Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Akhirnya


__ADS_3

Sesuai apa yang disarankan oleh Papa nya, Malam ini Martin mendatangi J&H Bar untuk bertemu dan berbicara dengan Jhonatan.


Suara bising mulai menyapa indera pendengaran Martin, alunan musik dengan tempo cepat, gemerlap lampu disko, aroma minuman beralkohol dan juga asap rokok memenuhi ruangan itu.


Dilantai dansa banyak wanita menari dengan pakaian minimnya, dan juga di kelilingi olah pria hidung belang yang menatap lapar pada tubuh yang meliuk-liuk dengan indah itu.


"Tuan" Bondan, anak buah Anton itu sudah stay dan menunggu kedatangan Martin sejak Bar itu di buka.


"Apakah dia sudah datang?" tanya Martin sedikit berteriak, karena musik keras yang dimainkan oleh sang DJ.


"Ya, dan saya sudah berbicara dengan tuan Liam, dia adalah asisten sekaligus sekretaris tuan Jhonatan" jelas Bondan.


"Dimana aku bisa menemuinya?" tanya Martin.


"Mari ikut saya" ajak Bondan membawa Martin ke lantai paling tiga, disanalah Kanton Jhonatan saat pria itu sedang bekerja atau sekedar beristirahat. Ya tentu saja pekerjaan Jhonatan sangat mudah, sebab semuanya sudah di selesaikan oleh Liam.


Tok...tok...tok...


Bondan mengetuk sebuah pintu, yang Martin yakini jika didalamnya ada Jhonatan.


Ceklek...


Pintu itu di buka, dan Liam lah yang membukanya.


"Silahkan masuk Tuan Hariz" Liam mempersilahkan Martin untuk masuk, lalu ia keluar dan menutup pintu itu. Liam dan Bondan berdiri didepan ruangan itu tanpa tahu apa yang tengah Tuan mereka bicarakan.


Martin menatap tajam pada Jhonatan, sebenarnya ia ingin langsung meledak-ledak, namun Martin ingat perkataan sang Papa untuk tidak membuat bandit di depannya itu marah, lalu ia melembutkan tatapannya.


"Saya penasaran apa yang membuat seorang Martin Hariz ingin menemui ku" kata Jhonatan santai seolah tidak tahu apa-apa.


"Saya tidak ingin basa-basi Tuan Henderson, dan saya sangat yakin anda tahu maksud tujuan saya menemui anda" ucap Martin tenang.


"Bagaimana mungkin saya bisa tahu? Apakah kita memiliki hubungan yang sangat dekat?" Jhonatan tersenyum remeh, dan hal itu membuat Martin tidak suka.


"Kita memang tidak memiliki hubungan dekat, tapi istrimu adalah orang terdekat dari istriku" ujar Martin.


"Ahhh....jadi wanita malang itu adalah istrimu? Asisten saya yang menemukan wanita hamil itu pingsan di tengah jalan, pada malam tengah malam dan kondisi hujan badai" Jhonatan melirik ke arah Martin dan melihat wajah pria itu terkejut.


"Bagaimana kondisi nya? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan kandungannya? Apakah istri terluka? Apakah..."


"Dia tidak baik-baik saja" sela Jhonatan sebelum Martin menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Apa maksud mu Tuan Henderson?!" seru Martin.


"Jangan meninggikan suara mu padaku Tuan Hariz, atau aku tidak akan...."


"Baiklah, maafkan aku" Martin menghela nafas berat.


"Terjadi ke salah pahaman antara istriku, putriku juga ibuku hingga membuat istriku pergi dari rumahku. Semua terjadi karenaku, akulah yang tidak jujur, tapi istriku yang harus menanggung semuanya" tutur Martin, Jhonatan hanya menyimak saja. Karena sampai sekarang Jhonatan juga tidak tahu penyebab Elea meninggalkan rumah keluarga Hariz. Meskipun ia sudah berhasil menikahi Fara, namun Jhonatan tetap tidak ingin ikut campur dalam urusan Elea. Menurutnya Elea hanyalah seorang wanita yang membutuhkan pertolongan dan perlindungannya dan Jhonatan sudah melakukan hal itu.


"Aku sangat mencintainya, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta selama hampir 42 tahun hidupku. Aku jatuh cinta pada gadis yang usianya hampir sebaya dengan putriku, bukankah menurut itu sangat lucu?" Martin tersenyum getir.


"Tidak, itu bukan hal yang lucu" sahut Jhonatan dengan wajah datarnya.


"Aku menikahinya secara dadakan, bahkan pernikahan kamu terjadi karena penggrebekan warga. Menurut mu jika wartawan tahu, apa yang mereka tulis tentang judul dari kabar pernikahan ku?"


"Ya kami menikah tanpa ada rasa cinta, bahkan kami menikah tanpa mengenal satu sama lain. Tapi aku menerima nya sebab istriku, aku belajar mencintainya, dan benar-benar mencintainya. Tapi belum sempat aku katakan seberapa besar aku mencintainya, dia telah pergi" tanpa malu Martin menitikan air matanya didepan Jhonatan.


"Aku sangat menyesal karena mengulur waktu untuk menyatakan cintaku" Martin menatap wajah datar Jhonatan dengan penuh harap.


"Tolong katakan dimana istriku, dia sedang hamil, tolong jangan jadikan aku sebagai pria yang jahat karena menelantarkan istri dan anakku" ucap Martin.


"Saya tidak bermaksud mencuri atau menyembunyikan istri pria lain Tuan Hariz. Asisten ku menemukan istrimu dan membawanya kerumah sakit, saat itu kondisinya cukup memprihatinkan dan dirawat beberapa hari" ujar Jhonatan.


"Jadi, kau mau memberitahu dimana istriku?" tanya Martin memastikan.


"Dia ada di Villa saya, bukankah anda sudah tahu hal itu?" tanya Jhonatan.


"Hanya dugaan"


"Saya akan memberikan anda akses untuk menemuinya di Villa, tapi saya tidak bisa menjanjikan apa-apa lagi" kata Jhonatan, sebab semua Kep ada ditangan Elea.


"Terim...."


Brakkkkkkkkkk.....


Tiba-tiba pintu itu di buka dengan kasar oleh Liam.


"Tuan....!!" seru Liam dengan wajah panik.


"Tidak bisakah kau pelan Liam?" Jhonatan menatap kesal pada asisten nya itu.


"Tidak bisa Tuan, Nyonya Fara..."

__ADS_1


"Ada apa dengan istriku?!" Jhonatan langsung bangkit dari duduknya.


"Mereka menuju rumah sakit karen..."


"BICARA YANG JELAS LIAM!" teriak Jhonatan, ia tidak sadar jika dirinyalah yang membuat Liam kesulitan untuk bicara.


"FARA MEMBAWA ELEA KE RUMAH SAKIT KARENA ELEA KESAKITAN!" teriak Liam dengan kesal.


"APA?!" kini Martin juga berteriak mendengar kabar jika istrinya kesakitan.


"Ehem.. mungkin Elea akan segera melahirkan" kata Liam menatap Martin.


"Aku harus segara kesana" Martin berlari keluar ruangan itu. Sedangkan Jhonatan dan Liam saling memandang.


"Kenapa Fara tidak menghubungi ku?" gumam Jhonatan.


"Ponsel anda selalu mati jika sedang ada tamu Tuan" memang benar Jhonatan selalu mematikan ponselnya jika sedang bekerja atau menerima tamu.


Brakkkkkkkkkk....


Pintu itu kembali dibuka dengan keras, sehingga Jhonatan dan Liam terkejut.


"Mereka dirumah sakit mana?" tanya Martin dengan nafas ngos-ngosan, ia kembali lagi setelah sampai parkiran karena tidak tahu harus pergi kemana.


"Tenanglah Tuan Hariz, mereka dalam perjalanan menuju Regananta Hospital, dan disana dokter Elea sudah mempersiapkan segalanya" jelas Liam, pria itu memang sudah mengatur segalanya untuk Elea, dia sangat menyayangi Elea seperti adiknya sendiri.


"Baiklah, terimakasih" Martin kembali berlari menuju mobilnya.


"Ayo, kita juga harus segera kesana" kata Jhonatan melenggang pergi dari ruangan itu di ikuti oleh Liam.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2