
Satu bulan telah berlalu, kasus Sari pun di tutup oleh polisi, Iwan dan Usup pun bisa bernafas lega.
Mereka juga telah keluar dari pekerjaannya di desa itu dan kembali ke kediaman Trisno.
Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, Trisno juga tengah sibuk dengan istri barunya hingga melupakan masalah gadis itu.
Bukan hanya masalah ia lupakan, bahkan putri semata wayangnya itu pun ia lupakan karena sudah terlanjur mabuk cinta dengan wanita yang bernama Ningsih.
Tiga tahun sudah pernikahan Trisno dan juga Ningsih, namun mereka berdua masih terlihat sangat mesra layaknya seperti pengantin baru.
Di malam mereka bersama memadu kasih, Trisno terus melempar pujian kepada Ningsih.
“Ning kenapa kamu kok bisa awet cantiknya?” tanya Trisno.
“Ah ... Mas Trisno bisa saja kalau merayu,” ucap Ningsih malu.
“Ning, Mumpung semuanya lagi tidur kita ....”
“Kita apa Mas Trisno?” tanya Ningsih.
“Joniku sudah tegap berdiri Ning,” ucap Trisno.
“Ah ... Mas Trisno ini, belum juga di elus udah berdiri aja,” ucap Ningsih nakal.
“Ayo Ning, Mas sudah gak tahan,” ucap Trisno.
“Bukain dong,” ucap Ningsih manja.
Dengan sigap tangan Trisno menanggalkan satu per satu pakaian yang Ningsih kenalan hingga menyisakan ********** saja.
Kulit yang putih mulus serta bentuk tubuh yang aduhai membuat Trisno tidak sanggup berlama-lama menahan joninya tersebut.
Ditambah lagi rambut panjang yang terurai dan paras yang cantik menambah daya liblido Trisno menjadi meningkat.
Dengan cepat Trisno merogoh isi yang ada di ********** tersebut, suara-suara hasrat yang penuh nafsu itu pun mulai terdengar.
Ningsih menggeliat tanpa henti, ******* manja dari mulut kecil Ningsih membuat Trisno langsung menyingkai sarung yang ia kenakan dan langsung melakukan serangan mendadak.
“Mas Trisno pelan-pelan dong!” pekik Ningsih.
“Sttttt! Pelankan suaramu Ningsih,” ucap Trisno.
Trisno mulai melakukan pergerakan pertama, jari lentik Ningsih mulai memeluk erat Tubuh Trisno.
Pergulatan penuh nafsu itu pun berlangsung lama, Trisno bahkan melakukannya hingga berkali-kali. Keringat pelepasan dari hawa nafsu mereka pun bersatu padu.
Mereka berdua larut dalam kenikmatan, hingga Ningsih berpindah posisi membuat Trisno semakin menjadi-jadi.
Suara-suara alamiah dari dua manusia yang tengah memadu kasih itu pun tak terelakkan. Hingga mereka mencapai puncak kenikmatan.
Ningsih yang bermandikan keringat itu pun terkulai lemas di atas ranjang, begitu pula dengan Trisno.
Permainan mereka pun berakhir hingga mereka berdua tertidur.
Keesokan harinya, Ningsih keluar kamar dengan rambut yang masih basah. Tini yang melihat hal tersebut pun tersenyum sambil sesekali menyinggung masalah cucu.
__ADS_1
“Rajin sekali. Gak lama lagi saya bisa gendong cucu lagi kalau begini,” ucap Tini.
“Ah Ibu bisa aja,” sahut Ningsih.
Saat di meja makan, Ningsih meminta Tini untuk melayaninya. Sebenarnya sikap Ningsih berbanding berbalik dengan almarhumah Lasmi yang sangat rajin membatu Tini di dapur.
Sedangkan Ningsih hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak mau masuk bahkan menyentuh cucian pun tidak mau.
Gendis yang saat itu tengah sarapan pun menyapa Ningsih yang baru saja duduk.
“Pagi Mbak Ningsih,” ucap Gendis.
“Kok Mbak sih? Harusnya Ibu,” sahut Ningsih.
“Tapi kan Gendis cuma punya ibu satu,” sahutnya polos.
“Sudah kamu habiskan sarapannya lalu berangkat sekolah,” ucap Tini.
“Iya Nek.”
Tidak lama Trisno pun datang dan duduk di meja makan sebelah Ningsih.
“Mas aku pingin belanja ke kota boleh ya,” ucap Ningsih.
“Ya sudah, tapi jangan boros-boros mengerti.”
“Iya. Mas tenang aja,” sahut Ningsih.
Gendis pun selesai dengan makanannya lalu berpamitan dengan orang rumah.
“Om Iwan, memang salah ya kalau Gendis nyebut mbak Ningsih itu dengan sebutan mbak, bukan Ibu. Soalnya kan Gendis punya ibu cuma satu,” ucap Gendis.
“Menurut om Iwan sih gak salah, gimana sebutannya di ganti saja jangan Mbak tapi Tante,” ucap Iwan.
“Boleh juga, oke deh nanti Gendis nyembutnya Tante Ningsih aja,” sahutnya.
Gendis kecil pun sampai di sekolahnya, ia masuk ke dalam kelas dan merapikan buku-bukunya.
Di sisi lain Trisno yang tengah di mabuk asmara itu, selalu menuruti keinginan dari Ningsih apa pun yang diminta oleh Ningsih akan ia berikan.
“Mas kapan-kapan ajak Ningsih jalan-jalan ke luar negeri ya,” pinta Ningsih.
“Memangnya kamu mau kemana?” tanya Trisno.
“Ningsih mau ke Eropa Mas, sekalian kita bulan madu lagi di sana,” ucapnya.
“Ya sudah nanti Mas siapkan Visa dulu biar kita bisa pergi,” ucap Trisno.
Mendengar hal itu Ningsih pun menjadi sangat senang.
‘Akhirnya mimpiku buat jalan-jalan ke Eropa terwujud,' batinnya.
Waktu terus berjalan, hingga siang hari Trisno mendapat telepon dari Arifin jika ada investor baru yang akan menginvestasikan sabagian sahamnya pada perusahaan batu bara Trisno.
“Pak Trisno besok kita bertemu bagaimana?” tanya Arifin.
__ADS_1
“Tumben sekali, buat apa?”
“Ada investor baru lagi, dia mau investasi di perusahaan kita.”
“Oh ya. Kapan dia mau bertemu?” tanya Trisno.
“Orang itu bilang besok siang.”
“Ya sudah kami atus saja tempatnya dimana biar nanti aku datang ke sana,” ucap Trisno.
Trisno pun menutup teleponnya.
Beberapa menit setelah Trisno menutup telepon, Usup tiba-tiba datang dan memberitahukan kabar mengenai gadis perawan yang ia bunuh dulu.
“Bos sepertinya polisi mulai melakukan penyelidikan lagi tentang kasus Sari,” ucap Usup.
“Bukannya kamu bilang semua susah aman, kenapa sekarang malah polisi membuka kasusnya lagi?” tanya Trisno.
“Sepertinya polisi mulai mencurigai kami Bos,” ucap Usup.
“Aku tidak mau tahu, kalian bereskan sesegera mungkin masalah ini. Jangan sampai polisi mengetahuinya. Kalau tidak kalian berdua akan tahu akibatnya!” ancam Trisno.
“Ba-baik Bos,” sahut Usup.
Trisno pun duduk di atas sofa sambil bersantai dan menyalakan TV, awalnya acara Tv terlihat biasa saja bahkan Trisno tidak terlalu memperhatikan acara yang ada di Tv tersebut.
Hingga muncul sebuah berita, dalam berita tersebut memperlihatkan penemuan mayat wanita yang terkubur di bawah pohon di dalam hutan.
Dalam berita tersebut, mayat itu di temukan oleh para pendaki yang tidak sengaja beristirahat di bawah pohon tersebut.
Dari berita itu menerangkan jika para pendaki itu iseng membongkar tangan hingga menemukan sebuah tangan dan langsung melaporkannya ke polisi.
Melihat berita tersebut Trisno merasa waswas, ia langsung mematikan TV tersebut.
‘Sialan! Kenapa bisa sampai ada yang kesana.’ Guman Trisno
Trisno perlahan mulai panik karena polisi telah menemukan mayat Sari, gadis perawan yang Trisno bunuh secara keji.
Trisno kembali menyalakan Tv, untuk memantau perkembangan kasus tersebut.
Dalam berita itu menyebutkan mayat wanita itu adalah Sari, anak dari seorang juragan jagung dari desa sebelah.
Trisno terduduk lemas mengetahui hal tersebut, pasalnya juragan jagung itu adalah Kodir kerabat dari Trisno.
Saat mengeksekusi Sari Trisno tidak melihat wajahnya, ia hanya langsung membunuhnya lalu mengambil darahnya tanpa melihat wajah wanita tersebut.
Dengan kata lain ia telah membunuh keluarganya dengan tangannya sendiri.
“Sialan! Kenapa semuanya jadi seperti ini!” pekik Trisno.
“Kenapan Mas?” tanya Ningsih.
“Mas ... Mas. Kok diam?” ucap Ningsih.
“Gak apa-apa Ning, Mas Cuma capek,” sahutnya sambil meninggalkan Ningaih.
__ADS_1
Trisno pun masuk ke dalam kamar ritualnya dan mengurung diri di sana untuk menenangkan pikirannya.