
Beberapa bulan telah berlalu perut Surti pun semakin membesar.
Lasmi yang sangat khawatir dengan kandungan Surti pun memberi saran kepada Trisno.
Di saat Lasmi telah selesai memberikan makan siang untuk Surti, ia pun menghampiri Trisno yang sedang duduk di teras depan.
Lasmi menghampiri Trisno lalu duduk di sampingnya.
“Mas, perut Surti aku lihat semakin membesar dan kita tidak pernah memeriksanya. Aku khawatir dengan bayinya bagai mana jika hari ini kami suruh Iwan untuk menjemput mbah Minah agak kita dapat mengetahui usia kandungan Surti,” Lasmi yang memberi saran.
“Iya Lasmi benar katamu, sebentar aku akan memanggil Iwan terlebih dahulu, Iwan! Iwan!” pekik Trisno memanggil Iwan.
Iwan yang mendengar panggilan Trisno pun menghampirinya.
“Ada apa Bos?” tanya Iwan.
“Kamu ke rumah mbah Minah jemput dia ke sini, aku ingin memeriksa kandungan Surti,” ujar Trisno memerintahkan Iwan.
“Baik Bos.”
“Oh iya Usup mana?”
“Ada tuh di pos?”
“panggil dia suruh ke sini.”
“Siap Bos,”
Iwan pun meninggalkan Trisno pergi ke pos jaga untuk memanggil Usup.
“Usup, di panggil Bos tuh,” kata Iwan yang menyampaikan persen Trisno.
“Iya Wan,” sahut Usup menghampiri Trisno di teras.
Sementara Iwan pergi mengendarai motor Trisno ke rumah mbah Minah.
Sesampainya Usup di depan Trisno ia menanyakan kepada Trisno.
“Ada apa Bos?”
“Kamu, bebaskan Surti taruh dia di kamarnya dan jangan dia jangan sampai kabur. Aku takut jika nanti dia masih di ruang bawah tanah di saat melahirkan tidak ada orang yang tahu, kamu mengerti Usup?”
“Baik Bos,” sahut Usup sembari berjalan meninggalkan Trisno menghampiri Surti.
Usup pun masuk ke dalam rumah menuju ruang bawah tanah.
Terlihat Surti yang hanya duduk terdiam saja.
“Ayo Surti ikut aku,” ucap Usup membukakan pasungan di kaki Surti.
Surti tidak berbicara satu patah kata pun ia hanya terdiam, namun kadang ia tertawa tanpa sebab.
Setelah Usup membukakan pasungan di kaki Surti, ia pun segera membawa Surti ke kamarnya.
__ADS_1
Surti yang telah di bawa ke dalam kamar oleh Usup pun di jagakan seperti perintah Trisno agar Surti tidak kabur.
Selepas itu Trisno pun menghampiri Surti dan Usup di kamar.
“Usup tolong gembok semua jendela, agak Surti tidak dapat kabur lagi,” perintah Trisno.
“Baik Bos,” kata Usup.
“Oh iya gemboknya ada di gudang, kamu ambil terlebih dahulu biar aku yang menjaga dia di kamar ini,” kata Trisno.
Usul pun pergi ke gudang untuk mengambil gembok, sementara Trisno menjaga Surti.
Di dalam kamar, Trisno melihat kondisi Surti yang seperti itu pun merasa iba.
“Kasihan kamu Surti, maafkan aku,” ucap Trisno yang menyesali perbuatannya.
Tidak berselang lama Usup pun datang membawa beberapa gembok.
Setelah itu Usup pun memasang gembok itu di setiap jendela kamar Surti dan juga pintu luar kamar Surti agar di kala dia di tinggal Surti tidak dapat melarikan diri lagi.
“Bos sudah Selesai,” kata Usup.
“Ya sudah tunggu Surti dulu di kamar ini sampai Iwan berserta mbah Minah datang,” perintah Trisno kembali.
“Oke bos,” kata Usup.
Trisno pun meninggalkan Usup menuju kamarnya untuk beristirahat.
Lasmi yang ternyata sudah berada di kamar terbaring menahan rasa sakit.
“Tidak perlu Mas, aku minta tolong ambilkan obatku di dalam laci dan air minum di meja itu Mas,” ucap Lasmi yang meminta tolong.
“Iya Lasmi.”
Trisno pun mengambilkan obat Lasmi di dalam laci meja setelah itu Trisno mengambilkan segelas air putih di atas meja.
Trisno menghampiri Lasmi di tempat tidurnya dan membatu Lasmi untuk meminum obat.
Setelah selesai Lasmi pun beristirahat di temani Trisno di sampingnya.
Sementara di sisi lain Iwan yang telah sampai di rumah mbah Minah mengajak mbak Minah ke rumah Trisno.
“Ayo mbah cepat, di tunggu pak Trisno,” Kata Iwan.
“Iya tunggu sebentar Iwan,” balas mbah Minah.
Mbah Minah menutup pintu rumahnya, setelah ini menaiki motor yang di pakai Iwan.
Melihat dari kaca spion motornya mbah Minah telah siap Trisno pun menjalankan motor sembari membonceng mbah Minah.
Di dalam perjalanan mbah Minah menanyakan kepada Iwan ada maksud apa Trisno memanggilnya ke rumah.
“Ada apa sih Wan, kok mbah di panggil lagi ke rumah,” ujar mbah Minah.
__ADS_1
“Suruh periksa Surti mbah,” kata Iwan.
“Loh kok memang Surti sakit apa?” tanya mbah Minah yang binggung.
“Itu periksa kandungan Surti,” sahut Iwan.
“Loh hamil lagi toh, paten sekali kamu Wan, tiap tahun Surti hamil terus,” celetuk mbah Minah.
Mbah Minah mengira Surti itu adalah istrinya Iwan karena sedari kelahiran dulu Iwan yang di suruh Trisno menjeput mbah Minah.
Namun Iwan yang telah tahu Mbah Minah salah mengira ia pun hanya diam saja.
10 menit kemudian Iwan berserta mbah Minah telah sampai di rumah Trisno.
“Ayo mbah masuk,” ujar Iwan.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah Trisno menuju kamar Surti.
Terlihat Usup yang sedang menjaga Surti di dalam kamar.
“Di mana Bos, Usup?” tanya Iwan.
“Tadi sih bilangnya mau istirahat ke kamar,” sahut Usup.
Mendengar ucapan dari Usup Iwan pun berjalan menuju kamar Trisno.
Sesampainya di depan pintu kamar Trisno, Iwan mengetuk memberitahukan Trisno bahwa mbah Minah sudah datang.
“Bos, mbah Minah sudah datang,” kata Iwan sebari mengetuk pintu kamar Trisno.
Trisno yang belum sempat tertidur pun bangun bergegas membuka pintu kamarnya lalu keluar dari kamar.
Trisno dan Lasmi mendatangi mbah Minah, “mbah tolong periksa kehamilan Surti mbah,” pinta Trisno.
Mbah Minah pun diantar menuju kamar Surti, disana Terlihat Surti tengah tertidur.
Mbah Minah masuk beserta Trisno dan juga Lasmi, mbah Minah pun mulai memeriksa kandungan dari Surti.
Mbah Minah meraba setiap jengkal perut Surti, Surti yang mengetahui hal tersebut hanya terdiam.
“Bagaimana mbah?” tanya Lasmi.
“Posisi kepalanya sudah di bawah, sebentar lagi dia mungkin akan melahirkan,” ucap mbah Minah.
Mendengar hal itu Lasmi pun bisa bernafas lega, awalnya ia takut jika bayi yang dikandung Surti terjadi masalah.
“Kira-kira berapa lama lagi mbah?” tanya Trisno.
“Paling dua hari lagi,” ucap mbah Minah.
“Baiklah, Mbah bagaimana kalau mbah di sini saja untuk berjaga-jaga,” pinta Trisno.
“Baiklah saya akan berada di sini sampai Surti mengalami kontraksi.”
__ADS_1
“Saya akan siapkan kamar untuk mbah,” ucap Lasmi.
Lasmi pun meninggalkan kamar Surti untuk mempersiapkan kamar untuk mbah Minah, sedangkan mbah Minah masih memeriksa keadaan kandungan Surti.