
Dalam sebuah kamar, seorang pria terlihat kesal dan mondar-mandir sambil terus memegang ponselnya. Pria itu terus menerus menghubungi beberapa nomer orang terdekatnya, orang yang ia cintai, dan orang yang ia percaya. Namun sudah berulang kali ia lakukan panggilan, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilan jarak jauhnya.
Hatinya merasa gelisah sejak semalam, namun ia menahan diri untuk tidak melakukan panggilan karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Akan tetapi kegelisahannya tidak kunjung hilang hingga fajar menyingsing, pria yang tak lain adalah Martin menghubungi langsung Elea sang istri, selain rindu, Martin juga ingin memastikan jika keadaan istrinya itu baik-baik saja dan mengusir rasa resah gelisah yang menggelayut dalam hatinya.
Namun bulan lega dan merasa tenang, Martin semakin gelisah bahkan khawatir pada Elea sebab tiga kali menghubungi Elea tak kunjungan di jawab oleh wanita itu. Beban pikiran Martin juga bertambah kala putrinya, Papa dan Mama Asri juga sama-sama tidak menjawab panggilannya, bahkan telepon rumah juga tidak di jawab oleh para pekerja. Bukankah sangat aneh dan mustahil jika para pekerja yang berjumlah lebih dari sepuluh orang tidak mendengar dering telepon rumah yang sangat keras?. Dan perlu di garis bawahi, jika Martin menelepon ponsel sang istri dan juga seluruh penghuni rumah sejak pukul 04.30 pagi waktu Thailand, tidak ada perbedaan waktu antara jam Thailand dan jam Jakarta, sangat tidak mungkin jika seluruh penghuni kediaman keluarga Hariz belum bangun.
"Sial, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab teleponku" umpat Martin frustasi. Sekarang sudah pukul sembilan pagi lebih, namun ratusan panggilan yang ia lakukan belum ada yang menjawab sama sekali.
"Bahkan mbok Minah juga tidak menjawab teleponku" keluh Martin yang juga beberapa kali menelpon nomor pribadi asisten rumah tangganya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Martin mendudukkan diri di tepi ranjang dan memijat pelipisnya.
Tok...tok...tok...
"Tuan, bisakah kita berangkat sekarang?" Anton untuk kesekian kali'mengetuk pintu kamar Martin dan mengajak sang Boss pergi meeting, namun Martin belum juga beranjak dari dalam kamarnya.
Klekkkkk....
Pintu kamar itu di buka dengan kasar oleh penghuninya, aura kesal, marah, tergambar jelas di wajah pemilik kamar itu.
"Tidak bisakah kamu yang menghandle meeting ini Anton? Aku harus pulang hari ini, mereka semua tidak ada yang menjawab teleponku" kata-kata Martin membuat Anton menelan ludahnya dengan susah payah, Martin bahkan baru empat hari berada di negeri Gajah Putih ini, dan sekarang sudah berencana untuk pulang?.
"Maaf Tuan" ucap Anton tidak bisa melakukan seperti keinginan Boss nya.
"Agghhhkkkkk...." teriak Martin emosi.
Brakkk....Brakkk.....brakkk....
Tiba-tiba saja kaki Martin menendang pintu kamarnya dengan sekuat tenaga, membuat pintu yang terbuat dari kayu itu retak dan lepas dari engsel nya.
__ADS_1
"Setelah meeting selesai, aku akan kembali ke tanah air. Siapkan semua ya dan aku tidak mau mendengar kata tidak, apalagi penolakan!" seru Martin tidak bisa di lawan. Pikirannya benar-benar kacau karena tidak bisa bicara dengan sang istri, bahkan Martin juga tidak bisa bicara dengan orang-orang yang tinggi di kediaman mewah keluar Hariz.
Anton yang mendengar perintah mutlak, dan wajib untuk dilaksanakan hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun, namun hatinya sedikit lega karena ini adalah final meeting yang akan mereka lakukan. Mungkin jika ada kekurangan atau kinerja di lapangan tidak sesuai dengan yang kedua belah pihak inginkan, akan ada meeting susulan. Tapi setidaknya Anton bisa menghandle dengan melakukan video panggilan pada Martin. Walaupun seharusnya Martin sendiri yang harus melakukan pengecekkan di lapangan, selama beberapa hari ke depan, tapi Anton tidak bisa berbuat apa-apa jika Martin sudah membuat keputusan, terlebih lagi Boss nya itu tidak bisa menahan emosinya. Anton akan bekerja dua kali lebih keras jika Martin melakukan pekerjaan dalam keadaan emosi yang meledak-ledak seperti ini.
"Saya mengerti Tuan" Jawab Anton dengan terpaksa, lalu keduanya pergi ke meeting room yang ada di hotel tersebut.
🌼🌼🌼
Elea, wanita hamil itu menatap intens tetesan infus yang mengalir dalam tubuhnya. Tetes demi tetes itu seolah sangat menarik dan membuat pandangan nya terpaku.
"Bahkan setetes air sangat berharga bagi seseorang, lalu mengapa aku tidak?" bisik Elea mengingat nasib malang yang menimpanya.
"Setetes air sangat di butuhkan setiap orang, tapi aku?"
"Bahkan ada air yang di jual dengan harga yang sangat mahal dan sangat berarti. Kenapa aku yang manusia direndahkan seolah dirimu ini sangat hina" matanya mulai mengembun mengingat kembali cacian dan makian yang di lontarkan oleh Mama mertuanya.
"Apa alasan Tuhan menciptakan ku dalam dunia kejam ini? Untuk bahan cacian? Untuk menerima semua kebencian? Untuk di hina dan di rendahkan?" air matanya kembali tumpah membasahi pipi.
"Agggghhhhhhkkkkkk....." Teriak wanita hamil itu meluapkan emosinya, putus asa, kali ini Elea benar-benar putus asa. Elea memang tidak bisa mengharapkan apapun dari pernikahan nya dengan Martin, Elea juga sudah memikirkan apa yang akan ia lakukan jika pernikahannya berakhir. Tapi hal seperti sekarang ini tidak pernah Elea bayang sebelumnya, memang ada rasa takut dan khawatir setelah bertemu dengan Tommy, hanya saja Elea tidak menyangka jika ketakutannya akan terjadi secepat ini.
Prang......Prang...prang.....
Elea menghempaskan barang-barang yang berada dalam jangkauan nya, bahkan tiang infus itu terjatuh hingga selang infus nya tercabut membuat darah segar mengalir kemana-mana.
Klekkk....
Seorang suster datang mendengar kegaduhan di dalam kamar Elea.
"Agghhhhkkkk huhu...huhu..." wanita itu menangis tergugu di atas ranjang dengan selimut penuh tetesan darahnya.
__ADS_1
"Ibu Elea, ibu tenang Bu, jangan seperti ini" ucap suster itu menenangkan Elea.
"Pergi kamu....pergi.....pergi...." usir Elea seperti orang kesetanan, lalu suster itu berlari keluar untuk memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian, suster itu kembali dengan dokter muda yang tadi pagi memeriksa Elea. Melihat kondisi Elea yang mengamuk dan tidak bisa di kendalikan, dokter itu memberikan obat tidur agar si pasien istirahat.
"Tidak...jangan.....pergi kamu...pergi....jangan" tolak Elea saat sebuah jarum menusuk lengannya.
"Tidakkk....pergi kamu....jangan lakukan itu, jangan sentuh aku, jangan" ucap Elea mulai melemah karena efek obat.
"Pergi, aku buk.." wanita hamil itu kehilangan kesadarannya.
"Sepertinya wanita ini sangat tertekan" ucap sang dokter menatap iba pada Elea.
"Anda benar dokter Juli, pingsan di tengah jalan saat malam dan hujan, lalu menangis histeris seperti ini. Entah apa yang terjadi padanya, kejam yang seharusnya di jalani dengan suka cita, tapi ini..."
"Semoga dia bisa melewati semua ini" sahutnya.
"Bereskan semua ini dan pasang kembali infus nya" titah sang dokter sebelum keluar dari ruangan itu.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
TBC 🌺