
Sepuluh tahun kemudian Gendis kecil sekarang tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik serta berani.
Gendis sudah bersekolah di kelas 2 SMA di sekolah Tunas harapan bangsa.
Namun di rumah Gendis di temani oleh sang Nenek, karena Trisno sekarang jarang pulang ke rumah.
Semenjak meninggal Lasmi Trisno yang merasakan sendiri dan kesepian ia memilih untuk menikah lagi dengan seorang janda kembang di desa sebelah yang bermana Ningsih.
Trisno yang tergoda oleh pesona kecantikan Ningsih, sekarang Trisno menjadi jarang pulang ke rumahnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Ningsih yang baru Trisno belikan.
Sesekali Trisno pulang di malam jumat untuk memberi makan sang jenglot saja.
Sementara Gendis hanya di rumah bersama Neneknya saja.
Di pagi itu Tini menyiapkan Gendis sarapan pagi sebelum dirinya pergi ke sekolah.
Gendis dan Tini menikmati makan pagi bersama di meja makan sembari berbincang-bincang.
“Nek, bapak tidak pulang?” tanya Gendis.
“Belum Gendis, ada apa?” tanya Tini.
“Ini besok sekolah ada acara rapat untuk orang tua murid Nek, bapak sekarang jarang pulang ke rumah semenjak sudah nikah dengan mbak Ning. Bapak dengan Gendis,” celetuk Gendis yang kesal.
“Tidak boleh ngomong seperti itu Bapak itu sayang dengan Gendis buktinya apa yang Gendis mau dan inginkan bapak selalu memberikan kepada gendis bukan,” Tini yang menasihati Gendis.
“Iya Nek, ya sudah Gendis berangkat sekolah dahulu,” ucap Gendis berpamitan kepada sang nenek.
“Iya Gendis hati-hati di jalan, besok Nenek saja yang mewakilkan ke sekolahmu.”
“Iya Nek.
Gendis pun berjalan keluar rumah menghampiri motor miliknya yang di belikan oleh Trisno.
Saat Gendis mengendarai motornya pintu pagar belum di buka oleh Iwan dan Usup.
Gendis yang sudah berada di depan pagar berteriak kepada Iwan untuk membukakan pintu pagar rumahnya.
“Om Iwan bukain pintu pagar!” terik Gendis memanggil Iwan.
Iwan yang mendengar teriakan Gendis pun segera menghampirinya dan membuka pagar rumah untuk gendis.
“Pasti masih tidur ya!” ledek Gendis.
“Kamu itu gendis mengganggu Om sedang bermimpi indah saja.”
“Ya sudah Gendis mau berangkat dulu lanjutkan tidurnya,” celetuk Gendis.
Selang beberapa menit kemudian Gendis sudah sampai di sekolah, Gendis memarkirkan motornya barulah ia berjalan menuju kelasnya.
Sesampainya Gendis di kelas Gendis langsung menuju tempat duduknya meletakan tasnya di bangkunya.
“Eh Gendis, tumben pagi biasanya telat mulu” ujar teman sebangkunya.
“Sekali-kali jadi anak rajin Bayu,” ucap Gendis.
“Eh, Gendis aku mau cerita sama kamu beberapa malam in aku mimpi seram terus.”
“Emang kamu mimpi apa Bayu?”
“Aku mimpi ada seorang wanita yang lusuh wanita itu di pasung, dan di jaga oleh sosok mahluk yang menyeramkan.”
“Mahluk apa Bayu?”
“Makhluknya sangat seram Gendis dia punya gigi taring yang panjang dengan tubuh yang besar serta kuku tangannya panjang di tambah lagi matanya yang merah dan menyala, pokonya sangat seram gendis.
“Lalu wanita itu?” Tanya Gendis yang penasaran.
“Dimimpiku wanita itu wajahnya terlihat dengan samar Gendis aku tidak tahu, pokoknya mimpinya tidak begitu jelas Gendis,” ujar Bayu menceritakan mimpinya kepada Gendis
“Sudah Bayu, itu kan hanya mimpi kembang tidur bisa jadi karena kamu kebanyakan menonton filim horor jadi masuk ke dalam mimpi,” sahut Gendis.
Tidak lama bel berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai.
__ADS_1
Pelajaran pertamanan akan segera di mulai.
Ibu guru pun tidak lama masuk ke kelas Gendis.
“Kumpulkan PR matematika kalian semua,” ujar bu guru.
“Baik Bu,” sahut serentak seluruh siswa.
Semua murid mengumpulkan PR matematika yang di berikan oleh ibu guru termasuk Gendis serta Bayu.
“Para murid, sementara ibu mengoreksi PR kalian, kalian kerjakan soal halaman satu sampai lima!” perintah bu guru.
Semua Siswa pun mulai mengerjakan tugas yang di berikan ibu guru.
Kelas terasa hening mana kala semua siswa fokus mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Satu jam telah berlalu ibu guru pun telah selesai mengoreksi PR mereka.
“Di sini ada dua orang dapat nilai tertinggi ya, Gendis Lasmini Sutrisno dan Bayu Anwari. Selamat untuk kalian berdua,” ucap bu guru memberitahukan Nilai tertinggi di kelas.
Tidak lama bel pun berbunyi.
“Kalian semua sudah selesai mengerjakannya?” tanya bu guru.
“Belum Bu,” ucap serentak semua siswa.
“Kalau begitu ibu jadikan PR saja, kerjakan secara kelompok dengan teman sebangku kalian dan besok pak pertama harus di kumpul, semua mengerti.”
“Iya Bu,” sahut seluruh siswa.
***
Beberapa jam telah berlalu sekolah pun telah selesai tiba saatnya seluruh siswa pulang ke rumahnya.
“Gendis tunggu!” pekik Bayu
“Ada apa Bayu?”
“Kamu lupa kita ada tugas matematika kerja kelompok, bagaimana jika hari ini aku ke rumah mu,” ujar Bayu.
Mereka berdua pun pergi ke rumah Gendis dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.
Beberapa menit kemudian Gendis berserta Bayu masuk ke dalam rumah.
“Ayo masuk Bayu,” ajak Gendis.
Saat Bayu melangkahkan kakinya masuk ke rumah Gendis.
Hawa aneh pun mulai Bayu rasakan, Bayu merasakan bulu kuduknya berdiri saat masuk ke rumah Gendis di tambah hawa merinding yang ia rasakan.
Bayu masuk ke rumah Gendis dan duduk di ruang tamu.
“Tunggu ya Bayu, aku buatin minum dulu,” ucap Gendis yang pergi menuju dapur.
Tidak lama Gendis membawa dua buah gelas berisi minuman.
“Di minum Bayu,” kata Gendis menyodorkan segelas minuman ke meja Bayu.
“Makasih ya Gendis, oh iya ibu dan Ayahmu mana Gendis?” tanya Bayu.
“Ibu sudah lama meninggal sejak aku berusia 5 tahun kalau Bapak jangan di tanya dia jarang pulang,” Gendis menjelaskan secara singkat kepada Bayu.
“Maaf ya Gendis.”
“Udah santai aja Bayu.”
“Oh iya, rumahmu seram banget ya Gendis,” ucap Bayu.
“Enggak ah biasa saja, kamu aja yang terlalu gimana gitu.”
“Hehe, aku boleh tanya kamu sering sholat? Mungkin kalau sering di sholatin hawa negatif di rumahmu akan hilang.”
“Enggak Bayu keluargaku tidak ada yang sholat dan aku pun dari kecil tidak di ajarkan tentang agama jadi aku pun tidak bisa sholat,” Gendis yang jujur kepada Bayu.
__ADS_1
“Astagfirullah, pantas saja Gendis.”
“Udahlah Bayu, sebenarnya kita ini mau belajar Agama atau matematika sih,” ucap Gendis yang mulai kesal.
“Iya, iya gitu aja kok marah.”
Mereka berdua mulai membuka buku dan mengerjakan tugas kelompok.
Selang beberapa menit Tini menghampiri mereka berdua di ruang tamu.
“Teman Gendis ya, siapa namanya?” Tanya Tini.
“Bayu Nek,” sahut Bayu.
“Kalian berdua sedang mengerjakan tugas sekolah?” tanya Tini
“Iya Nek,” sahut Bayu.
“Ya sudah lanjutkan nanti Nenek mengganggu, Nenek tinggal masuk kamar ya.”
“Iya Nek,” sahut Bayu.
Satu jam telah berlalu mereka berdua pun telah selesai mengerjakan tugas kelompok.
“Gendis aku numpang pipis dong ke belit nih.”
“Kamu jalan terus saja sampai dapur nanti ada kamar mandi,” ujar Gendis sembari menunjuk ke arah dapur.
Bayu pun mengikuti arahan dari Gendis, sampai akhirnya ia menemukan kamar mandi.
“Ah, lega,” ucap Bayu yang keluar dari kamar mandi.
Saat bayu berjalan keluar Bayu, mendengar suara dari kamar Surti.
‘Ada orangnya di dalam kenapa pintu kamarnya di gembok dari luar,' Bayu yang bermonolog.
Bayu pun meyakinkan kembali apa yang dia dengar hingga Bayu menempelkan kupingnya di pintu kamar Surti.
Terdengar Surti yang tertawa dan setelah itu menangis.
Mengetahui banyak hal yang aneh di rumah Gendis, Bayu yang sangat penasaran pun menanyakan kepada Gendis.
“Eh Gendis, itu di kamar yang berada di dekat dapur ada orangnya?”
“Iya ada Bayu kenapa?”
“Kenapa jika ada orangnya pintu kamarnya di gembok?” tanya Bayu.
“Itu bibi Surti anak dari Nenek, semenjak anaknya meninggal Bibi Surti mengalami gangguan mental dan kami takut bibi Surti kabur jadinya di gembok. Kata Nenek dulu bibi Surti pernah kabur dari rumah ini dan akhirnya bisa di temukan,” Gendis yang menjelaskan kepada Bayu.
“Oh seperti itu, aku turut prihatin ya kepada bibi Surti, ya sudah aku pulang dulu ya Gendis. Besok kita ketemu lagi di sekolah.”
“Iya Bayu, hati-hati di jalan.”
Gendis mengantarkan Bayu sampai di pintu utama.
Hingga Bayu pun menyalakan motornya meninggalkan rumah Gendis yang penuh misteri menurut Bayu.
Saat Gendis ingin masuk ke dalam rumah Iwan pun mengejeknya.
“Itu pacarmu ya Gendis?” ledek Iwan.
“Apa-apa sih Om, itu Cuma teman masih sekolah gak boleh pacaran,” sahut Gendis dengan lugu.
“Ya gak papa Gendis, asal jangan melebihi batas saja.”
“Cuma teman Om,” ucap Gendis meninggalkan Iwan masuk ke kamarnya.
“Teman tapi mesra ya Gendis,” pekik Iwan kepada Gendis.
Kini Gendis sudah besar dan sekarang ia tidak tidur dengan neneknya kembali, Gendis mempunyai kamar sendiri sekarang.
__ADS_1