Jenglot

Jenglot
Ritual memberi makan Jenglot


__ADS_3

 


Beberapa hari kemudian Trisno memerintahkan Iwan serta Usup mencari ayam cemani untuk di jadikan sajen di malam ini.


“Iwan! Usup!” Pekik Trisno memanggil mereka berdua di depan pintu.


“Iya Bos,” ujar Usup yang mendengar panggilan Trisno.


Mereka berdua pun bergegas menghampiri Trisno yang sedang berdiri di depan pintu rumah.


“Ada apa Bos,” tanya Iwan.


“Kalian berdua cepat pergi ke pasar cari bunga tujuh rupa, serta ayam hitam atau ayam cemani! Tapi ayam cemaninya yang Jago jangan yang betina kalian mengerti!” Perintah Trisno.


“Baik bos,” ucap serentak Usup dan Iwan.


Mereka berdua pergi ke pasar dengan mengendarai motor milik Trisno.


Beberapa menit kemudian Trisno serta Usup telah sampai di pasar lalu memarkirkan motor milik Trisno.


Setelah itu Usup serta Iwa berjalan masuk ke dalam pasar, hal pertama mereka lakukan mencari penjual bunga.


“Eh Wan itu penjual bunga,” celetuk Usup menunjuk penjual buang dari kejauhan.


“Oh iya Usup,” sahut Iwan.


Mereka berdua pun berjalan menghampiri nenek-nenek penjual bunga.


“Nek bunga tujuh rupanya 10 ribu saja,” ujar Usup.


“Iya Nak,” sahut nenek penjual bunga.


“Ini Nak bunganya,” ujar sang nenek memberikan pesanan Usup di dalam kantong plastik.


“Iya Nek, ini uangnya,” sahut Usup memberikan uang pas ke pada sang Nenek.


Setelah mendapatkan bunga tujuh rupa mereka berdua mencari ayam cemani atau biasa di sebut ayam hitam.


Usup dan Iwan terus berjalan menyelusuri pasar hingga akhirnya sampai di tempat penjual ayam cemani.


“Ayam cemaninya Bang,” sahut bapak-bapak yang menawarkan dengannya kepada mereka.


“Iya Pak, berapa satunya?” tanya Iwan.


“500 ribu bang,” kata si penjual.


“Gila ayam kaya gini aja mahal banget,” ucap Iwan yang terkejut.


“Ini ayam bukan sembarang ayam Bang, carinya susah dan budi daya juga sulit, terus ayam hitam ini cukup terbilang ampuh jika di jadikan untuk persembahan atau sajen,” si penjual yang menjelaskan ke unggulan ayam cemani.


“Udah 300 aja, kalau gak mau ya udah,” kata Usup.


“Tambahin dikit bang jadi 350, giman? Abang ambil dah tuh ayam,” sahut si penjual.


“Wah, wah, bapak jualan atau merampok pak, ya sudah saya ambil satu,” ujar Iwan.


“Tapi ayam cemani ya yang jago yang betina,” sahut Iwan kembali.

__ADS_1


“Oke deh Bang, tunggu sebentar saya carikan dulu,” kata si penjual.


Selang beberapa menit.


“Ini Bang ayamnya,” ucap si penjual dengan memberikan ayam cemani itu kepada Iwan.


“Iya nih duitnya 350 ribu kan,” kata Iwan mempertegas.


“Terima kasih Bang, laris manis,” sahut sang penjual sembari memukul-mukulkan uang kepada barang dagangannya.


Setelah mendapatkan apa yang di perintahkan Trisno mereka berdua pun akhirnya pulang.


Iwan serta Usup keluar dari pasar menuju parkirkan motor.


Sesampainya di parkirkan motor mereka berdua menaiki motor Trisno sementara Iwan yang mengemudikannya.


Beberapa menit kemudian mereka pun telah sampai di rumah Trisno.


Terlihat Trisno sedang bersantai di halaman rumahnya sembari memberi makan jalu ayam jago ke sayang Trisno.


“Bos ini pesanannya dan Ayamnya,” sahut Iwan yang menenteng pesanan Trisno di tangan kanannya.


“Itu ayam taruh di kandang kasih makan, terus bunganya kasih ke ibu suruh taruh di kamarku terlebih dahulu,” Trisno memerintahkan Iwan.


“Baik Bos,” kata Iwan.


“Eh Usup, ini jalu di mandikan, nanti mau aku bawa ke judi saung ayam. Sudah lama Jalu tidak mengasah kekuatannya,” kata Trisno.


“Oke Bos, oh iya Bos ini kembaliannya.”


Sore harinya Trisno mengajak kedua anak buahnya pergi ke lapangan tempat judi saung ayam.


“Ayo Usup, Iwan kita ke lapangan bawa Jalu,” ujar Trisno.


“Baik Bos,” sahut serentak mereka berdua.


Mereka bertiga pun pergi ke lapangan dengan menaiki mobil.


Sesampainya di lapangan sudah banyak ayam yang bertanding satu sama lain.


Trisno mulai mengeluarkan jalu, untuk bertanding dengan ayam jago milik orang lain.


“Ayo Jalu hajar jangan beri ampun,” Trisno berteriak seakan-akan memberi semangat Jalu.


Jalu pun memenangkan judi sang ayam hingga beberapa kali.


“Usup, Iwan, ambil uang mereka karena mereka tidak ada yang bisa mengalahkan jalu,” sahut Trisno.


“Baik Bos,” kata Iwan.


Setelah Trisno merasa puas dengan judi saung ayamnya karena tidak ada yang bisa mengalahkan Jalu sang ayam jago miliknya, Trisno pun pulang.


“Kalian semua payah, tidak ada yang bisa mengalahkan Jalu,” ucap Trisno dengan sangat sombong lalu bergegas meninggalkan lapangan itu.


Sesampainya di rumah Trisno pun menyuruh kedua anak buahnya untuk memasukkan jalu ke kandang, sementara Trisno bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Setelah selesai mandi Trisno masuk ke dalam kamar, terlihat Lasmi yang sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

__ADS_1


“Kamu kenapa Lasmi, apa perutmu sakit kembali?” tanya Trisno.


“Iya Mas, perutku sakit lagi.”


“Besok aku antar kamu ke rumah sakit, aku tidak mau mendengar kamu tidak mau, aku cape mendengar kamu selalu mengeluh. Asal kamu tahu Lasmi aku sampai menghamili Surti karena kamu tidak pernah memberikan aku nafkah batin lagi, setiap aku minta kamu selalu menolak beralasan perutmu sakit. Apa itu aku yang salah,” ujar Trisno yang marah kepada Lasmi.


Lasmi hanya terdiam mendengar ucapan Trisno yang marah kepadanya.


“Ah Sudahlah aku malas berantem dengan mu,” pokoknya besok aku antar kamu ke rumah sakit,” ucap Trisno sembari pergi keluar kamarnya meninggalkan Lasmi sendiri di dalam kamar.


Trisno berjalan menuju teras depan rumahnya. Trisno yang kesal dengan sang Istri duduk di teras sembari menyalakan rokoknya.


Beberapa bilah rokok yang Trisno hisap untuk menghilangkan rasa kesalnya kepada sang Istri.


Beberapa Jam telah berlalu malam pun mulai tiba, Trisno mulai mempersiapkan ritual memberikan makan sang Jenglot.


Setelah semua siap Trisno tidak langsung melakukan ritualnya melainkan menunggu hingga tengah malam tepatnya di jam 12 malam.


Trisno yang berdiam di kamar ritual menunggu hingga jam menunjukkan pukul 12 malam.


Beberapa jam telah berlalu, jam pun sudah menunjukkan pukul 12 malam Trisno sudah harus memulai ritualnya.


Trisno yang duduk bersila di bawa dengan sesaji di depannya mulai melakukan ritualnya.


Trisno mulai menaruh sepihan kemenyan di atas tungku perapian yang terdapat bara api di dalamnya.


Setelah itu Trisno membuka kota kayu di depannya yang berisi Jenglot.


Jenglot pun di buka oleh Trisno dan di asap-asapkan di atas tungku perapian.


Setelah selesai Trisno pun menaruh kembali sang Jenglot ke dalam kotak kayu.


Masih dengan cara yang sama Trisno membacakan mantra lalu menusukkan jarum ke jari tengah tangan Trisno.


Seketika darah segar pun keluar dari jari Trisno.


Trisno pun meneteskan darah segarnya itu ke mulut sang Jenglot.


Setelah tetesan darah di mulut jenglot  hilang seperti terhisab Trisno memulai menyembelih ayam hitam yang darahnya akan di tereskan ke mulut sang jenglot.


Ritual pemberian makan jenglot pun harus rutin di berikan setiap malam jumat.


Semua tata cara ritual memberi makan sang jenglot telah selesai.


Kali ini sang jenglot berubah menjadi makhluk yang mengerikan bukan seperti patung kecil.


“Trisn!” panggil sang jenglot di hadapannya.


“Iya Jenglot,” sahut Trisno.


“Jangan lupa akan tumbalku, karena ini memasuki ke dua tahun Trisno,” ucap sang jenglot dengan suara berat dan besar.


“Baik Jenglot,” ucap Trisno.


Sang jenglot yang telah memperingati Trisno setelah itu sang jenglot hilang dan berubah menjadi jenglot yang berada di dalam kotak kayu.


Trisno yang telah selesai memberikan makan sang jenglot pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2