
Martin masih mengungkung tubuh mungil Elea dan menikmati setiap lekuk dan inci kulit mulus istrinya. Rindu, tentu saja Martin merindukan adegan panas yang menguras tenaga namun tidak membuatnya lelah, dan bagaimana mana caranya melakukan sesuatu yang menguras tenaga tapi tidak membuat tubuh lelah? Malah membuat tubuh terasa ringan dan semakin bertenaga.
"Agrhhhh....aku mencintaimu sayang" desah Martin di ujung pelepasan nya yang kesekian kalinya.
Cup....cup....cup....
Pria itu tak bosan-bosan menciumi wajah cantik Elea meskipun sudah melakukannya berulang kali.
"Mas" lirih Elea menyadari sesuatu, Martin berguling kesamping Elea dan memeluk tubuh istrinya.
"Hemmm" jawab Martin, nafasnya masih memburu karena kegiatan panas yang baru saja ia lakukan.
"Mas mengeluarkan nya didalam?" tanya Elea.
"Ya, ada masalah?" tanya Martin.
"Mas, aku belum menggunakan kontrasepsi dalam bentuk apapun, bagaimana kalau aku hamil lagi?" kata Elea panik.
"Sayang, kamu hamil ada aku suamimu. Lalu apa yang kamu khawatirkan?" kata Martin santai.
"Ishhh..." geram Elea mencubit dada bidang Martin.
"Sayang ahhh....kenapa di cubit?" protes Martin manja.
"Mas kan tahu kalau Dave masih bayi, bahkan usianya belum genap dua bulan" kata Elea frustasi.
"Memangnya kenapa?" Martin masih tetap mode santai.
"Aku ingin mengasuh dan mencurahkan kasih sayang ku pada Dave, Mas. Aku belum ingin membaginya dengan yang lain, bagaimana kalau aku hamil? Lalu aku tidak bisa menyusui Dave lagi? Hiks...." Elea sudah menangis karena over thinking.
"Sayang, kalau memang kamu hamil lagi, berarti Tuhan tahu kamu mampu menjadi seorang ibu yang adil, kamu bisa membagi kasih sayang mu dengan anak-anak kita. Jangan takut, apalagi sedih, karena aku akan selalu di sampingmu, oke" Martin memeluk istrinya.
"Tapi aku tetap takut jika tidak bisa adil" lirih Elea.
"Aku yakin kalau kamu pasti bisa, lagi pula hanya malam ini saja kan? Besok-besok aku akan pakai pengaman jika melakukannya" janji Martin.
"Tapi tetap saja, Mas sih terlalu buru-buru jadi lupa sama pengaman nya" ujar Elea.
"Mau bagaimana lagi sayang, Mas terlalu merindukanmu. Hampir empat bulan kita tidak melakukannya" Martin semakin erat memeluk tubuh polos Elea, dan jangan lupa jika jari-jari nakal Martin sudah mulai menjelajah bukit padat Elea.
"Emmhhh... Mas sssssttt" desis Elea.
"Hentikan enghhhhh...." Martin semakin berani.
"Sekali lagi sayang" bisik Martin menyapu daun telinga Elea.
__ADS_1
"Nooo...hhh, besok lagi" tolak Elea menghentikan tangan nakal suaminya.
"Sayang, ayolah" rengek Martin.
"Tidak, kita sudah melakukannya sejak dua jam yang lalu, dan entah sudah berapa kali Mas mengeluarkan nya didalam" Elea bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi dengan melilitkan selimut tebal.
Martin menyeringai melihat pintu kamar mandi tidak di kunci oleh Elea, pria yang pikiran dan senjata nya masih on fire itu langsung menyusul Elea ke kamar mandi.
"Mas, no ahhh..." suara Elea terdengar nyaring dalam kamar mandi.
🌼🌼🌼
Risha bersama dengan Tommy di sebuah Kafe, Tommy menjemput Risha di kampus nya untuk makan siang bersama, aktivitas yang hampir satu bulan ini rutin mereka lakukan.
"Kamu masih marah sama Citra?" tanya Tommy menatap Risha.
"Aku tidak marah sama Citra, Bang" sahut Risha.
"Tidak marah, tapi kamu menjauhinya" kata Tommy, Risha menatap pria itu.
"Aku hanya menghukum diriku sendiri" Risha menundukkan kepalanya.
"Semua orang pernah melakukan kesalahan, dan berhentilah menyalahkan dan menghukum dirimu sendiri. Bukankah Om Martin sudah hidup bahagia dengan Elea?" ujar Tommy.
"Aku tahu itu, tapi entahlah. Sepertinya aku belum bisa memaafkan diriku sendiri" gadis itu masih dirundung rasa bersalah.
"Aku juga tidak akan tahu hatimu jika aku masih bersama Alana" kata Tommy membuat Risha menatap nya.
"Apa aku harus mengatakannya padamu?" tanya Tommy.
"Mengatakan apa?" bingung Risha.
"I like you" kata Tommy, Risha tersenyum kecut.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Tommy.
"Tidak" Risha menyeruput es coklat nya.
"Bagaimana denganmu?" Tommy menatap intens wajah Risha, pria itu memperhatikan reaksi tubuh Risha.
"Aku? Ya, aku juga suka sama Abang. Itu sebabnya aku mau menemani Abang makan siang" jujur Risha.
"Bukan itu maksudku, tapi lebih dari itu" Tommy masih menatap Risha.
"Lalu?" tanya Risha.
__ADS_1
"Come on Ris, kita bukan anak ABG lagi. Kamu pasti tahu maksudku" kata Tommy, Risha hanya menggeleng, gadis itu tidak ingin salah paham dengan kata-kata Tommy.
"Ris..."
"Ya"
"Apakah kamu benar-benar tidak menyukaiku?" tanya Tommy.
"Aku suka Abang, bahkan selalu suka sama Abang. Apakah jawaban ini sesuai dengan keinginan Abang?" tanya Risha tersenyum.
"Tapi aku menyukaimu sebagai wanita Ris"
"Teman-teman ku juga menyukai ku karena aku wanita, aku gadis yang manis dan baik. Periang, ceria dan..."
"Will you be my lover?" sergah Tommy memberikan Risha mematung.
"Aku menyukaimu sebagai wanita dewasa, aku tidak menganggap mu sebagai adikku,aku benar-benar menyukaimu, bahkan aku sudah mencintai mu. Aku tidak tahu bagaimana, tapi benar-benar jatuh cinta padamu, dan tolong percaya itu" kata Tommy meraih tangan Risha.
"Bang....aku..."
"Please Ris, jangan tolak aku. Mungkin kata-kataku terdengar seperti bualan, tapi hatiku tulus, perasaanku begitu adanya" kata Tommy terdengar serius, meskipun Risha senang mendengar pengakuan Tommy, tapi gadis itu juga masih ragu.
"Kenapa? Dan sejak kapan?" lirih Risha.
"Entahlah, aku tidak menemukan alasan kenapa aku mencintaimu. Semua terjadi begitu saja, dan jika di tanya sejak kapan? Aku sendiri juga tidak tahu" jujur Tommy.
"Apakah alasan kenapa aku mencintaimu dan sejak kapan itu sangat penting? Aku hanya takut jika suatu saat aku menemukan alasan untuk tidak lagi mencintaimu" kata Tommy.
"Bang..."
"Aku tahu kamu suka padamu, kamu sudah lama menyukaiku kan? Bahkan jauh sebelum aku bersama dengan Alana, apakah aku salah?" sela Tommy, Risha mengangkat wajahnya dan menatap netra hitam Tommy.
"Tidak, Abang benar. Aku sudah sejak lama menyukai Abang, hanya saja aku anak ingusan dan tidak pernah terlihat oleh Abang. Abang tidak pernah melihatku, dan bahkan tidak pernah menganggap ku ada, bukan begitu?" kata Risha.
"Sebenarnya saat pertemuan pertama kita, aku tertarik padamu. Hanya saja saat itu kau masih anak sekolahan, dan perbedaan sosial kita juga sangat jauh. Aku mencoba menepis rasa itu dengan berpacaran dengan beberapa wanita, bahkan saat bersama Alana, aku masih mengingat mu. Konyol bukan?" kata Tommy.
"Kata-kataku pasti terdengar seperti omong kosong, tapi aku tidak meminta kau untuk percaya. Karena disini hanya ada masa kini dan masa depan, dan aku ingin mulai sekarang bergandengan tangan denganmu, aku ingin kau menjadi pendamping ku, aku sangat berharap jika kita bisa membangun sebuah keluarga bahagia di masa depan" ucap Tommy penuh harap, namun Risha masih mencerna semua pengakuan Tommy dan meyakinkan dirinya jika semua yang ia dengan adalah kebenaran.
🌼
🌼
🌼
🌼
__ADS_1
🌼
TBC 🌺