Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)

Jerat Cinta Duren Ansa (Duda Keren Anak Satu)
Kesepakatan


__ADS_3

Setelah cukup lama Jhonatan mengamati Fara dari kejauhan, akhir pria itu memutuskan untuk menemui Fara. Gadis itu akan berada di Villa nya mulai hari ini, tidak mungkin jika Jhonatan terus-terusan melihatnya dari kejauhan kan?.


Bibi Melly menyadari kedatangan Jhonatan, lalu pria itu mengisyaratkan agar bibi Melly diam dan pergi dari dapur karena Fara sedang sibuk berduet dengan wajan dan spatula diatas kompor.


"Bibi tahu, sebenarnya aku tidak terlalu pandai memasak, tapi mulai hari ini aku akan lebih giat belajar memasak bersama bibi. Bibi tidak keberatan kan?" Fara mengira jika Bibi Melly masih berada di belakangnya.


"Bibi tidak menjawabku, bibi tidak mau mengajariku?" ucap Fara membuat Jhonatan tersenyum.


"Bibi kenapa diam saj....." gadis itu membalikkan tubuhnya dan melihat sosok tampan dengan gaya cool memasukkan kedua tangannya di saku celana.


"Kau?" Fara mengacungkan spatulnya dan melototi ke arah Jhonatan.


"Apa yang kau lakukan disini? bagaimana caranya kau bisa masuk?" seru Fara pada Jhonatan.


"Apakah sebagai pemilik Villa ini aku harus menjawab pertanyaan mu Nona?" jawab Jhonatan santai.


"Apa? Kau? Pemilik Villa ini?" keterkejutan Fara semakin bertambah.


"Ya, ada masalah?" Jhonatan membuka kulkas yang ada di sampingnya dan mengambil air dingin.


"Tapi Liam..."


"Dia orang kepercayaan ku" sergah Jhonatan.


"Kau sengaja membawaku kemari? Apa mau mu? bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?" kesal Fara merasa di jebak.


"Kau terlalu buruk menilaiku Nona" Jhonatan membuka botol minum nya dan menenggak minuman itu beberapa kali.


"Karena kau memang....." Fara menghentikan kalimatnya saat hidungnya mencium aroma tak sedap.


"Bau apa ini?" gadis itu mengendus-endus sekitar dan ketika membalikan tubuhnya, Fara mendapati jika wajan di atas kompor itu di penuhi asap, penyebab bau yang ia hirup.


"Astaga!" seru Fara langsung mematikan kompor nya.


Uhukkkk....uhukkkk...uhukkk....,


Gadis itu terbatuk-batuk dan mengibas-ngibaskan tangannya mengusir asap.


"Apakah kau sengaja ingin membakar Villa ku" ucap Jhonatan.


"Ckk...aku tidak sengaja melakukannya Tuan, lagi pula ini semua juga karena mu" sangkal Fara.


"Kau terlalu mengada-ada, kau ingin membalas dendam padaku?"


"Aku tidak punya urusan denganmu, untuk apa aku membalas dendam padamu?"


"Mungkin saja karena uang it...." kata-kata Jhonatan menggantung di udara karena sebuah suara.


"Fara, kau kah itu?" ucap seorang yang tak lain adalah Elea.


"El....kamu" Fara menatap bingung namun segera menghampiri Elea.


"El, kenapa kamu ada disini?" Fara meraih kedua tangan Elea.


Wanita hamil itu terus memandang Fara dengan mata berkaca-kaca, lalu memeluk Fara. Jhonatan yang melihat adegan itu langsung pergi meninggalkan dua sahabat itu dengan diam.


"Hei ada apa? Katakan padaku, kenapa kamu menangis?" Fara menepuk-nepuk halus punggung Elea yang bergetar.

__ADS_1


"Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini" lirih Elea di sela tangisnya.


"Aku juga tidak percaya bertemu denganmu disini, padahal tadi aku bertemu dengan Om Martin dan menitipkan salam untukmu sebelum berangkat kesini" ucap Fara membuat Elea melepaskan pelukan nya.


"Kau bertemu dengan Om Martin?" Fara mengangguk.


"Kemarin malam Om Martin juga datang kerumah mencari mu. Memangnya kamu kemana hingga Om Martin mencari mu?" Elea hanya menunduk dan kembali menangis.


"Fara, aku...." suara Elea tercekat.


"Ada apa El? Apa yang terjadi?" tanya Fara dengan perhatian.


"Mereka mengusirku hiks....hiks.....mereka mengira jika aku wanita murahan, mereka mengatakan jika aku wanita malam, ****** yang menja...." Fara langsung memeluk Elea dengan erat, mata gadis itu berkaca-kaca mendengar cerita sahabatnya.


Fara tak menyangka jika apa yang mereka lakukan di masa lalu begitu mempengaruhi kehidupan sahabatnya. Padahal dulu Fara selalu memastikan jika klien yang mereka terima tidak melakukan hal yang tidak pantas. Batas yang ia tentukan hanya peluk cium, itupun tidak semua klien melakukannya.


Dari jarak yang cukup aman, Jhonatan dan juga Liam memperhatikan dan mendengarkan percakapan dua sahabat itu. Mereka juga belum tahu apa penyebab wanita hamil itu berada di tengah jalan saat malam, mereka hanya menduga jika sesuatu pasti terjadi pada Elea, tapi mereka tidak tahu penyebab pastinya.


"Sepertinya keputusan mu menolongnya adalah kepuasan yang tepat" ucap Jhonatan pada Liam.


"I'm a good boy, dude" ucap Liam bangga.


"Aku salah bicara" kata Jhonatan memilih pergi dan meninggalkan Liam dengan sejuta kesombongannya.


Jhonatan menghentikan langkahnya "Panggil Juli datang kemari" ucap Jhonatan lalu melanjutkan langkahnya.


🌼🌼🌼


Elea dan Fara berada di kamar, Fara mendengar cerita sedih Elea dan sesekali memeluknya sebagai penguat. Fara pikir jika sang sahabat sudah bahagia dengan keluarga barunya, namun malah menambah deretan kisah sedih dalam hidup Elea.


"Malam itu Liam menemukan ku pingsan ditengah jalan saat hujan deras, lalu dia membawa ku kerumah sakit" jelas Elea menghapus air matanya.


"Kenapa kau tidak menghubungi ku? Kenapa tidak datang kerumah?" cerca Fara.


"Aku tidak membawa apapun saat keluar dari rumah itu. Uang, ponsel bahkan kartu identitas ku" lirih Elea.


"Aku tidak menyangkut jika mereka sekejam itu padamu El, padahal kamu sedang mengandung keturunan mereka"


"Mereka menolaknya Far" kata Elea, tangisnya kembali pecah.


"Menolak? Menolak apa?" bingung Fara.


"Anakku, mereka menolaknya" ucap Elea dengan perasaan hancur.


"Apa! Bagaimana bisa?" seru Fara.


"Hiks....hiks....mereka bilang kalau anak ini milik orang lain, mereka pikir jika anak ini adalah milik tamu-tamu ku saat itu huuhuhuuuu....." Elea menangis tersedu.


"Mereka pasti sudah gila" Fara memeluk Elea.


"Ssttttt....." desis Elea, tangisnya berhenti.


"Ada apa?" tanya Fara.


"Sa...sakit, perutku kram" ucap Elea menahankan rasa sakit yang lumayan.


"Apa? Bagaimana ini?" bingung Fara melihat Elea menahan sakit.

__ADS_1


"Dokter, dokter tunggu aku akan memanggilmu dokter" Fara berlari keluar kamar Elea memanggil dokter.


"Sial, bagaimana aku bisa lupa jika Villa ini berada di tengah hutan dan jauh dari rumah sakit? Bagaimana ini?" gumam Fara, lalu dia melihat Jhonatan berada di ruang tengah.


"Hei Tuan, bisakah kau membantuku?"


"Tolong bantu aku, aku mohon" Fara berlutut pada Jhonatan.


"Apa yang kau inginkan?"


"Elea, dia kesakitan. Tolong bawa dia ke dokter, aku mohon" ucap Fara memelas.


"Jika aku melakukan itu, apa yang akan ku dapatkan?"


"Kau benar-benar pria yang buruk, bahkan dalam kondisi seperti ini kau masih meminta imbalan?" Fara berdiri dan berkacak pinggang.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini Nona" ucap Jhonatan cuek.


"Ckk..."decak Fara.


"Baiklah, apa yang kau inginkan? Tapi aku tidak bisa memberikan mu uang" jujur Fara.


"Aku tidak butuh uangmu Nona, karena uangku sudah sangat banyak"


"Sombong sekali" cibir Fara.


"Lalu apa yang kau inginkan?" kesal Fara.


"Jadilah kekasihku, jadilah partner ranjangku" ucap Jhonatan tersebut penuh kemenangan.


"APA KAU SUDAH GILA?" teriak Fara membulatkan matanya.


"Tidak, aku waras dan sangat teramat normal" jawab Jhonatan, membuat Fara tidak bisa berkata-kata.


"Tidak, aku tidak mau!" tegas Fara.


"Jarak dari Villa ini kerumah sakit terdekat adalah 90 menit, dan selain kendaraan ku, tidak akan ada kendaraan lainya. Sekedar informasi saja, semoga kau bisa berpikir dan mengambil keputusan yang tepat" Fara semakin kebingungan, lalu ia tersebut seolah menemukan jalan keluar.


"Aku tidak akan menjadi kekasihmu, apalagi tidur denganmu, kecuali...."


"Katakan"


"Kecuali kau mau menikahi ku dan menjadikan ku sebagai istrimu" ucap Fara, ia yakin jika Jhonatan tidak akan mau menikahinya.


"Oke, aku setuju. Kita akan menikah nanti malam, persiapkan dirimu sayang" ucap Jhonatan membuat Fara tercengang tidak percaya.


🌼


🌼


🌼


🌼


🌼


TBC 🌺

__ADS_1


__ADS_2