Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Berbuah Manis


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Martin tinggal di Villa Jhonatan, pria itu bahkan bekerja dari Villa dan membuat pekerjaan Anton bertambah karena harus bolak balik ke Villa setiap harinya.


"Dia terlihat sungguh-sungguh El" kata Fara melihat Martin dari kejauhan, pria itu sedang memangku Davendra dan menatap sebuah laptop di meja.


"Hmm...aku tahu" sahut Elea memakan buah anggur.


"Jadi, kau akan kembali menerima nya?" tanya Fara.


"Aku belum tahu" jujur Elea, namun jauh dari dalam lubuk hatinya ingin memperbaiki rumah tangga nya dengan Martin. Hanya saja kata-kata kasar dan juga penghinaan yang pernah Elea terima dari ibu mertuanya seolah menjadi benteng yang kokoh di hati Elea.


"Makanan sudah siap" kata bibi Melly membawa dua porsi steak daging domba yang menggugah selera.


"Woahhhh harumnya sangat menggoda Bibi, membuat tubuhku semakin bulat saja" ucap Fara antusias ingin memakan daging domba itu.


"Ya, kau harus mengurangi porsi makan mu, Fara. Sebab dagumu sudah terlihat dua" sahut Elea bersiap makan daging panggang itu.


"Benarkah? Tapi Jho bilang kalau tubuhku semakin seksi" kata Fara mulai memotong gading yang ada diatas piringnya, namun saat Fara akan menyuapkan daging itu, tiba-tiba saja perutnya mual hingga Fara berlari ke kamar mandi.


"Fara, Nyonya" kata Elea dan bibi Melly bersamaan lalu keduanya menyusul Fara yang sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya.


"Fara are you okay?" Elea membantu memijat tengkuk Fara, wanita itu terlihat berkeringat dan lemas seolah tenaganya terkuras habis.


"Aku rasa, aku tidak baik-baik saja" lirih Fara, kemudian Elea dan bibi Melly memapah Fara ke kamarnya.


"Minumlah" Elea memberikan segelas air putih pada Fara, lalu Fara menerima gelas itu dan meminum beberapa teguk.


"Aku akan menghubungi dokter Juli, Bibi tolong temani Fara" kata Elea keluar dari kamar Fara dan menghubungi dokter Juli.


🌼🌼🌼


Jhonatan turun dari mobil dan langsung berlari menemui Fara di kamarnya. Pria itu tadi mendapat telepon dari dokter Juli yang menanyakan keadaan istrinya karena Elea memintanya untuk datang ke Villa dan memeriksa Fara.


Kabar tersebut langsung membuat Jhonatan meninggalkan meeting pentingnya dengan Aldo Mahendra dan terpaksa di gantikan oleh Liam, untuk membahas kerja sama mereka.


Brakkkkkkkkkk....


pintu kamar itu di buka dengan kasar oleh Jhonatan yang terlihat khawatir.


"Fara" seru Jhonatan.


"Baby, ada apa denganmu?" tanya Jhonatan, Elea dan bibi Melly langsung keluar meninggalkan pasangan suami-istri itu.


"Entahlah" lirih Fara menutup matanya, tuba saja dia kesal melihat Jhonatan.


Elea kembali ke kamarnya untuk menyusui Davendra, sedangkan bibi Melly menunggu kedatangan dokter Juli. Hanya sekitar sepuluh menit menunggu, dokter Juli sudah datang di Villa itu, lalu bibi Melly mengantarkannya ke kamar sang majikan.

__ADS_1


"Apa yang kau rasakan?" tanya dokter Juli pada Fara.


"Tiba-tiba saja mual saat mencium bau menyengat, kepala pusing dan tubuhku jadi lemas" jelas Fara membuat dokter Juli tersenyum.


"Ada lagi yang lain?" tanya nya.


"Istriku sakit apa Juli? Apakah harus di bawa kerumah sakit?" tanya Jhonatan cemas.


"Tunggu dulu" dokter Juli meminta Jhonatan untuk diam.


"Apa yang membuatnya tidak nyaman?" tanya dokter Juli.


"Ini sedikit aneh dokter, tapi aku merasa kesal dan tidak ingin melihat pria itu" kata Fara.


"Pria?" beo Jhonatan, lalu menolah ke kanan kirinya.


"Baby, disini hanya ada satu pria. Dan itu adalah aku, suamimu. Tidak mungkin kan kalau kau kesal padaku? Aku sungguh tidak berbuat salah" cerocos Jhonatan, membuat dokter Juli yang geli.


"Ehemmm, kapan terakhir kali kau datang bulan?" tanya dokter Juli.


Deg....


Fara bahkan lupa kapan terakhir kali mendapatkan tamu bulanannya, yang jelas sebelum dirinya menikah dengan Jhonatan.


"Dokter, apakah mungkin?" tanya Fara, dia paham dengan pertanyaan dokter Juli.


"Kemungkinan positif nya pasti 99 persen" kata dokter Juli.


"Benarkah secepat itu?" Fara masih tidak percaya, jika dirinya benar-benar hamil.


"Bukankah Jhonatan menghajar mu setiap malam?" dokter Juli menaik turunkan kedua alisnya, dan Fara hanya diam karena itu benar adanya.


"Jadi sebenarnya istriku sakit apa? Kenapa kalian bicara menghajar dan positif?" tanya Jhonatan tak sabar.


"You're going to be Dad, so congrats" kata dokter Juli menyalami Jhonatan.


"Really?" tanya Jhonatan tak percaya.


"Not sure. Maka dari itu segera bawa istrimu ke rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan" jawab dokter Juli santai.


"Are you kidding me, Juli?" kesal Jhonatan.


"No" kata dokter Juli keluar dari kamar Jhonatan.


"Hey Baby, we will be parents?" kata Jhonatan berkaca-kaca.

__ADS_1


"Apakah kau bahagia?" tanya Fara.


"Pertanyaan macam apa itu? Of course I'm happy" Jhonatan memeluk Fara dan menciumi puncak kepala Fara.


"Bagaimana denganmu? Kau bahagia Baby?"


"Ya, aku bahagia. Karena aku tidak sendirian lagi" kata Fara.


🌼🌼🌼


"Sayang, kamu belum mau pulang?" Martin mendekati Elea yang duduk di atas ranjang.


"Om bisa pulang, jika mau pulang" kata Elea.


"Aku tidak akan pulang tanpamu dan Davendra. Katakan padaku, apa yang kamu inginkan? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau tinggal bersama ku?" Martin merasa sudah berada di jalan buntu.


"Kita sudah tinggal bersama" sahut Elea.


"Apakah kamu benar-benar tidak ingin memiliki istana sendiri? Hanya ada kamu, aku dan anak-anak kita jika memang kamu tidak mau kembali ke rumah Papa" bujuk Martin.


"Disini Fara lah ratunya, dan semua ini istana yang di bangun Jhonatan untuk Fara. Apakah kau tidak ingin menjadi ratu di istana mu sendiri sayang?" ujar Martin. Elea menatap Martin dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan.


"Apakah Om siap dengan segala resikonya jika hidup denganku? Jika saja Om memperlihatkan mu di khalayak umum, mungkin beberapa orang yang pernah jadi tamuku akan mencibir dan menghina Om, dan itu sangat berpengaruh pada pekerjaan Om. Aku tidak bis....."


"Aku tidak perduli dengan semua itu. Asalkan kau mau berdiri terus di samping ku, bersamaku menghadapi kerasnya dunia. Aku mencintaimu, memilikimu sudah lebih dari cukup" sela Martin.


"Mungkin ini terdengar lebay atau omong kosong, tapi percayalah. Aku hanya ingin hidup bersamamu, aku tidak akan membiarkanmu orang lain melukaimu, ataupun merendah mu lagi. Mungkin aku bukan pria yang peka, bukan pria yang romantis, tapi aku akan memberikan yang terbaik untuk mu. Aku berusaha untuk memperbaiki segalanya, mari kita mulai lembaran baru" Martin mengulurkan tangannya.


"Maukah kamu menemani pria tua ini? Menjadi pendamping dari pria tua ini menjalani hari-harinya? Menuntun pria tua ini jika dia salah jalan? Menjadi istriku hingga akhir hidupku?" Martin menatap Elea penuh harap, berharap Elea menyambut uluran tangannya.


Greppp....


Elea menggenggam tangan Martin dengan mata berkaca-kaca.


"Tolong jangan kecewakan aku, dan jangan tinggalkan aku di tengah jalan" lirih Elea, Martin langsung menarik tubuh Elea dam memeluk nya dengan erat.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2