
Elea kembali kerumah dengan wajah tampak lesu dan murung, sepertinya apa yang diceritakan oleh Fara menjadi beban tersendiri bagi dirinya. Sebenarnya bukan hal baru jika kedua sahabat itu saling membagi masalah juga keluh kesah, karena sejak dulu memang tidak ada rahasia diantara mereka, tapi kali ini permasalahan Fara cukup berat dan tidak hanya membutuhkan kekuatan mental untuk menyelesaikannya.
"Mami dari mana?" tanya Risha duduk di ruang tamu, namun di lewati begitu saja oleh Elea.
"Eh...kamu dirumah Ris?" Elea yang tadinya menundukkan kepalanya, kini mengangkat kepalanya dan melihat kearah anak sambungnya itu.
"Iya, tadinya mau ngajak Mami ke Spa melakukan body message. Tapi Mami gak ada di rumah" Risha masih beranggapan jika tubuh Elea pasti lelah setelah pergi jalan-jalan tempo hari, makanya gadis itu ingin mengajak Mami mudanya itu perawatan tubuh.
"Mami abis dari rumah Fara" ucap Elea duduk didekat Risha, menyenderkan punggungnya di sofa.
"Maksudnya Tante Fara?" Risha memastikan, dan Elea hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Mami kelihatannya capek banget" Risha melihat Elea yang memejamkan matanya.
"Tidak, hanya mengantuk" ucap Elea tanpa membuka matanya.
"Istirahat ke kamar saja kalau ngantuk Mih" saran Risha, tidak tega melihat Elea tiduran dengan posisi duduk, apalagi dengan perut bulat nya, melihat itu Risha merasa sesak nafas.
"Iya nanti" sahut Elea, ia terlalu malas jika harus bangkit dan menuju ke lantai atas untuk merebahkan tubuhnya. Kehamilan yang semakin besar diiringi kenaikan berat badan beberapa kilogram, membuat Elea semakin sering di hampiri rasa malas.
Kurang dari sepuluh menit Elea memejamkan dengan posisi setengah duduk, kini dengkuran nafas halusnya mulai terdengar, wanita hamil itu benar-benar terlelap begitu mudahnya meskipun posisi tubuhnya kurang nyaman, namun siapa perduli karena rasa kantuk lebih mendominasi.
"Ckk....udah di bilangin pindah ke kamar" decak Risha mengetahui Mami mudanya itu benar-benar tertidur.
"Rishaaaa..." teriak nenek Asri memanggil nama cucunya.
"Nek, jangan teriak-teriak" sahut Risha dari ruang tamu mengeram kesal.
"Kamu disini, nenek pikir kamu di kamar" ucapnya menghampiri Risha di ruang tamu.
"Lho...?" nenek Asri melihat menantunya yang terlelap di sebelah Risha.
"Makanya nenek jangan teriak-teriak" ucap Risha.
"Kenapa tidak tidur di kamarnya?"
"Mami baru datang dari rumah temennya, sepertinya sangat lelah, makanya begitu duduk langsung tertidur seperti ini" jelas Risha.
__ADS_1
"Kenapa tidak kamu suruh tidur di kamarnya?"
"Sudah Nek, tapi Mami bilang nanti dan beginilah akhirnya" ucap Risha.
"Dibiarkan tidak tega, mau dibangunkan juga tidak tega" nenek Asri melihat menantunya yang tidur terlelap, sepertinya sangat lelah dan mengantuk.
"Coba telpon Papi kamu, suruh pulang lebih cepat. Biar bisa pindahkan istrinya ke kamarnya" titah Nenek Asri.
"Sudah, Papi memang dalam perjalanan pulang" Risha menunjukkan chattingan nya dengan sang Papi beberapa menit yang lalu pada Nenek nya.
🌼🌼🌼
Martin turun dari mobil dengan tergesa-gesa, bahkan pria 41 tahun itu setengah berlari kecil karena ingin segera melihat sang istri yang tertidur di sofa. Begitu mendapat kabar dari sang putri tentang Elea yang terlihat kelelahan dan tertidur di sofa tamu, pria itu menambahkan kecepatan mobil yang dikemudikan nya agar bisa lebih cepat sampai rumah.
Klek...
Pintu utama terbuka, Martin langsung menuju ruang tamu dimana ada anaknya yang senantiasa menemani istrinya yang terlelap di sofa.
"Sudah berapa lama dia tertidur begini?" tanya Martin pelan.
"Kurang lebih 50 menit" jawab Risha mengangkat lengan kirinya dimana ada jam tangan mahal itu melingkar.
"Kebiasaan" gumam Martin, ia mengingat saat pertama kali membawa Elea masuk kerumah itu dengan kondisi terlelap di mobil, dan sama sekali tidak terganggu apalagi terbangun saat Martin mengankat tubuh nya.
"Ada apa dengan dirinya?" Martin melihat Elea mengerutkan dahinya.
Pria itu merebahkan tubuh istrinya di atas king size nya, sejenak Martin menatap wajah Elea. Cinta, mungkin saja saat ini Martin sudah mencintai Elea, bukan mungkin lagi sebenarnya. Tapi Martin sudah lama merasakan perasaan yang berbeda pada Elea, bukan karena Elea yang telah mengandung calon buah hatinya, namun lebih dari itu, Martin sudah mencintai Elea.
Hanya saja Martin tidak pernah mengatakan jika dirinya mencintai Elea, hanya kata sayang yang selalu ia ucapkan. Martin berharap dengan semua perhatian perlakuan yang ia berikan pada Elea, bisa membuat wanita itu sadar dan mengerti jika dirinya sangat di cintai oleh Martin.
"Semoga semua baik-baik saja" lirih Martin beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Elea masih dalam posisi yang sama, wanita itu tetap terlelap dalam tidurnya padahal jam sudah menunjukkan pukul 19.45 sebentar lagi jadwal makan malam di kediaman Adnan Hariz itu dimulai, namun belum ada tanda-tanda bangun dari menantu tunggal keluarga itu.
Martin turun seorang diri ke meja makan, di sana sudah ada Papa Adnan, Mama Asri dan juga Risha, putrinya. Ketiga orang itu menatap penuh tanda tanya, kenapa Martin turun seorang diri? lalu dimana Elea?.
"Kau sendirian Martin? dimana istri mu?" tanya papa Adnan.
__ADS_1
"Elea masih belum bangun Pah" jawab Martin menarik salak satu kursi untuk duduk.
"Dari tadi sore itu?" kali ini Mama Asri yang bertanya.
"Hem" dehem Martin sebagai jawaban.
"Kenapa gak di bangunkan saja Pih? inikan sudah waktunya makan malam" Risha khawatir jika kondisi Elea drop karena telat makan.
"Biarkan saja, dia tidur sangat pulas. Nanti kalau lapar pasti bangun sendiri, Papi tidak tega membangunkannya" tutur Martin.
"Tapi pastikan nanti dia makan dengan benar jika sudah bangun. Atau kalau Elea menginginkan sesuatu, panggil saja mbok Minah di paviliun belakang" ucap Mama Asri memperingatkan Martin.
"Iya Mah" jawab Martin, kalau keempat orang itu mulai makan malam dan di selingi beberapa obrolan.
"Kamu jangan sering-sering mengizinkan Elea pergi sendirian Martin" sela Mama Asri ketika mereka tengah menikmati makan malam.
"Maksudnya?" Martin tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Mama nya.
"Itu Elea tadi katanya habis bertemu dengan temannya"
"Ya, dia pergi ke rumah Fara tadi" jawab Martin, ia memang tahu jika Elea menemui Fara, sahabat satu-satunya.
"Bukan Mama tidak mengizinkan Elea pergi, tapi Mama lihat wajahnya sangat kelelahan saat pulang tadi, bahkan langsung tertidur di sofa ruang tamu dan belum bangun hingga sekarang" Mama Asri mencemaskan keadaan calon cucunya.
"Mama tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon cucu Mama. Jika kamu tidak bisa mengendalikan istri mu, maka Mama tidak akan segan-segan untuk ikut campur urusan rumah tangga mu" ancam Mama Asri.
"Itu tidak perlu Mah, Martin pastikan jika Elea tidak akan kelelahan lagi. Dan Martin masih sangat bisa sekaligus cukup mampu untuk mendidik istri Martin" tukasnya.
"Bagus kalau begitu" sahut Mama Asri melanjutkan makannya.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺