
Di sebuah IGD rumah sakit, seorang wanita hamil terus menangis membuat seluruh keluarga, Dokter, dan suster bingung untuk menenangkannya. Keluarga menduga jika wanita hamil itu menangis karena terlalu merindukan suaminya yang baru saja pergi melakukan perjalanan bisnis, karena kondisinya yang tengah hamil, semua hal yang tadinya biasa saja menjadi sangat berlebihan seperti yang terjadi pada Elea saat ini.
Tidak ada jalan lain, Papa dan Mama mertua Elea sudah menasehati, memberi pengertian, namun sang menantu malah menangis semakin kencang seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Elea tidak perduli dengan pandangan aneh orang-orang di sekitar nya, ia menangis begitu pilu mengingat perjalanan hidupnya. Dokter terpaksa memberikan obat tidur pada Elea agar wanita itu tenang, entah sudah berapa lama Elea menangis sebelum sampai di Rumah Sakit, perutnya pun sudah kram, kontraksi karena tangisan Elea, kini wanita itu tidur dengan pulasnya di sebuah bed pasien yang berada di ruangan VVIP, tentu saja keluarga Hariz akan memberikan fasilitas terbaik untuk menantu yang kini mengandung calon penerus nya.
"Sepertinya Mami benar-benar mencintai Papi hingga menangis seperti itu" ucap Risha duduk di sofa ruangan itu bersama kakek dan neneknya.
"Bisa jadi, dan ini pertama kalinya Martin meninggalkan istrinya, terlebih dalam ****** hamil" sahut kakeknya.
"Entah kenapa Mama tidak yakin" ujar mama mertua Elea.
"Kenapa nenek bicara begitu?"
"Karena memang itu yang nenek rasakan"
"Apakah Mama masih belum bisa menerapkan Elea sebagai menantu?" Kakek Adnan menatap istrinya.
"Mama tidak tahu Pah, rasanya ada yang mengganjal dalam hati kecil Mama"
"Mama jangan begitu dong, Martin sudah menikahi Elea, dan saat ini Elea sedang mengandung cucu kita, sampai kapan mama akan seperti ini?"
"Entahlah, apalagi sejak tahu Elea meminta uang itu pada Martin, Mama jadi...."
"Uang apa Nek?"
"Mah, uang itu tidak seberapa. Bahkan uang yang di minta Elea setara dengan uang jajan Risha satu bulan"
"Uang apa Kek?"
"Elea minta uang tunai pada Martin sebesar 250 juta, dan nenek Mu mempermasalahkan hal itu"
"Benarkah? Untuk apa uang itu?" Risha mulai penasaran.
"Kakek tidak tahu lagi pula, Elea berhak minta uang pada Papi mu kan?"
"Tapi..."
__ADS_1
"Bahkan kakek yakin, jika Papi mu juga memberikan kartu kredit tanpa batas limit pada Elea, seperti padamu juga. Jadi jangan mempermasalahkan hal yang bukan masalah" tegas pria itu pada istri dan cucunya.
"Risha sama sekali tidak mempermasalahkan ya jika Mami minta uang pada Papi. Kan gak mungkinlah Mami minta uang sama Pak Umar" Risha terkikik geli. Sedangkan neneknya melengos jengah karena baik suami maupun cucunya sama-sama membela Elea.
"Kamu tidak kuliah Risha?" tanya nenek Asri.
"Astagaaaaa!! Risha lupa kalau bentar lagi ada kelas" gadis itu bangkit dan menyambar tasnya.
"Risha kuliah dulu Kek, Nek. Titip Mami sebentar, nanti pulang kuliah, Risha langsung kesini buat jagain Mami" gadis itu menyalami punggung tangan Kakek Nenek nya, lalu mendekat bed dimana Elea terbaring tidur.
"Risha pergi dulu yah Mih, nanti Risha temani Mami lagi" bisik Risha lalu mencium kening Elea, dan meninggalkan ruangan itu.
🌼🌼🌼
Risha turun dari mobilnya dan berlari kecil melewati korban kampus dan menuju ruang kelasnya, hampir saja gadis itu terlambat, karena dari kejauhan Risha melihat SEO dosen wanita yang terkenal lumayan killer berjalan menuju kelasnya, hal itu membuat Risha berlari semakin cepat agar bisa masuk kelas lebih dulu sebelum sang dosen.
"Huh...huh...untung duluan gue" gumam Risha mendudukkan diri di sebelah Citra yang datang terlebih dahulu.
"Hampir aja Lo telat, kemana aja sih? Gue telepon kenapa gak di angkat? Pesan gue juga gak Lo bales" cecar Citra pada Risha yang baru saja menghela nafas.
"Lagian Lo it...."
"Syutttttt..... Miss cruel sudah datang, sambung nanti lagi" ucap Risha mengedikkan dagunya ke arah dosen wanita yang memasuki ruangan itu.
Dosen wanita yang bernama Larasati itu menjelaskan tentang ilmu ekonomi mikro dan ekonomi makro, pelajar yang sangat membosankan bagi Risha, tapi mau tak mau ia harus tetap mempelajarinya. Gadis itu terpaksa mengambil prodi manajemen bisnis sesuai arahan sang Kakek, karena saat itu Martin belum ada rencana menikah, dan calon penerus kerajaan bisnis Hariz hanya lah Risha.
Jika mengikuti kemauannya, Risha tentu ingin mendalami ilmu fashion. Tidak jauh-jauh memang, gadis itu sangat suka fashion dan bercita-cita menjadi desainer terkenal, namun seperti semua itu hanya mimpi, karena kini apa yang di pelajari nya melesat jauh dari dunia fashion.
"Arisha Hariz!!! Jika ingin melamun di rumah saja, tidak perlu mengikutinya kelas saya" tegas dosen wanita yang tangah menatap tajam Risha karena ketahuan melamun.
"Ma...maaf Bu" lirih Risha merasa malu karenaenjadi pusat perhatian teman-temannya.
"Kalau masih mau melamun silahkan keluar"
"Tidak Bu" jawab Risha menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jika kamu ketahuan melamun lagi, kedepannya tidak usah mengikuti mata pelajaran saya" ucapnya memperingatkan Risha.
"Hal ini juga berlaku bagi yang lainnya" ucapnya melihat seluruh para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di ruangan itu.
Tak berselang lama setelah Risha mendapatkan teguran dari dosen yang di juluki Miss cruel, kini semua orang yang ada di kalas Risha bernafas lega karena jam mata pelajaran mereka telah berakhir. Dosen wanita itu memang sangat tegas, dan hanya memberikan dua kali toleransi pada mahasiswa atau mahasiswi yang ketahuan melakukan kesalahan. Ia juga di sebut sebagai mimpi buruk bagi para mahasiswa/mahasiswi yang menjalani bimbingan skripsi dengannya.
"Lo ngelamunin apa sih Ris, sampai titisan maklampir negor Lo?" tanya Citra yang ada di sebalah Risha.
"Hufffff, gue lagi kepikiran tentang keadaan Mami" sahut Risha menyusun buku-bukunya.
"Tante El kenapa?"
"Mami tadi pagi di larikan ke rumah Sakit, ughhh gue laper. Cari makan yuk" ajak Risha berdiri dengan memakai Sling bag dan membawa bukunya.
"Tumben udah ngeluh laper" kata Citra berjalan di samping Risha.
"Gue tadi gak sempet sarapan, bukan gue aja sih, tapi seluruh isi rumah kayaknya gak jadi sarapan" ujar Risha mengingat kepanikan yang terjadi tadi pagi di meja makan.
"Kenap?"
"Nanti aja deh gue ceritain, sekarang makan dulu. Ke kantin aja ya" ucap Risha sudah sangat lapar.
"Terserah Lo aja" sahut Citra nurut, sebanarnya Citra ingin mengajak Risha ke sebuah Kafe dan memesan sebuah private room, tapi melihat Risha yang sangat kelaparan, akhir Citra nurut saja apa yang di katakan Risha. Nanti setelah sang sahabat selesai mengisi perutnya, barulah Citra akan mengajak Risha ke sebuah tempat yang lebih nyaman untuk membicarakan suatu hal.
🌼
🌼
🌼
🌼
🌼
TBC 🌺
__ADS_1