
Mobil yang dikemudikan Martin tiba di Regananta Hospital, pria itu langsung berlari ke meja resepsionis, penjaga resepsionis mengatakan jika pasien bernama Eleanor Belvina sedang berada di ruang bersalin bersiap untuk melahirkan.
Pria itu langsung berlari menuju ruang bersalin, antara bahagia dan terharu. Akhirnya hari ini Martin bisa bertemu dengan istrinya.
"Elea" ucap Martin, diluar ruangan itu ada seorang pria paruh baya yang duduk di kursi tunggu.
"Maaf, anda siapa?" tanya pria itu yang tak lain adalah paman Jonas.
"Apakah istriku ada didalam?" tanya Martin.
"Jika yang anda maksud adalah nona Elea, dia sedang ditangan oleh dokter....." tanpa mendengarkan penjelasan paman Jonas lebih lanjut, Martin langsung membuka pintu ruangan itu.
Brakkkkkkkkkk....
"Elea!!!" Martin melihat Elea terbaring di atas bed partus, istrinya itu merintih kesakitan dan menangis.
"Om" lirih Elea melihat kedatangan suaminya, sedangkan bibi Melly, dokter Juli dan dia orang suster lainya hanya menatap Martin penuh tanda tanya.
"Akhirnya aku menemukanmu sayang" Martin menangis dan langsung menciumi wajah Elea yang penuh keringat dan air mata.
Fara menatap malas dengan aksi Martin, wanita itu langsing menarik bibi Melly untuk keluar dari ruangan bersalin.
"Biarkan Elea di temani suaminya" kata Fara, saat bibi Melly menatap wajahnya.
Elea hanya diam saja melihat Martin tergugu, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa? Senangkah? Terharu? Atau apa? Elea seolah lupa dengan sinyal cinta yang dikirimkan oleh buah hatinya.
"Aghhh....." keluh Elea, kini nyawanya kembali dan merasakan sakit yang teramat sangat.
"Sayang, kamu pasti bisa" kata Martin menguatkan Elea, tangannya menggenggam tangan Elea dan langsung di cengkeram kuat oleh istrinya.
"Sakit enghhhh...." air matanya kembali terjatuh.
"Maafkan aku sayang, tolong maafkan aku" Martin kembali menciumi wajah Elea.
"Om, ihh...stttttt..." desis Elea.
"Tarik nafas dan hembuskan perlahan Elea" ucap dokter Juli menginteruksi.
"Huh....huh....hiks..." Elea tidak mampu mengelola pernafasannya, padahal ia sudah praktek dan mempelajari pernafasan saat melahirkan, tapi kini malah buyar konsentrasi nya.
"I love you sayang, bertahanlah" bisik Martin, Elea yang tadinya meringis dan menangis kini mematung saat mendengar pernyataan cinta suaminya.
"Apa Om?" tanya Elea.
"Aku cinta kamu" ulang Martin.
"Benarkah?" tanya Elea kembali lupa dengan rasa sakitnya.
"Hemm, maaf karena terlambat mengatakannya padamu" ucap Martin tersenyum, namun air matanya juga mengalir.
__ADS_1
"Sejak kapan?" tanya Elea, membuat dokter Juli dan dia susternya saling memandang.
"Sejak kita menikah dan sejak kita menjadi pasangan suami istri" kata Martin.
"Tolong maafkan aku yang membuatmu susah, jangan tinggalkan aku lagi sayang" Martin mengecup punggung tangan Elea.
"Aku tidak sanggup berpisah denganmu" kata Martin bersungguh sungguh.
"Aghhhhh........sakit....." seru Elea membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terkejut.
"Bukaan sudah lengkap dokter" kata salah satu suster.
"Oke Elea, sekarang kamu sudah boleh mengejan. Tarik nafas dalam-dalam dan dorong dengan kuat" kata dokter Juli.
"Enghhhhh....huhh....huh...huh....." Elea berusaha mengejan dengan kuat.
"Bertahanlah sayang, aku tahu kamu pasti kuat" ucap Martin.
"Aku tidak sekuat itu Om, ini sangat sakit huh....huh....." keluh Elea kembali mengejan.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa"
"Enghhhhh.......huhhhhh" erang Elea sekuat tenaga.
"Menikahlah denganku sayang" ucap Martin tiba-tiba.
"APA?" teriak Elea.
"Karena dulu saat kita menikah aku belum melamar mu" kata Martin, membuat orang-orang yang mendengar geram sekaligus lucu.
"Tapi, agggghhhhhhkkkkkk......" teriak Elea kembali mengejan, dan langsung terdengar suara tangis bayi.
"Alhamdulillah....." ucap dokter Juli dan juga yang lainya. Bayi merah itu menangis dengan keras membuat ruangan itu menggema.
"Lengkap dan sangat tampan" kata dokter Juli memberikan bayi kaki itu di dada Elea setelah memotong pusatnya.
"Terima kasih sayang" bisik Martin mengecup kening Elea, sedangkan Elea menatap penuh haru bayi yang ada di dada nya. Kini Elea resmi menjadi seorang ibu untuk putranya sulungnya.
"Davendra ku" ucap Elea menatap wajah tampan bayi mungil itu.
"Kamu mau menamainya Davendra, sayang?" tanya Martin yang mendengar ucapan Elea.
"Om keberatan?" tanya Elea tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja tidak, itu nama yang sangat bagus. Aku setuju" kata Martin tersenyum.
"Baguslah" ucap Elea tanpa ekspresi.
🌼🌼🌼
__ADS_1
Jhonatan dan Liam datang tidak lama setelah Fara dan bibi Melly keluar dari ruang bersalin, Jhonatan langsung memeluk Fara yang terlihat kesal.
"Ada apa Baby?" tanya Jhonatan.
"Kau yang memberi tahu pria itu jika kami ada dirumah sakit?" tuduh Fara yang sejuta persen benar adanya.
"Dia suaminya Baby, dan sahabat mu itu membutuhkan suaminya untuk mendampinginya bersalin" kata Jhon dengan bijak.
"Tapi..." Fara menatap kesal pada Jhonatan.
"Tenanglah, jika memang Elea tidak mau ikut bersama suaminya, maka dia akan tetap tinggal bersama kita. Biarkan Elea dan suaminya menyelesaikan masalah mereka, aku yakin jika semuanya hanya salah paham" tutur Jhonatan.
"Dari mana kau tahu?" kata Fara semakin kesal, ia tidak ingin jika Elea kembali dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya.
"Pria itu mencintai istrinya" Jhonatan mengajak Fara untuk duduk, bersama dengan paman Jonas, Bibi Melly, dan juga Liam.
"Jangan sok tahu!" sergah Fara.
"Dia tadi menemui ku dan mengatakan segalanya. Dan kurasa memang hanya salah paham, jika tidak segera diselesaikan, bukankah akan semakin rumit? Ada seorang bayi yang baru lahir diantara mereka, bayi itu membutuhkan kedua orang tuanya, dan bayi itu tidak tahu apa-apa. Bukankah terlalu jahat dan kejam jika kita sampai memisahkan mereka" Jhonatan membelai rambut pendek Fara, istrinya itu terlihat mencerna kata-kata nya.
"Tapi orang tua Om Martin sudah sangat kelewat kejam" kata Fara mengingat kembali cerita pengusiran Elea.
"percayalah jika mereka bisa menyelesaikannya, yang penting kita tetap selalu mendukung dan mendampingi Elea apapun keputusan nya nanti" kata Jhonatan memberikan pengertian pada Fara, tak lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin.
"Bayinya sudah lahir" kata Fara tersenyum senang, sedangkan Jhonatan juga tersenyum, tapi bukan karena suara bayi, melainkan karena melihat senyum dibibir istrinya.
"Pasti dia sangat tampan" kata bibi Melly.
"Bibi benar, dia pasti tampan bahkan lebih tampan dari ayahnya" sahut Fara.
"Baby" ucap Jhonatan tak suka jika Fara memuji pria lain, Fara hanya meliriknya sekilas.
"Ya, dia memang tampan seperti uncle nya" timpal Liam ikut-ikutan.
"Apakah dia akan memanggilku dengan sebutan nenek?" tanya bibi Melly penuh harap.
"Dan aku kakeknya" sahut paman Jonas tersenyum.
"Aku akan menjadi aunty cantik satu-satunya" kata Fara tersenyum lebar disambut tawa semua orang yang ada didepan ruang bersalin.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
TBC 🌺