
Rintik gerimis mulai berjatuhan pada bumi di gelapnya malam, dilihat dari betapa gelapnya awan mendung yang menyelimuti langit, sepertinya hujan deras akan segera datang menggantikan gerimis. Seolah alam mengerti akan kesedihan wanita yang kini berjalan dengan linangan air mata, bajunya sudah mulai basah karena gerimis, wanita itu menyusuri malam tanpa membawa apapun selain pakaian yang menempel pada tubuhnya. Bahkan kartu identitas dan ponselnya tertinggal di rumah mertuanya.
Elea, wanita hamil itu terus berjalan diiringi hujan gerimis yang semakin deras membasahi tubuhnya. Meskipun tidak tahu harus pergi kemana, Elea tetap berjalan tanpa memperdulikan terpaan air hujan dan dinginnya angin malam yang menyapa tubuhnya.
"Aku harus kemana?" gumam Elea bingung, pandangannya menatap sepanjang jalan yang sudah mulai sunyi. Wajar saja, karena waktu dan tanggal sudah berganti, jarum jam di perhentian Elea sudah menunjukkan pukul 02.15 itu arti sudah satu jam lebih wanita hamil itu berjalan.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita istirahat" ucap Elea mengelus-elus perut buncitnya yang terasa kencang dan sakit, Elea tetap berjalan dengan meringis karena menahan kan sakit di perutnya, kakinya sudah terasa pegal, namun wanita itu bingung harus berganti dimana? Jika kerumah Fara, jaraknya masih sangat jauh, terlebih dirinya berjalan kaki.
Elea menghentikan langkahnya, kepalanya terasa pusing dan berputar, lelah dan juga menahan dinginnya air hujan dan angin malam ternyata melemahkan tubuhnya.
"Ibu..." lirih Elea melihat sebuah lampu kendaraan mendekatinya.
Brukkkkkkkk.....
Gelap, wanita itu pingsan di tengah jalan dan di bawah guyuran hujan lebat.
🌼🌼🌼
Bau khas karbol menyeruak kedalam indera penciuman seorang wanita yang tengah terbaring di sebuah ranjang, selain itu ia juga dapat mencium aroma pil juga obat-obatan lainya. Elea perlahan membuka matanya, ia menatap ke atas langit-langit berwarna putih, netranya menyapu ke seluruh ruangan yang juga bercat putih, sebuah jarum infus terpasang di tangan kanannya.
"Haus" lirih Elea merasa tenggorokan nya kering dan tubuhnya lemas.
Klekkk.....
Seorang pria baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung mendekati bed tempat Elea terbaring.
"Kau sudah sadar?" tanya pria itu memegang handuk kecil berwarna putih untuk mengeringkan rambutnya.
Elea menatap heran pada pria itu, wajah itu tidak asing di mata Elea, namun ia tidak ingat siapa namanya.
"Haus" ucap Elea, pria itu langsung mengambilkan segelas air putih dengan sebuah sedotan.
"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisi mu" ucap pria itu dengan nada datar lalu pergi keluar. Hanya beberapa menit, pria itu kembali dengan seorang dokter wanita yang terlihat masih muda, juga seorang suster di belakang nya.
__ADS_1
"Selamat pagi ibu Elea, kita periksa dulu ya" sapa ramah dokter itu dengan senyuman hangat.
"Tekanan darahnya sudah normal, demamnya juga sudah turun, ada keluhan Bu?" tanyanya.
"Lemas dan pusing" jujur Elea, ia masih merasakan pusing di kepalanya dan tubuhnya terasa tidak bertenaga.
"Itu hal yang wajar, nanti setelah sarapan dan minum obat, perlahan tenaga ibu akan pulih dan pusing nya akan hilang. Tapi ibu masih harus di rawat ya, untuk memastikan keadaan janinnya baik-baik saja" jelas dokter itu, Elea hanya mengangguk pasrah. Setelah selesai memeriksa keadaan Elea, dokter itu pamit keluar bersama susternya.
Elea masih bingung kenapa dirinya berada di rumah sakit, siapa yang membawanya kerumah sakit? Dan siapa pria yang dari tadi menatapnya itu?.
"Bagaimana bisa menantu keluarga Hariz berada di tengah jalan saat malam hujan badai?" ucap pria itu dengan kedua tangan berada di dadanya.
"Kau siapa?" lirih Elea, sebenarnya tidak ingin bicara, tapi rasa penasaran akan pria itu membuatnya membuka mulut.
"Kau tidak ingat padaku?" tanyanya, Elea hanya menggeleng.
"Satu minggu yang lalu di J & H Bar, tidak mungkin jika kau lupa" ucapnya mengingatkan Elea, wanita itu terdiam beberapa saat untuk mengingat sesuatu.
"Kau pria itu? Rentenir, lintah darat, pria tampan tapi kejam" kata Elea tidak sengaja memuji namun juga menghina.
"Narsis" cibir Elea mencebikkan bibirnya.
"Jadi kau yang menolongnya ku?" tanya Elea.
"Bukan aku, tapi Liam" ucapnya jujur, memang tadi malam dirinya baru pulang dari arena boxing bersama Liam sang asisten. Dan di tengah guyuran hujan lebat, lampu mobil yang di kendarai Liam menangkap sosok wanita hamil di tengah jalan, namun saat mobil itu semakin mendekat, wanita itu jatuh pingsan. Dan disinilah Jhonatan berada, karena wanita hamil itu adalah Elea, pria itu mengenal Elea, atau lebih tepatnya tahu tentang Elea karena dia adalah satu-satunya teman Fara, gadis yang berhasil mencuri hati Jhonatan. Itu sebabnya Jhonatan mencari tahu tentang Elea dan kehidupannya, namun Elea sendiri tidak tahu apa-apa tentang Jhonatan selain rentenir, lintah darat dan juga pria kejam.
Klekkk...
Pintu ruangan itu terbuka, dan terlihat pria berkacamata membawa paper bag, serta beberapa plastik dari sebuah restoran ternama, dan juga sebuah rantang.
"Kenapa lama sekali?" protes Jhonatan pada pria yang baru datang itu.
"Ini pakaian mu" ucapnya menyerahkan paper bag itu pada Jhonatan tanpa menjawab protesnya.
__ADS_1
"Dasar" gumam Jhonatan mengambil paper bag itu dan berjalan ke kamar mandi.
Pria yang tak lain adalah Liam asisten Jhonatan itu menarik overbed table yang berada di ujung ranjang Elea dan mendekatkan nya ke tengah ranjang agar mempermudah sang pasien.
"Makanlah" kata Liam menaruh sebuah rantang, piring beserta sendok di atas meja itu.
"Makanan ini bagus untuk ibu hamil" Liam membuka susunan rantang, ada bening bayam dan jagung, nasi putih, asam manis ikan, ayam goreng, dan juga empal daging.
Elea merasa air liur nya memenuhi rongga mulut ketika melihat makanan yang begitu menggairahkan selera. Lapar, tentu saja wanita hamil itu lapar, tadi malam ia tidak makan dengan benar karena kepikiran tentang Risha, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 10.15 artinya jam sarapan sudah sangat lewat, apalah kondisinya Elea berbadan dua, tentu saja lambung sangat meronta-ronta minta di isi.
"Ayo makan, kau sudah sangat terlambat untuk sarapan" ucapnya dengan senyum ramah.
"Terimakasih...."
"Liam, namaku Liam"
"Terimakasih Liam, terimakasih juga karena telah menolong ku" ucap Elea tulus.
"Menolong?"
"Pria yang baru saja ke kamar mandi itu bilang jika kamu yang menolong ku" jujur Elea.
"Benarkah?" kata Liam, Elea mengangguk.
"Jika orang lain yang melihat mu pingsan di tengah jalan, mereka juga pasti akan menolong mu" ucap Liam, ia mengingat bagaimana tubuh mungil dengan perut buncit itu menggigil di bawah guyuran hujan, bahkan bibir Elea sudah membiru. Maka tanpa permisi pada Jhonatan yang tertidur di mobil, Liam langsung mengangkat tubuh Elea ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Bahkan Jhonatan di tinggalkan dalam mobil karena Liam mengurusi Elea di IGD.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺