
Risha memasuki kamar dengan langkah gontai, air matanya terus mengalir sejak ia keluar dari tempat persembunyiannya. Hatinya sedikit lega karena sang Kakek bisa menahan Papi nya untuk tidak keluar rumah, entah apa yang di katakan oleh pria tua itu, yang pasti untuk malam ini Papi nya tidak akan berada di luaran sana mengendarai mobil dengan kondisi kacau.
Risha harus menguatkan hatinya untuk berbicara terus terang pada Martin, jika kepergian Elea tidak sepenuhnya karena kesalahan sang Nenek. Namun ceritanya yang tidak lengkap lah yang membuat Nenek nya marah dan mengusir sang Mami.
Brukkk....
Sebuah amplop coklat terjatuh dari atas nakas sebelah tempat tidur Risha, karena tersenggol oleh tangannya.
Tekkk....
Gadis itu menghidupkan lampu yang berada di dua sisi ranjangnya, karena saat ia memasuki kamar tadi tidak menghidupkan lampu, hingga ia menabraknya sesuatu.
"Ini...." Risha mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya. Isi amplop itu adalah dokumen milik Elea, dari akte kelahiran, paspor, dan surat-surat penting lainnya yang memang Risha minta untuk di urus oleh Herman waktu gadis itu membuatkan paspor untuk Elea.
"Mami" lirih Risha menyesali semuanya, kenapa kemarin tidak ia tanyakan dulu baik-buruk pada Elea, kenapa malah langsung menuduh Elea yang tidak-tidak, bahkan Risha berbicara dengan nada tinggi dan menampar wajah Elea.
"Maafkan Risha Mih" ucap Risha memeluk semua dokumen Elea yang berada di dalam amplop coklat itu.
Rencana untuk liburan dan bersenang-senang di negeri Ginseng, kini menari-nari di pelupuk mata Risha dan pudar begitu saja. Rencana ingin menghabiskan waktu bersama agar lebih dekat dan akrab kini sirna tanpa pernah ia duga. Jika saja Risha sedikit menahan diri dan mengendalikan emosi nya, semuanya tidak akan sekacau dan berantakan seperti ini.
Gadis itu terus menangis meski air matanya tidak keluar lagi, entah berapa lama hari ini Risha menangis, sesal memang selalu datang di akhir, seandainya dan seandainya tidak lah berguna lagi. Lelah tubuh, hati dan pikiran membuat Risha terlelap dengan tetap mendekap sebuah amplop di dadanya.
🌼🌼🌼
Disebuah ruangan, dua pria beda usia kini duduk berdua, berhadapan dan saling diam. Pria yang sebagai ayahnya diam karena menunggu sang anak agar lebih tenang, sedangkan putraku diam karena mencoba untuk mengendalikan amarahnya, bukan hal yang mudah memang.
"Bisa Papa bicara?" tanyanya menatap wajah putranya.
__ADS_1
Martin yang masih berusaha untuk meredam emosinya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Pertama, Papa minta maaf karena sudah gagal menjaga menantu Papa. Papa sangat menyesal tidak bisa mencegah istri mu meninggalkan rumah ini. Papa tidak akan membela diri, silahkan jika kamu mau marah dan menyalahkan Papa" ucap pria tua itu dengan penuh ketulusan.
"Kedua, Papa juga minta maaf karena tidak bisa mengendalikan istri Papa, sehingga perbuatan dan kata-katanya begitu menyakiti istrimu, papa tidak tahu harus berkata apa selain maaf. Rasanya ribuan kata maaf belum tentu bisa menyembuhkan sakit hati istri mu, papa tahu jika Mama sangat bersalah atas kepergian Elea, Papa..."
"Kenapa harus seperti ini Pah?" lirih Martin menangkupkan kedua tangannya di atas meja dan dan meletakkan kepalanya di atas lengan itu.
Papa Adnan tidak bisa menjawab pertanyaan Martin, ia sendiri sampai sekarangpun juga tidak mengerti kenapa sang istri berkeras hati mengusir Elea. Padahal semuanya masih sangat bisa untuk di bicarakan baik-baik tanpa harus mengusir sang menantu di tengah malam. Sekarang ia kesulitan menemukan Elea meskipun sudah menggerakkan orang-orang terbaiknya. Entah dimana menantu keluarga Hariz itu berada.
Mengingat Elea hidup sebatang kara, rasanya tidak mungkin ada keluarga yang menampung nya. Dan jika orang lain bersedia menampung Elea, kemungkinan orang itu memiliki niat terselubung, atau lebih parahnya lagi jika pesaing bisnis keluarga Hariz yang menemukan Elea, entah bagaimana nasibnya.
"Istriku sendirian diluar sana Pah, dia sedang hamil, dia tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Aku suami yang buruk karena tidak bisa melindungi istriku" ucap Martin masih menyembunyikan wajahnya.
"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan anakku?" kata Martin mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Papa nya.
"Kenapa Papa bisa bicara begitu?" mata Martin masih memerah karena menangis.
"Karena Papa yakin jika menantu Papa baik-baik saja, kau jangan berpikir yang tidak-tidak tentang istri mu" ujar papa Adnan.
"Apakah papa tahu dimana istriku?" tanya Martin penuh harap.
"Untuk saat ini Papa tidak tahu, tapi sejak Elea meninggalkan rumah ini, papa sudah menyuruh orang-orang Papa untuk mencarinya. Sayangnya sampai kini belum ada kabar baik tentang Elea" jujurnya, membuat hati Martin semakin teriris.
"Aku harus mencarinya" ucap Martin bangku dari duduknya.
"Tunggu" cegah Papa Adnan.
__ADS_1
"Papa tahu kau sangat khawatir dengan kondisi Elea, papa tahu kau cemas memikirkan keberadaan Elea" papa Adnan menghela nafasnya.
"Tapi, tenangkan dirimu terlebih dahulu sebelum bertindak, jika hati dan pikiran mu tenang, kau akan lebih mudah menemukan Elea"
"Bagaimana Martin bisa tenang sedangkan Martin tidak tahu bahwa keadaan istri Martin di luar sana!" seru Martin tidak terima dengan nasehat Papa nya.
"Papa tahu ini tidak mudah, tapi selain seorang suami, kau juga seorang ayah. Lihat kondisinya putrimu juga, dia membutuhkan mu. Papa juga tidak berhenti berusaha mencari keberadaan menantu Papa" ujar papa Adnan mengingatnya Martin, ia tahu jika posisi Martin sangat sulit, namun masalah tidak akan selesai jika di hadapi dengan emosinya dan sikap grusa-grusu. Untuk memecahkan suatu masalah kita harus tenang dan mencari jalan keluarnya, agar tidak terlalu membuang energi dan juga waktu.
"Ada apa dengan Risha?" bingung Martin.
"Temuilah putrimu, nanti kau akan tahu ada apa dengan nya" saran papa Adnan. Ia sangat tahu jika perasaan cucu nya itu tak kalah kacau dengan keadaan rumahnya sekarang ini. Sebagai kepala keluarga senior, ia harus mampu melihat situasi kondisi seluruh keluarganya, ia tidak ingin hanya fokus mencari Elea namun mengabaikan perasaan Risha, bukankah gadis itu saat ini juga butuh perhatian? Butuh seseorang memeluknya dan mengatasi semua akan baik-baik saja?.
Menemukan Elea juga bukan perkara mudah, dan membujukku kembali kerumah nanti juga pasti akan lebih susah mengingat seberapa buruk perlakuan yang Elea dapatkan di rumah itu. Bisa jadi Elea tidak akan mau kembali ke rumah keluarganya Hariz, karena dengan tegas Mama mertuanya mengharamkan Elea menginjakkan kaki di rumah itu.
"Ternyata di usia senja ku, Tuhan memberikan ujian panjang yang tidak pernah aku bayangkan" gumam Papa Adnan memejamkan matanya setelah Martin keluar dari ruang kerjanya.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1