
Risha keluar dari toko perlengkapan bayi dengan senyum mengembang di bibirnya, gadis itu sangat senang karena bisa membawa pulang sepatu bayi yang mungil itu. Matanya tak henti-hentinya menatap ke arah paper bag kecil yang ada di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya bertautan dengan tangan Elea.
"Apakah sesenang itu?" tanya Elea melihat deretan gigi putih Risha sejak meninggalkan baby shop.
"Tentu saja, ini adalah barang pertama untuk Boy dari kakaknya yang cantik ini" jawab Risha.
"Mami udah siapin nama untuk Boy?" tanyanya.
"Nama?" beo Elea.
"Please jangan bilang kalau Mami belum kepikiran?" tebaknya, melihat wajah Elea yang kaget saat Risha bertanya tentang nama calon adik nya.
"Itu.... kan masih lama Ris, masih ada waktu sekitar tiga bulan lagi untuk memikirkan sebuah nama" ucap Elea.
"Iya sih, tapi seenggaknya Mami punya gambaran nama untuk calon adik Risha ini. Atau gimana kalau Risha ajah yang kasih nama?"
"Boleh juga, buat beberapa nama, nanti Mami yang pilih" menurut Elea tidak masalah jika Risha ikut mengajukan beberapa nama untuk calon buah hatinya.
"Oke, nanti malam Risha buat daftar nama terbaik untuk si boy" senang Risha ikut berpartisipasi mengajukan nama untuk adiknya.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, lambung wanita hamil itu tentu saja meronta minta di isi, terlebih sejak tadi berjalan-jalan mengelilingi luasnya Mall itu.
"Kita makan dulu ya Ris" ajak Elea.
"Mami laper?"
"Heem" sahut Elea menganggukkan kepalanya sambil melirik tempat makan yang menarik perhatiannya.
"Mau makan dimana Mih?" tanya Risha, iris nya juga menyapu sekitar.
"Ke kafe itu saja" Elea menunjuk sebuah kafe yang menyediakan berbagai bakery and pastry.
Ibu dan anak itu memasuki Kafe yang menyediakan tepat super cozy untuk bersantai sambil menikmati menu yang tersedia di Kafe itu.
Elea memesan Mix berries smoothies untuk minuman nya, yang terdiri dari beberapa campuran buah berry. Sedangkan Risha memesan Mint mojito yang menyegarkan. Elea juga memesan lemon tart dan strawberry e'clair, sedangkan Risha hanya memesan Vanilla custard tart dengan toping blueberry.
"Setelah ini pulang 'kan?" ujar Elea disela-sela menyuapkan tart itu dalam mulutnya.
"Tentu saja, Risha tidak mau ketahuan Papi ngajak Mami jalan-jalan, nanti kita malah gak jadi liburan ke Korea" sahut gadis itu.
"By the way, gimana PDKT kamu sama Abang nya Citra?" pancing Elea.
__ADS_1
"Ya gitu deh" jawab Risha lesu.
"Sepertinya si Abang memang belum move on dari mbak mantan" ucap Risha mengaduk-aduk minumannya.
"Slow but sure okey" Elea meyakinkan anak sambungnya.
"Iya, lagi pula Risha juga udah biasa nahan perasaan"
"Jangan patah semangat, jangan putus asa, kalau jodoh takkan kemana"
"Jodoh? andai saja aku bisa berjodoh dengan mas Agustd" pikiran Risha menerangkan jauh membayangkan berjodoh dengan sang idola.
"Ris, jodoh memang di tangan Tuhan, tapi...."
"Tapi apa Mih?" gadis itu penasaran.
"Tapi kalau kamu minta berjodoh dengan mas Agustd, Tuhan juga angkat tangan hahaaaa...." Elea tidak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Risha yang cemberut setelah mendengarkan kalimat lengkap nya.
"Udah gak usah sedih dan cemberut kayak gitu. Bukan hanya kamu yang berharap menjadi istri mas Agustd, banyak wanita dan tersebar di berbagai negara menginginkan mas Agustd jadi suami nya, makanya Tuhan sampai angkat tangan" tutur Elea menahan tawanya.
"Hufff...andai saja jaran goyang dan Semar mendem bisa sampai ke negeri Ginseng" ucap Risha meletakkan kepalanya di meja.
"Hahaa....malah makin ngawur kamu ini Ris, Ris" Elea menggelengkan kepalanya.
"Hahhh benar juga" Risha menegakkan duduknya.
"Stars are always stars ya Mih" ucap Risha kembali dalam dunia nyatanya.
"Hem, biarlah dia tetap bersinar di ketinggian dan kita akan selalu menikmati dan mengagumi cahaya nya" tutur Elea.
"Apa cita-cita Mami?" tiba-tiba saja Risha ingin kenal lebih dekat dengan Maminya.
"Cita-cita?" Risha mengangguk.
"Apa ya? entah lah, bingung" Elea juga tak tahu apa cita-cita nya.
"Yang paling Mami inginkan?"
"Cinta kasih sayang yang tulus, perlindungan, sebuah tempat yang bisa aku sebut sebagai rumah, dan keluarga"
"Apakah selama menjadi istri Papi, mami sudah mendapatkan itu semua?" Risha masih ingat beberapa hari yang lalu menangkap senyum janggal di bibir Mami sambungnya itu.
__ADS_1
"Ke... kenapa bertanya seperti itu?" tanya Elea gugup.
"Hanya memastikan jika Mami benar-benar bahagia setelah menjadi bagian dari keluarga Hariz"
"Apakah Mami sudah mencintai Papi?" tanya Risha.
"Ehem....aku belum tahu, kadang ada rasa rindu jika jauh seperti ini" Elea tersenyum, memang ada kalanya ia merindukan kehadiran Martin.
"Entah itu cinta atau bukan. Kamu tahu kan kalau pernikahan kami tidak di dasari rasa cinta? bahkan kami menikah beberapa jam setelah bersama dan di pertemuan kedua. Banyak sifat-sifat kami yang harus sama-sama di pelajari, ku rasa cinta tidak akan datang semudah itu" tutur Elea.
"Cinta? bahkan sekarang aku sangat menjaga hatiku agar tidak jatuh cinta pada suamiku" gumam Elea dalam hati.
"Jadi, hubungan Mami sama Papi selama ini?"
"Kami hanya berusaha saling menerima dan menjalani pernikahan kami dengan baik, jika kedepannya kami saling mencintai ya Alhamdulillah, tapi jika tiba-tiba Papi kamu menemukan wanita lain yang bisa menggetarkan hatinya, ya aku akan mundur" ujar Elea memaparkan kesepakatan nya dengan Martin dulu.
"Lalu bagaimana dengan nasib adik Risha kalau Papi sama Mami sampai pisah?"
"Semua akan baik-baik saja Ris, aku tidak akan menghalangi kamu juga keluarga mu untuk menemui nya jika nanti kami benar-benar berpisah. Tapi semua itukan belum pasti" ucap Elea.
"Risha berharap jika suatu saat Papi dan Mami benar-benar saling mencintai, dan hidup bersama selamanya sampai Risha punya anak cucu"
"Astaga, setua itukah?"
"Mami akan menjadi Oma .Uda yang cantik dan seksi" Risha menaik turunkan kedua alisnya.
"Semoga" lirih Elea.
"Kok gak semangat gitu sih Mih, memangnya Papi Risha bukan pria idaman Mami?"
"Bukan begitu, tapi yaaa semoga saja apa yang kamu harapkan menjadi kenyataan" ujar Elea, meskipun dirinya sendiri tidak yakin.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
TBC 🌺