
Ningsih yang telah mendengar kenyataan itu dari mbah Loreng kembali pulang.
Sesampainya di rumah Ningsih melihat Sari tengah bersantai di ruang tamu, Ningsih pun segera menghampiri sari untuk memberi tahunya tentang semua ini.
“Sari ada yang ingin aku beri tahu kepadamu?” Kata Ningsih kepada Sari.
“Apa itu memang Ning?”
“Tentang Mas Trisno, jujur awalnya aku benci dengan kalian berdua dan berniat pergi ke dukun untuk memasang susuk agar mas Trisno lebih mencintai aku tapi setelah dukun itu memberitahu kepadaku tentang mas Trisno aku di buat kaget, ayo Sari kita tinggalkan rumah ini mas Trisno bukan seseorang pria yang baik.”
“Kamu bicara apa sih Ning kamu iri denganku sekarang mas Trisno lebih mencintai aku ketimbang dirimu,” kata Sari dengan kesal.
“Terserah kamu Ning mau percaya apa tidak tapi aku tulus ingin membantumu aku tidak mau kamu menjadi korban Sari kata Ki Loreng. Mas Trisno telah bersekutu dengan setan, dan kita mungkin akan menjadi tumbalnya nanti dan kamu tahu orang yang bersekutu dengan setan atau jin tidak akan pernah merasa puas dari hal apa pun itu, mungkin nanti mas Trisno akan mencari istri yang baru setelah bosan dengan mu dan seterusnya seperti itu Sari ayo kita pergi dari sini,” kata Ningsih yang menjelaskan kepada Sari dengan apa yang ia tahui.
“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin mas Trisno sudah berjanji denganku akan selalu mencintaiku.”
“Aku pun dahulu seperti mu sampai kami telah memiliki anak dan ternyata anakku menjadi tumbal dari makhluk menyeramkan itu, dan asal kamu tahu ki Loreng yang memberitahuku jika kematian suamimu itu adalah ulah mas Trisno dengan makhluk itu.”
Sari pun terdiam mencermati kata-kata dari Ningsih.
“Apa makhluk itu bertaring panjang, kuku panjang dan matanya merah menyala?” tanya Sari.
“Iya benar itu makhluk menyeramkan itu apa kamu pernah melihatnya Sari?”
“Iya pertama kali kenal dengan mas Trisno aku melihat makhluk itu berada di belakangnya waktu itu dan di saat aku sudah menikah pun sekilas di saat aku berhubungan badan dengannya aku lihat mas Trisno berubah menjadi sosok makhluk menyeramkan itu, dan di tambah lagi di saat aku tidur bersamanya dan aku terbangun makhluk itu di samping mas Trisno,” Sari menceritakan hal yang terjadi kepadanya.
“Ayo Sari kita pergi dari sini, mas Trisno bukan pria baik untuk kita,” saran dari Ningsih.
“Berti kematian suamiku dia penyebabnya,” ujar Sari yang tidak dapat membendung air matanya.
Ningsih yang melihat Sari bersedih pun memeluk sari mencoba menenangkan hatinya.
“Mari kita pergi mencari kehidupan yang lebih tenang Sari, aku dan dirimu adalah korban ketidak puasan dirinya jangan menyesali yang pernah terjadi,” Ningsih yang memberikan nasehat kepada Sari.
“Terima kasih Mbak Ning, maafkan aku sudah berfikir buruk tentangmu,” tutur Sari merasa bersalah.
Mereka berdua pun segera mengemas semua barang-barang mereka meninggalkan Trisno dengan membawa harta Trisno mobil yang di belikan Trisno untuk mereka perhiasan serta tabungan yang di berikan Trisno.
__ADS_1
Sari Serta Ningsih pun menjual semuanya dan pergi jauh meninggalkan Trisno.
Malam harinya Trisno yang telah pulang ke rumahnya melihat kedua istrinya tidak ada sangat murka, Trisno menghubungi ponsel milik mereka namun tidak aktif Trisno yang merasa kesal ingin sekali membunuh mereka.
Namun sebelum Ningsih pergi ia telah di berikan jimat oleh mbah Loreng agar makhluk suruhan Trisno tidak bisa melukai mereka.
Trisno yang kembali ke rumahnya dan masuk ke kamar ritualnya meminta agar sang Jenglot dapat membantu membunuh mereka berdua, karena sakit hati Trisno yang teramat dalam kepada merek.
“Ada apa kau memanggilku Trisno?” ujar jenglot itu.
“Aku ingin kau membunuh Sari berserta Ningsih wahai jenglot.”
“Aku tidak bisa melakukannya, sebuah energi besar melindungi mereka sehingga aku tidak dapat mendekati mereka berdua,” kata jenglot.
“Kurang ajar ternyata mereka berani-berani bermain di belakangku, baiklah jika kau tidak bisa membunuhnya aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk mencari keberadaan mereka dan menghabisinya,” kata Trisno dengan kesal.
Trisno dengan kesal karena sang jenglot tidak dapat membantu dirinya keluar dari kamar ritualnya.
Saat keluar ponsel Trisno berbunyi, Trisno pun mengangkat ponselnya yang berada di kantong.
“Hallo Nak, kamu di mana?” tanya Tini.
“Maafkan ini tapi ini kabar sangat penting Trisno, anakmu Gendis sedang koma di rumah sakit, siapa tahu dengan kedatanganmu membuat Gendis dapat sadar.”
“Alah! Aku tidak peduli Bu, mau anak itu hidup atau mati sudah bu aku sedang pusing!” ucap Trisno dengan nada tinggi dan langsung mematikan ponselnya.
Berjalan keluar menghampiri Iwan serta Usup.
“Eh kalian berdua tidur saja! Bangun!” bentak Trisno.
“Ada apa sih Bos malam-malam seperti ini?” tanya Usup dengan mengusap-usap matanya karena masih mengantuk.
“Ini ada kerjaan untuk kalian berdua? Jika kalian bisa mendapatkan Sari berserta Ningsih dan membunuhnya aku akan memberikan imbalan seratus Juta kepada kalian berdua.”
“Apa Bos seratus juta?” tanya kembali Iwan.
“Iya satu nyawa seratus juga jika kalian bisa membunuh duanya sekaligus maka imbalan lebih dari itu.”
__ADS_1
“Ba-baik Bos kami berdua akan mencari mereka,” kata Usup.
Usup berserta Iwan pun pergi mencari keberadaan Ningsih berserta Sari.
Sementara Bayu yang telah berada di desa seberang mulai mencari keberadaan ustaz Amir.
Saat tengah mengemudikan motornya ponsel Bayu berbunyi Bayu menghentikan laju kendaraan dan menepi untuk mengangkat ponselnya.
“Assalamualaikummu Bu,”
“Waalaikumsalam Nak.”
“Kamu di mana Nak, sudah jam segini belum pulang ayah dan ibu sangat khawatir kepadamu.”
“Bu, Bayu sedang ada urusan antara hidup dan mati Gendis Bu adik Bayu, jika semua telah selesai Bayu janji akan segera pulang dan menanyakan sesuatu hal kepada ibu dan ayah tentang siapa Bayu sebenarnya.”
“Kamu bicara apa Bayu, ibu tidak mengerti?”
“Nanti akan Bayu jelaskan jika urusan Bayu telah selesai,” sahut Bayu mematikan ponselnya.
Bayu pun melanjutkan perjalanannya kembali untuk mencari rumah ustaz Amir.
Sementara Ibu Bayu sendiri yang bernama Rini memberitahukan kepada Suaminya Anwar.
Di saat mereka berdua sedang berada di kamar untuk beristirahat Rini menceritakan tentang Bayu.
“Mas seperti Bayu telah mengetahui dirinya bukan anak kita, dan dia bilang Gendis itu adiknya Mas?” ujar Rini yang panik.
“Adiknya?” tanya Anwar yang bingung.
“Iya Mas.”
“Begini saja bagaimana jika besok kita berdua ke sekolah Bayu mencari tahu tentang Gendis, siapa dia sebenarnya?” Anwar yang memberikan saran.
“Iya Mas, aku setuju dengan saranmu itu,” sahut Rini.
Rini berserta Anwar pun telah sepakat untuk mencari tahu tentang siapa Gendis sebenarnya.
__ADS_1