
Beberapa bulan kemudian, kehamilan Surti pun semakin membesar.
Lasmi yang merasa iba kepada Surti sering kali ke ruang bawah tanah untuk merawat Surti.
Kali ini Lasmi berniat untuk mengadopsi bayi yang ada di perut Surti.
Di pagi itu Lasmi yang membawakan makanan untuk Surti menyuapinya.
“Makan yang banyak ya Surti, agar anak di dalam kandunganmu itu sehat,” ujar Lasmi sembari menyuapi Surti makan.
Surti hanya terdiam dan terkadang tertawa-tawa tidak memedulikan ucapan Lasmi.
Setelah selesai menyuapi makanan kepada Surti. Dengan lembutnya Lasmi melap mulut Surti yang kotor akibat makan yang dia makan.
Setelah selesai Lasmi pun pergi meninggalkan Surti, sebelum ia pergi Lasmi selalu menyempatkan untuk mengelus perut Surti yang terlihat sudah membesar.
Lasmi berjalan menuju kamar terlihat Trisno yang berbaring di atas kasurnya sembari bermain ponselnya.
“Mas,” panggil Lasmi.
“Hmmm,” sahut Trisno masih sibuk bermain ponselnya.
“Mas, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.”
“Iya bicarakan saja ada apa?”
“Mas bagaimana jika anak yang di kandung Surti kita rawat saja,” saran Lasmi.
“Apa Lasmi, di rawat apa kamu tidak salah. Aku sedang bingung ini sudah dua tahun dan aku belum mendapatkan seorang bayi untuk aku jadikan tumbal, dan aku teringat kepada Surti yang sedang hamil,” ucap Trisno.
Ucapan Trisno membuat Lasmi sangat terkejut.
“Kamu gila Mas, itu darah dagingmu kamu tega untuk menumbalkannya, kamu benar-benar gila dan tidak punya hati,” ucap Lasmu yang kesal dengan niat Trisno.
“Lasmi, kita menjadi seperti sekarang ini berkat bantuan jenglot itu, jika aku tidak memberikan tumbal untuknya, bagaimana jika kita jatuh miskin lagi,” pungkas Trisno.
“Aku lebih jatuh miskin, dari pada hidupku seperti ini kamu sekarang berubah Mas, kamu kejam tidak memiliki hati.”
“Lasmi perlu kamu ingat ya , kehidupan itu sangat kejam.”
“Mas aku tidak pernah memohon kepadamu, kali ini saja di sisa hidupku aku ingin bahagia aku ingin merasakan menjadi seorang ibu merawat anak Surti walau aku tahu anak itu lahir tidak di rahimku, tapi aku meminta padamu Mas, aku ingin merawat anak itu,” Lasmi yang membujuk Trisno.
“Jika anak itu di rawat bagaimana aku mendapatkan bayi Lasmi,” ucap Trisno yang bingung
__ADS_1
Lasmi terdiam berfikir sejenak, tidak lama kemudian Lasmi mendapatkan ide.
“Bagaimana jika kamu ke mbah Minah, Mas. Siapa tahu mbah Minah tahu bagaimana caranya agar kamu mendapatkan seorang bayi dengan memerikan ia uang” ujar Lasmi yang memberikan saran.
“Benar juga apa katamu, kalau begitu aku akan ke rumah mbah Minah bersama Iwan.”
Trisno pun keluar dari kamar segera bergegas ke rumah mbah Minah.
Mbah Minah tidak hanya seorang dukun beranak dia juga kadang menangani pasien yang menginginkan aborsi.
Trisno pergi di ke rumah mbah Minah di temani oleh Iwan dengan menaiki mobilnya.
10 menit kemudian Trisno bersama Iwan telah sampai di rumah mbah Minah.
Iwan memarkirkan mobil Trisno tepat di rumah mbah Minah.
Setelah itu mereka berdua pun turun dari dalam mobil menuju rumah mbah Minah.
Iwan mengetuk pintu rumah mbah Minah yang terbuat dari kayu.
“Mbah! Mbah Minah!” pekik Iwan sembari mengetuk pintu rumah mbah Minah.
“Tunggu sebentar,” sahut mbah Minah di dalam rumahnya.
“Ada apa Trisno, tumben sekali kamu ke rumah Mbah, ayo masuk.”
Trisno berserta Iwan pun masuk ke rumah mbah Minah dan duduk di kursi yang terbuat dari bambu.
Trisno pun mulai menceritakan maksud kedatangannya.
“Ada apa kamu ke rumah mbah tumben sekal?” mbah Minah mengulangi pertanyaan yang sama.
“Begini Mbah, saya perlu seorang bayi. Tapi saya memberikan waktu 7 bulan untuk mbah mencarinya,” ujar Trisno memberitahukan kepada mbah Minah.
“Untuk apa seorang bayi Trisno?” kata mbah Minah yang bertanya.
“Sudahlah Mbah, tidak perlu banyak menanya. Mbah carikan saja ini ada uang muka aku berikan di depan sisanya nanti aku berikan kembali setelah mbah mendapatkan berhasil mendapatkan bayi yang aku inginkan,” kata Trisno menjelaskan kepada mbah Minah.
Sontak saja mbah Minah teringat dengan Nilam seorang gadis rema yang ingin menggugurkan kandungannya.
“Nasib baik kamu Trisno, baru kemarin ada seorang remaja bernama Nilam yang datang ke tempat mbah bersama orang tuanya, tapi karena kandungannya itu sudah jalan 6 bulan mbah tidak berani karena terlalu berisiko bagi ibunya sendiri. Akan bisa mengalami pendarahan,” mbah Minah memberitahukan Trisno.
“Bagus kalau begitu, mbah cari saja rumah Nilam itu nanti biar si Iwan yang akan menemani mbah,” ujar Trisno.
__ADS_1
“Baiklah Trisno, rumah Nilam sendiri di desa seberang,” ujar mbah Minah
“Oh iya jika nanti mbah Sudah mendapatkan bayinya aku akan memberikan kembali sisa uangnya.”
Trisno yang menyodorkan satu buah amplop coklat yang di dalamnya berisikan lembaran uang 100 ribuan.
Mbah Minah pun langsung mengambil amplop coklat di atas meja itu lalu membukanya.
Terlihat raut semringah di wajah mbah Minah ketika dirinya mendapatkan uang yang bayak dari Trisno.
“Tenang saja Trisno, semua akan beres serahkan kepada mbah,” sahut mbah Minah.
“Baiklah kalau begitu aku mau pulang terlebih dahulu kapan rencananya mbah akan ke rumah Nilam itu,”
“Besok mbah akan ke rumahnya.”
“Baiklah kalau begitu semakin cepat semakin bagus, besok mbah akan di temani oleh Iwan ke rumah Nilam,” ujar Trisno.
“Ya sudah aku ingin pulang terlebih dahulu,” Trisno yang berpamitan pulang.
Trisno pun keluar dari rumah gubuk mbah Minah dan di antar oleh mbah Minah sampai depan pintu.
Trisno pun berjalan ke mobilnya lalu masuk ke dalam mobil sementara Iwan yang bertugas mengemudikan mobil Trisno menjalankan mobilnya meninggalkan rumah mbah Minah.
Beberapa hari Trisno menunggu berharap mbah Minah herhasil mendapatkan bayi tersebut hingga akhirnya Trisno mendapatkan kabar baik dari mbah Minah jika orang tua beserta wanita yang mengandung itu setuju untuk memberikan bayinya.
Trisno yang saat itu mendapat kabar dari Usup pun memberitahukan Lasmi yang sedang berada di dapur.
“Lasmi akhirnya kita dapat pengganti untuk tumbal jenglot itu,” ucap Trisno.
“Beneran Mas,” ucap Lasmi senang.
“Iya, kamu bisa ambil bayi Surti. Kita rawat bayi itu,” ucap Trisno.
Rona semringah terpancar jelas dari wajah Lasmi, Lasmi sangat senang karena sebentar lagi akan memiliki anak walaupun itu bukan anaknya melainkan anak Trisno bersama Surti.
“Nanti kita datangi rumah wanita itu untuk memberikan harga yang pantas,” ucap Trisno.
“Kalau perlu aku berikan perhiasan yang aku punya Mas,” sahut Lasmi.
“Ya sudah besok kita datangi rumah mbah Minah dan minta dia tunjukkan dimana rumah wanita itu,” ucap Trisno.
__ADS_1