Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Malam Pengantin


__ADS_3

Pesta pernikahan Jhonatan dan Fara berakhir pukul 23.40 hampir tengah malam memang, Dokter Juli sudah membawa Elea kembali ke kamarnya sejak pukul 22.30 tadi, dan dirinya juga akan tidur bersama Elea karena malam ini menginap di Villa Jhonatan.


Beberapa anak buah Jhonatan masih melanjutkan pesta meskipun tanpa musik dan hanya di temani beberapa jenis .Inuman keras saja.


Ceklek.....


Jhonatan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sebuah handuk di pinggangnya, matanya mengarah keranjang dimana sang istri sudah tertidur dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.


Namun Jhonatan sangat tahu jika Fara belumlah benar-benar tertidur, istrinya itu sengaja pura-pura tidur agar terhindar dari ritual malam pertamanya.


Jhonatan langsung bergabung naik keatas ranjang tanpa memakai pakaian terlebih dahulu, pria itu tersenyum menyeringai penuh siasat.


"Kita tidak akan tidur malam ini baby" bisik Jhonatan di telinga Fara, gadis itu memegang ujung bantal dengan kuat, dan matanya semakin tertutup rapat.


"Kau mau melakukannya dengan suka rela atau aku harus memaksamu hemm?" bisik Jhonatan, lidahnya mulai menari-nari di daun telinga fara dan otomatis membuat tubuh gadis itu meremang.


"Baiklah jika kau ingin dipaksa" ucapnya karena Fara sama sekali tidak merespon, tangan Jhonatan mulai menelusuri tubuh Fara di balik selimut itu.


Pria itu sudah memutuskan jika malam ini adalah malam penyatuannya dengan sang pujaan hati. Meskipun harus memaksakan diri, namun Jhonatan tidak akan menyatiki, bahkan akan dengan sangat lembut memperlakukan Fara.


Fara yang sudah pasrah akan sentuhan-sentuhan memabukkan Jhonatan, kini hanya pasrah tanpa penolakan. Lagi pula memang hal Jhonatan melakukan hal itu bukan?


"Ahhh...." desah Fara tak tertahankan ketika Jhonatan menyentuh intinya, tubuhnya terasa panas dan menginginkan sesuatu yang lebih lagi, ada rasa asing yang begitu membuat tubuhnya merasa melayang-layang.


"Agghhhh..." jerit Fara semakin kuat saat merasakan sesuatu yang meledak dari dalam tubuhnya.


"Kau menikmatinya baby?" Jhonatan menatap Fara dengan senyum penuh kemenangan, ia tahu jika Fara sudah mencapai puncaknya.


Fara wajah Jhonatan sebelum akhirnya memalingkan wajahnya karena malu dengan reaksi tubuhnya. Ini adalah pengalaman pertama Fara di sentuh pria dan merasakan indahnya terbang ke nirwana.


"Apakah aku sudah bisa memulainya?" Jhonatan melahap bukit kenyal Fara, gadis yang sebentar lagi akan berubah menjadi wanita itu hanya diam saja dan menggigit bibir bawahnya menahan ******* karena sentuhan Jhonatan.


Jhonatan bersiap untuk memasuki inti Fara, ia harus beberapa kali melakukannya karena gawang itu masih tertutup rapat.


"Emmmhhh... pelan-pelan" lirih Fara, merasakan benda asing mulai mengoyak inti tubuhnya.


"Aku akan melakukannya dengan lembut"


Cup...


Jhonatan mengecup kening Fara dan mulai bergerak dengan perlahan menikmati kehangatan dan kelembutan yang begitu memabukkan.

__ADS_1


Karena Fara akhirnya mengimbangi permainan Jhonatan, pria itu tidak jadi menggempur Fara semalaman, bahkan Jhonatan hanya melakukannya satu kali mengingat ini pertama kalinya bagi Fara. Jhonatan tidak mau jika Fara tidak menikmati permainan ranjang mereka. Pria itu cukup tahu jika seharian ini Fara cukup lelah, ia ingin memberi waktu istirahat untuk Fara.


"I love you" bisik Jhonatan memeluk tubuh polos Fara dari belakang. Hati Fara menghangat mendengar tiga kata klise itu, namun ia diam saja karena memang belum ada perasaan apapun pada Jhonatan.


🌼🌼🌼


Citra terlihat berlari mengejar Risha karena sahabat ya itu selalu menghindarinya beberapa hari belakangan ini, telepon ataupun pesan Citra tidak pernah di jawab ataupun di balas oleh Risha.


"Ris, tunggu gue" teriaknya namun Risha tetap berjalan dengan cepat menuju parkiran.


"Ris, Lo kenapa sih? Gue ada salah sama Lo?" Citra mencekal tangan Risha.


"Lepas" Risha menghempaskan tangan Citra.


"Lo sebenarnya kenapa sih?" seru Citra yang kesal.


"Sorry gue lagi pingin sendiri" ucap Risha lalu berlari masuk dalam mobilnya dan meninggalkan area kampus.


"Kenapa sih tuh anak?" gumam Citra menatap nanar mobil Risha yang semakin menjauh.


Sedangkan Risha mengendarai mobil dengan menahan tangisnya, dadanya begitu sesak mengingat istri Papinya sampai sekarang belum di temukan, ia ingin menyalahkan Citra tapi apa yang terjadi tidak sepenuhnya salah Citra, semuanya terjadi karena ia yang tak bisa mengendalikan diri dan bersedia kekanak-kanakan.


"Apa yang harus gue lakukan?" Risha menghentikan mobilnya dan meletakkan kepalanya diatas setir kemudi.


Tok...tok...tok...


Seseorang mengetuk kaca mobil Risha, gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria yang sangat di kenalnya, lalu membuka pintu mobilnya.


"Ada apa Bang?" tanya Risha dengan wajah sembabnya.


Tommy mengerutkan keningnya melihat wajah sembab Risha, bahkan mata gadis itu masih terlihat basah.


"Keluarlah" titah Tommy menarik tangan Risha agar keluar dari mobil. Gadis itu menurut saja, karena ia juga sedang bingung mau kemana. Pulang kerumah juga masih terlalu siang dan tidak akan menemukan ketenangan karena kondisi rumah belum stabil.


Tommy mengajak Risha memasuki sebuah restoran karena mobil Risha memang berhenti tak jauh dari restoran tempatnya bertemu dengan klien tadi. Saat Tommy hendak masuk dalam mobilnya, netranya menangkap mobil yang tak asing dari jarak sekitar 10 meter, dan benar saja mobil itu adalah milik Risha setelah ia memperhatikan plat nya.


"Minumlah" Tommy mengulurkan sebotol air mineral yamg sudah ia buka tutupnya.


Risha mengangkat wajahnya dan melihat sekitar, ternyata Tommi membawanya kesebuah private room restoran.


"Terimakasih" lirihnya mengambil botol air mineral itu dan meminumnya beberapa kali teguk.

__ADS_1


"Kamu sedang ada masalah?" tanya Tommy to the poin. Risha terdiam sesaat lalu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Tommy.


"Mami pergi dan itu semua karena aku?" kata Risha kembali menundukkan wajahnya.


"Apakah ini karena pekerjaannya di masa lalu?" tebak Tommy di angguki Risha.


"Seharusnya aku mendengarkan nasehat Bang Tommy waktu itu" lirihnya penuh penyesalan.


"Om Martin sudah tahu masalah ini?" tanyanya dan Risha kembali mengangguk.


"Tenanglah, pasti Om Martin akan segera menemukan istrinya" Tommy menenangkan Risha.


"Semoga saja, tapi kakek tidak berhasil menemukan Mami meskipun sudah menggerakkan orang-orangnya" ujarnya.


"Aku yakin jika Mami kamu pasti akan segera ditemukan, dan semuanya akan baik-baik saja" Risha mengangkat wajahnya seolah tidak percaya.


"Tidak semudah itu" kata Risha.


"Semua tidak akan baik-baik saja, dan keadaan tidak akan sama lagi karena Mami pasti tidak akan mau kembali kerumah"


"Tolong aku Bang, tolong bantu aku menemukan Mami, aku bersalah dan benar-benar menyesali perbuatan ku" Risha memegang erat tangan Tommy dan memohon bantuan pria itu.


"Aku pasti akan membantumu sebisaku, tenangkan dirimu" ucap Tommy menggenggam hangat tangan Risha.


"Terimakasih" ucap Risha.


"Mau makan?" tawar Tommy.


"Tidak"


"Mau pulang?" gadis itu menatap Tommy seolah mengatakan jika ia tidak ingin pulang.


"Ayo ikut aku" Tommy mengulurkan tangannya dan Risha menyambut tangan itu tanpa bertanya apapun ia mengikuti Tommy.


🌼


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


🌼


TBC 🌺


__ADS_2