memang aku kenapa sampai tidak bikin kamu tidur,” ledek Gendis sembari tersenyum.


“Aku takut kamu pergi.”


“Maksudnya apa Bayu,” tanya Gendis yang bingung.


“Udah nanti di kelas aja kita mengobrolnya,” sahut Bayu.

__ADS_1


Ucapan Bayu membuat Gendis merasa penasaran.


Gendis pun mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai di kelas dan mendengarkan Bayu tentang dirinya bermimpi Gendis.


Sesampainya di kelas mereka berdua pun duduk di bangku sembari meletakkan tasnya di atas bangku.


Gendis pun membuka obrolan menanyakan mimpi Bayu tentang dirinya.


“Bayu, memangnya kamu mimpi apa kok aku jadi penasaran?” kata Gendis.


Bayu pun mulai menceritakan mimpinya tadi malam kepada Gendis.


“Begini aku tadi malam mimpi kamu di bawa oleh sosok wanita, wanita itu memakai kebaya berwarna hijau dengan kain jarik bermotif batik. Terus wanita itu kalau tidak salah bernama nyai Asih,” Bayu yang menceritakan mimpinya kepada Gendis. 


Mendengar hal itu Gendis pun sangat terkejut karena mimpinya tadi malam hampir sama dengan mimpi Bayu.


“Terus kamu mimpi apa lagi?” tanya Gendis dengan sangat antusias.


“Jadi aku itu mimpi kita sedang kemping di hutan bersama teman-teman yang lain, nah kamu itu hilang dalam tim, aku pak guru dan teman yang lain mencari keberadaanmu, tapi yang dalam mimpiku yang menemukan kamu itu aku. Kamu berjalan di belakang mengikuti  wanita yang bernama nyai Asih itu tatapan mata mu saat aku lihat itu kosong beberapa kali aku panggil kamu tidak meresponsku. Terus aku berusaha menyadarkanmu agar tidak mengikuti wanita itu kembali ke tim kita tapi wanita itu malah marah kepadaku dan dia bilang jangan ikut campur urusanku,” kata Bayu yang memperjelas cerita dalam mimpinya.


 Gendis pun terdiam kaget akan mimpi dari Bayu.


‘Kenapa mimpi Bayu sama dengan mimpiku tadi malam wanita yang bernama nyai Asih itu,' batin Gendis.


“Genis! Gendis!,” Bayu yang memanggil-manggil Gendis.


“Eh iya Bayu Sory,” ujar Gendis yang menghentikan lamunannya.


“Gimana Sih kok malam melamun,” kata Bayu yang terlihat kesal.


“Maaf, soalnya waktu kamu bercerita akan mimpi aku kaget, karena tadi malam aku juga bermimpi sosok wanita bernama nyai Asih itu ingin mengajakku,” sahut Gendis.


“Tuh kan ini tidak sembarang mimpi, a-aku takut–“ ucap Bayu terhenti ketika mendengar bel sekolah yang berbunyi.


“Ya sudah nanti kita lanjut lagi cerita tentang mimpi ini, sebaiknya kita fokus belajar dulu,” kata Gendis.


“Iya Gendis,” sahut Bayu.


Mereka berdua menghentikan obrolan mereka tentang mimpi yang berkaitan satu sama lain.


Bu Guru pun mulai masuk ke kelas Gendis dan memulai pelajaran pertama Gendis berserta Bayu pun melupakan sejenak tentang mimpi mereka berdua.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2