
Setelah selesai makan malam, Martin kembali ke kamar untuk melihat Elea sudah bangun atau belum. Martin khawatir juga karena wanita hamil itu belum makan malam, dan tadi siang ia tak tahu pasti Elea makan apa, tentu saja semakin membuat pria itu khawatir.
Klek.....
Martin membuka pintu kamarnya dan melihat Elea sudah bangun duduk bersandar headboard ranjang, membuat Martin sedikit lega.
"Kamu sudah bangun? mau makan? kamu menginginkan sesuatu?" tanya Martin beruntun.
"Om, aku...." Elea ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Apa yang kamu inginkan? katakan" ucap Martin lembut, mengusap kepala Elea.
Greppp.....
Tiba-tiba saja Elea memeluk pinggang Martin dengan erat, seolah sudah lama tidak memeluk tubuh itu.
"Ada apa?" Martin bingung, namun mencoba tenang sampai istrinya itu mau bercerita.
"Aku sangat merindukan Om" lirih Elea membuat seulas senyum terbit di bibir Martin.
"Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Martin, tidak biasanya Elea bersikeras seperti ini, Martin berpikir jika ada sesuatu yang diinginkan oleh Elea.
"Aku tidak menginginkan apapun"
"Baiklah kalau begitu, ayo kita turun. Kamu belum makan malam, kasihan calon anakku pasti kelaparan" ajak Martin mengurai pelukan Elea dan menarik tangan istrinya itu keluar kamar.
"Apa ada makanan yang kamu inginkan?" tanya Martin menuruni anak tangga.
"Nasi goreng seafood"
"Baiklah, aku akan panggilkan mbok Minah" ucap Martin.
__ADS_1
"Om" cegah Elea membuat Martin menoleh kearahnya penuh tanya.
"Aku ingin makan nasi goreng seafood buatan Om" cicit Elea menundukkan kepalanya.
"What....?" Martin terkejut dengan permintaan Elea, memasak nasi goreng? yang benar saja, bahkan Martin tidak bisa meski hanya memasak mie instan, apalagi nasi goreng?.
"El, bukannya aku tidak mau. Tapi masalahnya aku ini tidak bisa memasak" jujur Martin, jika dipaksakan untuk memasak, Martin takut Elea keracunan masakannya, makin repot urusannya.
"Minta di buatkan mbok Minah saja ya, karena aku benar-benar tidak bisa memasak" bujuk Martin.
"Ya sudah kalau begitu, tidak usah saja. Aku tidak jadi lapar" ucap Elea dengan wajah kecewa.
"El jangan begitu, kamu belum makan malam. Apa kamu tidak kasihan dengan bayi yang ada di perutmu?" ujar Martin mengingatkan Elea jika ada kehidupan dalam tubuhnya.
"Aku akan minum susu saja" Elea melenggang ke dapur untuk membuat segelas susu coklat.
"Ckk...." decak Martin kesal karena sifat kekanak-kanakan istrinya kini muncul lagi, tapi memaksakan diri untuk memasak juga bukan pilihan yang tepat.
"Bagaimana jika kita beli nasi goreng seafood di luar?" bujuk Martin, biar bagaimanapun segelas susu tidak cukup untuk anak dan istrinya bukan? Elea harus tetap makan nasi, karena belum tentu juga tadi siang wanita hamil itu makan nasi.
"El, ayolah jangan seperti ini. Kamu bukan anak kecil lagi, ada calon anak kita yang butuh makanan, kamu tidak boleh egois, dan berhenti bersikap kekanak-kanakan" ucap Martin penuh penekanan, membuat hati Elea tercubit menatap nanar suaminya.
"Maaf, jika selama ini om terbebani dengan sikap kekanak-kanakan ku, dan maaf jika aku menjadi istri yang egois" sahut Elea menahan perih dalam hatinya. Perasaan wanita hamil itu sedang sangat sensitif, dan mendapatkan kata-kata mutiara dari sang suami, bagaikan luka yang tersiram perasan jeruk nipis.
"El, aku tidak bermaksud seper..."
"Aku tahu maksud Om, jangan khawatir. Akan ku pastikan anak Om ini tidak kelaparan" sergah Elea meminum Susu dan pergi meninggalkan Martin di dapur.
🌼🌼🌼
Karena baru bangun dari tidurnya, tidak mungkin Elea masuk ke kamar dan tidur lagi, matanya masih sangat cerah dan tidak mengantuk sama sekali. Elea memilih duduk di gazebo taman belakang menghirup udara malam yang dingin.
__ADS_1
Wanita hamil itu tersenyum kecut dengan tangan mengelus-elus perut buncitnya, banyak pikiran berkecamuk dalam otaknya, ia berharap bisa bersandar pada Martin, namun sepertinya tidak mungkin.
"Anakku" ucap Elea mengulang kata-kata Martin yang sering menyebut anak dalam rahim Elea adalah anaknya, Martin jarang mengatakan jika janin itu adalah anak kita, selalu anakku dan anakku.
"Sepertinya aku tidak berarti apapun dalam hidup Om Martin" lirih Elea pikiran nya menerawang jauh.
"Memangnya aku ini siapa?" ucap Elea, menyadarkan dirinya sendiri jika ia bukanlah siapa-siapa, hanya wanita yang tidak sengaja dinikahi Martin Hariz seorang duda kaya raya yang memiliki perusahaan terkenal hingga manca negara.
"Ibu" lirih Elea, ia sungguh merindukan sosok Ibu, ia ingin tahu seperti apakah wanita yang melahirkannya itu, dimana wanita itu? setidak berharga itukah dirinya? jika memang seperti itu, kenapa ada rasa rindu yang teramat besar dalam hati Elea untuk wanita yang tidak ia ketahui rupa dan namanya?.
"Aku hanya ingin punya tempat untuk bersandar, dan rumah untuk pulang" gumam Elea mengenangkan nasibnya, dipaksa kuat oleh keadaan, dipaksa dewasa oleh nasib, dan dipaksa berani oleh kehidupan, namun ada kalanya jiwa lemah dan rapuhnya butuh sandaran yang bisa melindungi dan memberikan rasa aman. Ia ingin memiliki tempat yang bisa ia sebut sebagai rumah, untuk menjadi tujuannya jika lelah dengan beratnya kehidupan, rumah yang pintunya selalu terbuka dan menerima dirinya tanpa tapi. Sekuat dan setegar apapun Elea menjalani kehidupan, ia tetaplah wanita yang yang butuh di manja dan di lindungi.
Martin melihat Elea dari kejauhan, wanita hamil itu nampak memandang gelapnya langit, seolah di sana ada bertaburan bintang-bintang. Padahal yang ada hanya awan gelap dan kilatan petir menandakan akan segera turun hujan, sesekali Martin melihat Elea mengusap pipinya, sepertinya istrinya itu sedang menangis.
"Hufffff" Martin menghela nafasnya. "Apa aku sudah sangat keterlaluan?" gumam Martin, melihat reaksi Elea setelah ia mengucapkan kata-kata mutiaranya.
Tidak ingin menambah masalah, Martin menghampiri Elea di taman belakang. Ia bermaksud mengajak istrinya itu masuk, tidak mungkin kan jika Martin tinggal tidur sementara Elea masih dalam mode ngambek? meskipun Martin tidak peka, tapi Martin bukanlah pria yang tega membiarkan istrinya sendirian di luar.
"El, ayo masuk. Ini sudah malam, sebentar lagi turun hujan" ajak Martin mendekati Elea.
Tanpa suara, tanpa melihat Martin. Wanita hamil itu bangun dari duduknya dan langsung masuk kedalam rumah, membuat Martin kembali menghela nafas berat. Tapi ia bersyukur karena Elea menurut apa katanya.
Setibanya di kamar, Elea langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Perasaannya sedikit lega karena sudah menangis, dan perutnya memang sedikit lapar, tapi masih bisa Elea tahan sampai besok pagi. Wanita itu sangat berharap jika sang buah hati bisa di ajak bekerja sama untuk berpuasa dulu malam ini, Elea janji besok ia akan memberikan banyak makanan untuk si buah hati.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺