Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Strategi


__ADS_3

Risha membuka pintu kamarnya, gadis itu menuju walk in closet dan mengambil sebuah koper. Hari ini Risha kembali membawa beberapa barangnya untuk dibawa ke apartment nya, ya Risha dan Martin memutuskan keluar dari rumah besar itu.


Sama dengan Martin, Risha juga tidak mampu berada dirumah itu karena memiliki banyak kenangan dengan Elea di berbagai sudut ruangan. Dan ruang karaoke yang menjadi tempat favorit Risha menjadi tempat paling sering Risha habiskan bersama Elea, kedua wanita itu selalu bahagia dan menggila jika sudah berada di ruang karaoke.


Brukk.....


Sebuah paper bag berlogo salah satu toko perlengkapan bayi terkenal jatuh saat Risha menarik sweater rajutannya.


Risha menatap sendu pada paper bag itu, ia sangat ingat apa yang ada di dalam paper bag kecil itu.


"I'm sorry boy" bisik Risha mengambil benda itu.


"Harusnya kamu sebentar lagi bisa pakai ini, tapi...." mata gadis itu mulai berkaca-kaca, sudah satu bulan lebih Kakek dan Papi nya mencari keberadaan Mami nya, tapi sampai sekarang belum ada kabar baik.


"Kakak akan membawamu" ucap Risha tersenyum tipis, dan memasukkan paper bag itu dalam kopernya, lalu menyeret koper itu keluar dari kamarnya.


"Kamu mau pergi lagi sayang?" tanya nenek Asri melihat Risha menuruni anak tangga dengan membawa koper.


"Iya Nek, Risha hanya mengambil beberapa barang saja" ucap gadis itu, mungil dulu Risha lebih suka membeli barang baru dari pada harus repot-repot membongkar isi walk in closet nya, namun kebersamaan nya dengan Elea beberapa bulan lalu mampu membuat Risha mengurangi hobi belanja nya.


"Ayo makan siang dulu, kamu tidak buru-buru kan?" ajak nenek Asri, wanita tua itu sangat merindukan anak dan cucunya yang kini tidak lagi dirumah.


"Baiklah" putus Risha, gadis itu merasa iba pada kakek dan neneknya yang selalu makan berdua, tapi untuk tinggal dirumah itu lagi, Risha juga belum mau.


"Dimana kakek?" tanyanya menarik sebuah kursi untuk di duduki nya.


"Kakek mu pergi menemui Papi mu, katanya mau membahas sesuatu yang penting" jawabnya mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk sang cucu.


"Risha tidak bisa makan sebanyak ini Nek" ucap Risha melihat piring ya di penuhi berbagai jenis makanan oleh neneknya.


"Makanlah sayang, lihat tubuhmu semakin kurus, apakah kamu tidak makan dengan benar selama tinggal di apartment?" katanya.


"Risha makan dengan teratur dan benar Nek, dan tubuh Risha tidak kurus. Karena Risha rajin menimbang berat badan, dan angka nya masih sama seperti bulan-bulan sebelumnya" sangkal Risha mulai memakan makanannya.

__ADS_1


"Benarkah? Mungil hanya perasaan nenek saja karena jarang melihatmu belakangan ini" ucapnya tersenyum miris.


"Ya, mungkin saja. Nenek juga harus makan yang banyak" sahut Risha.


Sebentar baik Risha, Martin dan juga Adnan suaminya tidak ada lagi yang marah pada nenek Asri, hanya saja rasa bersalahnya tak kunjung hilang, apalagi sang menantu belum ditemukan sampai sekarang.


Selesai menemani makan siang neneknya, Risha langsung kembali ke apartemen nya, gadis itu sekarang terlihat lebih dewasa dan mandiri. Hubungan dengan Citra sudah membaik meskipun tidak sedekat dulu, tapi hubungan Risha dan Tommy malah semakin dekat, meskipun sampai sekarang belum ada status kejelasan dari hubungan mereka.


🌼🌼🌼


Dua orang pria dewasa tengah membicarakan sesuatu yang serius dalam sebuah ruangan. Adnan Hariz dan putranya Martin Hariz, kini sedang menyusun rencana agar bisa membawa Elea pulang kerumahnya, atau paling tidak bertemu dengan wanita hamil itu.


"Kau yakin jika istri mu ada di Villa itu?" tanya Papa Adnan.


"Hemm, orang-orangnya ku sudah mengintai Villa itu selama beberapa hari, dan mereka berbelanja berbagai jenis susu hamil, perlengkapan bayi dan juga kebutuhan wanita lainya Pa" jelas Martin.


"Bisa saja itu semua untuk istri dari pria itu, bukankah dia juga tinggal di Villa itu?"


"Bagaimana jika untuk di pakai pelayan itu sendiri?" sahut papa Adnan.


"Come on Pa, itu sangat tidak mungkin. Dan jangan bercanda" ucap Martin sedikit kesal pada papanya.


"Oke, baiklah. Jadi apa yang kau rencanakan?"


"Itu yang ingin Martin diskusikan dengan Papa. Papa punya saran?" Martin menatap papa ya penuh harap.


"Papa tidak ingin terlibat masalah apapun dengan bandit seperti itu, jadi saran Papa adalah, kau menemuinya secara langsung, bicara baik-baik dan jangan membuatnya marah" ucap pria beruban itu, ia sudah terlalu tua jika harus berurusan dengan bandit seperti Jhonatan, rasanya sangat malas. Sudah sering dulu Adnan Hariz berurusan dangan bandit-bandit di awal ia merintis bisnis.


"Maksudnya, Martin harus menemui pria itu secara langsung?" Martin memperjelas perkataan papanya.


"Ya, bukankah kau sudah tahu dimana harus menemui nya?" pria itu menyesap kopi yang ada di cangkir nya.


"Apakah kau takut?" tanyanya melihat Martin diam saja.

__ADS_1


"Takut?" beo Martin. "Papa bercanda?" kata Martin tersenyum remeh pada Papanya.


"Kalau begitu temuilah pria itu dengan gentleman. Jika apa yang diceritakan oleh Bondan itu benar, maka dia akan paham apa yang kau rasakan. Bukankah sekarang dia juga memiliki istri, right?" ucap papa Adnan.


"Dari pada harus baku hantam dan menumpahkan darah yang tak bersalah, Papa rasa cara yang papa sarankan lebih baik, dan sangat dewasa" sambungnya menasehati Martin.


"Ya, aku rasa ini cara terbaik. Jika masih bisa di bicarakan, kenapa harus memakai kekerasan" ucap Martin setuju dengan saran Papanya.


"Kau akan dengan mudah menghadapi pria itu son, tapi persiapkan dirimu untuk kesulitan setelahnya" ujar papa Adnan beranjak dari duduknya.


"Kesulitan setelahnya? Apa maksud Papa?" tanya Martin tidak paham.


"Kau akan tahu nanti, pesan Papa adalah maju terus dan berjuanglah dengan keras dan lakukan sebaik-baiknya" kata Papa Adnan sebelum keluar dari ruangan Martin.


Martin yang benar-benar tidak paham maksud Papanya hanya diam dan mencerna, namun otak ya tidak bisa menganalisa perkataan pria berusia 70 tahun itu.


"Kenapa pria tua itu malah menambah beban pikiran ku? Bukankah setelah menemukan Elea semua masalah selesai right?"


"Lalu kesulitan apa lagi yang harus aku lewati hingga aku harus berjuang keras?" Martin berbicara pada dirinya sendiri, ia sedikit kesal pada Papanya. Bisa-bisanya disaat seperti ini malah memberikan teka teki yang sulit untuk ia pecah kan.


"Aku benar-benar bisa gila jika terus memikirkan perkataan Adnan Hariz itu" gumamnya, ia memilih kembali duduk di kursi kebesarannya, dan menyalakan komputer nya, tidak lupa Martin juga membuka laptopnya. Pria itu kembali bertempur dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya, bahkan kini pekerjaannya bertambah banyak setelah dari acara makan malam dengan para pebisnis hari itu.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2