Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Pulang


__ADS_3

Jhonatan menatap datar pada Elea yang masih terlelap di atas bed rumah sakit. Dirinya tadi tengah berada di Bar melakukan briefing dengan semua karyawannya untuk memperbaiki kinerja mereka agar Bar semakin banyak pengunjung, namun panggilan telepon dari dokter Juli membuatnya mau tak mau berada di ruang perawatan Elea seperti sekarang ini.


Klekkk.....


Daun pintu ruangan VVIP itu terbuka dan terlihat Liam berjalan dengan membawa dua gelas kopi merek Bintang brukkkk untuk dirinya sendiri dan juga untuk Jhonatan tentunya.


"Dia belum bangun?" tanya Liam basa-basi, karena jelas-jelas Elea masih memejamkan matanya.


"Apa kau buta?" sahut Jhonatan datar.


"Kenapa? Kau kesal?" Liam memberikan segelas kopi untuk Boss nya.


"Kenapa para wanita sangat suka mendramatisir keadaan" gumam Jhonatan menyeruput kopi nya.


"Keluarga Hariz tidak ada tanda-tanda mencarinya" ucap Liam tanpa menghiraukan Jhonatan yang meliriknya.


"Aku bicara fakta, ada apa denganmu?" kata Liam.


"Lalu apa gunanya membicarakan fakta itu padaku?"


"Ahh benar juga, apa gunanya?"


"Seandainya teman wanita itu tahu jika di saat sulitnya ada seseorang yang menolong dan membantunya. Dia pasti akan sangat berterimakasih dan merasa terharu, apa lagi jika seseorang itu tulus seperti ku" puji Liam pada dirinya sendiri.


"Apa maksud mu?"


"Aku tidak bermaksud apapun" ujar Liam santai menikmati kopinya.


Enghhh....


Suara lenguhan terdekat dari bed pasien, Elea yang terbaring di sana mulai mengerjab-ngerjabkan matanya. Jhonatan yang melihat itu langsung berdiri berjalan ke arah bed itu.


"Tidak bisakah bersikap baik dan tidak merepotkan ku?" ketus Jhonatan, Elea menoleh ke arahnya lalu membuang muka ke arah lain.


"Apa kau ingin terus-terusan di sini? Di rumah sakit? Apakah begitu nyaman? Apa kau tidak ingin pulang?" Jhonatan memberondong Elea dengan pertanyaan, namun wanita hamil itu tetap acuh. Hingga pertanyaan terakhir Jhonatan membuat Elea menatap pria itu.


"Seseorang bisa pulang jika dia punya tempat yang di sebut rumah. Dan aku tidak punya itu, jadi aku tidak akan pulang. Jika kau tidak mau aku repotkan, keluarkan aku dari sini dan tinggalkan aku di tengah jalan, sama seperti saat kau menemukanku" ujar Elea menatap netra hitam milik Jhonatan tanpa rasa takut.


"Kau pikir hanya dirinya saja yang seorang diri di dunia ini? Kau pik...."


"Maaf menyela, tapi aku harus keluar sekarang" kata Liam dengan cepat, lalu meninggalkan Jhonatan dan Elea yang berdebat. Liam tahu jika kehidupan Jhonatan, Elea dan juga Fara itu sama. Yaitu sama-sama sebatang kara tanpa tahu siapa orang tuanya. Begitu juga dengan Liam, pria itu sebatang kara sejak usianya 10 tahun, karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat, meski masih punya seorang paman dari ayahnya, namun paman nya memilih menitipkan Liam ke panti asuhan dan disanalah Liam bertemu dengan Jhonatan.


"Jangan menghancurkan hidupmu hanya karena kau tidak punya sebuah nama yang bisa kau sebut saat kau kesakitan. Apa kau lupa jika selain dirimu, kini kau juga memiliki janin itu?" Jhonatan melirik pada perut bulat Elea.

__ADS_1


"Aku tidak perlu ceramah mu, bicara memang lebih mudah" ketus Elea.


"Dasar keras kepala" Cibirnya menatap kesal pada Elea.


"Pergilah" usir Elea.


"What? Kau mengusirku?" ucap Jhonatan tidak terima.


"Kau tidak tuli kan? Kau juga bisa melihat pintu keluarnya" Elea memalingkan wajahnya.


"Kau jangan cari gara-gara denganku Nona" Jhonatan memperingatkan Elea.


"Kau yang cari gara-gara denganku, karena telah menolongku!" seru Elea.


"Sial" umpatnya lalu meninggalkan ruang perawatan Elea.


Jebretttt......


Jhonatan membanting pintu dengan keras, membuat Liam yang berdiri tak jauh dari pintu itu terjingkat.


"Itu pintu rumah sakit dude, bukan pintu kamar mu..."


"Diam!" bentak Jhonatan.


"Memang apa yang kau lakukan sehingga wanita itu mengusir mu?" Liam masih bersikap santai menghadapi Jhonatan.


"Kau...." Jhonatan menatap tajam Liam sebelum akhir pergi dari hadapan Liam. Ia pikir tidak akan ada gunanya bicara pada Liam, asisten sekalian sahabat nya itu selalu bersikap tenang dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Berbeda dengan Jhonatan suka yang meledak-ledak dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan.


🌼🌼🌼


Seseorang yang tengah jauh dari tanah air, kini terlihat memasukkan seluruh barang-barang nya kedalam sebuah koper. Martin, pria itu benar-benar memutuskan untuk kembali pulang setelah selesai meeting, pria itu tidak bisa di cegah atau di hentikan dengan alasan apapun. Keputusannya sudah bulat untuk pulang ke Ibu Kota.


"Tuan benar-benar akan pulang hari ini?" pertanyaan itu kembali Anton ajukan pada Martin, sehingga pria itu mendengus kesal.


"Berhenti mengajukan pertanyaan bodoh, atau aku akan memangkas habis gaji mu" ancam Martin.


"Maaf Tuan" ucap Anton.


"Ada lagi yang perlu saya bantu?" Anton sudah membawa koper milik Martin.


"Tidak ada, ayo kita keluar" Martin berjalan keluar dari kamar hotel, matanya melirik pada pintu yang tadi ia tendang namun kini sudah di perbaiki.


Setelah menempuh perjalanan dari hotel ke Bandara, Martin segera masuk dan melakukan check in, pria itu tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya dan merasakan tendangan dari dalam perut Elea.

__ADS_1


"Tunggu papi sayang" gumam Martin membayangkan sang istri dan gerakan-gerakan kecil sang buah hati.


Tepat pukul 20.10 Martin sudah sampai di tanah air. Pria itu tidak langsung pulang, tapi pergi ke suatu tempat yang ia yakini jika sang istri ada di sana, kepulangan Martin tidak ada yang mengetahui selain Anton, termasuk orang tua dan juga putrinya. Martin ingin memberikan kejutan untuk Elea dengan pulang lebih cepat dari yang ia katakan, yaitu lebih dari satu Minggu.


Tok....tok....tok....


Martin mengetuk pintu dengan senyum cerah, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Elea, sebuah buket bunga mawar merah ia sembunyikan di balik punggungnya.


Klekkk.....


Pintu itu terbuka dan seorang gadis memecingkan matanya, tak percaya jika seseorang yang ia kenal datang ke rumahnya.


"Om Martin, ngapain malam-malam datang kesini?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Fara.


"Apa Elea sudah tidur?" tanya Martin tanpa menjawab pertanyaan sang pemilik rumah.


"Elea?" beo Fara.


"Om sehat kan?"


"Maksudnya?"


"Ya maksud Fara, ngapain Om Martin tanya Elea sudah tidur? Memangnya Om lupa kalau Elea sudah tidak tinggal di sini?"


"Wait, maksud kamu Elea tidak ada disini?"


"Tentu saja, Elea kan sekarang jadi istrinya Om Martin, tentu saja Elea akan tinggal di rumah Om Martin, kenapa Om malah kemari?" ucap Fara bingung melihat ekspresi wajah Martin yang terkejut.


"Bukannya Elea menginap disini selama beberapa hari ke depan?" tanya Martin memastikan.


"Tidak ada Om, Fara gak bohong. Elea memang tidak ada disini" kata Fara membuka pintu rumahnya lebar-lebar agar Martin percaya dengan kata-katanya.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2