Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Luka Dalam


__ADS_3

Sudah satu bulan Elea dan Martin menempati rumah barunya, dan Martin membuktikan kata-katanya dengan tidak mengundang siapapun datang kerumah itu, sehingga membuat Elea sangat nyaman menjalani hari-harinya.


Tok...tok...tok...


Pintu ruangan Martin di buka oleh seseorang. Martin yang tadinya fokus dengan laptop nya kini menoleh ke arah pintu dan melepaskan kacamata nya.


"Sayang, kau datang kesini?" Martin bangun dari duduknya dan menyambut kedatangan orang itu.


"Papi sangat merindukanmu" kata Martin memeluk Risha, karena hampir satu bulan ini Martin tidak bertemu dengan putri sulungnya itu.


"Risha juga rindu sama Papi" ucap Risha membalas pelukan Ayahnya.


"Ayo duduk, kamu sudah makan siang?" tanya Martin yang kebetulan sudah masuk jam makan siang.


"Belum"


"Mau makan siang bersama? Atau kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Martin yang tahu hubungan Risha dan Tommy.


"Risha mau makan siang sama papi" gadis itu memang merindukan Ayahnya.


"Baiklah, mau makan disini atau di luar?"


"Terserah Papi"


"Kalau begitu kita ke restoran favorit kita saja" ajak Martin, lalu pria itu merangkul putrinya dan mengajaknya kesebuah restoran yang menjadi langganan mereka.


Begitu sampai di tempat, Martin dan Risha langsung masuk ke private room untuk menikmati kebersamaan mereka.


"Bagaimana kuliah kamu sayang?" tanya Martin disela makan mereka.


"Baik" jawab Risha singkat, Martin menghentikan makannya karena menyadari jika putrinya dari tadi irit bicara.


"Ada apa? Apakah Papi melakukan sebuah kesalahan?" tanyanya, namun Risha menggeleng.


"Lalu?" kata Martin, Risha menatap wajah Martin dan menghela nafasnya.


"Menurut Papi, apakah aku sangat berarti? Maksudnya apakah aku berarti untuk Papi?" tanya Risha, Martin tersenyum.


"Tentu saja kamu sangat berarti sayang, karena kamulah Papi resmi menjadi seorang Ayah, bagaimana mungkin kamu tidak berarti bagi Papi?" jujur Martin.


"Tapi karena kehadiranku masa muda papi jadi hilang" kata Risha membuat Martin tertegun.


"Sayang, Ka...kamu" kata Martin tergagap.


"Risha sudah tahu semuanya Pih" kata Risha menyedot jus mangga nya.


"Risha tahu kalau Risha adalah bukti sebuah kesalahan, bahkan kehadiran Risha tidak di inginkan sama sekali olah Papi ataupun Mami" kata Risha menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Sayang bukan seperti itu" Martin menggenggam tangan Risha.


"Risha minta maaf jika kehadiran Risha menghalangi kebahagiaan dan kebebasan Papi" lirih Risha dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa bicara begitu hemm? Apakah kasih sayang Papi selama ini seperti sebuah keterpaksaan? Tidakkah kamu merasakan ketulusan didalamnya?" Martin memeluk tubuh Risha yang bergetar.


"Papi tidak tahu kamu mengetahui cerita ini dari mana, tapi sekarang dengarkan cerita dari versi Papi tanpa melebihkan atau mengurangi suatu apapun" kata Martin menenangkan Risha.


"Papi dan Mami masih sangat muda dulu, meskipun kamu sudah tahu dan bisa membedakan antara yang salah dan yang benar, tapi tetap saja jiwa muda kami mendominasi. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka, dan hanya untuk bersenang-senang tanpa ada paksaan. Tapi ternyata Tuhan menitipkan kamu di rahim Astrid" cerita Martin tersenyum getir.


"Jujur saja awalnya Papi memang marah dan tidak terima, tapi semua kejadian selalu ada sisi baiknya right? Mungkin Tuhan ingin papi berhenti bersenang-senang dengan menitipkan tanggung jawab yang besar, agar hidup Papi lebih berharga dan berguna, tidak melulu tentang kesenangan duniawi" Martin menghela nafasnya.


"Papi dan Mami sepakat untuk menikah dan hidup bersama untuk membesarkan mu, menyayangimu dan mencintai mu. Papi dan mami memang bukan orang baik, tapi setidaknya kamu mencoba untuk memperbaiki diri dan hidup kami" Martin membelai rambut panjang Risha.


"Tolong jangan menyesal karena terlahir sebagai anak Papi dan Mami. Papi yakin jika kamu bisa memilih, kamu pasti akan memilih terlahir dari orang tua yang benar-benar sudah matang dan dewasa, bukan seperti kami yang tidak sempurna" kata Martin mengingat seberapa banyak kekurangan nya dalam mengasuh dan mendidik Risha.


"Risha tetap ingin menjadi anak Papi" ujar Risha memeluk tubuh cinta pertamanya.


"Jika memang kamu merasa sebuah kesalahan, maka kamu adalah kesalahan terindah dan sangat berharga bagi Papi, ingat itu" bisik Martin di angguki Risha.


"Ngomong-ngomong kapan kamu tahu tentang hal ini?" Martin mengurai pelukannya.


"Sejak papi pulang dari Thailand" jujur Risha.


"Thailand?" Martin mengingat sesuatu.


"Ya, Risha sudah pulang dan mendengar semuanya" Risha tersenyum dan menghargai sisa air matanya.


"Maaf jika ada kata-kata Papi yang menyakiti hatimu" sesal Martin, ia tak tahu jika Risha sudah lama tahu tentang rahasia itu.


"Tidak Pih, Risha cukup paham dan bisa mengerti situasi Papi" kata Risha.


"Bagaimana kabar Mami?" Risha mengalihkan pembicaraan.


"Elea baik, Dave juga baik. Tapi dia belum mau bertemu denganmu, Papi harap kamu bisa mengerti" kata Martin sendu.


"Risha mengerti Pih" kata Risha tersenyum getir.


"Dave pasti sangat tampan" ucapnya.


"Ya, dia tampan dan menggemaskan. Lihatlah" Martin memberikan smartphone nya yang ada potret bayi tampannya.


"Benar-benar tampan dan sangat mirip dengan Papi" kata Risha melihat hari foto adiknya.


"Papi yakin tidak lama lagi kamu pasti bisa bertemu dan menggendongnya, beri waktu sedikit lagi untuk Mami mu" kata Martin.


"Pasti Pih" ucap Risha yakin.

__ADS_1


🌼🌼🌼


Elea mendorong stroller bayinya di lorong rumah sakit, baby Davendra baru saja mendapatkan imunisasi nya dari dokter Juli. Elea pergi di antar supir dan di temani seorang pelayan.


"Elea"


Deg........


Jantung Elea seakan berhenti bekerja mendengar suara yang sudah beberapa bulan ini tidak di dengarnya, namun dengan hebat suara itu selalu terngiang-ngiang di telinga Elea.


"Elea, kau kah itu?" ucapnya menyentuh bahu Elea, namun dengan cepat Elea menyentaknya.


"Benar, kau Elea. Menantu ku" katanya penuh haru.


"Maaf, anda salah orang" kata Elea kembali melangkah, tapi lengannya di cekal oleh mertua yang tak lain Mama Asri.


"Mama mohon maafkan Mama, Mama tahu Mama sangat bersalah padamu. Ampuni Mama, tolong jangan hukum Mama" katanya terdengar menyedihkan.


Elea melepaskan cekalan itu tanpa berniat mengatakan apapun, dirinya belum siap jika harus bertemu dengan orang yang telah sangat melukainya.


"Elea....Elea....." asri berlari dan bersimpati di kaki Elea, membuat orang-orang disekitar memperhatikan mereka.


"Mama sangat menyesal, tolong maafkan Mama" Asri benar-benar mengiba.


"Tiwi, tolong bawa Dave ke mobil" titah Elea, ia belum rela jika putranya bertemu dengan sang nenek yang jelas-jelas menghina dan menolaknya dulu.


"Dave" lirih Asri lalu bangkit dan melihat bayi kecil yang ada di dalam stroller.


"Tiwi cepat!" seru Elea menahan tangan mertuanya agar tidak mengikuti Tiwi yang semakin menjauh.


"El, Mama minta maaf, mama mengakui kesalahan nama, Mama mohon ampun padamu, tolong maafkan Mama" lirih wanita tua yang masih terlihat cantik itu.


"Aku sudah memaafkan Mama, Mama tidak bersalah, Mama benar. Tapi kebenaran Mama itu sangat menyakitiku" kata Elea berkaca-kaca mengingat kata-kata kasar yang dilontarkan untuk nya.


"Mungkin aku egois, aku kekanak-kanakan. Tapi inilah diriku, jangan menuntut atau mengharapkan apapun dariku. Aku sungguh sudah memaafkan Mama" kata Elea sebelum akhirnya pergi meninggalkan ibu mertuanya yang mematung.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2