
“Hallo Nek ini Bayu.”
“Iya ada apa Bayi?”
“Gendis pingsan tadi di kelas lalu sekarang ada di rumah sakit.”
“Apa di rumah sakit.”
“Iya Nek, Nenek bisa ke sini secepatnya.”
“Iya Nenek segera ke sana,” ucap Tini seraya menutup ponselnya.
Tini pergi keluar rumah memanggil Iwan untuk mengantarkannya ke rumah sakit tempat Gendis di rawat.
“Iwan tolong antarkan aku ke rumah sakit?”
“Ada apa Bu, tumben sekali ke rumah sakit apa ibu sakit?” tanya Iwan menatap wajah Tini.
“Tidak Iwan, Gendis yang sakit ayo cepat antar aku ke rumah sakit?” Tini mulai mendesak Iwan.
“Iya baik Bu,” sahut Iwan bergegas mengambil motornya yang terparkir di garasi.
Tini pun mulai pergi ke rumah sakit dengan di atar oleh Iwan.
Sesampainya di rumah sakit dengan tergesa-gesa Tini mencari keberadaan pasien yang bernama Gendis di ruang informasi.
“Ada yang bisa kami bantu Bu?” tanya seorang suster yang berada di ruang informasi.
“Saya mencari cucu saya yang bernama Gendis?”
“Oh Gendis pasien yang baru masuk, sekarang di rawat di ruang mawar kamar nomor 10 Bu,” tutur suster.
“Terima kasih sus informasinya,” sahut Tini bergegas pergi ke ruangan yang telah di beritahukan oleh suster itu.
Saat Tini telah sampai di ruangan mawar ia mencari kamar nomor 10.
“Nek!” seru Bayu memanggil Tini.
Tini yang melihat Bayu dari kejauhan pun segera menghampirinya.
“Bagaimana dengan Gendis, kenapa dengannya Bayu?” tanya Tini dengan cemas.
“Bayu tidak tahu Nek, tadi di sekolah Gendis tiba-tiba pingsan setelah itu di larikan ke rumah sakit lalu Dokter yang menangani Gendis menjelaskan jika tekanan darah Gendis itu turun dan Dokter menyaran untuk segera menelepon keluarga,” Bayu yang menjelaskan kepada Tini.
Tini berserta Bayu pun berjalan memasuki kamar Gendis.
__ADS_1
Terlihat Gendis yang masih tidak sadarkan diri.
“Gendis bangun Nak, ini Nenek ada apa denganmu,” ucap Tini seraya menggenggam tangan Gendis.
Namun Gendis tetap saja tidak merespons ucapan Tini.
Tidak berselang lama Dokter yang memeriksa Gendis kembali ke kamar Gendis di mana Gendis di rawat.
“Mana keluarga pasien?” tanya Dokter.
“Saya Neneknya Dok,” sahut Tini yang mendekat ke samping Dokter.
“Menurut pemeriksaan pasien yang bernama Gendis tekanan darahnya sangat rendah dan hasil pemeriksaan Hemoglobin juga rendah pasien harus segara mendapat transfusi darah, tapi kami sedang kehabisan golongan darah AB- dan golongan darah ini cenderung susah di cari,” ujar Dokter.
Tini terdiam memikirkannya sementara golongan darah Tini itu A sedangkan Trisno sendiri AB+.
“Nek, pakai darah Bayu saja kebetulan darah Bayu dan Gendis itu sama,” celetuk Bayu.
Tini baru teringat jika Bayu dan Genis adalah kakak beradik.
“Dok pakai darah saya saja kebetulan darah saya sama dengan Gendis,” Bayu yang menawarkan dirinya.
“Baiklah kalau begitu,”
Bayu berbaring di ranjang yang telah di sediakan setelah itu Suster mulai mengambil darah Bayu.
‘Gendis aku tidak mau hal buruk terjadi kepadamu kamu harus sadar Gendis?’ batin Bayu.
Satelah kurang lebih satu jam transfusi darah berjalan lancar hemoglobin serta tekanan darah Gendis mulai mengalami kenaikan akan tetapi anehnya Gendis belum juga sadar.
Dokter yang menangani Gendis pun bingung.
“Saya baru kali ini menangani pasien seperti ini semua telah normal tapi pasien belum kunjung sadarkan diri,” tutur Dokter kepada Tini serta Bayu.
“Lalu Bagaimana ini Dok?” tanya Bayu yang kembali khawatir.
“Satu-satunya jalan semangat dari pihak keluarga yang terus berusaha untuk menyadarkan Gendis,” kata Dokter kepada mereka berdua.
“Baiklah Bu saya pergi dahulu, nanti jika ada apa-apa kepada Gendis bisa langsung laporkan kepada saya,” sambung kembali Dokter lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Tini terdiam sembari memandangi wajah Gendis yang tidak sadarkan diri.
Melihat Tini yang bersedih Bayu mencoba untuk mendekatinya.
“Sabar ya Nek pasti ada jalan keluar dari masalah ini, Bayu yakin Gendis pasti akan segera sadar. Oh iya ayahnya Gendis apa tidak di kabari Nek.”
__ADS_1
“Trisno tidak akan peduli dengan anaknya dia hanya peduli dengan dirinya sendiri!” sahut Tini dengan nada kesal.
Bayu mencoba menenangkan hati Tini yang terlihat kesal.
“Oh iya Bayu ingat sebelum Gendis tidak sadarkan diri Bayu baru ingat jika tadi Gendis sempat bercerita mengenai mimpi yang di kejar-kejar nyai ... Siapa ya Bayu lupa.”
“Nyai Asih?” celetuk Tini.
“Iya itu Nek, nenek kok tahu?”
“Gendis juga perah bercerita kepada Nenek saat itu dia bermimpi nyai Asih yang mendatangi dirinya dan ingin membawa dirinya jika sudah berusia 17 tahun. 17 tahu Bayu tanggal berapa hari ini?” tanya Tini yang mulai panik.
“Tanggal 1 bulan Mey, Nek.”
“7 Hari lagi Gendis akan berulang tahun, berati Gendis tidak sadarkan ini ada kaitannya dengan semua ini.”
“Iya Nek, lalu apa yang harus kita lakukan.”
Dengan berat hati Tini mulai menceritakan kebenarannya, Bayu yang tidak mempercayai hal tersebut namun dengan bukti jika darah mereka berdua sama pun membuat Bayu akhirnya percaya.
“Bayu sekarang bukan waktunya salah menyalahkan, kita harus menolong Gendis. Nenek punya seorang teman di desa seberang bernama ustaz Amir siapa tahu dia bisa membantu menyelamatkan Gendis Bayu?” ujar Tini.
Tini menulis sebuah pesan di kerta untuk di berikan kepada ustaz serta alamat rumahnya.
“Bayu Nenek hanya bisa berharap kepadamu berikan surat ini kepada ustaz Amir semoga dia bisa membatu Gendis dan secepatnya Bayu kita hanya punya waktu 7 hari saja sebelum semuanya terlambat,” ujar Tini yang memberikan surat kepada Bayu.
“Baik Nek, Bayu pamit Nek, doakan Bayu berhasil nek.”
“Doa nenek akan selalu merestui langkah kakimu di mana pun kau pergi Nak,” tutur Tini sembari mengusap-usap kepala Bayu.
Bayu bergegas keluar dari kamar rawat Genis pergi ke parkiran motornya.
Sesampainya di sana Bayu mulai menyalakan motor besarnya pergi meninggalkan rumah sakit menuju desa seberang untuk mencari keberadaan ustaz Amir.
Sementara di sisi lain Ningsih yang mulai kesal dengan sikap Trisno serta Sari akhirnya mencoba jalan pintas Ningsih pergi ke dukun terkenal untuk memasang Susuk agar Trisno tergila-gila dengan.
Namun di saat Ningsih telah sampai ke tempat paranormal sakit bernama ki Loreng, Ningsih di buat kaget dengan kata-kata ki Loreng tersebut.
“Sebaiknya kamu tinggalkan suamimu itu, sebelum mala petaka menimpamu. Suamimu itu sudah bersekutu dengan setan dan anak yang perah kamu kandung itu sebagai imbalannya.”
“Apa Ki? Jadi benar mimpi itu makhluk yang pernah datang ke mimpi ku mengambil anakku ki?” ujar Ningsih dengan menangis.
“Iya benar sekali, kamu dan berserta istri keduanya itu adalah korban ke tidak puasan dirinya pergilah kalian berdua sebelum terlambat,” tutur Ki Loreng yang memberitahukan Ningsih.
“Suami yang mengalami kecelakaan itu akibat ulah suamimu yang ingin memilikinya,” sambung ki Loreng kembali
__ADS_1
Ningsih yang mengetahui semua dari ki Loreng mulai merasa kasihan kepada Sari, dan mencoba untuk menolong sari pergi Trisno.