
Sesosok tubuh berdiri di balik tembok sejak beberapa saat yang lalu, Risha baru saja pulang setelah menghibur diri mengendara tanpa tujuan. Namun saat gadis itu baru saja masuk, telinganya menangkap suara sang Papi yang tengah berdebat meminta kejelasan tentang keberadaan istrinya.
Risha terkejut mengetahui Martin sudah berada dirumah, padahal gadis itu memperkirakan jika Martin akan berada di Thailand lebih dari sepuluh hari, namun belum sampai seminggu pria itu sudah pulang dan kini tengah berdebat dengan Neneknya.
"Aku harus bagaimana?" gumam Risha menggigit bibirnya dengan tubuh gemetar kala mendengar suara Martin meninggi.
"Apa yang membuat Mama tidak suka dengan Elea?" tanya Martin dengan nada rendah.
"Dia wanita rendahan, dia wanita murahan, dia tidak pantas untuk menjadi istrimu" Mama berkata penuh keyakinan, membuat Martin tersenyum miring.
"Lalu menurut Mama, apakah putra Mama ini pria baik-baik? Apakah putra Mama ini pria terhormat?"
"Tentu saja, kau adalah putra keluarga Hariz yang sangat disegani banyak orang, bahkan orang-orang akan menundukkan kepalanya jika berada di depanmu, kau putra dari keluarga terpandang dan..."
"Dan bajingan" sambung Martin memotong kalimat Mamanya.
"Martin! Apa yang kau katakan?" geramnya, karena Martin menyebut dirinya bajingan.
"Mama jangan lupa jika putra Mama ini adalah pria brengsek dan juga bajingan"
"Tidak, itu tidak benar!"
"Seorang pria yang baik tidak akan tidur dengan wanita yang bukan istrinya, seorang pria terhormat tidak akan menghamili wanita yang belum menjadi istrinya. Mama jangan lupa jika putra Mama ini dulu adalah seorang yang brengsek dan..."
"CUKUP!!!" bentak Mama Asri.
"Itu semua kenakan anak muda, bagian dari proses pendewasaan diri, dan mama memakluminya"
"Maklum? Nakal?" Martin tersenyum getir.
"Lalu kenapa Mama tidak bisa menerima Elea? Kenapa Mama tidak menganggap jika apa yang dilakukannya Elea adalah kenakalan anak muda?"
"Elea itu berbeda, dia wanita liar yang tidak dididik oleh orang tuanya" Martin menatap wajah Mamanya dengan tak percaya.
"Apakah menurut Mama, Elea suka hidup tanpa orang tuanya? Apakah menurut Mama mudah menjalani hidup tanpa orang tua?" tanya Martin, Mama Asri hanya diam dan membuang muka.
"Jika Mama bisa menerima Astrid sebagai istriku, wanita yang jelas-jelas sudah hamil sebelum menikah, lalu kenapa Mama tidak bisa menerima Elea?"
"Astrid itu jelas hamil anakmu, sedangkan wanita itu belum tentu hamil anakm...."
__ADS_1
"MAMA!!!!!!!" teriak Martin, matanya membulat seperti orang kesetanan.
"BAGAIMANA BISA MAMA BERPIKIR JIKA YANG DIKANDUNG ELEA BUKAN ANAKKU!?"
"Martin, dia itu wanita bayar..."
"WANITA BAYARAN, YA MARTIN TAHU ITU!" sela Martin masih dengan nada tinggi, papa Adnan hanya bisa diam sebab ia tahu jika anak dan istrinya kini sedang emosi dan tidak akan bisa di kendalikan. Pria tua itu duduk dan menonton perdebatan itu layaknya nonton Opera, ia membiarkan ibu dan anak itu saling meninggikan suaranya, asal tidak ada kekerasan.
"Kau tahu?" tanya Mama Asri terkejut.
"Tentu saja Martin tahu, karena Martin juga pernah menggunakan jasanya sebelum akhirnya menikahi nya"
"Kau tahu jika dia wanita bayaran, tapi kau tetap menikahinya? Martin kau sadar apa yang kau lakukan!" kesal Mama Asri.
"Tentu saja Martin sadar, dan Martin tidak pernah menyesal karena menikahi Elea!" tegasnya.
"Martin, dia itu wanita murah..."
"Istriku wanita terhormat Mah, dia wanita suci!"
"Kau ini bicara apa? BAGAIMANA WANITA SUCI MENJADI WAN..."
"Tidak mungkin!" ucapnya menolak percaya.
"Elea jauh lebih baik dari pada Astrid Mah, karena saat aku melakukannya dengan Astrid, dia sudah tidak suci lagi. Aku tidak berniat membandingkan istriku, tapi itu adalah yang harus Mama ketahui"
"Mungkin Astrid bukan wanita bayaran, tapi itu tidak menjamin dia bisa menjaga kehormatan dan kesuciannya. Jika dulu keisengan ku tidak membuahkan hasil, maka aku tidak mungkin menikahi Astrid"
"Kau jangan bercanda Martin, kasihan mendiang istrimu"
"Martin tidak sedang bercanda. Ini adalah fakta dan mama sangat tahu itu, apakah Mama pikir aku mencintai Astrid?. Bahkan sampai nafas terakhirnya aku tidak bisa mencintai Astrid, kami berdua hanya hidup bersama saling menghormati dan bekerjasama sama mengasuh Risha" jelas Martin kembali membuat wanita tua itu terkejut, tak jauh berbeda dengan Mama Asri, seorang gadis yang juga ada hubungannya dengan apa yang di bicarakan oleh Martin pun sangat terkejut. Risha tidak menyangka jika Papi dan Mami nya tidak pernah saling mencintai, bahkan kehadirannya adalah sebuah ketidak sengajaan.
"Jadi aku bukanlah anak yang diharapkan?" bisik Risha dalam hati menangis sedih.
"Martin! Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Bagaimanapun jika Risha mendengar nya? Dia pasti akan sedih"
"Sekalipun Risha mendengar, itu tidak akan mengubah apapun Mah, dia tetap putriku, cucu keluarga Hariz, tapi bagaimana dengan anakku yang lainya? Bagaimana dengan istriku?" bungkam, lagi-lagi mama Asri tidak punya jawaban atas pertanyaan Martin.
"Tidakkah Mama tahu jika aku sangat mencintai Elea? Dia wanita pertama yang mampu mengisi hatiku, bagaimana bisa Mama mengusirnya?" pria berusia 41 tahun itu menangis seperti anak kecil berusia 4 tahun yang kehilangan mainannya.
__ADS_1
"Kapan Mama mengusir istriku?" Martin mengusap air matanya, Mama Asri hanya menundukkan kepalanya.
"Jangan bilang kalau kemarin malam Mama mengusirnya?" tebak Martin, karena sejak tengah malam kemarin hatinya merasa gelisah dan terus-terusan memikirkan Elea.
Mendengar tebakan Martin yang tepat, Mama Asri langsung mengangkat wajahnya dan menatap Martin dengan perasaan bersalah dan menyesal.
Agggghhhhhhkkkk.....
Prangggggg.....pranggggg....prangggg.....
Martin berteriak dan menendang meja kaca didekatnya hingga bunyi nyaring pecahan kaca itu bertaburan.
Mama Asri memejamkan mata dan tubuhnya gemetar melihat Martin yang meluapkan emosi seperti orang kesetanan. Untuk pertama kalinya, Mama Asri melihat putranya begitu hancur, kecewa, dan juga kesakitan karena ditinggal wanita yang menjadi istrinya.
"MAMA TEGA! MAMA KEJAM!" Martin sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya, ia berjalan mengambil kunci mobil untuk mencari keberadaan Elea.
"Martin, tunggu" cegah Papa Adnan, pria itu tidak mungkin membiarkan Martin mengendarai mobil dalam keada kacau seperti itu.
"Papa jangan menghalangi ku"
"Martin dengarkan Papa"
"Tidak, papa juga sama saja seperti Mama" Martin seperti anak ABG yang telah bisa lagi di ingatkan, sekap dewasanya seolah hilang karena terlalu mengkhawatirkan sang istri.
"Jika kau ingin tahu keberadaan istrimu, maka dengarkan Papa!" tegas papa Adnan membuat Martin berhenti.
"Papa tahu dimana Elea?" tanya martabak dengan wajah berbinar, seseorang yang menyembunyikan tubuhnya di balik tembus hanya bisa menangis melihat reaksi Martin. Kini Risha tahu jika Papi nya benar-benar mencintai Elea, gadis itu menyesal karena tidak bertanya dulu perihal masa lalu Elea pada Martin. Bodoh ya ia termakan oleh perkataan Citra dan langsung mengadukannya pada sang Nenek. Kini rasa bersalah dan penyesalan Risha semakin besar terhadap Elea dan juga Papinya, karena secara tidak langsung memisahkan sepasang suami-istri dan juga calon buah hatinya, memikirkan hal itu membuat dada Risha semakin sesak dan air matanya mengalir deras.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1