
Brakkkkk.......
Jhonatan membuka dengan kuat pintu kamar perawatan Elea, membuat wanita hamil yang sedang terbaring itu langsung duduk dan menatap tajam padanya.
"Kau sangat tidak sopan Tuan" cibir Elea kesal merasa terganggu dengan kedatangan Jhonatan.
"Benarkah?" Jhonatan tersenyum miring, membuat Elea semakin kesal, lalu membuang pandangannya ke arah lain.
"Aku kemari hanya untuk memberi tahumu jika diluar sana banyak orang-orang suruhan keluarga suamimu, haruskah aku mengatakan jika kau ada disini?" tanya Jhonatan membuat Elea melotot.
"Aku akan menghabisimu jika kau berani melakukan itu!" ancam Elea.
"Ckckck......nyalimu boleh juga Nona, tapi tidak semudah itu menghabisi ku. Dan aku yakin jika kau tidak akan bisa melakukannya"
"Jangan menantang ku Tuan!" Elea semakin kesal.
"Baiklah, jadi apa yang harus kulakukan? Mengembalikan mu pada suamimu atau menyembunyikan mu?" tanya Jhonatan membuat Elea terdiam.
"Aku paling tidak suka ikut campur urusan orang lain, tapi melihatmu berada di jalanan saat tengah malam dan hujan deras" Jhonatan melirik Elea. "Entah mengapa aku tidak bisa mengabaikan mu" Jhonatan berjalan ke arah sofa tak jauh dari bed Elea.
"Berpikirlah dengan cermat dan ambil keputusan yang tepat Nona. Karena aku sangat jarang berbaik hati pada orang lain" ucap Jhonatan duduk di sofa dan meletakkan kain di atas meja.
"Sangat tidak sopan" batin Elea melirik Jhonatan.
"Aku harus pergi kemana? Aku tidak mungkin kembali ke rumah itu sekali Om Martin yang memintanya. Lagi pula Om Martin juga tidak ada di rumah, aku harus kemana?" bingung Elea akan nasibnya, tiada tempat tujuan untuk nya bernaung.
"Aku sungguh ingin tahu, kebahagiaan seperti apa yang Tuhan perlihatkan padaku, sehingga aku setuju untuk dilahirkan ke dunia yang kejam ini" Elea menghapal air matanya yang tanpa permisi mengalir di pipinya.
"Jika kau percaya padaku, aku akan memberikan perlindungan untuk mu dan calon anakmu" ucap Jhonatan melihat kegelisahan di wajah Elea.
"Apa yang kau inginkan dariku? Aku ini tidak punya apa-apa, dan kau juga tak bisa meminta tebusan dari keluarga Hariz, karena mereka telah membuangku!" ujar Elea menatap sinis pada Jhonatan, hari gini seseorang menawarkan bantuan tanpa imbalan? Sangat tidak mungkin, apalagi Jhonatan pernah memeras Fara sahabatnya. Elea tidak akan percaya begitu saja akan niat baik Jhonatan.
"Kau memang cerdas Nona" Jhonatan tersenyum.
__ADS_1
"Aku memang bukan orang yang bertindak seperti dewa penolong atau sejenis pahlawan kesiangan, tidak itu bukan sifatku"Kata Jhonatan.
"Didunia ini tidak ada yang gratis bukan? Kau bisa tinggal di rumahku dan menjadi pelayan disana. Tenang saja, aku akan menggaji mu dan memberikan perlindungan padamu. Kau tahu siapa keluarga Hariz bukan? Mereka pasti akan menemukanmu cepat atau lambat, tapi jika kau berada di bawah perlindungan ku, akan ku pastikan jika kemungkinan mereka menemukanmu adalah 0,0000 persen" Jhonatan meyakinkan Elea, dan tentu saja Jhonatan juga punya niat terselubung.
"Kau yakin?" Elea masih ragu.
"Tidak masalah jika kau tak percaya, aku hanya mempermudah keputusan mu. Tapi jika kau tidak mau, aku bisa apa?" Jhonatan bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar.
"Aku ikut denganmu" seru Elea saat Jhonatan memegang handle pintu.
"I am coming baby" ucap Jhonatan dalam hati.
"Itu artinya kau percaya padaku?" Jhonatan berbalik mendekati Elea.
"Ya" jawab Elea dengan cepat meski dari raut wajahnya masih ada keraguan.
"Baiklah, kita akan segera keluar dari rumah sakit" ucap Jhonatan lalu meninggal Elea di dalam kamar.
"Maafkan Mami karena membuatmu berpisah dengan Papi mu sayang, tapi Mami tidak punya pilihan lain" Elea mengusap perut buncitnya.
Harusnya di masa-masa seperti ini ia lebih dekat dengan Martin, tapi kenyataan malah menjauhkannya dengan sang suami. Entah kapan Elea bisa bertemu dengan Martin lagi, saat kakinya meninggalkan rumah keluarga Hariz, ia sudah melepaskan Martin, Elea sudah tidak mengharap apapun lagi dari pernikahan nya dengan Martin, bahkan Elea menganggap jika ikatan pernikahan itu benar-benar sudah berakhir.
"Mami akan memberikanmu cinta terbaik dalam dunia ini, jangan takut sayang, Mami akan menjagamu" ucap Elea pada buah hatinya.
"Terimakasih sudah memberikan benih ini padaku Om, semoga Om Martin hidup bahagian dan menemukan wanita yang tepat" lirih Elea.
"Om akan tetap menjadi satu-satunya pria yang pernah jadi suamiku" sambung Elea, kini wanita itu memutuskan untuk menutup hatinya dari kata yang bernama cinta.
Elea pernah membuka hati, rasa cinta pernah bersemi, namun rasa itu layu sebelum berkembang. Elea hanya punya rasa cinta dan ketulusan, namun dunia tidak akan menerima itu semua. Nama besar, kehormatan, materi ya dunia lebih menghargai semua itu dari pada hanya sebuah ketulusan.
"Aku mencintai Om, meskipun hanya sebentar. Karena saat itu aku terlena oleh perlakuan mu, terimakasih sudah memberikan pengalaman indah itu walau sekejap" gumam Elea menatap langit-langit kamarnya.
🌼🌼🌼
__ADS_1
Fara menatap heran pada pria yang tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan menawarkan sebuah pekerjaan, yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Bagaimana Fara tidak bingung jika ia tak pernah melamar pekerjaan, namun orang asing datang dan memberinya pekerjaan?.
"Jika anda melakukan penipu padaku, maka Anda tidak akan mendapatkan apa-apa Tuan, karena saya bukan orang kaya" kata Fara pada pria yang duduk di sebrang meja kayunya.
"Sudah saya katakan berulang kali jika saya bukan penipu Nona. Jika anda tidak percaya, silahkan anda pegang KTP saya, tapi anda harus ikut dengan saya hari ini juga. Anda bisa membawa KTP itu ke kantor polisi jika saya melakukan hal yang tidak-tidak pada anda" ucap pria itu kehabisan ide untuk membujuk Fara.
"Bisa saja kau punya KTP lainya" ucap Fara masih tidak percaya.
"Huffff menyebalkan" gumamnya menghela nafas berat.
"Saya bukanlah penjahat atau pelaku kriminal yang mempunyai banyak identitas Nona, jadi anda tidak perlu khawatir jika saya mempunyai identitas ganda" ucapnya penuh keyakinan.
"Liam Ricardo, itu namamu?" Fara membaca nama yang tertera di KTP itu.
"Tentu saja, bukankah yang di foto itu adalah wajahku" sahut Liam, ya Liam mendapat tugas dari Jhonatan untuk membawa Fara. Tidak mungkinkan jika Jhonatan membawa Elea saja, sedangkan status Elea adalah istri orang. Lagi pula niat Jhonatan menolong Elea adalah untuk menarik simpati Fara, kebetulan sekali karena keluarga Hariz menggerakkan orang-orang nya untuk mencari Elea. Jhonatan tidak perlu bersusah payah mencari alasan untuk membantu Elea sekalian mendekati Fara.
"Baiklah kalau begitu, aku akan ikut denganmu. Tapi KTP ini akan tetap di tanganku sampai aku merasa aman" ucap Fara.
"Tentu silahkan saja, pegang KTP saya sebagai jaminannya" kata Liam lega akhirnya Fara setuju untuk ikut dengannya.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap" ujar Fara masuk ke kamarnya untuk menyiapkan baju-baju dan beberapa barang yang kiranya ia butuhkan di tempat kerja barunya nanti.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1