
Di saat Trisno berada di rumahnya yang ia beli untuk Ningsih ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Trisno pun mengangkat ponselnya.
“Hallo pak Trisno, bahaya pak usaha batu bara ilegal kita sudah mulai terendus polisi.”
“Coba pak Arifin suruh yang lain jangan beroperasi dahulu agar polisi tidak mengetahui kalau bisnis kita ilegal, kita tutup dulu sementara agar tidak terendus polisi,” Trisno yang memberikan saran kepada Arifin lewat telepon.
“Baik pak Trisno kalau begitu saya akan beri tahu yang lain dulu,” sahut arifin.
Trisno pun mulai menjadi panik ketika Arifin meneleponnya.
Sementara Trisno sedang berada di ruang tengah menonton acara televisi. Trisno yang kaget oleh sebuah berita yang terungkap kematian anak bapak Qodir juragan jagung yang di bunuh oleh Iwan serta Usup.
Mereka terciduk di tengah sedang berusaha mencari Sari dan juga Ningsih yang ingin mereka bunuh kembali.
Terlihat Trisno yang kesal saat mendengar kabar itu.
“Kurang ajar mereka tertangkap!” ucap Trisno yang kesal.
“Semoga saja mereka tidak memberita tahukan kepada polisi jika aku yang menyuruh mereka, tapi mereka berdua sudah aku ancam untuk tidak berkata kepada polisi jika kasus itu terkuak oleh polisi jika tidak mereka akan aku tumbalkan kepada Jenglotku,” ucap Trisno kembali.
Trisno mencoba kembali tenang dan akan dan tidak kembali ke rumahnya karena takut di sana polisi yang akan mencarinya.
Sementara di sisi lain Anwar yang di cecar pertanya oleh Rini seputar Surti.
“Mas jawab Mas siapa dia?” tanya Rini yang penasaran.
Anwar pun akhirnya menceritakan kisah kelamnya dengan Surti.
“Surti adalah selingkuhanku, waktu itu aku sedang tersesat di desa seberang dan bertemu dengan Surti, aku menanyakan arah pulang kepadanya sampai akhirnya aku kita saling mengenal satu sama lain, saat itu aku semakin dekat dengan Surti dan akhirnya aku pun hilaf melakukan hubungan terlarang bersamanya, dan sampai akhirnya Surti memberitahukan bahwa dirinya hamil. Saat itu aku menghilang jejak dan tidak tahu lagi kabarnya,” Anwar yang menjelaskan kepada Rini.
Sontak saja amarah Rini memuncak, Rini menghempaskan tangannya di pipi Anwar sembari menangis dan memukul-mukul tubuh Anwar.
“Jahat kamu mas!” bentak Rini.
Di tengah keributan merek Surti berteriak.
“Diaammm! Semuanya Diam!” teriak Surti yang kembali mengingat siapa dirinya.
“Kalian tidak tahu begitu menderitanya aku!” ujar Surti yang marah.
“Anak yang mu yang aku kandung Anwar menjadi tumbal dari Trisno!” ujar Surti.
“Trisno? Apa ini maksudnya aku menjadi bingung?” tanya Anwar yang bingung
__ADS_1
Tini pun mulai angkat bicara dan menjadi penengah dari mereka.
Tini menceritakan semua yang ia tahu dan Anwar serta Rini pun sangat terkejut ketika Bayu adalah darah daging Anwar.
Tini kembali memberi pengertian kepada Rini, mendengar kisah suram Surti akhirnya Rini pun simpatik kepadanya.
“Mas aku tidak mau mementingkan egoku, dia adalah ibu dari Bayu darah dagingmu, semasa hidupnya pun tersiksa di rumah ini aku mau kamu menikahi dirinya Mas, bawa dia pergi dari rumah ini yang membelenggu dirinya selama bertahun-tahun tebus kesalahanmu dengan menikahi dirinya dan bahagiakan dirinya semana kamu membahagiakan diriku,” ucap Rini dengan meneteskan air matanya.
Mendengar kata-kata bijak dari Rini, Anwar pun memeluk sang istri.
Tidak lama berselang Bayu datang bersama pak Amir.
“Assalamualaikum,” ucap ustad Amir.
“Waalaikumsalam,” sahut Tini berserta yang lain.
Tini pun berserta yang lain menghampiri ke ruang tamu. Ustad Amir pun tampak terkejut ketika sedang melihat Surti.
“Surti anakku,” celetuk ustad Amir.
“Bapak!” seru Surti.
Mereka pun saling melepas rindu berpelukan satu sama lain begitu pun dengan istri ibu Amir.
“Maafkan Surti ya Pak?” ucap Surti dengan menangis tersedu.
“Iya Nak, bapak juga begitu banyak salah denganmu bapak yang egois Nak. Maafkan bapak?” ujar Amir.
Rahasia besar selama bertahun-tahun lamanya pun kini di bongkar oleh Tini.
“Aku boleh ke kamar ritual Trisno, benda itu harus segera di lenyapkan agar tidak memakan banyak nyawa lagi,” ujar Amir.
“Aku tidak punya kunci kamar itu, kunci kamar itu selalu di bawa oleh Trisno,” ucap Tini.
“Yang lain bisa bantu aku kita harus bekerja sama menghancurkan pesugihan ini, lupakan sejenak kisah masa lalu kalian yang kelam,” ujar Amir.
Anwari serta Bayu pun mulai membantu ustad Amir mendobrak pintu ritual itu.
“satu, dua, tiga dobrak!” seru Anwar.
BRUK
Suara pintu terjatuh.
Terlihat di atas meja kamar ritual Trisno terlihat tungku perapian yang di gunakan untuk membakar kemeyan, dan juga sesaji untuk sang jenglot.
__ADS_1
Amir berjalan mendekati meja tersebut, terlihat sebuah benda berupa jenglot yang sedang berada di kotak kayu tersebut.
“Astagfirullah, apaan ini semua benda-benda yang menyekutukan Allah. Ini semua harus di lenyapkan, Bayu Anwar bantu aku membakar benda-benda yang ada di tas meja ini,” perintah Anwar.
Mereka mulai membawa tungku perapian, beberapa sesaji dan juga kotak kayu yang berisi jenglot tersebut di bawa oleh ustad Amir.
Mereka semua berjalan luar rumah dan mendekati tong sampah Tini memberikan minyak tanah untuk mempermuda mereka membakar.
Tungku perapian, serta sajen pun pun mulai di masukkan di ke dalam tong sampah itu dan di bakar.
Sementara jenglot yang di pegang oleh ustad Amir di hilangkah olehnya kekuatan ilmu hitamnya.
Ustad Amir mulai membacakan doa guna menghilangkan kekuatan di dalam Jenglot tersebut.
“Ya Allah kau yang maha pencipta alam semesta ini beserta isinya, hilangkan ilmu hitam ini atas ijinmu Allahuakbar,” ucap Ustad Amir membuang benda jenglot tersebut ke dalam tong yang berisi api.
Seketika terdengar suara teriakan dari jenglot tersebut
“Panas, panas, panas!” teriak sang jenglot yang berada di tong sampah yang berisi api tersebut.
30 menit telah berlalu dan semua telah terbakar termasuk sang Jenglot yang telah lenyap di makan oleh api.
Hari mulai menjelang malam ustad Amir pun memberitahukan kepada Tini untuk segera menyelatkan Gendis.
“Mari kita pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan Gendis,” ajak Amir.
Mereka semua akhirnya pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan Gendis begitu pun dengan Surti yang ikut.
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka saling mengobrol dan saling meminta maaf satu dengan yang lain.
Ketika Anwar mengetahui semua kebusukan Trisno ia pun sangat marah
“Aku tidak habis pikir mengapa Trisno melakukan hal semacam ini,” ucap Anwar sembari mengemudikan mobilnya.
“Jika manusia sudah dikuasai oleh hawa nafsu maka iya akan berbuat apa saja mengikuti hawa nafsunya, bagaimana kita terhindar dari hal tersebut perbanyak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita niscaya kita akan di lindungi dan tidak terperangkap ke jalan setan,” sahut ustad Amir yang memberikan nasehat kepada semuanya.
“Iya Pak benar apa yang di katakan bapak, aku pun dulu sempat merasakan hal tersebut merasa iri kepada pencapaian Trisno dan pergi ke dukun. Untung saja aku di selamatkan oleh seorang kakek bersoban yang bilang kepadaku perbuatanku itu tidak terpuji dan aku baru mengerti ucapan kakek tersebut bahwa yang di maksud cucunya adalah Bayu,” Anwar yang bercerita kepada semuanya.
__ADS_1