
30 menit mereka di perjalanan ke rumah sakit akhirnya mereka semua pun tiba.
Mereka semua berjalan menuju kamar tempat di mana Gendis di rawat.
Sesampainya di kamar Gendis di rawat, Bayu berserta Amir yang masuk ke dalam kamar tersebut karena dokter menyarankan tidak boleh banyak orang yang masuk agar tidak mengganggu pasien.
“Ayo Bayu kita mulai, apa kamu sudah siapa?” tanya Amir.
“Sudah kek, Bayu telah siapa,” sahut Bayu.
“Nanti kamu akan berada di sebuah hutan dan carilah gubuk tua di hutan tersebut Gendis di kurung di sana oleh nyai Asih, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke sana Bayu” Amir yang menjelaskan kepada Bayu.
“Baik kek, Bayu mengerti.”
“Tutuplah matamu fokuslah dan ragamu tetaplah berzikir.”
“Baik kek,” ucap Bayu menutup matanya sembari berzikir.
Saat Bayu menutup matanya ia serasa berada di tempat yang gelap namun dirinya masih dapat melihat Amir.
“Kek di mana ini mengapa gelap sekali?” tanya Bayu.
“Masuklah ke pintu itu dan kalau akan bertemu dengan Gendis, bawalah dirinya pulang,” sahut Amir.
“Baik kek,” ujar Bayu yang berjalan menuju pintu tersebut.
Saat Bayu masuk dan melewati pintu tersebut tiba-tiba ia berada di sebuah hutan yang rindang dengan pohon-pohon besar.
Bayu terus berjalan mencari rumah gubuk tersebut.
Sampai akhirnya ia pun berhasil menemukannya, Bayu mencoba secara mengendap-endap masuk ke rumah gubuk tersebut dan mencari keberadaan Gendis.
Bayu pun membuka pintu kamar di rumah gubuk tersebut dan menemukan Gendis yang di ikat tangan serta kakinya di atas tempat tidur.
“Gendis,” celetuk Bayu yang segera membuka ikatan Gendis.
“Bayu, bagaimana bisa kamu menemukan diriku?” tanya Gendis.
“Ceritanya panjang, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sebelum nyai Asih tahu keberadaanku,” kata Bayu seraya membuka ikatan Gendis.
Bayu pun berhasil membuka ikatan Gendis, dan menggandeng Gendis untuk keluar dari rumah gubuk tersebut. Saat Bayu dan Gendis telah berada di depan pintu rumah gubuk tersebut secara tiba-tiba nyai Asih muncul dan menghalangi mereka berdua untuk keluar.
“Siapa kau beraninya masuk ke rumahku dan membawa Gendis pergi! Kamu tidak tahu sedang berhadapan degan siapa?” ucap nyai Asih yang marah.
“Lepaskan Gendis!” seru Bayu.
“Hahaha beraninya anak ini denganku apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?” ujar nyai Asih yang mendekati Bayu.
Gendis pun bersembunyi di belakang Bayu.
“Aku tidak takut kepadamu!” kata Bayu dengan lantang.
Nyai Asih yang di buat emosi dengan perkataan Bayu pun mendekati dirinya dan mencekiknya.
Sontak saja Bayu yang bukan siapa-siapa tidak dapat melawannya, nyai Asih pun menghempaskan tubuh Bayu.
Tubuh Bayu pun terkena sebuah lemari dan lemari itu hancur.
Setelah itu nyai Asih kembali mendekati Bayu yang sedang merasakan kesakitan dan ingin membunuhnya.
__ADS_1
Namun Gendis berlari mencoba menolong Bayu, Gendis berada di depan Bayu.
“Nyai Asih, Gendis mohon bebaskan Bayu. Gendis akan ikut bersamamu tapi lepaskan Bayu,” pinta Gendis dengan menangis.
“Gendis jangan, aku tidak mau kamu bersamanya,” Bayu melarang Gendis.
Nyai Asih pun tertawa dan menyetujui ucapan dari Gendis.
“Baiklah jika begitu Gendis, aku akan bebaskan anak itu dan kau ikut bersamaku,” ujar nyai Asih.
Gendis pun setuju dengan Nyai Asih ia meninggalkan Bayu yang masih tergeletak di tanah pergi bersama nyai Asih.
Akan tetapi seseorang kakek bersorban menghalangi mereka.
“Nyai Asih, kau tidak henti-hentinya mengganggu manusia, bertobatlah agar Allah mengampunimu?” ujar kakek Sukma leluhur dari Bayu.
“Siapa kau berani-beraninya menasihati aku.”
“Aku Sukma, leluhur dari anak laki-laki itu dan gadis bersama itu, kau sudah mengganggu anak cucuku jadi aku akan membantu mereka.”
“Beraninya kau!” seru nyai Asih menyerang kakek Sukma.
Kakek sukma dengan tasbihnya menghafalkan zikir serta membaca doa.
Sontak saja nyai Asih merasa tubuhnya panas seperti terbakar.
“Kalian berdua pergilah dari tempat ini, biar kakek yang berurusan dengan wanita itu,” ucap Kakek Sukma.
“Baik Kek, terima kasih ujar Bayu yang di papah oleh Gendis.
Mereka berjalan mendekati pintu di masuki oleh Bayu tersebut.
“Ayo cepat pengang tanganku!” perintah Amir.
Gendis berserta Bayu menggenggam tangan Amir dan akhirnya mereka bertiga telah kembali.
Gendis kembali tersadar dari komanya.
Setelah Gendis tersadar Surti memeluknya, Gendis pun di beri tahu kebenaran semunya oleh Tini neneknya sendiri.
***
Sebulan kemudian setelah jenglot serta ilmu hitam yang di singkirkan oleh ustad Amir.
Trisno pun mendapatkan akibat dari semua perbuatannya selama ini.
Trisno yang kembali pulang ke rumahnya terbaring di kamarnya tubuhnya tampak kurus di gerogoti penyakit, Tini yang setia mengurus Trisno berserta Gendis di rumah itu.
Sementara Surti kini telah di nikahi oleh Anwar dan tinggal bersamanya mereka semua telah berdamai dengan masa lalu.
Sementara mbah Minah sang dukun beranak juga mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya, karena tidak punya keluarga mbah Minah yang sakit di temukan sudah seminggu di rumah gubuknya meninggal dunia tidak ada warga yang mengetahui bau busuk mulai tercium di rumah itu dan mendapati mbah Minah telah meninggal Dunia.
Sedangkan Ningsih serta Sari telah bahagia di desa mereka masing-masing bersama pasangan mereka berdua yang pastinya bertanggung jawab dan lebih baik dari Trisno.
Sementara Arifin terciduk oleh polisi dan semu bisnis ilegal Trisno di tutup oleh Polisi.
Trisno telah di tetapkan menjadi tersangka namun melihat kondisi fisiknya yang sangat memperhatikan membuat para posisi tidak memenjarakan dirinya Trisno yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi di tempat tidurnya merasakan sakit di sekitar tubuhnya dan setiap malam dirinya hanya dapat berteriak-teriak menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Amir yang saat itu sedang berjunjung ke rumah Trisno berserta Surti dan juga Anwari.
__ADS_1
Mereka semua sedang berada di kamar Trisno mendapati Triano yang sedang sekarat namun tidak bisa pergi.
“Trisno bertobatlah minta ampun kepada Allah atas segala perbuatanmu saat di dunia, dan minta maaflah kepada orang-orang yang pernah kamu sakiti semasa hidupmu,” Amir yang memberikan nasehat.
Trisno pun berdiam iya meminta ampun kepada sang Maha Pencipta lewat batinnya.
‘Ya Allah yang maha pengampun, ampunilah dosa-dosaku yang selama ini aku perbuat di dunia, maafkan diriku yang telah menyekutukanmu demi nafsuku di dunia yang tidak pernah puas, sesungguhnya engkaulah yang maha pencipta di dunia ini ampunilah dosaku ya Allah,' batin Trisno sembari meneteskan air matanya.
Setelah itu Trisno melanjutkan meminta maaf kepada orang-orang yang pernah ia sakiti di masa hidupnya.
“Bu maafkan Trisno telah menyakiti hati ibu, telah kasar kepada ibu,” ucap Trisno sembari menangis.
Tini yang mendengar permintaan maaf dari anaknya tak kuasa membendung air matanya.
“Ibu sudah memaafkan mu Nak,” ucap Tini sembari menangis.
“Surti maafkan aku selama ini telah membelenggumu serta menyiksamu apakah kamu mau memaafkan aku?” ucap Trisno menatap ke arah Surti.
“Iya Mas, aku memaafkanmu,” sahut Surti yang tersenyum kepada Trisno.
“Gendis anakku, maafkan bapak yang semasa hidup bapak menelantarkan mu Nak tidak peduli kepadamu,” ujar Trisno meneteskan air mata.
“Iya Pak, Gendis telah memaafkan bapak,” sahut Gendis memeluk tubuh Trisno yang sangat kurus.
“Anwar maafkan diriku yang ingin mencelakakanmu di saat itu karena rasa ambisiku yang tidak ingin tersaingi.”
“Aku sudah memaafkan mu Trisno,” sahut Anwar tersenyum kepada Trisno.
“Bayu maafkan Bapak yang di waktu bayi ingin membuangmu.”
“Walaupun Bayu tidak kenal dengan pak Trisno tapi Bayu sudah membukakan pintu maaf untuk bapak Trisno,” sahut Bayu.
Setelah Trisno meminta maaf kepada orang yang dulu pernah ia sakiti, Anwari pun mulai membimbingnya.
“Trisno ikuti aku, Laa ilaaha illallah,” ucap ustad Amir.
Trisno pun mengikuti ucapan uastad Amir.
“Laa ilaaha illallah,” ucap Trisno dan mengembuskan nafas terakhir.
"inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” ucap ustad Amir yang menutup mata Trisno.
Gendis menangis histeris saat ia mengetahui bapaknya Trisno telah pergi untuk selamanya begitu pun Tini.
Kesedihan terpancar di wajah mereka masing-masing saat melihat Trisno telah pergi untuk selamanya.
wa'budullāha wa lā tusyrikụ bihī syai`aw wa bil-wālidaini iḥsānaw wa biżil-qurbā wal-yatāmā wal-masākīni wal-jāri żil-qurbā wal-jāril-junubi waṣ-ṣāḥibi bil-jambi wabnis-sabīli wa mā malakat aimānukum, innallāha lā yuḥibbu mang kāna mukhtālan faselaman
Artinya: Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,
(Q.S An nisa ayat 36)
Tamat
Terima kasih untuk para pembaca setia novel Jenglot mohon maaf jika dalam penulisan novel ini ada salah kata dan terlalu lama UP nya.
Ambil hikmah di cerita ini dan buang jauh-jauh hal negatifnya nantikan cerita selanjutnya terima kasih.
__ADS_1