
Elea dan Fara berada di dapur menunggui Bibi Melly yang tengah memanggang Pai Apple, Fara menginginkan makanan itu tadi sore, dan Elea juga ikut menunggui Pai itu matang, Wanita hamil itu selalu suka dengan makanan manis.
"Apakah masih lama bibi?" tanya Fara tak sabaran.
"Lima belas menit lagi Nyonya" kata bibi Melly tersenyum.
"Apakah kau sangat menginginkan nya?" tanya Elea sembari memakan potongan buah peach, mulut mungilnya itu tidak pernah berhenti mengunyah.
"Hem, tiba-tiba saja aku ingin makan Pai Apple hanya karena tidak sengaja melihat gambarnya di media sosial" ucap Fara tersenyum geli, ia merasa keinginannya yang mendadak sangat lucu.
"Ahhh...begitu rupanya" Elea manggut-manggut, mulutnya penuh buah.
"Kapan mulutmu itu berhenti mengunyah El?" kata Fara menatap heran sahabatnya.
"Saat aku tidur" jawab Elea cuek, tanpa menghiraukan Fara.
"Apa kau masih mau makan malam lagi?" tanya Fara.
"Tentu saja, bukankah aku makan untuk dua orang? Bukan begitu bibi Melly?" Elea mencari pembenaran.
"Benar Nona" kata bibi Melly tersenyum.
Ting......
Bunyi alarm oven, menandakan jika sesuatu yang ada di dalamnya sudah matang.
"Yey......." seru Fara seperti anak kecil langsung membawa sebuah piring dan garpu mendekati bibi Melly.
"Woahhhh harum sekali" puji Elea saat bibi Melly mengeluarkan Pai Apple dari oven. Bibi Melly langsung memotong Pai itu, dan memberikannya pada Fara dan Elea yang seperti orang kelaparan.
"Bentuknya jadi kurang bagus karena memotongnya masih dalam keadaan panas" ucap bibi Melly melihat potongan Pai yang kurang rapih.
"Aku hanya ingin cepat memakannya bibi, bukan melihat bentuknya" ujar Fara mulai memakan Pai itu.
"Ahhhh ini sangat lezat bibi, tolong berikan padaku dua potong lagi" pinta Elea dengan semangat.
"Bibi tidak makan Pai nya?" tanya Fara.
"Bibi lebih suka melihat kalian makan" kata bibi Melly.
"Jangan lupa berikan Pai lezat ini pada paman Jonas, agar dia semakin mencintai bibi" ucap Elea di sela makannya.
"Itu benar, bibi antarkan Pai itu pada paman Jonas dulu. Jika tidak seseorang pasti akan menghabiskan nya" ujar Fara melirik pada Elea.
"Aku tidak serakus itu Nyonya Fara" sahut Elea, ia tahu jika Fara menyindirnya.
"Dan kau pikir aku kan percaya?" kata Fara.
"Tidak perlu berdebat Nona, Jonas sudah sering makan Pai apel. Kurasa sekarang dia sudah bosan" sela bibi Melly.
"Tidak bisa begitu bibi, cepatlah berikan paman Jonas Pai itu, lalu temani dia berbicara dan minum teh" paksa Fara.
"Apa yang dikatakan Nyonya Henderson itu benar bibi" timpal Elea mengedipkan matanya.
"Baiklah, saya akan memberikan sepotong Pai ini untuk Jonas" kata bibi Melly mengambil sepotong Pai untuk suaminya.
"Terimakasih Nyonya, saya permisi sebentar" pamit bibi Melly ke pondok belakang menemui suaminya.
__ADS_1
πΌπΌπΌ
Fara dan Elea kini berada di ruang teater, makan malam yang seharusnya jam delapan terpaksa mereka undur entah sampai jam berapa, karena kedua wanita itu terlalu kenyang makan Pai apel. Sekarang keduanya sedang menonton film thriller yang menegangkan.
"Aduh" seru Elea saat layar film menampilkan adegan baku tembak.
"Sebenarnya hanya akting, tapi terlihat sangat nyata" ucap Fara, matanya fokus pada layar besar didepannya.
"Ahh...." seru Elea lagi.
"Feel nya memang sampai ke penonton" kata Fara.
"Stttt....." desis Elea.
"Aktingnya sangat sempurna bukan?" kata Fara.
"Ahhh Far" seru Elea.
"Iya, film nya memang bagus" sahut Fara.
"Sepertinya aku sudah tidak tahan" ringis Elea menahan sakit.
"Tidak tahan?" beo Fara, lalu menoleh kearah Elea dan melihat Elea yang kesakitan dan memegang perutnya.
"ELEA!!!! ADA APA?" tanya Fara tiba-tiba menjadi cengo.
"Ahhh sakit sekali" keluh Elea.
"Apakah sudah mau melahirkan?" tanya Fara panik.
"Seper...ahhhhhh....iya" jerit Elea.
"BIBI MELLY..... BIBIII........PAMAN.....PAMAN JONASSS....." teriak Fara dengan berlari. Bibi Melly dan suaminya langsung keluar mendengar teriakan majikannya.
"Nyonya, ada apa?" tanya pasangan suami-istri itu.
"Elea sakit, dia huh...huh... mau melahirkan" ucap Fara dengan nafas tersengal-sengal.
"Ya Tuhan.... Jonas siapkan mobilnya, kita bawa Nona Elea kerumah sakit" titah bibi Melly pada suaminya, ia langsung berlari kedalam bersama Fara.
"Bukankah seharusnya masih dua minggu lagi?" ucap bibi Melly.
"Ya, itu yang dikatakan dokter Juli" sahut Fara.
"Aku akan mengambil tas perlengkapan nya" Fara menuju kamar Elea, wanita itu memang sudah mempersiapkan segalanya perlengkapan bersalinnya, karena dokter Juli bilang bisa jadi melahirkan lebih cepat dari perkiraan.
"Kemana orang itu? Disaat penting seperti ini malah tidak bisa di hubungi" kesal Fara, ia berusaha menghubungi Jhonatan dari tadi, namun tidak tersambung.
"El..." Fara melihat Elea di gendong paman Jonas karena sudah tidak mampu berjalan.
"Raes, hubungi Jordy untuk menemanimu berada disini" ucap paman Jonas, setelah memasukkan Elea kedalam mobil.
"Ya aku tahu" ucap Raes.
"Jonas, cepatlah" seru bibi Melly.
"Sakit sekali bibi" keluh Elea, wanita itu sudah menangis.
__ADS_1
"El, bertahanlah kau pasti bisa melewati semua ini" Fara menguatkan Elea.
"Bersabarlah Nona, saya tahu rasanya memang sangat sakit" ucap Bibi Melly.
"Nyonya sudah menghubungi Tuan Jhonatan?" tanya bibi Melly.
"Sudah, tapi tidak tersambung"
"Mungkin Tian sedang ada tamu, coba Nyonya hubungi Tuan Liam" kata paman Jonas, dengan fokus mengemudi, ia melakukan dengan kecepatan penuh.
"Ya itu benar" kata bibi Melly. Fara langsung menghubungi Liam dan benar saja, panggilan pertama langsung tersambung dan di jawab oleh Liam.
π"Hallo, Liam. Aku dan paman Jonas membawa Elea kerumah sakit, sepertinya dia akan melanjutkan malam ini" kata Fara.
"Benarkah? Oke, aku akan menghubungi dokter Juli untuk menyiapkan segalanya" jawab Liam, terdengar panik.
"Dimana suamiku? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?" tanya Fara, tangannya terus mengusap-usap perut bulat Elea.
"Dia sedang ada tamu, baiklah. Katakan pada paman Jonas untuk tetap hati-hati mengemudikan mobilnya" pesan Liam, lalu Fara memutuskan panggilan itu.π
"Huffffff....sakit sekali hiks...hiks...." Elea menghela nafasnya.
"El, kau pasti bisa" kata Fara, wanita itu sudah berkaca-kaca tidak tega melihat Elea kesakitan.
Ponsel Fara berdering, dan itu panggilan dari dokter Juli yang memberikan arahan dan menenangkan Elea juga Fara yang panik, dokter Juli terus memberikan sugesti positif pada Elea sepanjang perjalanan, hingga perjalan yang seharusnya ditempuh satu jam lebih, kini menjadi 45 menit, paman Jonas mengemudikan mobil seperti di atas awan tanpa hambatan.
Dokter Juli langsung membawa Elea kerumah bersalin, para suster langsung memeriksa tekanan darah Elea dan lainya,
"Ini sudah masuk bukaan tujuh Dok" ucap salah satu suster.
"Oke" kata dokter Juli.
"Tarik nafas dalam-dalam El, dan hembuskan perlahan, jangan mengejan dulu karena bukaannya belum lengkap" dokter Juli memberikan pengarahan.
"Hufff....huff....sakit Dok hiks...hiks...." rintih Elea, Fara yang ada disebelahnya menggenggam erat tangan Elea.
"Kamu pasti bisa El" kata Fara.
"Nona yang kuat, sebentar lagi akan bertemu dengan buah hati Nona" ucap bibi Melly ikut menguatkan Elea.
"Aghhhhh.....sakit....hiks...hiks....sakit sekali huhu...huhuuuu...." tangis Elea tidak dapat di bendung, berbagai ketakutan menghantui pikirannya, melahirkan tanpa didampingi suami, bagaimana jika ia tidak selamat?.
"Tuhan, ini sangat sakit, rasanya aku tidak kuat. Kenapa harus sesakit ini? Bagaimana jika aku mati? Lalu siapa yang akan mengurus bayiku?" gumam Elea dalam hati, air matanya mengalir dengan deras.
Brakkkkkkkkkk......
Pintu di bukan dengan kasar.
"Elea!!!"
πΌ
πΌ
πΌ
πΌ
__ADS_1
πΌ
TBC πΊ