
"Bohong?" beo Martin.
"Tentu saja om berbohong, Om pernah menikah bahkan memiliki Risha, bagaimana mungkin aku wanita pertama yang om cintai?" Elea menghapus air matanya.
"Apa aku belum menceritakan kisahku tentang pernikahanku dulu?" tanya Martin, Elea hanya mengedikkan bahunya.
Martin menatap wajah cantik Elea dan mengusap pipi basah istrinya.
"Aku dan Astrid masih sama-sama muda dulu, kamu berteman meskipun bukan teman dekat. Bisa di katakan jika kami teman satu komunitas" Martin mulai bercerita.
"Kehidupan kami dulu lumayan bebas bahkan sampai diluar batas. Hingga akhirnya aku dan Astrid menghabiskan malam bersama, namun saat itu aku menganggap nya hanya sebuah pengalaman baru saja, karena Astrid pernah melakukannya dengan pria lain" Martin menjeda.
"Bukan maksudku membuka aib orang yang sudah meninggal, tapi aku merasa perlu menceritakan ini padamu dengan jelas" kata Martin.
"Seperti yang aku katakan jika kami hanya berteman biasa, tentu saja tidak ada perasaan sama sekali, apalagi cinta. Tapi pengalaman baru yang tidak sengaja aku lakukan dengan Astrid membuahkan hasil, ya Risha lah hasil dari malam itu. Aku menikahi Astrid tanpa rasa cinta, bahkan setelah pernikahan aku cenderung membencinya, meskipun lambat laun aku menerima kehadiran Astrid, tapi aku dengan jelas dan yakin mengatakan jika itu bukanlah cinta" tutur Martin, Elea masih mendengarkan.
"Hingga selama lima tahun pernikahan, kami hanya hidup sebagai orang tua Risha, saling menghormati dan belajar mengasuh Risha dengan baik. Aku juga tidak pernah menyentuhnya hingga akhir Astrid meninggal karena kecelakaan" pungkas Martin.
"Mungkin awal kisah kita hampir sama dengan kisahku dulu, tapi sekarang aku dengan yakin bisa mengatakan jika aku mencintaimu dan ini bukanlah sebuah kebohongan atau sekedar kata-kata manis" Martin menggenggam tangan kiri Elea.
"Bagaimana Om bisa yakin?" Elea masih tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi hatiku belum pernah seyakin ini pada wanita, dan jangan tanyakan apa alasannya karena aku juga tidak tahu" kata Martin.
"Aku mau tidur" kata Elea, ia masih bingung dengan pernyataan cinta Martin, meskipun ada rasa senang di hati Elea, namun ada rasa takut juga.
"Tidurlah sayang" Martin membantu menurunkan bed Elea hingga wanita itu bisa tidur dengan posisi nyaman.
🌼🌼🌼
Pukul 07.00 pagi Anton datang dengan membawa laptop dan juga tas kerja Martin, dan entah inisiatif dari mana, Anton juga membawa sarapan untuk Martin dan juga makanan khusus untuk ibu melahirkan.
"Aku akan memberikan bonus dua kali lipat dari gaji mu bulan ini" kata Martin melihat apa saja yang di bawa oleh Anton.
"Terima kasih Tuan" jawab Anton biasa saja, bukan tidak menghargai atau apa. Tapi Anton memang sudah sering mendapatkan bonus tak terduga dengan nilai cukup besar dari Martin, tapi semuanya tak berarti apapun bagi kehidupan Anton, karena hari-hari hanya di habiskan untuk bekerja dan bekerja tanpa memiliki waktu untuk bersenang-senang.
__ADS_1
Martin langsung memakan sarapan yang di bawa oleh Anton, pria itu memastikan jika perutnya sudah terisi terlebih dulu sebelum membangunkan Elea dan bekerja. Padahal satu bulan belakangan ini Martin tidak begitu memperdulikan kesehatan nya, namun hari ini sepertinya Martin sudah kembali menjadi manusia normal seperti biasanya apalagi sekarang sudah ada bersama Elea dan juga putranya.
Elea terbangun tepat setelah beberapa menit Martin menyelesaikan sarapannya, pria itu langsung memberikan Elea sarapan. Dengan canggung Elea menerima dan memakan makanan itu tanpa banyak bicara.
Martin masih selalu aktif berbicara dan mencoba berbagai macam topik, namun Elea tidak begitu menanggapi Martin. Akhirnya Martin sibuk di depan laptop nya namun tetap sesekali bicara pada Elea.
Fara dan Jhonatan membuka pintu kamar perawatan Elea, Faraasih menganggap jika Martin adalah mahluk tak kasat mata, wanita itu langsung bercengkrama dengan Elea. Jhonatan mengikuti Fara, pria itu melihat bayi Elea sebentar lalu duduk di sofa bersama dengan Martin.
"Kalian sudah bicara?" tanya Jhonatan sambil memperhatikan istrinya.
"Ya" jawab Martin singkat.
"Lalu?"
"Tidak semudah itu, dan sepertinya aku harus berkerja lebih keras untuk membujuk dan meyakinkan nya" jawab Martin menatap wajah cantik Elea yang terlihat bahagia bicara dengan Fara.
"Jika begitu dia akan kembali ke Villa ku" kata Jhonatan membuat Martin langsung menoleh ke arahnya.
"Aku yakin jika dia tidak akan mau ikut denganmu" kata Jhonatan hingga Martin mendesah kan nafas pasrah.
"Aku akan mengikutinya kemanapun, dan aku harap kau tidak mempersulit ku" kata Martin.
"Aku tidak akan menumpang dengan gratis" kesal Martin.
"Jika aku tak sekaya dirimu, bukan berarti aku tidak punya uang. Harta ku lebih dari cukup untuk menghidupi pasangan suami istri yang sedang bertengkar" enteng Jhonatan.
"Tapi jika kau tetap sangat ingin berterima kasih padaku, kau bisa membantu ku mencari tempat yang strategis untuk dijadikan sebuah usaha" Jhonatan menyeringai.
"Bukankah usahamu sudah cukup banyak?" Martin memecingkan matanya.
"Ya tapi semua usahaku di dunia bawah, dan kali ini aku ingin membuka usaha di dunia atas, seperti mu" kata Jhonatan.
"Bisnis apa yang akan kau lakukan?"
"Kuliner, aku sudah bertemu dengan Aldo Mahendra dan membahasnya beberapa waktu lalu" jelas Jhonatan.
__ADS_1
"Aldo, bukankah dia kerabat dari Regananta Group?" Martin menaikkan satu alisnya.
"Ya, itu benar"
"Kau memancing dan langsung mendapatkan tangkapan besar rupanya" sinis Martin.
"Itu hal biasa bagiku" sombong Jhonatan.
🌼🌼🌼
Setelah cukup lama berbasa-basi, Fara dan Jhonatan berpamitan pulang namun Elea juga ingin ikut pulang bersama mereka. Elea tidak ingin lebih lama lagi bersama Martin di ruangan yang sama, dengan sedikit membujuk dan berdebat dengan dokter Juli, kini Elea bisa pulang bersama dengan Fara dan juga Jhonatan.
"Om mau kemana?" tanya Elea melihat Martin mengikutinya.
"Tentu saja pulang bersamamu sayang" jawab Martin membuat Elea tercengang.
"Tapi aku akan ikut bersama mereka" Elea menunjuk Fara dan Jhonatan.
"Tidak masalah, aku akan mengikuti mu kemanapun kamu pergi. Dan aku juga yakin jika Jhonatan tidak keberatan" kata Martin melirik Jhonatan yang hanya mengedikkan bahunya.
"Apa Om tidak malu tinggal di rumah orang lain" tanya Elea.
"Sayang, di dunia ini tidak ada yang gratis. Dan aku cukup tahu diri" kata Martin santai.
Elea tidak bisa berkata-kata lagi, wanita itu duduk di kursi roda dengan menggendong bayinya dan Martin yang mendorong kursi roda itu keluar dari ruan perawatan.
Martin sudah memberi tahu Papa Adnan jika dirinya sudah bersama dengan Elea, namun Martin belum mengatakan jika Elea sudah melahirkan, Martin hanya mengatakan jika untuk saat ini dirinya akan fokus membujuk Elea agar mau kembali bersamanya menjalani biduk rumah tangga bahagia seperti harapannya.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺