
Martin tersenyum senang begitu masuk dalam kamar mendapati Elea yang duduk bersandar headboard dengan mengenakan piyama panjangnya. Ahhh... berarti tadi Elea mengenakan lingerie memang sengaja untuk bermain dengan dirinya, begitu kira-kira yang di pikirkan oleh Martin.
"Minumlah" Martin memberikan segelas susu coklat hangat pada Elea.
"Terimakasih Om" ucap Elea menerima gelas itu dan langsung meminumnya.
"Aku juga membuatkan roti dengan isi selai kacang, Makanlah" ujar Martin mengangsurkan piring berisi roti dengan selai kacang itu.
"Maaf ya Om, ngerepotin" ucap Elea basa-basi, padahal dalam hatinya biasa saja. Entahlah, Elea membuang semua rasa untuk Martin yang selama ini di pupuk dalam hatinya.
"Aku tidak merasa direpotkan, lagi pula kamu dan anakku perlu makanan" lagi-lagi ucapan Martin menyadarkan Elea dan membuat Elea semakin yakin untuk membentengi hati dan menghapuskan perasaan yang belum lama bersemi.
Elea hanya tersenyum tipis untuk menutupi kegetiran dalam hatinya karena kata-kata Martin, yah mau bagaimana lagi? Elea bukanlah wanita yang punya kuasa meskipun telah resmi menjadi istri seorang Martin Hariz. Elea tetaplah Elea, seorang wanita yatim-piatu tanpa memiliki sanak saudara yang bisa ia tuju saat beratnya dunia ada di pundaknya, Elea sangat berharap jika Martin akan menjadi pelabuhan cintanya, namun sepertinya Martin hanya akan menjadi rumah singgah untuk sementara.
Martin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa percintaannya tadi, Elea menatap nanar punggung kokoh yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Wanita hamil itu menghela nafas panjang dan mengusap-usap perut bulat nya.
"Ini adalah anakku" gumam Elea tersenyum karena mendapat respon tendangan kecil dari dalam rahimnya.
"Tidur lah sayang, besok kita bermain lagi" ucap Elea merebahkan tubuhnya setelah selesai memakan beberapa potong roti buatan Martin.
🌼🌼🌼
Elea membantu Martin mengancingkan kemeja mahal yang biasa Martin kenakan untuk ke kantor, tentu saja bukan tanpa alasan Elea melakukan semua itu, Adak maksud dan niat terselubung dari semua sikap baik dan manis Elea.
"Om" ucap Elea setelah mengancingkan kancing terakhir kemeja Martin.
"Hem" jawab Martin memeluk pinggang Elea agar semakin dekat dengan tubuhnya.
"Boleh aku minta sesuatu?" lirih Elea menggigit bibir bawahnya.
"Anything" jawab Martin mengecup kening Elea.
"Om, aku serius" rengek Elea merasa risih karena kedua tangan Martin tidak tinggal diam dan terus meremas dua bongkahan padat Elea yang di belakang.
"Me too" sahut Martin tanpa menghentikan tangannya.
"Ckk" decak kesal Elea.
"Mungkin ini sedikit konyol, tapi aku ingin meminjam uang dari Om dan nominal nya cukup besar" ucap Elea to the poin.
"Berapa?" tanya Martin enteng.
"250" lirih Elea.
__ADS_1
"Bukankah kamu bisa mengambilnya di ATM?" Martin ingat jika dirinya sudah memberikan kartu kredit tanpa batas limit pada Elea, kenapa istri kecilnya itu masih meminta uang padanya?.
"Tidak, aku ingin Om memberikan cash secara langsung padaku" pinta Elea.
"Baiklah" Martin mengambil dompetnya dan memberikan 3 lembar uang merah pada Elea.
"Bukan 250, tapi aku berikan 300 padamu" ucap Martin, sedangkan Elea hanya menatap datar.
"Kenapa? ada yang salah?" tanya Martin karena Elea tak kunjung mengambil uang itu dari tangannya.
"Aku serius Om"
"Aku juga tidak bercanda El"
"Maksud ku bukan 250 ribu, tapi 250 juta" jelas Elea, membuat Martin membelalakkan matanya.
"Sebanyak itu? untuk apa?" heran Martin, tidak biasanya Elea meminta uang sebanyak itu. Bahkan dari kartu kredit yang Elea pegang, belum ada laporan sama sekali jika kartu itu sudah di gunakan oleh Elea.
"Lupakan saja" Elea juga bingung jika harus menjelaskan permasalahan Fara pada Martin.
"Hei...hei...kenapa marah begitu?" Martin menangkup pipi Elea.
"Baiklah, akan aku berikan padamu" putus Martin tidak ingin melihat Elea merajuk lagi.
"Kapan Om bisa memberikannya?" Elea kembali bertanya pada Martin.
"Hari ini tidak bisa, Baga kalau besok?" tawar Martin.
"Janji?"
"Iya, janji" ucap Martin menarik tubuh Elea dalam pelukannya.
"Jangan pernah marah padaku" bisik Martin.
"Hem" jawab Elea dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pasangan suami-istri itu turun bersama-sama dan menuju meja makan untuk sarapan bersama dengan anggota keluarga lainnya. Seperti biasa, di meja makan sudah ada Mama Asri dan papa Adnan beserta Risha sang putri. Meskipun tidak ada jadwal kuliah pagi, tapi sarapan bersama seperti ini adalah suatu keharusan yang di wajibkan oleh papa Adnan, apa lagi Risha semakin dewasa dan bukan tidak mungkin cepat atau lambat akan menikah dan meninggalkan kediaman Hariz. Jadi sebisa mungkin sarapan dan makan malam papa Adnan ingin semua anggota keluarganya duduk di meja makan bersama.
"Kamu tadi malam makan kan El?" tanya Mama Asri ketika Elea baru saja mendudukkan dirinya di kursi.
"Iya Mah, maaf Elea tidak bisa ikut makan malam bersama" sesal Elea menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu makan. Karena Mama tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada cucu Mama" sahut Mama Asri membuat Elea mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Iya Mah" ucap Elea tersenyum getir, Ternyata semua perhatian itu hanya untuk keturunannya yang saat ini masih dalam kandungan Elea.
"Mama tidak perlu khawatir, Elea pasti akan menjaga anakku dengan baik. Iyakan sayang?" imbuh Martin mengusap perut bulat Elea.
"Iya" sahut Elea tersenyum miris, kata-kata Martin bukannya semakin menenangkan hatinya, namun malah membuat hatinya merasa tersayat.
Risha menangkap sesuatu yang janggal di senyum yang Elea tunjukkan, gadis itu memang lumayan peka dari pada Papi dan neneknya, atau memang karena usianya tidak terlalu terpaut jauh dari Elea, makanya gadis itu seolah tahu apa yang tengah Elea rasakan.
"Pih" ucap gadis itu di sela-sela makannya.
"Ya sayang" sahut Martin namun tetap melanjutkan makannya.
"Bulan depan kita Babymoon ke Korea ya" kata-kata Risha membuat Martin menghentikan sendok yang hampir masuk mulutnya.
"Babymoon? Korea?"
"Iya, lagi pula Papi dan Mami kan dulu gak pergi honeymoon, dan sekarang malah sudah hamil. Jadi kita pergi Babymoon saja" ujar Risha, benar juga sih apa di katakan oleh putri sulungnya itu, tapi kenapa harus Korea?.
"Kenapa harus Korea?" bukan Martin, tapi pertanyaan itu keluar dari mulut neneknya.
"Tidak ada alasan khusus Nek, kebetulan saja Risha dan Mami sama-sama suka drama Korea" jelas gadis itu.
"Boleh kan Pih?" tanya Risha dengan puppy eyes.
"Apakah kamu juga mau ikut Papi Babymoon?"
"Memangnya kenapa kalau Risha ikut? gak masalah kan Mih, kalau Risha ikut Babymoon ke Korea?" gadis itu mencari tameng yang akan sulit di tolak oleh Papinya.
"Tentu saja bukan masalah, Mami senang jika Risha mau ikut" jawab Elea dengan senyum tanpa beban sama sekali.
Mendengar jawaban Elea, tentu saja membuat Risha tersenyum penuh kemenangan, tapi tidak dengan Papi nya, pria dewasa itu menekuk wajahnya setelah mendengar jawaban sang istri. Bukan Martin tidak tahu apa tujuan dua wanita itu terbang ke negeri Ginseng, apalagi jika bukan karena suamiku suamimu suami kita semua. Ahhh memikirkan itu membuat Martin semakin kesal dan kehilangan selera makannya.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1