
Cuaca siang hari ini sangat panas, sudah biasa memang jika Ibu Kota itu panas dan bukan hal baru lagi. Panas, macet, bising suara klakson di tempat-tempat tertentu itu adalah keadaan normal kota Jakarta, namun hingga saat ini, kota metropolitan itu masih menjadi tujuan beberapa masyarakat untuk mengadu nasib, mengais rezeki, meniti karir, dan menempuh pendidikan bahkan liburan.
Ya seperti itulah kota Jakarta, memiliki keindahan dan keanekaragaman yang menjadi daya tarik tak lekang oleh waktu. Berbeda dengan cuaca di luar yang panas, di sebuah ruangan VVIP, terbaring seorang wanita hamil dengan hati yang mendung. Elea sudah bangun dari tidurnya sejak satu jam yang lalu, namun wanita hamil itu hanya diam saja. Bingung, itulah yang saat ini Elea rasakan. Elea bingung jika ketakutannya menjadi kenyataan, masa lalu tentang pekerjaannya yang selama ini di tutupi begitu menghantui nya, terlebih Martin tidak ada di sampingnya, dan jika harus mengabari Martin tentang hal yang belum pasti terjadi juga bukanlah solusi terbaik, Elea tidak tahu harus berbuat apa.
"El, kenapa makanan nya tidak kamu habiskan?" tanya Mama mertua Elea, beliau baru saja mengantar sang suami keluar setelah Elea bangun.
"El sudah kenyang Mah" jawab Elea tidak bohong, memang dirinya kenyang atau lebih tepatnya kehilangan nafsu makannya.
"Bagaimana bisa kenyang? Bahkan kamu belum makan separuhnya, dan dari tadi pagi kamu juga belum makan. Mama tidak mau calon cucu Mama kenapa-kenapa, ingat kalau kamu makan bukan untuk dirimu sendiri" cerocos Mama Asri mengomelinya Elea.
"El benar-benar kenyang Mah" lirihnya dengan mata berkaca-kaca, Elea merasa jika tidak ada orang yang benar-benar menyayangi dan menerima kehadirannya.
"Astaga, kenapa malah menangis?" kesal Mama Asri.
"Maafin Elea Mah" ucapnya sudah mulai terisak.
"Ya sudah kalau tidak mau makan, Mama tidak memaksa" mama Asri duduk di bangku dekat ranjang Elea.
"Mama kupasin mangga ya" tawar nya, Elea yang tidak punya alasan untuk menolak hanya mengangguk pasrah.
"Apakah kamu sangat merindukan Martin sehingga selalu menangis seperti ini?" tanya Mama Asri dengan mengupas kulit mangga.
"Iya"
"Kamu harus terbiasa di tinggal-tinggal seperti ini, karena kamu tahu sendiri pekerjaan Martin menuntut nya untuk selalu bepergian"
"Iya Mah"
"Lagi pula semua itu untuk kamu juga, memangnya kalau Martin tidak bekerja keras, dari mana dia bisa memberimu uang tunai yang jumlahnya ratusan juta" sindirnya melirik pada Elea.
__ADS_1
Deg.....
Hati Elea berdebar kencang mendengar sindiran dari mama mertuanya.
"Iya Mah, Elea mengerti" ucapnya menundukkan kepalanya.
"Bagus, kamu memang harus mengerti, ini makan dan habiskan" Mama Asri memberikan satu buah mangga yang sudah di kupas dan di potong-potong.
"Terimakasih Mah" Elea menerima mangga itu dan langsung memakannya.
"Elea sampai kapan disini Mah?" Elea sudah merasa tidak betah berdiam diri dan terbaring dalam ruangan itu.
"Jika pikiran mu sudah tenang, dan tekanan darah mu sudah stabil, kamu bisa pulang. Mama meminta agar kamu di rawat karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada calon cucu Mama" lagi-lagi tanpa wanita tua itu sadari jika perkataan nya melukai hati menantunya.
"Maka nya jangan banyak pikiran, Martin di sana kerja, bukan bermain wanita"
"Iya Mah" lirih Elea tanpa berniat memperpanjang obrolan.
Sudah dari dua hari yang lalu Elea pulang kerumah, wanita hamil itu hanya menginap semalam di rumah sakit untuk memastikan kandungan nya tidak bermasalah, dan setelah semua pemeriksaan menunjukkan hasil yang positif, maka saat itu juga Elea di perbincangkan pulang.
"Pagi Mah, Pah" sapa Elea seperti biasa saat sudah sampai di meja makan.
"Pagi" jawab Papa Adnan.
"Hem" hanya deheman yang keluar dari mulut mertuanya.
"Risha sudah berangkat Mah?" tanya Elea melihat kursi yang biasanya di duduki Risha kembali kosong pagi ini, bahkan saat makan malam Elea juga tidak melihat gadis itu.
"Dia baru saja berangkat, katanya ada kegiatan di kampusnya" jelas Mama Asri.
__ADS_1
Elea mengangguk paham, namun ia merasa sedikit aneh, entah mengapa Elea merasa jika Risha sedang menjauhi dirinya. Sebab selama Elea pulang dari rumah sakit, ia belum berbicara dengan anak sambungan itu, padahal Elea sangat ingat saat dirinya di bawa kerumah sakit, Risha lah yang paling khawatir bahkan gadis itu menangis sepanjang jalan hingga sampai di ruang IGD, lalu kenapa setelah itu Elea tidak bertemu dengan Risha? Bahkan pesan Elea tidak di jawab atau di baca, padahal Elea sangat tahu jika gadis itu tidak pernah bisa jauh dari ponselnya, meskipun saat tidur. Bukankah sangat aneh jika sampai pesan Elea yang di kirim beberapa hari yang lalu hingga kini tidak ada respon atau balasan?.
"Sepertinya nanti aku harus bisa bertemu dan bicara pada Risha" gumam Elea dalam hati, wanita itu sarapan bersama dengan kedua mertuanya seperti tidak memikirkan apa-apa, padahal pikiran Elea bercabang kemana-mana.
Selesai sarapan Elea kembali ke kamarnya, wanita itu tidak memiliki kegiatan apapun dalam rumah besar itu, dan jangan lupa jika Mama Asri melarang Elea keluar rumah tanpa dirinya ataupun Risha, membuat Elea semakin terasa menjadi tawanan meskipun dilimpahi kemewahan.
"Aku baru sadar jika Risha menjauhiku" gumam Elea melihat pesan yang ia kirimkan pada Risha hanya tercentang dua warna abu-abu, pertanda jika pesan itu terkirim namun belum di buka oleh si penerima.
Tut.....Tut....Tut....
Suara sambungan nada telepon, karena Elea mencoba menghubungi Risha. Lagi-lagi hal yang sama terjadi, panggilan itu bertuliskan 'Berdering' namun tidak di jawab oleh Risha.
"Tidak di jawab, apakah Risha masih di dalam kelas? Makanya dia tidak menjawabnya?" Elea menduga-duga, namun entah kenapa hatinya menjadi cemas.
Di sebuah Kafe, seorang gadis menundukkan kepalanya di hadapan seorang pria dewasa ketika ponselnya terus berdering dan nama Mami keluar sebagai pemanggil. Risha, hari ini baru bisa bertemu dengan Tommy untuk meminta penjelasan secara langsung tentang apa yang ia dengar dari mulut sahabatnya yaitu Citra, adik dari Tommy, maka disinilah Risha dan Tommy sekarang berada.
"Elea terus menelepon mu Ris, kenapa tidak di angkat?" tegur Tommy saat nama Mami di ponsel Risha memanggil berkali-kali.
"Aku harus apa Bang?" lirih Risha dengan perasaan yang sulit di gambarkan.
"Aku tidak tahu harus berkata apa? Tapi sebaiknya kamu tanyakan dulu pada Om Martin tentang masa lalu Elea. Jika memang beliau tahu dan tetap menikahi Elea, ya kamu harus terima kenyataannya ini. Lagi pula kamu juga sangat menyayangi Elea kan?" tanya Tommy, ia sedikit menyesal karena Citra mengatakan masa lalu Elea pada Risha dan membuat gadis itu terlihat bingung dan murung.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺