Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Baby Shop


__ADS_3

Pukul 11.30 Martin sudah dalam perjalanan menuju Soekarno Hatta Internasional Airport, Pria itu menumpangi pesawat komersil, bukan Jet pribadi seperti pengusaha-pengusaha dalam novel. Karena menurut Martin perjalanan bisnis kali ini bukanlah sesuatu yang urgent sehingga ia harus menggunakan Jet pribadi, lagi pula lebih enak naik pesawat komersil bisa membaur bersama penumpang lain meskipun ia berada di bisnis class atau first class, yah setidaknya Martin tidak seorang diri.


"Papi kenapa mendadak sekali perginya?" ujar Risha memanyunkan bibirnya, gadis itu memang ikut mengantar Martin bersama dengan Elea sang Mami.


"Maaf sayang, Om Anton tidak bisa menghandle masalah di sana, jadi terpaksa Papi pergi" jelas Martin.


"Pokoknya setelah papi pulang, kita harus langsung terbang ke Korea titik" pinta Risha tidak ingin ada penolakan dari Papi nya.


"Kamu semangat banget mau ke Korea, bukannya kamu sudah sering liburan ke Korea?" ucap Martin, ia tahu betul jika saat liburan semester, draft list liburan putrinya itu adalah negeri Ginseng yang selalu menjadi tujuan utama.


"Ya kali ini kan beda, karena Risha sama Mami juga. Dan Risha sudah membuat daftar tempat-tempat wisata yang harus kita kunjungi selama di Korea" tutur gadis itu dengan semangat, matanya selalu berbinar saat menyebut nama Korea.


"Memangnya Mami kamu setuju?"


"Tentu saja, iya kan Mih?" tanya Risha, sedangkan Elea hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kan Risha bilang juga apa" Risha tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Elea.


"Memang mau berapa lama liburan di Seoul?"


"Gak lama Pih, paling cuma dua puluh hari" ucap Risha dengan enteng nya.


"Sayang, Papi gak bisa bolos kerja selama itu" ujar Martin keberatan dengan rencana putrinya.


"Ya udah lima belas hari titik gak ada tawar-menawar lagi, fix, final, gak bisa di ganggu gugat" ucap Risha.


"Hufffff" Martin menghela nafasnya mendengar ucapan sang putri yang kekeh merencanakan pergi ke Korea.


Setelah berkendara selama satu jam, mobil yang di kemudikan Martin sampai di bandara, pria itu turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya, di ikuti oleh Elea juga Risha.


"Papi berapa lama sih di Thailand?" tanya gadis itu memakai kacamata hitamnya.


"Belum tahu sayang, kamu persiapkan saja dokumen kita untuk ke Korea, pasti paspor Mami mu sudah jadi" pesan Martin menarik kopernya. Elea memang tidak memiliki paspor karena ia tidak pernah ke luar negeri, jangankan keluar negeri, liburan ke luar kota saja jarang, paling mentok hanya sekitaran Jabodetabek.


"Beres kalau itu, Risha sudah minta Om Herman buat ngurus nya" jawab Risha tersenyum.


"Herman? kapan?" Martin menatap putrinya penuh selidik.


"Gak usah kaget gitu kali Pih, paspor Mami sudah siap sejak satu bulan yang lalu, bahkan visa nya juga sudah turun" Martin yakin jika rencana Babymoon ke negeri Ginseng itu memang sudah di rencanakan putrinya jauh-jauh hari.


"Ya sudah, Papi check in dulu. Kamu bawa mobilnya hati-hati, dan jangan keluh kemana-mana, langsung bawa mami pulang biar Mami mu bisa istirahat" pesan Martin pada putrinya, Elea hanya diam saja, sebab selain lelah, wanita hamil itu juga mengantuk sebab semalam penuh di gempur oleh suaminya.


"Iya, iya... Papi hati-hati ya, cepat pulang, jangan lupa kabari kami kalau sudah sampai, jangan lama-lama di Thailand" ucap Risha mencium punggung tangan Papi nya dan memeluk tubuh pria yang sangat berarti dalam hidup ya itu.

__ADS_1


"Iya, kamu baik-baik di rumah. Papi titip Mami" pesan Martin.


"Siap Boss" gadis itu memberi hormat pada cinta pertamanya.


"Aku bukan barang yang bisa di titipkan Om" protes Elea.


"Iya sayang, aku tahu. Kamu jaga diri baik-baik selama aku tidak ada" Martin menarik tubuh Elea dalam pelukannya.


"Titip anakku ya" ucap Martin, tangannya terulur mengelus perut bulat Elea.


"Hei jagoan, jaga Mami baik-baik ya. Jangan nakal selama Papi tinggal, jangan menyusahkan Mami mu" ujar Martin bersimpuh dan bicara di depan perut besar Elea.


"Iya Papi, Boy janji tidak akan nakal" sahut Risha bersuara seperti anak kecil.


"Kenapa kalian begitu yakin jika yang di dalam ini adalah baby Boy?" Elea menatap Martin dan Risha.


"Feeling" ucap ayah dan anak itu bersamaan.


"Kita kompak sekali sih Pih" Risha dan Martin sama-sama tertawa.


"Ya sudah, Papi masuk ya" pamit Martin menarik kopernya.


"Hati-hati Om"


🌼🌼🌼


Seperti pesan Martin, Risha benar-benar mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, gadis itu juga tidak ingin terjadi sesuatu pada Mami dan calon adiknya. Lagi pula ia sedang tidak terburu-buru, jadi cukup santai mengemudikan mobil itu.


"Kita mau kemana dulu Mih?"


"Memang kamu mau kemana?" Elea balik bertanya.


"Risha gak tahu, tapi masa iya kita langsung pulang?" ucap gadis itu sepertinya tidak rela jika cepat-cepat sampai rumah.


"Ya sudah ke Mall saja" ucap Elea.


"Serius? Mami gak capek kan?" tanyanya.


"Iya serius" sahut Elea menyandarkan Edi jok mobil.


"Sebenarnya aku sangat lelah dan mengantuk, tapi tidak tega juga mengajak Risha langsung pulang" bisik Elea dalam hati, ia menatap wajah sumringah putri sambungnya setelah mengatakan pergi ke Mall.


Sesampainya di Mall, ibu dan anak itu menyusuri lantai demi lantai dan melihat toko-toko yang menurutnya menarik, bahkan dua wanita itu masuk ke dalam toko perlengkapan bayi untuk melihat-lihat.

__ADS_1


"Aduh Mih, ini barang nya lucu-lucu banget, gak sabar pingin beli" ucap Risha menyentuh berbagai macam mainan bayi.


"Iya, tapi Mama belum kasih izin buat beli perlengkapan bayi" sahut Elea. Mama Asri memang melarang keras Martin dan Elea membeli perlengkapan bayi, karena kandungan Elea belum genap tujuh bulan.


"Ahhh... Nenek memang orang jaman dulu banget Mih" Risha kurang setuju di era modern begini neneknya masih menerapkan aturan-aturan yang hanya berdasarkan mitos.


"Gak apalah Ris, lagi pula bulan depan kita sudah bisa membeli perlengkapan bayi" Elea tidak keberatan dengan larangan itu, meskipun terkadang tangannya gatal ingin membeli baju bayi yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Iya sih" keduanya terus mengelilingi toko bayi itu.


"Mamiiiii oh ya ampunnnnn, ini lucu banget sih" Risha mengambil sebuah sepatu mungil berwarna merah.


"Iya, lucu" Elea setuju dengan apa yang Risha katakan.


"Mbak, yang ini masih ada stoknya nggak?" tanya Risha pada seorang pramuniaga toko.


"Itu edisi terbatas Kak, di desain khusus oleh pemilik toko yang kebetulan melahirkan bulan ini" terangnya.


"Jadi ini limited edition?"


"Bisa di katakan begitu, tapi ini bukan dari brand terkenal, dan ini buatan Indonesia" jelas pramuniaga itu.


"Jangan bilang kalau ini terakhir dan satu-satunya?" tebak Risha.


"Anda benar Kak" ucapnya tersenyum ramah.


"Oh my God, gue harus beli ini, oh God ini lucu sekali" pekik Risha.


"Tapi Ris..."


"Mami tenang ajah, dedek Risha pasti akan baik-baik saja dan nenek gak akan tahu. Please ya Mih.....Risha cuma beli ini aja kok" rayu Risha dengan puppy eyes yang sulit di tolak oleh Elea.


"Baiklah, tapi hanya satu aja" ucap Elea mengizinkan Risha membeli sepatu mungil itu, tak dapat di pungkiri jika Elea juga sangat gemas ingin membeli sepatu itu, dan lagi warna merah bisa untuk baby boy atau baby girl kan?.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2