
Setelah selesai sarapan, Elea ikut pergi bersama dengan Martin, sebab jika Elea pergi setelah Martin, bisa jadi sang Mama mertua kembali melarang Elea keluar rumah. Jadi Elea akan ikut bersama Martin yang akan mengantarnya ke rumah sewa Fara.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Martin di sela-sela mengemudi.
"Belum tahu Om, tapi nanti aku pasti akan kabari Om Martin" jawab Elea.
"Hemmm"
"Om..." panggil Elea.
"Apa?"
"Emmm...."
"Ada apa?" tanya Martin penasaran.
"Tidak jadi"
"Bicara saja, tidak perlu sungkan"
"Tidak jadi, lupakan saja. Lagi pula itu bukan hal yang penting"
"Yakin?"
"Heem"
Setelah mengemudi hampir satu jam, mobil yang di tumpangi Elea dan Martin berhenti di halaman rumah kecil yang menjadi rumah sewa Fara.
"Terimakasih Om, aku turun dulu" ucap Elea meraih tangan Martin dan mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati" Martin menarik tangan Elea sehingga tubuh Elea terhuyung mendekat padanya.
Cup....cup...cup...cup...
Martin mengecup kening, pipi, hidung dan bibir Elea.
"Iya, assalamualaikum" Elea membuka pintu mobil itu.
"Walaikumsalam salam" sahut Martin memandang punggung Elea yang semakin jauh. Pria itu kembali mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya, ia sedikit pusing karena Anton tak kunjung pulang, bahkan sejak kemarin Anton meminta dirinya untuk segera terbang menyusul sang asisten.
Sesampainya di kantor, ponsel Martin langsung berdering dan tertera nama Anton sedang memanggil. Tidak salah lagi, asisten Martin itu pasti meminta dirinya untuk segera terbang meninggalkan tanah air dan istri kecilnya, dan seperti kali ini Martin benar-benar tidak bisa mengelak.
"Halo" jawab Martin menerima panggilan Anton.
"Tuan kapan datang kemari?" tanya Anton to the poin.
"Apakah kamu benar-benar tidak bisa menghandle nya?"
"Saya tidak akan meminta Tuan datang kemari jika saya bisa menyelesaikannya" jawab Anton. Memang benar apa yang Anton katakan, ia tidak akan meneror Martin seperti ini jika bisa menyelesaikan masalahnya, dan Martin cukup paham dengan cara kerja Anton.
__ADS_1
"Siapkan tiket untuk penerbangan besok siang" titahnya, terpaksa dengan berat hati Martin harus berpisah dengan Elea. Martin hanya berharap jika masalah di sana cepat selesai.
"Apakah tidak bisa malam ini?" tanya Anton.
"Jangan mengada Anton, aku belum berpamitan dengan istriku. Dan juga aku belum mengambil jatah bekalku" terdengar Anton mendesah kan nafas kesal karena Martin membicarakan tentang 'jatah' bisa-bisanya Boss nya itu masih memikirkan jatah.
"Baiklah kalau begitu" sahut Anton, ia tidak bisa lagi memaksa Martin untuk segera datang, terlebih lagi Boss nya itu membahas jatah. Anton harus banyak-banyak maklum karena sang Boss duda itu baru saja menemukan sarang untuk burungnya.
"Hem" ucap Martin langsung memutuskan panggilan itu sepihak.
"Semoga aku tidak terlalu lama berada di negeri Gajah itu" gumam Martin membuka laptopnya dan.
🌼🌼🌼
Fara menyambut kedatangan Elea dengan wajah sumringah karena sang sahabat memenuhi janjinya untuk membebaskan Fara dari jerat Jhonatan. Kadang Fara berpikir jika uang bisa bicara dan memilih kuasa itu benar adanya, kehidupan ini sangat kejam, seolah ketulusan tidak akan ada artinya jika tidak di barengi dengan materi, khususnya di mata sesama manusia.
"Terimakasih kasih banyak El" ucap Fara memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
"Kita ini keluarga, tidak perlu berterimakasih seperti itu. Memangnya siapa lagi yang akan membantu mu jika bukan aku?" sahut Elea membalas pelukan Fara.
"Kau benar, kita ini keluarga" Fara mengurai pelukannya.
"Jadi? kemana kamu harus memberikan uang ini?" tanya Elea.
" J & H Bar, pria itu memintaku datang siang ini"
"Bar?" tanya Elea di angguki Fara.
"Benar juga sih, tapi kamu harus tetap hati-hati Far" Elea menginginkan sahabatnya itu.
"Atau aku ikut saja nemenin kamu" Elea khawatir jika Fara pergi sendiri menemui pria itu.
"Tidak perlu El, aku bisa pergi sendiri" Fara tidak tega jika harus melibatkan Elea lebih jauh.
"Aku tidak menerima penolakan, Ayo kita berangkat sekarang" ajak Elea, ia juga penasaran dengan pria yang di sebut Fara dewa iblis itu.
"Tapi aku tidak ingin merepotkan mu" tolak Fara halus.
"Aku tidak merasa di repotkan"
"Kamu sedang hamil El"
"Aku tahu itu, dan aku hanya hamil, bukan sedang sakit parah sampai sekarat" tegas Elea.
"Ishhh" Fara mengambil tasnya dan bergegas pergi bersama Elea, gadis itu ingin segera terbebas dari Jhonatan, dan akan fokus mencari tahu dimana keberadaan Yogi. Pria brengsek itu menghilang begitu saja setelah menjual Fara pada Jhonatan.
...
Fara dan Elea turun dari taksi di pinggir jalan. Elea mengenakan Mini dress hitam dengan corak bunga daisy terlihat manis dan cantik meskipun dengan perut bulat nya. Sedangkan Fara mengenakan jeans hitam panjang, kaos putih, dan kemeja hitam sebagai outer nya, tak lupa topi putih dan sneaker putih membungkus kakinya. Jika di lihat dari belakang, Fara benar-benar seperti laki-laki, bukan lagi Fara yang manis girly dan feminim.
__ADS_1
Kedua sahabat itu berjalan memasuki area Bar dengan tangan saling bertautan, saling memberikan kekuatan satu sama lain.
"Sepertinya wanita itu tidak asing" gumam seseorang, karena sepasang matanya menangkap sesuatu yang tidak asing baginya.
"Tapi siapa?"
"Ada apa Mah" tanya suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Bukan apa-apa Pah" jawabnya, pasangan itu tengah berada dalam sebuah mobil yang melintasi J & H Bar.
🌼🌼🌼
Elea membenarkan apa yang Fara katakan tentang sosok dewa iblis yang kini ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Pria itu memang memiliki visual dan body sempurna yang sangat di idam-idamkan banyak wanita, tapi sayangnya dia adalah rentenir kejam yang tidak memiliki rasa belas kasihan.
"Kau benar-benar tidak ingin berada di bawah lindungan ku Fara?" tanya Jhonatan menatap Fara.
"Lindungan?" ulang Fara.
"Yang benar saja lindungan, bukankah dia mengatakan akan menjadikanku sebagai budaknya jika sampai tenggat waktu yang ia berikan dan aku belum bisa membayarnya?" gumam Fara dalam hati, dengan menatap balik Jhonatan.
"Tidak Tuan" jawab Fara dengan mantap.
"Sayang sekali" gumam Jhonatan.
"Ini uang yang anda minta" Fara menyerahkan koper kecil berwarna hitam itu pada Jhonatan.
"Sebenarnya aku lebih tertarik padamu dari pada uang itu"
"Anda bisa mendapatkan wanita Mama dengan uang itu"
"Tapi aku menginginkan mu"
"Itu sesuatu yang sangat tidak mungkin Tuan, karena aku bukanlah wanita yang seperti tuan harapkan" maksud Fara adalah dirinya bukan wanita yang bisa dibeli atau di pakai tanpa ikatan pernikahan, tidak seperti wanita-wanita yang pernah Jhonatan jajah sebelumnya.
"Harus bagaimana jika aku terap menginginkan mu?"
"Jika Tuhan berkehendak, maka takdir akan
membawa mu padaku dengan cara yang benar, namun itu sangat mustahil" ucap Fara.
"Urusan kita sudah selesai Tuan, terimakasih atas kemurahan hati Tuan" ucap Fara menarik tangan Elea dan meninggalkan tempat hiburan malam yang masih kosong itu, kecuali Jhonatan dan para pekerjanya karena Bar itu adalah milik Jhonatan.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺