Jenglot

Jenglot
Mimpi buruk Ningsih


__ADS_3

Perut Ningsih kian hari mulai terlihat membesar Trisno di dalam hati kecil Trisno merasa senang dan bercampur kekhawatiran.


Di malam itu Trisno dan Ningsih yang sedang bersantai di kamar mereka.


“Mas, Ning jangan di tinggal-tinggal sendirian di rumah, Ning takut Mas,” ujar Ningsih yang sedang tidur sembari memeluk Trisno.


“Iya Ning sayang, aku kan sedang mengembangkan bisnisku agar semakin maju dan semua ini untukmu Ning.”


“Iya Mas Ning paham, tapi akhir-akhir ini Ning sering merasa takut jika sendirian di rumah jika Mas Trisno pergi. Serasa ada yang selalu mengawasi Ning dan hati Ning selalu merasa was-was Mas, ujar Ningsih yang menjelaskan kepada Trisno.


“Iya Ning, udah itu mungkin hanya pemikiranmu saja, nanti Mas akan carikan pembantu untukmu di rumah ini biar kamu tidak merasa kesepian,” ucap Trisno.


“Iya Mas, tapi Ning maunya Mas yang menemani,” pinta Ningsih.


“Iya-iya aku juga akan selalu menemani mu dan juga calon anak kita,” ujar Trisno yang mengelus-elus perut Ningsih yang terlihat besar.


Ningsih mulai menggoda Trisno dengan pakaian tipisnya. 


Trisno pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengar sergap Ia melalukan permainan dengan sang istri.


Hingga mereka berdua mencapai puncak kenikmatan masing-masing sampai akhirnya tertidur.


Di dalam tidurnya Ningsih mulai bermimpi sangat menyeramkan.

__ADS_1


Ningsih bermimpi di saat itu dirinya sedang merasakan sakit perut yang teramat sakit dan ia sendirian di rumahnya.


Ningsih berteriak meminta tolong namun tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakkan dirinya di dalam rumah.


“To-tolong!” pekik Ningsih.


Ternyata sakit perut yang ia alami adalah rasa di saat dirinya ingin melahirkan seorang bayi.


Ningsih yang tidak kuat menahannya pun akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang prematur.


Di kamarnya dengan sendirian, namun hal mengerikan mulai datang di kala Ningsih masih terbaring lemah di tempat tidurnya dan memeluk bayinya muncullah sosok bayangan hitam di pojok kamar Ningsih.


Bayangan hitam itu semakin lama semakin mendekat lalu terlihat wujudnya yaitu sang Jenglot.


Jenglot itu langsung merampas bayi laki-laki Ningsih yang berada di pelukannya.


“Anak ini anak menjadi tumbal untukku,” ujar sang Jenglot.


“Jangan bawa anakku! Aku mohon jangan bawa anakku,” pekik Ningsih yang ingin mencoba menghalangi sang jenglot mengambil anaknya.


Namun secara tiba-tiba sang jenglot pun menghilang dari hadapan Ningsih dengan membawa bayinya.


“Jangan ambil anakku, jangan!” Teriak Ningsih sembari bangun dari tempat tidurnya.

__ADS_1


Trisno yang kaget mendengar Ningsih berteriak pun menanyakan kepada dirinya.


“Ada apa Ning?” tanya Trisno.


“Aku tadi bermimpi menyeramkan Mas,” ujar Ningsih.


“Memangnya kamu mimpi apa Ning?” tanya Trisno.


“Aku mimpi bayi ini di ambil makhluk yang sangat mengerikan untuk di jadikan tumbal Mas,” Ningsih mulai menjelaskan kepada Trisno.


Trisno yang mendengar cerita dari Ningsih pun kaget dan terdiam.


“Mas, Mas, kenapa kamu diam Mas,” tegur Ningsih.


“Ah tidak apa-apa Ning, itu hanya bunga tidur sebaiknya jangan terlalu kamu pikirkan,” sahut Trisno yang mencoba menenangkan Ningsih.


“Tapi aku takut Mas.”


“Tidak usah takut ada aku di sini Ning.”


“Sebaiknya kamu kembali tidur lagi, itu hanya bunga tidur jangan terlalu di pikirkan,” Trisno yang memberi saran kepada Ningsih.


“Iya Mas,” sahut Ningsih kembali tidur.

__ADS_1


Ningsih pun kembali tidur sedangkan Trisno masih terjaga, mengingat ucapan Ningsih dirinya bingung apa yang seharusnya ia perbuat  dan tidak mungkin  dirinya bercerita hal yang sesungguhnya kepada Ningsih.


  


__ADS_2