
Elea mengerjapkan matanya saat mendengar tangisan bayi, Elea melihat Martin sedang kebingungan menenangkan bayi kecil yang menangis itu.
"Om" panggil Elea, Martin menolah ke arah Elea dan mendekati nya.
"Maaf kalau membangunkan mu" sesal Martin, baru satu jam yang lalu Elea bangun menyusui bayinya dan kini harus bangun lagi karena bayinya menangis.
"Tak apa" Elea menerima bayi itu dan kembali menyusuinya.
"Bisakah tidak melihat kemari?" kata Elea merasa jika Martin memperhatikan nya saat menyusui Davendra.
"Aku akan ke kamar mandi sebentar" ucap Martin pergi ke kamar mandi.
"Huffffff" Elea menghela nafasnya, bayinya sudah berhenti menangis dan hanya menyusu sebentar saja lalu tidur lagi.
Elea menatap wajah tampan bayinya yang hampir sembilan puluh sembilan persen copy paste wajah Martin, hal itu membuat Elea sedikit kesal.
"Bagian mananya yang mirip aku?" gumam Elea menatap intens wajah bayi itu.
"Apakah kau sangat menyayangi Papi mu nak? sehingga tidak ada dari dirimu yang mirip Mami?" tanya Elea, lalu tersenyum dan mencium pipi merah bayi itu.
"Apakah sudah selesai?" tanya Martin tiba-tiba, Elea hanya menoleh tanpa berniat menjawab.
"Kamu lapar sayang? Mau makan sesuatu?" tawar Martin pada Elea, sikap dingin Elea membuatnya sedikit canggung namun Martin tetap harus intens dan agresif mengajak bicara istrinya.
"Tidak" kata Elea meletakkan bayinya di infant bed yang ada di sebelah bed nya.
"Mau kemana?" tanya Martin saat Elea turun dari bed.
"Kamar mandi" jawab Elea membuka Bedside Cabinet.
"Mau mengambil apa? Biar aku ambilkan" kata Martin melihat Elea sedikit kesulitan karena tangan kanannya masih di infus.
"Perlengkapan untuk ke kamar mandi" kata Elea, lalu Martin mengambilkan sebuah tas transparan berisi peralatan mandi Elea.
"Ini masih terlalu pagi untuk mandi sayang" kata Martin menemani Elea ke kamar mandi.
"Om keluar saja" usir Elea ketika sudah sampai didalam kamar mandi.
"Yakin bisa sendiri?" Martin memastikan, Elea hanya mengangguk, lalu ia keluar dari kamar mandi dan meninggalkan di depan pintu.
"huffffff" Elea menghela nafasnya dan membuka isi tas itu untuk mencari sesuatu yang sangat ia butuhkan.
"Kenapa tidak ada disini" heran Elea.
__ADS_1
"Masa harus...." wanita itu menggigit bibirnya lalu membuka pintu karena merasa tidak ada pilihan lain.
"Om" panggil Elea mengeluarkan kepalanya saja di pintu.
"Sudah selesai? Cepat sekali?" tanya Martin, padahal belum ada lima menit meninggalkan Elea di kamar mandi.
"Bukan, tolong ambilkan kopernya kemari" pinta Elea.
"Kopernya besar sayang, kamu perlu apa biar aku ambilkan" kata Martin, membuat Elea bingung.
"Katakan saja" desak Martin.
"Aku butuh ****** ***** dan pembalut" lirih Elea langsung menutup kembali pintu nya.
"Kenapa harus malu" gumam Martin tersenyum mengambilkan apa yang di butuhkan oleh sang istri.
"Harusnya tidak perlu malu kan?" kata Elea di dalam kamar mandi, tak lama Martin mengetuk pintu dan memberikan apa yang Elea minta. Wanita itu langsung menyelesaikan hajatnya dengan cepat.
🌼🌼🌼
Elea duduk di atas bed setelah selesai membersihkan diri ala kadarnya, wanita itu melihat Martin yang sedang mengupas sebuah apel.
"Makanlah" kata Martin memberikan sepotong buah apel pada Elea.
"Anton yang membawanya tadi malam" kata Martin, Anton memang kembali lagi dengan membawa bingkisan buah itu tadi malam.
"Om Anton tahu aku disini? Siapa lagi?" Elea berhenti memakan apel itu.
"Tidak ada, hanya Anton saja yang tahu. Karena aku memintanya membawakan baju ganti ku" jelas Martin membuat Elea sedikit lega.
"Maafkan aku karena membuatmu mengalami kesusahan seperti ini, seandainya aku berkata jujur dan memberikan pengertian pada Risha dan Mama, kamu tidak akan mengalami hal sepahit ini" sesal Martin dengan apa yang sudah terjadi pada istrinya.
"Om tidak bersalah, apa yang Om Martin lakukan sudah benar, menikahi ku, menerimaku dan menyimpan semua aib ku. Hanya saja aku bukan wanita baik-baik, seseorang yang yang tahu ceritaku pasti langsung melabeli ku dengan sebutan wanita murahan dan wanita kotor" kata Elea tersenyum getir.
"Aku tidak perduli pendapat orang lain, di mataku kamu adalah wanita baik-baik, bahkan kamu mampu menjadi diri meskipun dengan profesi yang kamu pilih. Aku tidak..."
"Tapi aku perduli Om" sela Elea.
"Masa laluku pasti akan mempengaruhi pekerjaan Om, merusak nama baik Om dan..."
"Tidak, aku tidak perduli" tegas Martin.
"Om!" seru Elea dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku perduli dengan semua itu, dan kita akhiri saja pernikahan ini" putus Elea membuat Martin meradang.
"Kau pikir pernikahan ini permainan sayang? Ingat baik-baik ini, aku tidak akan melepaskan mu sampai kapan dan apapun alasannya. Kamu tetap istriku dan ibu dari anakku" tegas Martin.
"Tidak Om, biarkan aku dan anakku hidup tenang, aku tidak ingin anakku mendapatkan penolakan" kata Elea air mata wanita itu sudah mulai mengalir mengingat hinaan dan penolakan yang dikatakan oleh mertuanya.
"Apa maksud mu?" tanya Martin tidak paham.
"Aku memutuskan untuk pergi karena mama menolak bayiku, mama mengatakan jika aku ini wanita kotor mama bilang kalau anakku bukan cucunya, mama...."
Greppp.....
Martin langsung memeluk Elea dengan kuat meskipun Elea memberontak namu Martin tetap memeluk istrinya itu. Martin tahu seberapa hancur hati Elea, Martin tidak pernah membayangkan jika Mama Asri begitu kejam pada Elea. Bahkan menolak mengakui anaknya sebagai keturunan Hariz, itu terdengar sangat kejam.
Elea tergugu dalam pelukan suaminya, ada rasa rindu yang sangat membuncah, rasa haru dan juga rasa nyaman menangis di pelukan pria yang memang dicintainya.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku. Aku telah gagal menjagamu sehingga kamu merasakan kesakitan yang teramat sangat" bisik Martin mengecup puncak kepala Elea, Martin bisa merasakan jika tubuh Elea semakin bergetar.
"Aku hanya ingin hidup tenang dan di cintai, tapi aku juga sadar jika wanita seperti ku tidak pantas..."
"Kamu pantas mendapatkan seluruh cinta di dunia ini sayang, aku akan mencintaimu, mengabdikan diri untuk selalu mencintaimu dan membahagiakan mu" kata Martin, Elea hanya menggelengkan kepalanya.
"Lepaskan aku Om"
"Tidak akan, kamu adalah istriku, wanita pertama yang aku cintai. Aku tidak akan pernah melepaskan mu" kata Martin, dan tentu saja Elea tidak percaya mengingat dirinya adalah istri kedua Martin.
"Aku mohon" lirih Elea.
"Sayang, aku tidak akan melepaskan mu. Tidakkah kebersamaan kita selama ini berarti? Aku mencintaimu bagaimana bisa aku melepaskan mu? Sekalipun kamu belum mencintai ku, tapi aku tidak akan melepaskan mu, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan kita akan hidup bahagia bersama selamanya" Martin meyakinkan Elea.
"Om bohong" kata Elea tetap tidak percaya.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1