
Setelah mendapatkan tawaran bisnis baru, Trisno pun menceritakan kepada sang Istri.
“Siapa yang menelepon Mas?” tanya Lasmi.
“Bapak Arifin pemilik perusahaan batu bara, dia menawarkan aku memegang alih perusahaan tersebut dengan aku membeli perusahaannya maka perusahaan batu bara miliknya akan menjadi milikku dan pak Arifin sendiri yang akan mengelolanya. Bagaimana menurutmu Lasmi?” Trisno meminta pendapat kepada sang Istri.
“Menurutku itu kesempatan emas Mas, coba saja siapa tahu di bidang itu bisnismu akan terus naik,” ujar Lasmi yang setuju.
“Baiklah jika begitu, nanti siang hari aku akan pergi ke kota untuk bertemu dengan pak Arifin di rumah makan Idaman. Untuk membacakan bisnis ini apa kah kau mau ikut Lasmi?”
“Tidak Mas aku di rumah saja, hari ini aku kurang enak badan sedari subuh tadi perut bagian bawahku terasa sakit Mas.”
“Apakah kau mau aku antar ke dokter?”
“Tidak usah Mas, mungkin hanya sakit perut bisa saja nanti juga sembuh aku hanya perlu istirahat saja.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan membawa Iwan sebagai sopir dan juga bodyguard ku, Usup biar di rumah saja mengurus Surti nanti.”
“Iya Mas, oh iya aku masuk ke kamar dahulu ya Mas perutku sakit sekali.”
“Iya Lasmi.”
Lasmi pun meninggalkan Trisno sendirian di meja makan, sementara Lasmi pergi ke kamarnya.
‘Ucapan jenglot itu benar, setelah memberi tumbal untuknya bisnisku naik kembali, tidak salah jika aku menumbalkan anak Surti,' gumam Trisno sembari tersenyum bahagia.
Tidak berselang lama Tini pun mendatangi Trisno.
“Bagaimana keadaan Sundari Trisno?” tanya Tini.
“Dia telah sadar Bu, oh iya nanti ibu suruh saja Usup untuk mengantarkan Surti makanan,” kata Trisno.
“Iya Trisno, oh Iya sedari tadi ibu tidak melihat Lasmi ke mana dia?” tanya Tini.
“Lasmi sedang berada di kamarnya katanya dia tidak enak badan perutnya sakit,” pungkas Trisno memberitahukan sang ibu.
“Oh iya Bu satu hal lagi, nanti siang aku akan pergi ke kota untuk mendiskusikan bisnis baru, nanti jika terjadi apa-apa dengan Lasmi ibu telepon aku saja. Tadi aku sudah berbicara kepada Lasmi apakah mau aku antar ke rumah sakit tapi Lasmi menolaknya.”
“Hanya ingin istirahat saja di kamar,” sambung Trisno kembali.
“Iya Nak,” sahut Tini mengingat pesan sang anak.
__ADS_1
***
Di siang harinya Trisno memerintahkan Iwan untuk mengantarnya ke kota.
Trisno yang telah bersiap pergi dengan mengenakan setelan kemeja biru malam dan celana kain hitam layaknya seperti bos pada umunnya.
Trisno berdiri di pos jaga memanggil Iwan yang tengah tidur Siang.
“Wan!” pekik Trisno memanggil Iwan.
“Iya Bos ada apa? Bos rapi banget mau ke mana?” tanya Iwan.
“Ayo ikut aku, aku ingin ke kota menemui pak Arifin kamu ikut aku sekarang juga!” Perintah Trisno.
“Baik Bos,” ujar Iwan.
“Oh iya apakah kamu sudah memberi makan Surti?” tanya Trisno.
“Sudah Bos, Usup sudah mengantarkan makanan untuk Surti Bos,” ucap Iwan.
“Ya sudah kalau begitu, cepat antar aku ke kota!” perintah Trisno.
Iwan pun bersiap mengantarkan Trisno ke kota, mereka berdua pun telah masuk ke dalam mobil mewah milik Trisno.
Di dalam perjalanan menuju kota Iwan menanyakan perihal Bosnya itu ingin sekali bertemu dengan pak Arifin.
“Ada apa sih Bos, ingin sekali bertemu pak Arifin?” tanya Iwan.
“Ada bisnis yang sangat besar yang di tawarkan oleh pak Arifin, jadi ini kesempatan bagus aku harus ambil,” ujar Trisno yang menjelaskan kepada Iwan.
“Oh begitu, nanti kalau gol bisnisnya saya dapat komisi tambahan tidak Bos?” tanya Iwan.
“Itu mah gampang Wan, nanti akan aku berikan komisi tambahan jika memang bisnis ini tembus,” ujar Trisno yang menjanjikan.
“Siap Bos,” ucap Iwan dengan bahagia mendengar kata komisi dari Trisno.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam mereka telah sampai di depan restoran Idaman.
Iwan yang telah memarkirkan mobilnya ikut bersama Trisno.
Mereka pun berjalan memasuki restoran tersebut.
__ADS_1
Saat di dalam restoran, Trisno mencari keberadaan pak Arifin.
“Trisno!” pekik pak Arifin sendiri memanggil Trisno.
Trisno pun berjalan bersama Iwan menghampiri pak Arifin yang sudah menunggunya sedari tadi.
Sesampainya di sana Trisno di persilahkan duduk sementara Iwan berdiri di belang Trisno.
“Mau makan apa Trisno, tinggal pesan saja,” ujar pak Arifin yang menawarkan kepada Trisno.
Trisno pun memesan makan berserta minuman.
Beberapa menit kemudian pesanan makan dan minuman pesanan Trisno pun datang.
Sembari menikmati makanan mereka pak Arifin membuka obrolan santai mengenai bisnis yang ia tawarkan kepada Trisno.
“Pak Trisno, begini saya mau menawarkan perusahaan saya yang berjalan di bidang batu baru, siapa tahu pak Trisno mau menanam saham di perusahaan saya atau bahkan mau membeli perusahaan saya ini, karena jujur saja saya tidak bisa mengembangkan perusahaan ini karena modalnya cukup besar,” pak Arifin mulai menjelaskan kepada Trisno.
“Lalu bagaimana sistem kerjanya dan pembagian keuntungannya?” tanya Trisno.
Walau pun Trisno hanya lulusan SD namun pola pikir Trisno tidak kalah dengan Bos-Bos yang lulusan sarjana.
“Perusahaan batu bara ini sebenarnya ilegal, saya sengaja tidak memakai ijin karena ijinnya sendiri sangat mahal belum per tahun kita bayar ijin tersebut, dan saya mengirim batu bara ini dengan menggunakan jalur gelap ke luar negeri,” ucap Arifin.
“Untuk pembagian hasil akan kita bagi adil setelah di kurangi biaya pengiriman, transportasi, alat serta yang lainnya,” sambung Arifin.
“Tapi apa ini aman? Setahuku pertambangan ilegal ini akan cepat terendus polisi,” tanya Trisno.
“Kamu tenang saja itu sudah aku pikirkan dan aku selesaikan. Kita punya banyak tameng,” Arifin berusaha meyakinkan Trisno.
Walau sempat ragu, Trisno akhirnya mau bergabung karena mendapatkan bisikan dari jenglot tersebut.
“Kau terima Trisno. Ini adalah awal dari puncak kejayaanmu kelak,” Terdengar suara jenglot itu seakan berbisik di telinga Trisno.
Mereka pun sepakat, besok Lusa Trisno akan di ajak oleh Arifin untuk melihat lokasi tambang tersebut. Arifin juga menjelaskan jika batu bara yang ada di lokasi itu cukup bagus, sebelumnya Arifin sudah melakukan pengujian dengan melibatkan beberapa tim ahli selama beberapa tahun.
Arifin juga menjelaskan usia dari baru bara tersebut pas untuk di lakukan penambangan.
Trisno sendiri tidak menyangka jika Arifin, orang yang bisa ikut dalam sabung ayam itu ternyata seorang pengusaha. Arifin juga menjadi makelar penjualan lahan serta tanah untuk pertambangan.
Cukup lama Arifin menjelaskan setiap detail kepada Trisno, Arifin juga sangat senang ternyata Trisno cepat mengerti dan paham dengan apa yang ia jelaskan.
__ADS_1
Arifin membuka ponselnya, dan memperlihatkan gambar-gambar dari sampel batu bara di lokasi itu, lalu menjelaskan lokasi penambangan yang memiliki jalur tersendiri. Akses lokasi yang tersembunyi namun bisa di jangkau dengan menggunakan mobil.
Trisno pun semakin tertarik, sejujurnya dulu ia pernah bermimpi menjadi seorang bos pertambangan atau paling tidak juragan pemilik perkebunan, dan sekarang mimpinya itu akan terwujud berkat adanya jenglot peliharaannya tersebut.