
Setelah menempuh perjalan lebih dari tiga jam, mobil yang di kendarai oleh Jhonatan berhenti di sebuah bangunan megah dan besar, namun berada di tengah perkebunan, atau lebih tepatnya di area hutan karena banyak pepohonan tinggi menjulang dan tidak ada perumahan atau bangunan sejak satu jam perjalanan memasuki kawasan tersebut.
Elea menatap kagum bangunan bercat putih itu, meskipun berada di tengah hutan, bangunan itu terlihat bersih terawat dengan baik.
"Ayo masuk" ajak Jhonatan berjalan menuju pintu utama.
"Kau sudah datang?" tanya Jhonatan melihat Liam membuka pintu.
"Ya beberapa jam yang lalu"
"Aku tidak melihat mobilmu"
"Raes membawanya untuk membeli bahan makanan" kata Liam, dan Jhonatan mengangguk paham.
"Dia?"
"Sedang di dapur menyiapkan makan malam bersama bibi Melly" jelas Liam paham dengan yang di maksud 'dia' oleh Jhonatan.
"Selamat datang Nona Elea" sambut Liam tersenyum hangat pada Elea.
"Jangan memanggilku Nona, Liam. Karena mulai sekarang aku adalah pelayan" ucap Elea biasa saja, tidak merasa sedih saat menyebutkan dirinya seorang pelayan.
"Apakah aku bisa istirahat? Aku sangat lelah" pinta Elea dengan memelas pada Jhonatan.
"Liam akan mengantarmu ke kamar" kata Jhonatan lalu melenggang masuk.
"Mari Non..."
"Elea, panggil saja aku Elea. Jangan Nona" sergah nya saat Liam akan menang nya dengan kata Nona.
"Baiklah kalau begitu, apakah aku bisa menganggap mu sebagai adikku? Usiaku hampir 33 tahun, dan aku ingin sekali memiliki seorang adik" ucap Liam penuhi harap.
"Kau tidak malu jika memiliki seorang adik seperti ku?"
"Aku akan sangat bahagia dan bangga. Kau keberatan jika aku menganggap mu sebagai adik?"
"Entahlah, aku tidak pernah memiliki seorang saudara sebelumnya. Kecuali Fara" lirih Elea.
"Aku sangat rindu dan ingin bertemu Fara" batin Elea merindukan sahabatnya.
"Baiklah, jangan terlalu dipikirkan, ayo aku antar ke kamarmu. Kau pasti sangat lelah" Liam memandu Elea menuju kamar yang akan ia tempati
"Ini kamarku?" tanya Elea memasuki sebuah kamar besar dan terlihat sangat nyaman dengan Queen Size nya.
__ADS_1
"Ya, ada masalah? Atau kau tidak suka?"
"Tidak , bukan seperti itu. Aku hanya seorang pelayan, dan kamar ini terlihat seperti kamar Nyonya besar" ucap Elea.
"Kau hanya perlu menjalani hidupmu dengan nyaman disini, jangan pikirkan yang lain. Istirahatlah, aku akan keluar" Liam keluar dari kamar itu dan menutup pintunya.
🌼🌼🌼
Fara berkutat di dapur rumah Jhonatan untuk menyiapkan makan malam bersama dengan seorang pelayan wanita paruh baya yang memang bertugas merawat dan menjaga hunian itu ketika Jhonatan tinggal di apartment nya.
"Nona cekatan sekali di dapur" pujinya melihat cara kerja Fara.
"Bibi Melly berlebihan. Dan jangan menyebut ku Nona, karena aku juga sama seperti bibi" ujar Fara tersenyum, sedangkan bibi Melly juga tersenyum mendengar ucapan Fara.
Sangat tidak mungkin jika Fara adalah seorang pelayan, untuk pertama kalinya selama lima tahun bekerja dengan Jhonatan, baru kali ini bibi Melly melihat Tuan nya membawa seorang gadis muda dan cantik ke Villanya. Bibi Melly menduga jika Fara adalah gadis spesial yang mampu menggetarkan hati majikannya.
Seorang pria melihat kegiatan Fara di dapur dari kejauhan, matanya selalu mengikuti pergerakan gadis itu dan tak pernah melepas tatapannya. Bahkan ia ikut tersenyum saat Fara tertawa, Jhonatan merasa jika dirinya seperti orang tidak waras karena sering tersenyum hanya dengan melihat Fara.
"Dia gadis yang manis meskipun penampilan nya tidak feminim" ucap Liam mengejutkan Jhonatan, pria itu melirik kesal pada Liam.
"Ada apa? Aku berkata benar bukan?"
"Jangan berani memandang milikku" ujar Jhonatan membuat Liam tertawa.
"Apakah dia setuju menjadi milikmu?" kata Liam membuat Jhonatan menatap tajam padanya.
"Bukan masalah" ucap Liam tersebut.
"Aku bisa mengambil sendiri gaji ku, bukankah aku yang mengatur semua keuanganmu?" sambung Liam menepuk pundak Jhonatan lalu pergi dengan senyum kemenangan.
"Sebenarnya siapa Boss nya disini? Kenapa dia memiliki semua akses dan kekuasaan atas hidupku" gumam Jhonatan bertanya pada diri sendiri, lalu kembali memperhatikan Fara.
"Bibi, ada berapa orang yang tinggal di rumah ini?" tanya Fara sambil menumis sayur.
"Jika Tuan besar sedang kemari, maka ada banyak orang Nona" jawab bibi Melly mengiris bawang.
"Bibi, sudah ku katakan jangan menyebutku Nona. Aku ini bukan seorang Nona muda, karena hidupku tidak seberuntung itu, hidupku sangat menyedihkan dan pahit seperti pare ini" Fara mengangkat spatulnya yang berisikan irisan pare tumis.
"Tapi saya lebih nyaman menyebut anda dengan kata Nona" kekeh bibi Melly.
"Hufffff" Fara mengalah, biarlah sesekali di panggil Nona.
"Lalu berapa banyak pekerja disini?"
__ADS_1
"Tidak banyak Nona, hanya saya bersama suami. Tapi sesekali Tuan besar mengirimkan orangnya untuk membantu pekerjaan kami, karena Villa ini sangat besar dan luas" jelasnya.
"Benar juga, tapi kenapa Tuan membuat Villa di tengah hutan" Fara tidak pernah menyangka jika ada bangunan sebesar dan semegah ini di tengah hutan, apalagi di lengkapi dengan fasilitas canggih dan modern.
"Karena tuan tidak suka berada di tempat yang ramai" jawab bibi Melly, Jhonatan memang tidak suka tempat ramai meskipun kehidupannya di dunia malam penuh dengan gemerlap dunia. Baginya jika sudah di rumah, makan harus tenang dan sunyi, itu sebabnya di Villa hanya ada bibi Melly dan suaminya Jonas, karena Jhonatan juga tidak terlalu suka jika ada banyak orang di tempat pribadinya.
"Tapi biarpun berada di tengah hutan, Villa ini tetap indah dan sangat menenangkan" ucap Fara.
"Nona suka tinggal disini?"
"Ya, sepertinya aku akan sangat betah. Kehidupan ditengah kota sangat membosankan dan ya begitulah" Fara sangat suka dengan suasana Villa itu, ia bisa sedikit tenang dan melupakan permasalahannya di kota.
"Anak-anak bibi tinggal dimana?" tanya Fara sangat nyaman bicara dengan bibi Melly.
"Anak saya hanya satu Nona, dan dia sudah berada di balikpapan sejak lima belas tahun yang lalu" jawab bibi Melly menghentikan tangannya dan menerawang jauh ke masa lalu.
"Oh ya? Apakah bekerja? Berapa sekarang usianya?" Fara excited.
"Seharusnya sekarang dua puluh lima tahun" ucapnya tersenyum.
"Seharusnya?" beo Fara.
"Ya, karena dia sudah di alam yang berbeda dengan kita" ujarnya.
"Maksudnya? Bukannya tadi bibi bilang kalau dia di balikpapan?" bingung Fara.
"Ya dia di balik papan, dan di dalam kuburan. Putri saya sudah tiada Nona"
"Oh God, sorry bibi, aku benar-benar tidak tahu, aku sungguh minta maaf" sesal Fara karena kurang peka.
"Tidak apa-apa Nona, saya sudah mengikhlaskan nya, saya yakin jika dia sekarang jauh lebih bahagia" ucap ya tersendiri, tapi nada suaranya sendu.
"Maafkan aku bibi, sungguh aku tidak bermaksud menggali luka hati bibi" Fara memeluk bibi Melly dengan perasaan bersalah.
"Apakah aku juga harus menangis dulu agar dia mau memelukku? Tidak, sungguh tidak masuk akal, kau benar-benar gila Jho" Jhonatan menggelengkan kepalanya mengusir ide konyol yang baru saja terlintas di pikirannya.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺