
Malam semakin larut, udara semakin dingin, cuaca pun semakin mencekam dengan hembusan angin yang kuat, kilatan di angkasa menambah kesan menyeramkan karena awan mendung semakin menggelap seolah bersiap menurunkan air hujan.
Papa Adnan menatap bingung pada istri dan menantunya yang saling beradu argumen, pria tua itu belum tahu tentang apa yang tengah di bicarakan oleh dua wanita beda usia itu. Namun melihat kemarahan di mata sang istri dan emosi yang meluap-luap, ia mengambil kesimpulan jika sesuatu yang serius telah terjadi. Sebagai kepala keluarga, Papa Adnan ingin menyelesaikan nya dengan kepala dingin dan duduk bersama, terlebih lagi Martin, sang putra sekaligus suami Elea tidak ada di rumah.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Mama, ayo kita masuk dan menyelesaikan nya di dalam rumah" ajak Papa Adnan mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Jangan coba-coba mengajak wanita murahan ini masuk kembali kedalam rumahku, Mama mengharamkan dia menginjak rumah ini!"
"Mama, Nenek" ucap Papa Adnan dan Risha bersamaan.
"Mama sadar dengan apa yang baru saja Mama katakan?"
"Ya Mama sadar bahkan sangat sadar!"
Elea yang mendengar semua itu langsung mematung, jangan tanya bagaimana perasaan Elea. Sedih, sakit, hancur, perih menjadi satu berkumpul dalam hati hingga membuat dadanya sesak, Elea semakin merasa jika dunia terlalu kejam dan tidak adil padanya, tidak cukupkah dirinya saja yang dibuang dan tidak di inginkan oleh orang tuanya? Apakah kini sang anak yang belum lahir juga harus bernasib sama seperti dirinya, tidak di inginkan bahkan di hina oleh keluarga kandungnya?.
"Mah jangan seperti ini, Mama boleh marah tapi jangan bersikap gegabah yang nantinya akan membuat Mama menyesal" Papa Adnan masih bersabar dengan amarah sang istri yang meluap-luap.
"Mama tidak akan menyesali nya, tidak akan pernah" tegas wanita tua itu tetap keras kepala dengan pendiriannya.
"Tidak bisa begitu, apapun masalahnya kita bicarakan dengan kepala dingin untuk mencari solusinya" Tegas pria tua itu tidak mau di bantah.
"Tidak bisa! Tidak akan Mama izinkan wanita ****** ini masuk dan mengotori rumah ini" tolaknya.
"Tidak bisa, ini rumah Papa. Papa yang menentukan siapa saja yang boleh masuk, dan Papa mengizinkan Elea untuk masuk" ucap Papa Adnan membuat sang istri tercengang tidak percaya, apalagi saat ini Papa Adnan menghampiri Elea dan mengajak wanita hamil itu untuk masuk kedalam rumah.
"Papa berhenti!" cegahnya, membuat kedua orang yang tengah berjalan itu berhenti.
"Jika Papa berani membawa masuk wanita itu, maka Mama yang akan pergi malam ini juga. Dan ini akan menjadi hari terakhir Mama jadi istri Papa!" ancamnya.
"Mama jangan keterlaluan"
__ADS_1
"Papa yang keterlaluan karena telah membela wanita itu" serunya.
"Mah, apapun masalahnya pasti bisa di selesaikan, tidak perlu emosi dan marah-marah seperti ini" ucap Papa Adnan melunak.
"Tidak bisa, Mama tidak bisa menoleransi kebohongan wanita murahan itu" kekehnya membuat sang suami menghela nafas panjang.
Risha yang menyaksikan bagaimana sang nenek menghina dan mencaci maki wanita yang pernah ia anggap seperti sahabat dengan sebutan Mami, ada rasa penyesalan karena memberi tahu kebenaran Elea. Tidak di pungkiri jika Risha marah dan benci pada Elea, tapi jikapun Elea harus pergi dari rumah itu, tidak dengan cara seperti ini, Risha ingin semuanya di selesaikan dengan baik-baik dan berakhir dengan tuntas, termasuk putusnya pernikahan Papinya dengan Elea.
"Mama jangan kejam seperti pada Elea, apalagi Elea sedang hamil. Papa sangat tahu jika Mama adalah wanita yang baik hati" bujuk nya.
"Mama akan bersikap baik, tapi tidak pada wanita murahan ini" geramnya langsung menarik Elea dan membawanya menuju gerbang.
"Mamah, tolong...."
"Diam kamu ******, jangan memanggil Mama!" hardiknya, berjalan dengan cepat, membuat Elea terseok-seok mengikutinya.
"Mama berhenti" cegah Papa Adnan mengejar istri dan menantunya.
"DARTO, BUKA GERBANGNYA. BIARKAN WANITA INI KELUAR" titahnya sesampainya pada pos satpam.
"BUKA!" seru nya,
Satpam itu membuka pintu gerbang dengan tangan gemetar karena terus di tatap tajam oleh sang majikan.
"Darto berhenti" cegah Papa Adnan.
"Elea tidak akan kemana-mana Mah, tidak perduli sebesar apa kesalahannya. Elea akan tetap berada di rumah ini" tegasnya pada sang istri.
"Jika itu keputusan Papa, maka biar mama yang pergi!" katanya sambil menghempaskan tangan Elea.
"Minggir!" Darto di dorong dengan kasar agar minggir dari hadapannya.
__ADS_1
"Mama juga tidak akan pergi!"
"Tidak bisa! Mama tidak bisa hidup satu atap dengan wanita kotor seperti dia!" ucapnya sambil membuka gembok gerbang.
"Mama mau melawan perintah suami?"
"Mulai malam ini Papa bukan lagi suami Mama!" wanita tua itu semakin keras kepala dan egois, menyelesaikan masalah seperti anak ABG dengan cara ngambek seperti itu.
"Baiklah kalau itu mau Mama, Papa tidak bisa memaksa. Tapi bagi Papa, sampai kapanpun Mama adalah istri Papa" pria tua itu memegang tangan Elea berniat membawa menantunya masuk kembali dalam rumah. Selama berpuluh-puluh tahun papa Adnan berumah tangga dengan mama Asri, ini adalah pertengkaran terhebat untuk pertama kalinya. Papa Adnan berpikir jika nanti akan kembali membujuk sang istri jika emosi wanita tua itu sudah mereda, ia sangat tahu jika saat ini istrinya tidak bisa dilawan. Papa Adnan membiarkan istrinya agar lebih tenang, yang penting menantu nya tidak berada di jalanan di tengah malam dengan kondisi hamil.
Elea yang melihat tatapan benci di mata mertuanya membuatnya menyadari satu hal, bahwa tidak ada gunanya lagi ia berada dan bertahan di keluarga Hariz. Apalagi ia juga melihat dan merasakan kebencian dari Risha, sedangkan Martin, Elea tidak bisa mengharapkan apapun dari pria yang berstatus sebagai suaminya. Elea tidak ingin terluka dengan harapannya sendiri, mungkin saat ini adalah waktunya Elea pergi dari kediaman dan kehidupan keluarga Hariz. Apalagi Elea kini tidak sendiri, ada janin yang sedang tumbuh dalam rahimnya, jika keluarga kandung dari janin itu tidak menginginkan nya, setidaknya ada Elea sebagai ibu kandungnya yang menyayangi dan bersama janin itu hingga ia lahir nantinya.
"Nak, ada apa?" tanya Papa Adnan melihat sang menantu tidak mengikuti langkahnya.
"Mama berhenti" ucap Elea saat wanita tua itu membuka gerbang.
"Papa, Elea minta maaf karena tidak bisa menjadi menantu yang baik untuk keluarga ini, benar apa yang Mama katakan. Jika Elea bukanlah wanita yang baik, maaf karena kehadiran Elea membuat aib untuk keluarga ini" ucap Elea dengan air mata yang mengalir deras.
"Tapi demi apapun Elea tidak pernah berbohong atau menipu kalian, Elea juga tidak pernah berniat buruk pada keluarga ini. Terimakasih telah memberikan kesempatan untuk Elea bisa merasakan memiliki keluarga meski sesaat. Papa, Mama, Suami dan Anak" Elea menatap sendu pada Risha yang berdiri di teras.
"Elea menyayangi kalian semua" ucap Elea menghapus air matanya.
"Maaf jika Elea tidak sempurna seperti yang kalian inginkan, maaf karena Elea tidak sebaik seperti apa yang kalian harapkan. Tolong sampaikan maaf Elea pada Om Martin, dan terimakasih karena telah bersedia menikahi wanita kotor ini" kata Elea memohon pada papa mertua dengan wajah sembab dan mata penuh air mata sebelum akhirnya kami mungil itu berjalan keluar dari kediaman keluarga Hariz.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺