Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Sebuah Penyesalan


__ADS_3

Martin membuka pintu kamar Risha untuk melihat gadis itu, putrinya itu terlihat tidur meringkuk di sisi kanan ranjang dengan memeluk sesuatu yang belum di ketahui oleh Martin.


Pria itu mendudukkan diri didekat tubuh Risha yang tertidur, tangannya terulur membelai surai panjang Risha yang menutupi wajahnya. Terlihat wajah cantik itu sembab dan matanya basah, tentu saja jejak tangis Risha masih terlihat karena belum lama gadis itu tertidur.


Risha membuka matanya saat tangan Martin membenarkan anak rambutnya agar wajah cantik itu terlihat oleh Martin.


"Papi" lirih Risha menatap sendu tubuh gagah itu.


"Maaf jika Papi membangunkan tidur mu" kata Martin, gadis itu masih terpaku menatap Martin, ia tidak tahu harus bagaimana.


"Kenapa kamu menangis? Ada masalah?" tanyanya Martin penuh perhatian.


Risha yang di tanya seperti itu langsung bangun dari tidurnya dan memeluk erat tubuh Martin. Tangisnya kembali pecah dengan rasa bersalah yang membuncah di dadanya.


"Hiks....hiks.... Papi...huhu...huhu....." suara tangis Risha terdengar sangat pilu.


"Kenapa menangis begitu hemm? Apakah ada seseorang yang menyakiti mu?" Martin membalasnya pelukan Risha dan mengusap-usap punggung gadis itu yang bergetar.


"Risha minta maaf hiks....hiks...Risha yang salah huhuhu...huhu....semuanya salah Risha huhu...huhu..." ucap Risha di sela tangisnya, tangan gadis itu semakin kuat memeluk tubuh Martin seolah mencari kekuatan.


"Ya Papi memaafkan mu" sahut Martin tanpa tahu apa alasan Risha meminta maaf.


"Papi sungguh memaafkan mu?" gadis itu mengurai pelukannya, dan menatap heran pada Martin.


"Tentu saja" kata Martin tersenyum dan menghapus air mata Risha yang ada di pipinya.


"Tapi Papi belum tahu kesalahan ku"


"Jika begitu katakan apa salahmu, kamu sudah selesai menangisnya?" tanya Martin, ia selalu membiarkan Risha menangis dan meluapkan emosinya terlebih dahulu. Martin tidak pernah melarang Risha menangis atau menghentikan tangisan gadis itu, Martin paham jika dengan membiarkan Risha menangis, akan membuat perasaan gadis itu lebih lega, dan baru di ajak bicara setelah putrinya lebih tenang.


Risha kini menundukkan kepalanya bingung harus mulai dari mana ia menceritakan kesalahan dan kecerobohannya, sedangkan Martin hanya diam menunggu sang putri berbicara.

__ADS_1


"Jika belum siap untuk bicara, tidak apa-apa. Kamu lanjutkan tidurmu, ini sudah malam" ujar Martin melihat jarum jam sudah lewat jam dua belas malam.


"Papi" Risha menahan tangan Martin saat pria itu hendak beranjak dari tempat tidur nya.


"Papi tidak akan memaksamu sayang, kamu bisa cerita jika merasa sudah siap" kata Martin.


"Risha sudah siap Pih" ucap Risha, ia harus bicara sekarang juga atau keberanian itu tidak akan datang sama sekali, dan juga agar hatinya lebih tenang meskipun rasa bersalah dan penyesalan masih bergelanyut di dadanya.


"Baiklah, Papi akan mendengarkan" ucap Martin kembali duduk di tepi ranjang Risha.


Risha mengangkat nafas dalam-dalam dan mulai menceritakan pertengkarannya dengan Elea, Risha juga menceritakan apa yang pernah ia katakan pada sang Nenek hingga membuat ibu kandung Martin itu murka dan mengusir menantunya di tengah malam.


Gadis itu turun dari tempat tidurnya dan bersimpuh di kaki Martin, dengan berurai airmata Risha memeluk kaki Martin meminta maaf penuh penyesalan atas apa yang ia lakukan.


"Risha bersalah huhu...Risha minta maaf Papi hiks...hiks.... Risha sangat menyesal, papi boleh menghukum Risha, tapi tolong jangan diamkan Risha hiks...hiks...." pinta gadis itu menatap Martin penuh penyesalan.


"Papi...hiks...hiks...maafkan Risha huhu... huhuhu...." Risha menangis tergugu karena Martin hanya diam.


Pria itu menarik lengan Risha dengan lembut, agar gadis itu bangun dan duduk di depannya lalu menyela airmata Risha, menatap gadis itu dengan lembut lalu menariknya tubuh Risha dalam pelukannya.


Martin tidak bisa menyalahkan Risha atau marah pada Risha, sebab secara tidak langsung keputusan nya untuk tidak menceritakan tentang masa lalu Elea membuat segalanya menjadi rumit dan salah paham seperti ini.


"Papi tidak tahu jika klien terakhir yang menggunakan jasa Elea adalah Tommy" ucap Martin menerawang jauh dimana saat ia bertemu dengan Elea untuk kedua kalinya.


"Papi tahu semua tentang Elea, dia menceritakan semua tentang dirinya pada Papi. Keputusan Papi menikahi nya juga murni pilihan Papi, dan saat Elea resmi menjadi istri Papi, Papi menerimanya dengan segenap hati dan jiwa raga. Baik kekurangan dan kelebihan nya, dan untuk masa lalu Elea, Papi menyimpannya untuk diri Papi sendiri. Karena menurut itu sebuah aib, dan Papi sudah menerima Elea sebagai istri, maka sudah menjadi kewajiban Papi untuk menutup rapat sesuatu yang tidak pantas" Martin masih tetap mendekap tubuh Risha yang sesenggukan.


"Benar, jika pekerjaan yang Elea lakukan bukanlah pekerjaan yang baik. Tapi bukan berarti dia wanita yang tidak baik, karena Elea sangat menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak pantas. Kamu mengerti maka Papi?" Risha hanya mengangguk dalam pelukan Martin.


"Papi hanya ingin menjaga nama baik istri Papi agar tidak ada yang menghina dan merendahkannya, tapi sepertinya keputusan Papi salah sehingga istri Papi meninggal rumah ini"


"Maafkan Risha Pih" sela Risha.

__ADS_1


"Berdoalah agar istri Papi cepat ditemukan, dan istirahat lah karena ini sudah sangat malam"


Cup.....


Martin mengecewakan kening Risha lalu meninggalkan gadis itu, tanpa mengatakan sudah memaafkan Risha atau tidak.


Risha menatap tubuh Martin yang menghilang di balik pintu, Papi nya itu tidak mengatakan apapun tentang kata maafnya. Ia merasa jika Papi nya tidak memaafkan nya karena telah membuat istrinya pergi dari rumah.


"Maafkan Risha Pih" ucap Risha dalam hati hingga membuat si matanya jatuh kembali.


🌼🌼🌼


Didalam sebuah kamar yang besar, seorang wanita yang sudah memiliki beberapa kerutan di bagian wajahnya tampak termenung. Asri Lestari nama panjangnya, ia sudah empat puluh tahun lebih hidup sebagai istri Adnan Hariz, namun sayangnya ia hanya bisa melahirkan seorang putra yaitu Martin Hariz.


Sebagai seorang ibu, tentu saja asri ingin yang terbaik untuk putra semata wayangnya, termasuk tentang istri. Namun kasih sayangnya yang seperti itu malah membuat hati putranya hancur karena harus kehilangan wanita yang berhasil bertahta dalam hati Martin. Asri tidak menyangka jika keputusan nya mengusir sang menantu merupakan sebuah kesalahan yang fatal.


Melihat dari cara bicara dan meledaknya emosi Martin, kini ia tahu jika Martin benar-benar mencintai Elea. Sekarang suka tak suka, mau tak mau asri harus menerima Elea sebagai istri Martin jika ingin melihat putranya itu hidup bahagia, asri tidak sanggup jika harus menyaksikan Martin yang hancur seperti tadi.


"Maafkan Mama nak" ucap Mama Asri dalam hati. Menyesal? Tentu saja penyesalan itu mulai mendera hatinya, namun apa yang bisa ia lakukan sekarang? Ia hanya bisa berdoa agar suaminya segera menemukan sang menantu, dan menantunya berbesar hati memaafkan kesalahannya yang sangat fatal karena meragukan cucu kandungnya sendiri, bukankah itu sangat kejam?.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2