Jenglot

Jenglot
Mimpi buruk


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di saat pertengahan malam yang sepi hanya suara jangkrik terdengar.


Dalam tidur lelapnya tiba-tiba Gendis terlihat gelisah, keringat dingin keluar dari sela pori-pori wajahnya.


Sesekali Gendis bergerak usik di atas kasurnya hingga membuat sprei kasurnya sedikit kusut.


Rupanya Gendis tengah bermimpi buruk, dalam mimpinya Gendis terengah-engah berlari di sebuah hutan yang gelap dengan pepohonan yang lebat.


“Tolong! Tolong!” teriak Gendis sembari berlari.


Dukk!


Gendis tersandung akar pohon yang melintang tertutup semak.


“Aaahhh!” pekik Gendis.


Gendis memegangi lututnya yang menghantam sebuah batu, ia mengerang kesakitan dalam mimpinya itu lututnya memar dan membiru.


Dengan cepat Gendis kembali bangkit lalu berlari kecil dengan sebelah kaki yang pincang.


Dalam mimpi itu Gendis seperti lari dari sesuatu, dan benar saja sosok mengerikan melayang cepat menghampiri Gendis.


Bukan hanya itu saja, sosok nyai Asih juga mengejarnya dengan wujud yang mengerikan.


Gendis tanpa henti berlari hingga ia kehabisan tenaga dan lemas.


Nyai Asih beserta sosok hitam itu perlahan mendekati Gendis.


“Mau apa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?” ucap Gendis.


Nyai Asih tersenyum sinis dengan tatapan mata yang begitu menakutkan. “Kamu harus jadi pengikutku!” ucap nyai Asih.


“Pengikut apa? Aku tidak mau!” pekik Gendis.


Tangan nyai Asih mulai menarik tubuh Gendis, tanpa di sentuh rubuh Gendis terangkat dengan sendirinya dan mendekat ke nyai Asih.


Nyai Asih mulai mencekik Gendis.


“Aakkh!” 


Leher Gendis di cengkram kuat oleh nyai Asih.

__ADS_1


“Tidak ada yang bisa membantahku termasuk kamu!” ucapnya.


Dengan tubuh yang terangkat serta leher yang di cekik Gendis tidak bisa melawan lagi, wajahnya memerah karena kehabisan nafas.


Hingga tiba-tiba Gendis terbangun dari mimpi buruknya itu.


Gendis langsung bangkit dari tidurnya lalu memegangi lehernya, dengan nafas tersengal ia berusaha menenangkan dirinya.


“Astagfirullah, mimpi apa aku barusan,” ucap Gendis.


Tidak lama suara kokokan ayam terdengar dari luar, langit gelap berangsur terang Gendis pun berjalan untuk mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Saat mandi Gendis masih merasa lemas serta kepalanya mulai sedikit pusing namun Gendis menghiraukan hal itu dn langsung mengakhiri mandinya lalu memakai seragam sekolahnya.


“Pagi Nek,” ucap Gendis menyapa Tini yang tengah menyiapkan sarapan.


“Sudah bangun, tumben pagi sekli,” ucap Tini.


Gendis tidak menjawab, ia hanya melempar senyum lamu mengambil selembar roti juga sebotol selai kacang.


Tini mulai memperhatikan Gendis, wajah biasnya perlahan berubah ketinya menatap cucu kesayangannya itu.


“Gendis kamu sakit?” tanya Tini.


“Kok muka kamu pucat banget sih?”


“Ah masa sih Nek, Gendis gak merasa apa-apa,” sahut Gendis.


“Ya sudah, mungkin kamu kurang darah. Habiskan rotinya dan minum susunya.”


Usai menghabiskan sarapannya Gendis masuk ke dalam mobil dn di antar menuju sekolahnya.


Saat di dalam kelas Gendis mulai bercerita kepada Bayu tentang mimpinya itu.


“Wah kamu udah di kelas, tumben,” ucap Bayu yang baru saja datang.


“Iya, gara-gara mimpi buruk itu aku langsung bangun,” sahut Gendis.


“Mimpi buruk? Memangnya kamu mimpi apa?” tanya Bayu.


“Aku mimpi di kejar-kejar cewek tapi wajahnya itu serem, terus ada juga bentuknya hitam semua. Mereka mengejar aku dan mencekikku. Saat aku bangun cekikannya itu berasa banget,” tutur Gendis.

__ADS_1


“Kalau tidur itu harusnya berdoa dulu,” ucap Bayu.


“Eh tunggu, tapi kok wajah kamu pucat banget sih kamu sakit?” tanya Bayu.


“Enggak kok, aku baik-baik aja. Kata nenek mungkin aku kurang darah,” sahut Gendis.


Beberapa menit telah berlalu hingga terdengar suara bel berbunyi pertanda sebentar lagi pelajaran akan di mulai.


Seorang guru pun masuk ke ruang kelas lalu memulai pelajaran.


“Baik, saya akan jelaskan mengenai pembahasan kita yang kemarin tertunda,” ucap guru matematika itu.


Pelajaran berlangsung dengan lancar hingga memasuki jam kedua pelajaran.


Saat itu wajah Gendis semakin pucat, Gendis juga merasakan tubuhnya sangat dingin hingga membuatnya mengigil.


Gendis juga merasakan pusing hebat hingga tiba-tiba Gendis ambruk ke lantai dan membuat guru matematika itu terkejut.


“Gendis!” pekik Bayu.


Guru itu berlari menghampiri Gendis lalu meminta murid yang lain untuk membantunya mengangkat Gendis ke ruang UKS.


Seisi kelas menjadi heboh karena Gendis tiba-tiba ambruk.


Di ruang UKS guru yang berjaga berusaha menyadarkan Gendis dengan memberikan minyak kayu putih di dekat hidung Gendis namun tidak berhasil.


Beberapa orang mulai panik dan memutuskan untuk memanggil mobil ambulan.


Ngiungan sirine mobil ambulan terdengar memasuki area sekolah, tubuh Gendis di pindahkan ke kasur darurat lalu di masukkan ke dalam ambulan.


Mobil ambulan melaju dengan cepat menuju rumah sakit, dalam mobil ambulan itu seorang guru serta Bayu pun ikut ke dalamnya.


Sesampainya di rumah sakit Gendis langsung di larikan ke UGD dan mulai di periksa. Setelah di perkisa terlihat sejumlah alat di pasang ke tubuh Gendis.


Dari balik kaca yang ada di pintu ruangan itu terlihat para perawat dan dokter seperti sibuk dan memeriksanya dengan sangat intens.


Hingga seoarang dokte keluar dan meminta guru untuk menghubungi keluarga Gendis.


“Apa yang terhadi dok dengan teman saya?” tanya Bayu.


“Tekanan darahnya sangat rendah, saya butuh izin serta data pasien dari orang tuanya,” ucap dokter tersebut.

__ADS_1


Dengan cepat Bayu menghubungi Tini melalui ponselnya dan memberi tahukan jika Gendis berada di rumah sakit.


__ADS_2