Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
New Chapter


__ADS_3

Elea mengurai pelukan Martin, ada sesuatu yang harus di pertegas olehnya sebelum memulai kembali hubungan mereka.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Om" kata Elea menatap netra Martin.


"Katakan sayang" sahut Martin.


"Aku tidak mau kembali kerumah itu" ucap Elea, Martin mengangguk paham.


"Aku juga belum siap bertemu dengan mereka" Elea menundukkan kepalanya, yang di maksud mereka adalah orang tua Martin dan juga Risha.


"Aku tidak akan memaksamu untuk bertemu dengan siapapun dan memaafkan siapapun" kata Martin, yang terpenting sekarang Elea bersamanya. Lambat laun Elea pasti bisa memaafkan Mama dan juga putrinya, begitulah pemikiran Martin.


"Om tidak keberatan?" tanya Elea, Martin memegang pipinya.


"Sayang, aku tahu jika Mama dan Risha bersalah padamu, aku juga tahu apa yang dilakukan oleh mereka sangat menyakiti hatimu. Itu sebabnya aku tidak akan memaksakan apapun yang tidak sesuai dengan kehendak hatimu" kata Martin.


"Tapi aku tahu, jika istri ku ini adalah wanita yang baik, memiliki hati lembut dan juga luas. Jika sekarang kamu belum bisa memaafkan mereka, dimasa depan kamu pasti bisa memaafkan mereka. Aku yakin itu" ucap Martin dengan tenang.


"Ya, mungkin saja. Tapi udah saat ini aku hanya ingin hidup tenang tanpa siapapun mencela atau menghakimi ku" ucap Elea dengan nada sendu.


"Aku paham, mari kita buka lembaran baru" Martin kembali memeluk Elea dan mencium kening wanita itu.


"Boleh aku minta sesuatu?" lirih Martin, Elea langsung melepas pelukannya dan menatap tajam Martin.


"Ada apa?" Martin bingung.


"Memangnya Om mau minta apa? Aku tidak punya apa-apa untuk di berikan pada Om" Elea menyilangkan kedua tangannya di dada, wanita itu sudah negatif thinking rupanya, membuat Martin mengulum senyum.


"Sayang, aku sudah lama tidak merasakannya. Jika sekarang aku minta bukankah sesuatu yang normal?" kata Martin menggoda Elea.


"Tidak boleh, ini sekarang milik Davendra, bahkan Om tidak boleh memegang nya" tegas Elea kini mengambil bantal untuk menutupi dadanya. Martin yang gemas melihat tingkah Elea, kini menangkup kedua pipi Elea dan langsung melabuhkan bibirnya pada bibir manis Elea.


Elea membelalakkan matanya karena Martin sangat nekat dan tidak mengindahkan perkataan nya, namun tidak di pungkiri jika Elea juga merindukan sentuhan lembut nan hangat itu.


Martin tersenyum dan menghapus jejak saliva nya setelah pagutan singkat itu.


"Sebenarnya aku sangat merindukanmu dan tidak bisa menahan diri, tapi aku tahu jika kita belum bisa melakukannya" kata Martin membuat Elea merona.


"Aku tidak meminta itu sayang, tapi aku meminta kamu mengubah panggilan mu padaku. Sekarang sudah ada Davendra, jika kamu memanggilku Om, lalu Davendra akan memanggil ku apa?" kata Martin, membuat Elea semakin malu karena berpikiran mesum.


"Itu...." Elea menggigit bibir bawahnya, bingung.


"Itu apa? Hmmm?" goda Martin membuat Elea salah tingkah.

__ADS_1


"Kau merindukanku? Bercinta denganku?" ceplos Martin, Elea semakin kelabakan.


"Om jangan ngaco deh" kata Elea membuang muka karena malu.


"Tidak perlu malu sayang, aku senang jika kamu juga merindukan aku. Kita bisa melakukanya 30 hari lagi" kata Martin mendapat lemparan bantal dari Elea.


"Jadi Om, mau di panggil apa?" tanya Elea mengalikan pembicaraan.


"Apapun asal jangan Om" pasrah Martin.


"Bagaimana kalau Oppa?" kata Elea tersenyum, namun tidak dengan Martin.


"Oppa saranghae" ucap Elea tersenyum dengan nada manja, namun Martin malah merinding.


"Sayang, bagaimana kalau kamu panggil Mas, atau honey saja?" usul Martin merasa salah karena sudah memasrahkan semuanya pada Elea.


"Tapi tadi Om bilang apapun?"


"Tapi sepertinya panggilan Oppa kurang tepat untuk suamimu yang tua ini" kilah Martin.


"Ahh begitu, bagaimana kalau aku panggil Ahjussi?" Kata Elea.


"Ahh...apa?"


"Ahjussi artinya paman" enteng Elea.


"Baiklah" putus Elea mengikuti kemauan Martin.


"Mas, kapan kita akan pindah?" tanya Elea membuat hati Martin merasa melayang karena di panggung Mas, bukan Om lagi.


"Karena ini sudah malam, bagaimana kalau besok pagi?" kata Martin dan Elea mengangguk setuju dengan keputusan Martin.


🌼🌼🌼


Fara menangis tersedu saat Elea dan Martin akan meninggalkan Villa Jhonatan, wanita itu merasa tidak rela jika harus berpisah dengan bayi tampan Elea.


"Hisk....hiks.....kenapa kalian membawa pangeran ku pergi hiks...hiks...." Fara menatap sedih pada bayi yang tertidur pulas di stroller.


"Hai, kau akan segera memilikinya sendiri nanti. Dan ya, kami tidak pindah negara, kita masih di kota yang sama. Kau bebas mengunjunginya jika rindu" Elea mengusap punggung ibu hamil itu, faktor kehamilan juga membuat Fara mudah sedih dan menangis.


"Baby, kita bisa berkunjung kapan saja. Bahkan kita bisa menculiknya" kata Jhonatan.


"Kau tidak akan bisa melakukan hal itu Jho" kata Martin tidak terima.

__ADS_1


"Aku bisa melakukan apapun untuk istri ku" kata Jhonatan.


"Benarkah?" kata Elea tersenyum.


Setelah cukup lama pertunjukan drama yang di bintangi oleh air mata Fara, kini Elea, Martin dan juga putra kecil mereka berada di dalam mobil yang di kemudikan Anton menuju rumah baru yang sudah Martin persiapkan.


Mobil yang dikemudikan Anton berhenti di kawasan elit, rumah bercat putih dengan gaya modern, sangat simple namu terkesan elegan. Tidak ada pilar besar tinggi menjulang atau sesuatu yang menonjol, namun begitu keindahan dan kemegahan tetap terlihat oleh mata.


"Kamu suka sayang?" tanya Martin memandang bangunan dua lantai itu.


"Sangat" kata Elea menggendong bayinya dan melihat kagum hunian barunya.


Martin langsung mengajak Elea untuk masuk kedalam rumah, di dalam sudah ada beberapa pelayan yang siap membantu Elea mengurus rumah.


"Ini seperti bangunan baru, kapan Mas membelikan?" tanya Elea melihat isi rumah yang sangat homey sesuai keinginan nya.


"Satu tahun lalu aku memenangkan tender untuk membangun perumahan di kawasan ini. Dan entah kenapa aku sangat suka pekarangan ini, lalu aku mengambilnya dan membangun seperti sekarang ini. Bagaimana menurut mu?" tanya Martin.


"Indah, dan sempurna" kata Elea tersenyum.


"Aku harap rumah ini membawa kebahagiaan dan kebaikan untuk keluarga kita" jujur Martin.


"Aamiin, semoga saja" sahut Elea, lalu keduanya naik kelantai dua, dimana kamar utama mereka berada.


Elea kembali di buat kagum begitu memasuki kamar bernuansa putih dan abu-abu itu. Sangat luas, tidak banyak barang dan terasa begitu nyaman saat memasukinya.


"Aku benar-benar suka dengan kamar ini" kata Elea meletakkan bayinya di atas king size yang sangat luas itu.


"Disinilah kita akan menghabiskan dan mengulang malam-malam yang panjang dan panas" bisik Martin memeluk Elea saat wanita itu sedang melihat isi kamarnya.


"Mas, bisakah bersikap sedikit normal?" kata Elea tubuhnya terasa meremang.


"Aku pria normal sayang" kata Martin tangannya yang tadi ya di pinggang Elea kini naik ke atas.


"Kamu terlalu normal Mas" Elea menghempaskan tangan Martin, dan berlari ke kamar mandi. Yaaa Elea terpancing ingin merasakan sesuatu yang lebih karena ulah Martin yang tidak tahu situasi dan kondisi jika landasan nya sedang tidak bisa digunakan.


🌼


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


🌼


TBC 🌺


__ADS_2