
Pagi yang cerah, cahaya mentari menyinari bumi dengan terang, udara masih sejuk dengan sisa hujan deras semalam. Keluarga lain mungkin akan mengawali pagi indah ini dengan kehangatan dan keceriaan dalam rumah, obrolan ringan di sertai canda tawa pasti akan sangat mengesankan dan juga menyenangkan, apalagi jika dalam keluarga terdapat anggota lengkap seperti Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Cucu dan anggota keluarga lainnya, tidak terbayangkan betapa riuh suasana pagi dengan gelak tawa dari setiap anggota keluarga.
Namun semua itu hanya terjadi dalam keluarga khayalan Risha. Putri sulung Martin itu tengah duduk diam di ruang karaoke sejak satu jam yang lalu. Semalam suntuk Risha tidak bisa tidur, hatinya merasa bersalah pada Elea yang terpaksa meninggalkan rumah di tengah malam dalam kondisi hamil karena aduannya pada sang Nenek. Risha tidak pernah membayangkan jika Neneknya akan memperlakukan Elea sekejam itu, meskipun tidak di pungkiri jika Risha marah dan benci pada Elea, tapi gadis itu masih bisa menahan diri dan mengendalikan emosinya.
Bukan hal yang mudah bagi Risha selama beberapa hari ini menjauhi Elea, terlebih Risha merasa cocok dan dekat dengan Elea layaknya sahabat. Bohong jika Risha tidak sedih dan merasa kehilangan Elea, tapi kini semua sudah terjadi dan Elea benar-benar pergi dari rumah, entah bagaimana reaksi Papi nya nanti jika mengetahui istrinya diusir pada tengah malam, bahkan alam mengiringi kepergian Elea dengan hujan deras.
"Gue gak salah 'kan?" ucap Risha menghapus air matanya, gadis itu mengingat saat pertama kali bicara pada Elea di ruangan ini, dan dari situ keduanya merasa cocok sefrekuensi karena selera musiknya sama hingga membuat Risha dan Elea semakin dekat.
"Gue hanya mengatakan apa yang gue tahu, gue gak salah tapi kenapa gue...hiks...hiks..." gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, air matanya jatuh dengan deras dan hatinya merasa sakit.
Drt....drt....drt....
Suara ponsel Risha berdering dan terlihat nama sang Papi memanggil.
"Papi..." lirih Risha bingung dan semakin tergugu, sebab sejak subuh tadi Papi menelpon namun tidak di jawab oleh Risha. Bukan Risha tidak tahu apa yang membuat Papi nya menelepon berulang kali, apalagi jika bukan tentang Elea?.
Drt...drt....drt....
Ponsel itu kembali berdering, sepertinya sang penelepon sangat ingin berbicara. Namun Risha belum memiliki keberanian untuk bicara pada Papinya, hatinya masih kalut dan dilanda rasa bersalah. Risha bingung mengapa ia merasa bersalah, padahal yang ia katakan adalah sebuah kebenaran, bukan omong kosong atau fitnah belaka, semakin Risha meyakinkan diri bahwa tindakannya benar, gadis itu semakin merasa bersalah, hal itu cukup menyiksa dirinya.
🌼🌼🌼
Tidak jauh berbeda dengan Risha, ponsel Mama Asri dan Papa dan jug terus menerus mendapatkan panggilan dari Martin. Layaknya peneror, Martin menelepon ponsel satu ke ponsel lainnya milik penghuni rumah keluarga Hariz, bahkan telepon rumah akan kembali berbunyi setia empat menit sekali.
"Mama lihat? Putramu terus-terusan menelpon, Papa yakin Martin tidak akan berhenti menelpon sebelum bicara pada Elea" ucap pria tua itu menatap kesal pada sang istri yang terlihat santai tanpa beban.
"Biarkan saja, nanti Martin juga akan berhenti karena lelah sendiri" acuhnya.
"Mama benar-benar keterlaluan, Papa bisa melihat dan merasakan jika Martin itu sangat mencintai Elea, dan seolah suami yang mencintai istrinya pasti tidak akan tenang jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya, lebih parahnya adalah sesuatu buruk yang menimpa istrinya disebabkan oleh Mama"
"Kenapa Papa malah menyalahkan Mama? Seolah-olah Mama ini penjahat dan pendosa? Padahal wanita itu yang tidak pantas berada dalam keluarga kita!" serunya tidak terima disalahkan.
__ADS_1
"Mama memang salah, sekalipun Elea mantan pel***r dia juga berhak untuk menjalani hidup yang lebih baik. Semua orang pernah melakukan salah dan dosa, kita sebagai sesama manusia tidak berhak menghakiminya. Apalagi Mama tidak mendengar penjelasan dari Elea, ini sangat tidak adil untuk Elea Mah"
"Bela saja terus, belas saja wanita sialan itu! Mama semakin yakin jika Papa juga pernah menggunakan jasan..."
"JAGA BATASANMU ASRI!!!" ucapnya menggelegar dalam ruangan, tangannya terkepal membuat buku jarinya memutih. Pria tua dengan rambut putih hampir memenuhi kepalanya itu sangat marah mendengar tuduhan dari istrinya.
"Apa kau benar-benar ingin melihatku bersama para wanita muda? Jika iya maka, aku akan dengan senang hati mewujudkannya" tantangnya.
"Pah!" serunya tidak terima.
"Mam sendiri yang mengatakannya tadi" ucapnya mengembalikan kata-kata sang istri.
"Maaf" sesalnya menyadari sebuah kesalahan, bagaimana mungkin seorang Adnan Hariz bisa melakukan hal menjijikkan seperti yang ia tuduhkan jika sepanjang hidupnya selalu mengikuti kemanapun suaminya pergi.
"Simpan kata maafmu itu, Papa tidak butuh" ucapnya meninggalkan sang istri di dalam kamar.
🌼🌼🌼
"Minah....Minah...." teriaknya pada pelayan senior.
"Saya Tuan" sahut mbok Minah berlari dari arah dapur.
"Apa Risha sudah turun?"
"Nona Risha sudah turun dari Jan tujuh tadi Tuan, tapi...."
"Ada apa?"
"Nona Risha terlihat murung dan langsung pergi ke ruang karaoke, sampai sekarang belum terlihat keluar" jelas mbok Minah, membuatnya menghela nafas.
"Kamu bereskan makanan ini, sepertinya tidak akan ada yang sarapan hari ini" titahnya, lalu ia menuju ruang karaoke untuk melihat kondisi cucunya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nyonya besar mengusir Elea di tengah malam? Kemana perginya anak malang itu?" gumam mbok Minah menitikan air matanya mengkhawatirkan keadaan Elea, bahkan mbok Minah tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar karena khawatir pada Elea setelah mendengar cerita dari Darto si satpam.
...
Kakek Adnan melihat Risha duduk di sofa dengan menyembunyikan wajahnya di antara lutut, punggung gadis itu terlihat bergetar pertanda jika ia sedang menangis tanpa suara.
"Kenapa menangis? Apakah kamu menyesal?" tanya Kakek Adnan duduk di sebelah Risha, gadis itu mengangkat wajahnya dan benar saja jika wajah itu bersimbah air mata.
"Kakek, Risha....." suaranya tercekat, ia tak tahu harus berkata apa.
Hiks...hiks...hiks....
Risha memeluk tubuh pria tua itu dengan erat, menumpahkan segala rasa yang mengganjal dalam hatinya.
"Risha harus bagaimana Kek?" lirihnya hampir tidak terdengar oleh telinga sang Kakek.
"Apa yang kamu rasakan?" tanyanya sambil membelai surai panjang Risha yang terlihat kusut.
"Risha bingung, Risha sedih, menyesal dan..."
"Merasa bersalah?" sambung sang kakek saat gadis itu menjeda kalimatnya. Mendengar ucapan sang Kakek membuat Risha semakin terisak dan perasaan bersalah semakin menyeruak dalam hatinya.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
TBC 🌺