Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Dengan menyeret sebuah koper kecil, Fara berjalan mengikuti Liam menuju sebuah mobil. Namun suara seperti pria menghentikan langkah Fara dan juga Liam.


"Fara..." seru pria itu yang tak lain adalah Martin.


"Om Martin" lirih Fara melihat ke arah Martin.


"Kau mau kemana?" tanya Martin melihat koper di tangan Fara.


"Fara mau kerja ke luar kota Om. Om Martin sendiri ngapain kesini? Elea apa kabar? Sudah beberapa hari ini Fara tidak bisa menghubungkan Elea, ponselku juga tak aktif" ucap Fara dengan nada sendu.


"Apa Elea tidak menghubungimu?"


"Tidak"


"Sebenarnya El.."


"Jika kau tidak jadi ikut, maka aku akan pergi sendiri Nona" sela Liam berjalan menuju mobilnya.


"Baiklah-baiklah Tuan pemaksa" sahut Fara kesal.


"Fara berangkat dulu ya Om, sampaikan salam pada Elea dan katakan padanya untuk segera menghubungi ku" ucap Fara berlari kecil mengejar Liam yang sudah berada di dalam mobil.


"Itu artinya Fara juga tidak tahu keberadaan Elea" gumam Martin menatap sedan hitam yang mulai menjauh.


"Kamu dimana sayang? Istriku" ucap Martin putus asa mencari keberadaan Elea.


Martin tidak pernah bertanya makanan kesukaan Elea, Martin juga tidak bertanya tempat favorit Elea, warna kesukaan Elea, hobi Elea, secara tidak langsung Martin tidak tahu apapun tentang Elea dan semua itu semakin membuatnya frustasi dan merasa gagal menjadi suami.


🌼🌼🌼


Sudah beberapa hari ini Risha tidak datang ke kampus, gadis itu hanya mengurung diri di kamar atau pergi mengendarai mobil nya tanpa arah. Ya begitulah keadaan Risha sejak Elea meninggalkan rumah itu, apalagi setelah mendengar penjelasan dari Martin, membuat dirinya semakin dirundung rasa penyesalan dan bersalah yang teramat sangat. Dan jangan lupakan tentang asal usul dirinya yang baru saja Risha ketahui.


Risha tidak pernya menyangka jika dirinya adalah anak yang di hasilkan dari hubungan yang tidak sah, lebih tepatnya anak yang kehadirannya tidak di inginkan, dirinya adalah bukti nyata sebuah kesalahan yang di lakukan oleh Papi dan Maminya dikala usia muda. Beruntung nya Martin mau bertanggungjawab jawab dan mengakui Risha sebagai putri, jika tidak? Entah bagaimana nasib Risha sekarang.


Menurut pendapat Risha, Maminya bukanlah wanita yang baik karena bersedia tidur dengan pria bukan suaminya dan menghasilkan dirinya di dunia ini. Bukankah itu sama saja dengan wanita murahan? Lebih rendah dari pada wanita bayaran karena melakukan hubungan badan dengan gratis, atas dasar suka sama suka. Apapun alasannya kenyataan itu sangat sulit di terima oleh Risha, ada rasa kecewa pada wanita yang telah melahirkannya, namun Risha tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bahkan Mamiku sendiri lebih buruk dari pada Mami Elea" ujar Risha menurut wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Malu, sedih, marah perasaan itu menyelimuti hatinya. Jika saja ia bisa memutar waktu, Risha tidak akan bersikap gegabah. Kepergian Elea dari rumah itu membawa separuh hati Risha, memang belum lama kebersamaan keduanya. Namun rasa nyaman dan bahagia saat Risha bersama Elea, itu lebih berarti dari pada sebuah waktu.


"Kembalilah Mih, Risha sangat berdosa pada Mami" lirihnya mengharapkan Elea kembali kerumah dan bisa menjalani kehidupan seperti dulu.


Papa Adnan berdiri diteraa kamar dengan bertumpu di pagar, ia baru saja mendapat laporan dari anak buahnya jika menantunya tidak di temukan dimanapun. Menantunya hilang bagai ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak, membuat kepalanya sakit memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Elea.


"Pah" suara lembut yang menemani hidupnya selama lebih dari empat puluh tahun itu memanggilnya.


"Ayo makan siang dulu, ini sudah hampir pukul dua tapi Papa belum makan siang" ajaknya lembut. Tanpa bersuara, pria itu berlalu menuju ruang makan tanpa menghiraukan istrinya.


"Semua orang tidak ada yang mau bicara padaku" gumam Mama Asri manatap sendu punggung gagah suaminya, lalu segera menyusulnya.


Dimeja makan terlihat Papa Adnan memaksakan diri untuk makan, semua ia lakukan demi kesehatannya. Pria itu tidak mau jatuh sakit disaat-saat seperti ini, seluruh anggaran keluarga tengah rapuh dan membutuhkan sosok dirinya yang harus tetap berdiri tegap sebagai pemimpin, apa jadinya jika malah ia jatuh sakit?.


Semua makanan itu terasa hambar di mulutnya, padahal semua hidangan yang tersaji diatas meja adalah makanan favoritnya, karena sang istri mengintruksikan pada mbok Minah untuk memasak makanan kesukaan suaminya, bahkan beberapa lauk di masak sendiri oleh Mama Asri. Namun entah kemana perginya rasa lezat itu.


"Pah, makanan Papa belum habis" ucap Mama Asri yang baru saja mendudukkan dirinya didekat sang suami.


"Papa sudah kenyang" ucap pria itu langsung kembali ke kamarnya.


"Padahal Mama ingin menemani Papa makan" gumam Mama Asri melihat pintu kamarnya tertutup. Wanita itu bingung harus berbuat apa untuk membantu menemukan Elea, jika sang suami yang memiliki banyak anak buah dan berwawasan luas tidak bisa menemukan Elea, apalagi dirinya yang hanya seorang wanita tua?.


🌼🌼🌼


"Apakah masih jauh?" Elea merasa pinggang nya sudah pegal dan ingin segera istirahat.


"Tidak" kata Jhonatan tanpa mengalihkan pandangannya.


"Ada siapa saja di rumahmu?" Elea merasa bosan berdiam diri.


"Itu rumahku, tentu saja hanya ada aku"


"Apakah nanti kita akan tinggal berdua saja?" tanya Elea menggigit bibirnya kalau-kalau Jhonatan bilang 'iya'.


"Kau takut?" pria itu menyeringai.


"Ya"

__ADS_1


"Ingat ini baik-baik Nona. Aku tidak pernah menyakiti wanita, aku tidak pernah memaksa wanita, dan aku juga tidak akan pernah macam-macam pada istri pria lain. Jadi tidak ada yang perlu kau takutkan jika tinggal bersamaku"


"Benarkah?" kata Elea tidak percaya.


"Kau tidak percaya?"


"Tentu saja. Kau adalah pemilik sebuah Bar, dimana disana banyak wanita yang menjajakan tubuhnya, tidak mungkin jika kau hanya memandangi tubuh mereka bukan, itu sangat tidak masuk akal kecuali kalau..." Elea tidak jadi meneruskan kalimatnya.


"Kalau?" ulang Jhonatan.


"Tidak, lupakan saja" Elea memandang ke arah luar jendela.


"Katakan atau kita akan tetap berada disini!" pria itu menghentikan mobilnya, sialnya jalanan itu terlihat sangat sepi, dang mungkin mobil Jhonatan hanya satu-satunya.


"Ckk" decak Elea melirik pria di sampingnya.


"Kecuali kalau...em....kalau kau tidak suka pada wanita" ceplos Elea memejamkan matanya.


"Maksudnya aku gay? Begitu?" ucap Jhonatan tak menyangka jika Elea akan berpikir sejauh itu.


"Aku tidak tahu" sahut Elea acuh.


"Dengar dan ingat ini Nona. Aku adalah pria tulen dan sangat normal, jadi jangan coba-coba berpikiran yang macam-macam tentang ku!" tegas Jhonatan merasa kesal akan tuduhan Elea.


"Maaf" cicit Elea merasa bersalah.


"Aku mengatakan jika aku tidak pernah memaksa wanita karena merekalah yang datang padaku. Para wanita itu yang dengan suka rela menyerahkan diri padaku, jadi aku tidak perlu memaksa mereka agar mau menghangatkan ranjang ku dan bercinta denganku" jelas Jhonatan dengan sombongnya membuat Elea mencebikkan bibirnya.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼

__ADS_1


TBC 🌺


__ADS_2